
Tiga hari setelah meninggalkan Pangkalan Militer di Kota Malang. Kelompok empat manusia dengan satu hewan itu sudah bepergian cukup jauh, dan sudah tiba di Kota Salatiga, Jawa Tengah.
Dalam perjalanan yang cukup melelahkan dan sedikit istirahat, mereka bertemu banyak sekali monster maupun kelompok manusia lain yang membangun suatu markas.
Natan memilih untuk menghindari masalah yang ada, karena itu ia melalui jalan sedikit memutar.
Level Natan sudah menyentuh angka 260, Ayumi dan Erina 257, serta Vely 160. Peningkatan level Vely terbilang sangat cepat, karena semua Skeleton Knight yang diperintahkan, digunakan untuk membantu Vely Anindya dalam menaikkan level.
Skeleton yang bisa dibangkitkan Natan sudah 18, dengan masing-masing levelnya 117, tidak peduli monster jenis apa.
Saat ini mereka berada di salah satu rumah bertingkat di pusat Kota Salatiga. Rumah yang pemiliknya memiliki ketertarikan pada barang antik, itu didasari dari koleksi-koleksi yang ada di setiap sudut ruangan.
Barang antik peninggalan zaman dulu memiliki tambahan efek seperti perlengkapan, namun tidak sebagus dari Dungeon Boss dan tidak dapat ditingkatkan lagi kekuatannya. Karena itu, Natan memilih untuk menjual semua barang yang ia temukan.
"Kita akan pergi ke Kota Cilegon, dan kemungkinan akan membutuhkan lima hari jika setiap harinya berjalan seratus kilometer."
Natan bersiap-siap pada dini hari untuk berangkat setelah Matahari terbit. Ia tidak perlu menahan diri seperti sebelumnya, dan menggunakan setiap senjata yang ia miliki.
Vely yang duduk di samping Natan hanya diam dan menyiapkan perlengkapan yang baru saja ia beli. Perlengkapan level 160 dengan kualitas tinggi yang satuannya dibandrol dengan harga 340 sampai 400 Gold.
Vely menggunakan sepatu boot cokelat, yang terbuat dari kulit serigala, dengan ukuran hampir mencapai lututnya. Ia juga mengenakan jubah seperti Dokter, berwarna putih dan menambah HP serta MP.
"Natan, apakah kau tidak tidur? Biar aku yang berjaga."
Natan menggeleng pelan. "Tidak perlu, aku sudah mulai terbiasa tidak tidur ..." Ia menoleh ke belakang melihat Ayumi dan Erina yang tidur pulas di perut Kuro. "Bahkan ada kalanya tiga hari tiga malam tidar tidur, karena harus berjaga-jaga."
Natan menoleh ke kiri membalas tatapan mata Vely. "Apakah Kakak belum mendapatkan Job baru?"
"Belum." Vely menggelengkan kepalanya pelan. "Aku berharap mendapatkan Job yang bisa menyerang dari jarak jauh. Memang White Mage bisa menyerang, tapi akan lebih baik jika ada Job jarak jauh lain."
Natan menganggukkan kepalanya, memang White Mage masih kurang untuk menambah serangan, meski memiliki serangan area luas.
[Assize]
[Memberikan kerusakan tak terduga dengan potensi 75% dari STR ke semua musuh di sekitar (10 meter setiap levelnya)]
[Efek Tambahan: Memulihkan HP sendiri dan HP anggota party terdekat]
[Dia]
[Memberikan damage tak terduga dengan potensi 30% dari STR ke semua musuh di sekitar (10 meter setiap levelnya)]
[Efek Tambahan: Kerusakan tak terduga dari waktu ke waktu sebanyak 10% dari STR selama 30 detik setelah pengaktifan skill]
[Glare]
[Memberikan damage tak terduga dengan potensi 50% dari STR ke semua musuh di sekitar (10 meter setiap levelnya)]
"Apakah Kakak ingin mencoba menggunakan sniper? Aku masih memiliki satu." Natan menyerahkan Sako TRG 42 biasa, yang belum dirubah.
