Monster Apocalypse

Monster Apocalypse
Chapter 252 :


__ADS_3

Tongkat Tengkorak Kristal terlihat berubah warna dari putih transparan menjadi hitam legam dengan sedikit kilauan di pusatnya. Aura hitam berbentuk kabut terlihat menyebar mengelilingi Tengkorak Kristal, kemudian dengan Mana tambahan yang dialirkan oleh Natan, ada reaksi tambahan yang cukup mengagumkan.


Mata Tengkorak Kristal mengeluarkan sinar berwarna merah gelap seperti darah, kemudian memanjang seperti laser yang menembak ke arah Golem.


Golem sudah terbentuk sepenuhnya, memiliki nama Bagara dengan Level 999. Seluruh tubuhnya terbuat dari batu, namun ada garis-garis merah di bagian tubuh, serta di area persendian dan mengeluarkan suhu yang panas.


Menghadapi serangan sinar seperti laser, Bagara dengan tubuh setinggi 100 meter itu bertindak. Ia mengangkat tangan kirinya yang besar guna menangkis sinar yang ditembakkan, tapi tidak seperti yang diharapkan, sinar hitam itu tidak memantul, melainkan menyelimuti tangannya.


Garis-garis merah seperti api di tangannya berubah warna menjadi hitam legam, garis-garis baru muncul seperti urat tipis di bawah permukaan kulit, kemudian satu per satu kerikil mulai berjatuhan dari tangannya.


Bagara mengeluarkan raungan marah dan sakit, ia membanting kedua tangannya di tanah, membuat getaran yang hebat serta kehancuran yang luar biasa. Semua salju maupun es di lereng gunung meledak, hancur berhamburan tak beraturan.


Natan terbang menjauh dari tempat kehancuran dengan bantuan Ksatria Lebah.


Bagara memandang Natan dengan kemarahan yang berapi-api, ia memotong tangan kirinya yang tidak bisa disembuhkan, lalu memukul bebatuan di bawahnya dengan harapan memulihkan tangannya. Tapi, harapan dan kenyataan tidak selalu berjalan seperti garis lurus. Kerusakan yang biasanya akan pulih setiap kali menyerap tanah maupun batu di sekitar, sekarang tidak lagi berfungsi.


Garis-garis halus merah di tubuhnya bersinar lebih terang dengan suhu di sekitarnya mulai naik, udara terdistorsi serta tanah di bawah kakinya mulai memerah dan membentuk lahar panas.


Bagara mengangkat tangan kanannya yang masih utuh, membuat lahar panas di bawah kakinya naik lebih tinggi daripada dirinya sendiri.


Lahar panas membentuk gelombang tsunami, itu bergerak cepat dengan momentum luar biasa yang pergi ke arah Natan.


Natan sedikit menjauh seraya mengarahkan tangan kirinya ke arah lahar yang bergelombang. Tangan kirinya memancarkan kabut putih dan terlihat ada es yang mulai menyelimuti tangannya. Ini adalah sihir es, kemampuan ini muncul setelah dia selesai malam pertama bersama Ayumi, dia sendiri tidak tahu alasan pastinya, mungkin karena memang dulu dia adalah Mage, atau karena Mana Ayumi mengalir ke dalam tubuhnya.


Tapi jika diingat-ingat, Ayumi memiliki kemampuan yang sama yang dimilikinya, dan istri yang lain juga sama, memiliki salah satu kemampuannya.


Dengan lambaian tangannya, suhu udara di sekitarnya turun sangat cepat di bawah titik beku, langsung membekukan lahar merah yang panas dan menjadi batu berwarna hitam berkilau.


Bagara meraung, ia mengangkat tangan kanannya, tapi tiba-tiba gerakannya melambat karena pengaruh suhu yang sangat dingin.


"Groaahh! Manusia!"


Tubuh Bagara mengeras, tapi tiba-tiba ada cahaya merah yang bersinar di bagian dalam tubuhnya. Embun es yang membekukan tubuhnya mulai meleleh dengan cepat, kemudian dia memukul tangannya ke tanah, mengambil sebongkah batu besar seukuran kepalan tangan Bagara dan melemparkannya.


Bang! Whooooosh!


Gelombang kejut tercipta ketika Bagara melempar batu padat dengan yang melebihi kecepatan suara.


Natan mengulurkan kedua tangannya ke depan, membuat Tengkorak Kristal berkilau dengan warna hitam dan udara di depannya membeku membentuk dinding es transparan.


Bang!


Batu yang dilemparkan membentur dinding es yang diciptakan di udara, menimbulkan dentuman keras dengan dua suhu berbeda yang bertabrakan. Uap air menyebar dengan cepat ke segala arah, menurunkan jarak pandang dua makhluk yang sedang bertarung.


Natan tidak mengalami kesulitan meski ada kabut yang tebal. Dia mengangkat Tongkat Tengkorak Kristal, tiba-tiba ada ribuan anak panah berwarna hitam yang tergantung di udara di atas kepalanya. Anak panah ini diselimuti oleh kabut hitam pekat dengan arus mencekam yang membuat tubuh bergidik.

__ADS_1


Dengan lambaian tangannya, ribuan anak panah itu melesat sangat cepat melebihi kecepatan suara, dan saat melesat, setiap anak panah dikalikan 1.000 kali sehingga ada jutaan anak panah dengan kemampuan korosif.


"Groaahh!" Bagara meraung marah dan kesakitan, tubuhnya terus menerima serangan demi serangan yang membuatnya terluka parah. Ia tidak dapat lagi beregenerasi, tidak peduli seberapa banyak ia berusaha.


Natan mengangkat tangannya, samar-samar ada tangan besar yang terbuat dari tulang melayang di langit. Tangan ini memegang pedang besi hitam legam dengan panjang 175 meter.


Mengayunkan tangannya, pedang besar itu melesat, membelah kabut ke dua arah yang berlawanan, memperlihatkan Bagara yang telah kehilangan anggota tubuh dan mencoba menyatu dengan daratan di bawahnya.


Bagara mendongak, membuka mulutnya, berteriak, matanya memancarkan kebencian dan kemarahan.


Booom!


Pedang besar itu menghantam Bagara, menghancurkannya menjadi debu yang tak terhitung jumlahnya. Jatuhnya pedang juga merusak Gunung Puncak Jaya, membuat lembah dalam yang menggali 130 meter ke dalam tanah


Natan terdiam ketika melihat pemandangan ini, dia sendiri tidak menyangka efeknya akan lebih kuat daripada ketika Giant Knight yang menggunakannya sendiri. Ya! Pedang ini adalah milik Giant Knight, dan dia yang terus melatih kemampuannya, dapat meminjam anggota tubuh dari semua skeleton yang dimiliknya.


Dia melihat kilauan cahaya dari warna putih, biru, emas, kuning, oranye dan lain sebagainya. Dengan melambaikan tangannya, Natan mengambil semua barang jarahan yang didapat setelah membunuh Bagara.


"Sudah selesai, dan karena semua barang sudah ditemukan, saatnya kembali melihat bayi-bayi kecilku yang manis."


Setelah mengatakan itu, tubuh Natan menghilang tertelan oleh bayangan hitam.


...***...


—Istana Armonia—


Celine melihat buku cerita yang dipegang, lalu mendongak menatap ibunya. "Ibu, apa Ayah benar-benar pulang malam ini?"


Calista menunduk ke kanan, dia tersenyum dan mengusap kepala Celine. "Iya, Ibu tadi menghubungi Ayah, dan dia bilang akan kembali malam ini."


Celine menganggukkan kepala, lalu memeluk kedua kakinya. "Celine rindu Ayah."


"Ayah juga merindukan Celine."


Tiba-tiba, terdengar suara pria yang muncul di belakang Calista dan Celine.


Keduanya menoleh ke belakang dengan segera, mereka melihat pria muda yang terlihat masih berusia 19 tahun, meski nyatanya hampir berusia 35 tahun.