Natan sendiri memiliki tiga Sako TRG, dua di antaranya sudah menggunakan Mana sebagai amunisi.
Vely terdiam sejenak menatap senjata yang dibawa Natan di kedua tangan, kemudian mengangguk cepat. "Boleh!"
Natan tersenyum tipis, dan berjalan keluar dari dalam ruangan menuju balkon lantai tiga. Kebetulan Bulan bercahaya terang, menyinari seluruh kota karena tidak ada awan di langit malam, sehingga monster-monster yang tidak jauh bisa terlihat.
__ADS_1
"Kakak, ayo berdiri di depan dan pegang senjata dengan benar." Natan menepuk-nepuk pagar balkon yang terbuat dari beton, meminta Vely untuk berdiri di depannya.
Vely mengangguk kecil dan mengikuti arahan dari Natan. Ia membawa sniper dengan benar, tangan kiri berada di depan, dan tangan kanan memegang bagian belakangnya, dengan jari telunjuk berada di depan pelatuk.
Natan berdiri di belakang Vely dengan kedua tangan ke depan, seperti sedang memeluknya. Ia juga menyelipkan kepalanya di sebelah kanan kepala Vely. "Kuatkan pegangan Kakak, pastikan napas Kakak tenang dan teratur."
Vely menoleh ke kanan menatap wajah Natan yang terlihat sangat serius, kemudian menunduk menyembunyikan wajahnya yang telah memerah.
"Ada apa? Bukankah Kakak ingin belajar? Mengapa menunduk?"
"Di- Diam!"
Natan memiringkan kepalanya menatap heran Vely yang masih tertunduk. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Apakah Kakak ketakutan? Karena itulah dia tidak berani mengangkat kepalanya untuk menembak. Benar! Pasti itu!
Natan mengangguk tegas dan mendengus kuat, membenarkan pemikirannya sendiri tentang keadaan Vely sekarang.
Vely menghembuskan napas panjang dan menenangkan dirinya kembali. Kemudian melihat monster di malam hari melalui scope. Ia bisa melihat adanya monster jenis Goblin yang sedang menyantap mayat manusia di jalanan, bersama rekan Goblin lain.
Mentalnya sudah tidak terganggu setelah beberapa kali melihat monster memakan daging manusia, terlebih lagi dengan Calming the Mind.
Vely menarik pelatuk Sako TRG, menembakkan peluru biasa yang melesat cepat. Ia yang menembak mendapatkan tekanan balik di bahunya, membuatnya hampir terjatuh dan bersandar di dada Natan.
Natan mengamankan senjata yang dipegang Vely terlebih dahulu, karena jarinya masih menyentuh bagian pelatuk. Kemudian ia menggunakan tangan kirinya untuk memeluk Vely dari belakang. "Apakah Kakak tidak apa-apa?" Ia bertanya dengan tatapan polos.
Vely mendongak menatap wajah Natan. Bibirnya bergetar seperti kedinginan, wajahnya perlahan mulai merah kembali. "Tidak apa-apa!" Ia mendorong Natan menjauh dan berlari memasuki ruangan.
Natan yang ditinggalkan di balkon lantai tiga hanya bisa terdiam dengan tatapan heran tidak mengerti. Ia tidak merasa melakukan hal yang salah, dan harusnya ia mendapatkan ucapan 'Terimakasih' karena telah mengajari menembak.
Natan mengangkat kedua alisnya dan kedua bahunya, kemudian kembali fokus pada Goblin yang mengamuk karena tembakan peluru tadi meleset. "Ada tujuh Goblin dan Goblin Mage, cocok untuk tambahan Pasukan Skeleton. Setelah mencapai level maksimum, aku tidak tahu apakah bisa membangkitkan monster tipe hewan."
Hanya membutuhkan dua menit saja untuk Skeleton Knight membawakan Goblin Mage yang kehilangan anggota tubuhnya.
Tanpa berlama-lama lagi, Natan menebas dua leher Goblin Mage dalam sekali ayunan pedang.