"Ayah!" Celine berdiri saat melihat siapa yang datang, dia berlari, melompat ke arah “Ayah” yang tak lain ialah Natan.


Natan menangkap Celine, memeluknya dengan lembut. Kemudian dia menghampiri Calista, mengusap kepalanya dan memberinya kecupan hangat di dahi. "Aku pulang, maaf jika terlalu lama."


Calista tersenyum manis. "Selamat datang, Suami."


"""Ayah!"""

__ADS_1


Natan mendongak, dia melihat Jiang Shuya, Verdinand dan Orla yang berlari. Dia tersenyum saat menghampiri mereka, berlutut dan memberikan pelukan hangat untuk semuanya.


"Ayah! Xiaoai cudah bica membaca!" Gadis kecil yang memakai rok merah muda mekar seperti bunga di atas lutut, atasannya adalah gaun putih dengan sulaman mawar merah di dada kiri. Gaun itu dimasukkan ke dalam rok.


Gadis itu membuka kedua tangannya lebar-lebar, dan saat dia berbicara, pipi bulatnya bergetar dengan menggemaskan.


"Ayah! Hannah meng- gambal Ayah!" Gadis kecil lain, yang memakai pakaian serupa dengan Xiaoai, mengangkat selembar kertas dengan kedua tangan, memperlihatkan gambar yang dibuatnya.


Natan tersenyum hangat, dia mengusap kepala Hannah dan Xiaoai yang rambut mereka di bentuk seperti mantou maupun tanduk kecil.


Celine, Verdinand dan Orla juga mengatakan pencapaian masing-masing dengan penuh semangat.


Natan membuka kedua tangannya, lalu merebahkan tubuhnya di atas rerumputan.


Hannah dan Xiaoai naik ke atas tubuh Natan, mereka berbaring di sana.


Jiang Shuya, Celine, Verdinand dan Orla tidur dengan lengan Natan sebagai bantalnya.


Natan menutup mata, senyumannya yang indah tidak dapat disembunyikan saat dia berbaring seperti ini. "Anak-anak, Ayah harap kalian jangan cepat besar, Ayah senang kalian tetap kecil dan menggemaskan seperti ini."


Celine duduk tiba-tiba, dia menatap ayahnya. "Tapi Celine ingin cepat besar dan cantik seperti Ibu."


"Ya! Kak Celine benar!" Orla juga duduk dan berkata, "Orla juga ingin cepat besar."


Verdinand menganggukkan kepalanya dan berkata, "Verdi juga ingin cepat besar. Verdi ingin seperti Kakak Fefei, Kakak Charles, Kakak Vera, Kakak Via dan Kakak Ling."


Jiang Shuya tetap dalam posisi tidur, dia membuka matanya perlahan dan berkata, "Kalau Shu'er, tidak ingin apa-apa, seperti ini sangat damai. Shu'er ingin terus mendapat perhatian dari Ayah."


"Kakak Shu'el benal!" Xiaoai mengangguk. "Xiaoai juga mau kecil selamanya!"


Natan tidak mengatakan apa-apa, dia hanya tertawa kecil mendengar anak-anaknya yang terus berbicara. Tapi dia tidak merasa tidak nyaman, melainkan sangat senang.


Tiba-tiba, dia membuka matanya, lalu sedikit mengangkat kepalanya. Dia melihat Xia Feiya, Charles, Vera, Octavia dan Ling Wei yang datang memakai perlengkapan mereka.


Vera dan Octavia berlari, mereka ikut berbaring dengan posisi terbalik, dan kepala mereka berada di kiri-kanan kepala Natan.


Xia Feiya juga datang, dia hanya duduk di samping, mengeluarkan apel dan mangga, lalu mengupasnya.


Charles dan Ling Wei memegang tangan Natan yang kosong, mengangkatnya, lalu mengusapkan tangan Natan di kepala masing-masing.


Natan tersenyum hangat, dia sangat senang anak-anaknya tidak berubah meski bisa dianggap sudah dewasa.


...


***

__ADS_1


*Bersambung...


__ADS_2