Berbagai cahaya terlihat saat dua Goblin Mage itu terbunuh, digantikan dengan Inti Monster, Goblin Meat, Goblin Fangs, dan Magic Wand Lv.60.
Natan mengangkat tangan kanannya perlahan, mengarahkan telapak tangannya pada tempat di mana dia monster terbunuh. "Rise."
[Berhasil Membangkitkan Skeleton Goblin]
[Monster yang dapat dibangkitkan (18/18)]
Lantai di depan Natan sedikit bergetar dan mulai terdapat retakan di permukaannya, yang kemudian terlihat tangan yang mencoba keluar dari dalam lantai. Hingga tak lama, terlihat kerangka tulang setinggi dua meter yang tidak terlalu besar, mata biru menyala seperti api membara.
~Informasi~
[Nama : -]
[Ras : Skeleton]
[Jenis : Goblin Mage]
[Level : 117]
[HP : 34.762]
__ADS_1
[MP : 24.840]
[[Fire Ball Lv.06] — [Fire Arrow Lv.06] — [Fire Tornado Lv.06] — [Fire Wall Lv.06]]
~Informasi~
[Nama : -]
[Ras : Skeleton]
[Jenis : Goblin Mage]
[Level : 117]
[HP : 34.762]
[MP : 24.840]
[[Ice Arrow Lv.06] — [Ice Wall Lv.06] — [Ice Chain Lv.06] — [Ice Storm Lv.06]]
Natan memiringkan saat melihat informasi statistik Skeleton Mage yang sangat berbeda dengan Skeleton Knight. Yang mencolok pada bagian HP dan MP.
Skeleton Knight memiliki HP 69.525 Point, dengan MP 12.420.
"Apakah karena perbedaan Job yang didapat?"
Natan memanggil semua Skeleton Knight yang bersembunyi, dan mengamati satu per satu statistik mereka. Meski stat dasarnya menggunakan stat miliknya, tapi dari penguasaan skill ada yang berbeda-beda. Seperti Skeleton Knight yang ia bangkitkan pertama, memiliki Skill Berpedang Lv.08.
"Xifostha. Aku akan memberimu nama Xifostha." Natan menunjuk pada Skeleton Knight yang berada di depannya, yang mana memiliki Skill Berpedang Lv.08.
Natan merasakan aliran Mana yang keluar dari dalam tubuhnya dengan deras. Mana itu berpindah ke Skeleton Knight.
Skeleton Knight dibungkus dengan Mana biru yang berlimpah, sekitar satu per empat dari Mana Natan terpakai hanya untuk memberikan sebuah nama.
Mana biru itu terus membesar menutupi sekujur tubuh Skeleton Knight yang baru saja diberikan Nama. Perlahan, Mana itu mulai terserap masuk ke dalam tulang-tulang, dan samar-samar mulai terlihat armor yang menutupi sebagian kerangka.
Belasan menit berlalu, Mana itu meledak membentuk cincin biru. Karena ledakannya itu juga mengakibatkan suara keras yang menarik monster sekitar, serta menghancurkan pembatas balkon dan dinding di sebelah Natan.
Dari pusat ledakan, Skeleton Knight yang sebelumnya hanya membawa pedang, sudah mulai memperlihatkan perubahan yang drastis.
Mengenakan pakaian hitam dengan sedikit bekas terbakar di bagian bawahnya, ada pelindung lengan, lutut dan pundak. Pakaiannya juga memperlihatkan bagian rusuk dan tulang belakang, serta ada nyala api berwarna biru bercampur hitam di dalam kerangka tulang, hingga membakar ke bagian tengkorak.
Natan yang melihat ini tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Ia benar-benar tidak habis pikir dari memberikan nama saja dapat membuat perubahan drastis. Statistiknya juga bertambah pesat.
HP 108.150, MP 12.420.
"Skeleton Commander?"
Apakah aku bisa meningkatkan semua Skeleton? Kemudian, mengapa Skeleton Commander lebih terlihat seperti manusia? Kerangka tulangnya tidak terlalu besar seperti sebelumnya, meski sama-sama setinggi tiga meter.
...
***
*Bersambung...
__ADS_1