Monster Apocalypse

Monster Apocalypse
Chapter 054 : Perubahan Cuaca


__ADS_3

"Hah..." Natan menghembuskan napas panjang merasa lelah karena melihat Forum, tempat yang harusnya dijadikan sebagai tempat diskusi, namun digunakan untuk saling menantang satu sama lain.


Natan harus mampu mengontrol emosinya agar tidak seperti Player lain yang ada di Forum, karena itu merugikan, bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi untuk yang lainnya. Dari awal ia membuat Guild Armonia untuk mengumpulkan Player yang mau bekerja sama dan menciptakan tempat yang damai.


Mungkin impiannya terbilang kekanak-kanakan, dan tidak mungkin dapat menciptakan tempat yang damai di dunia yang sekarang. Tapi setidaknya, ia bisa memberikan kedamaian dan perlindungan pada Adik-adiknya.


Pada saat ini Natan dan yang lain sudah keluar dari Sentosa dan terus berjalan mengikuti jalan utama. Mengapa ia bisa mengetahui itu adalah jalan utama, sangatlah mudah, itu terlihat dari lebarnya jalan.


"Meskipun kita memiliki Mammoth Castle, tapi kita berjalan kaki ..." Natan sedikit mengeluh meski ia yang mengambil keputusan.


Natan ingin sekali memiliki Skeleton Udara, sehingga dapat membawanya terbang dan sampai lebih cepat daripada harus berjalan kaki seperti ini. Tapi untuk memilikinya, ia merasa harus meningkatkan Skeleton Disease II ke Lv.Max.


Berbeda dengan Natan yang mengeluh, yang lain terlihat senang-senang saja karena lebih nyaman melihat pemandangan sekitar, meski tertutupi oleh tebalnya salju.


Monster yang dilawan mereka juga tidak bertambah selain Kobold, Lizardman dan tidak ada lagi Zombie Mutan. Ia penasaran kapan monster udara akan muncul, atau karena ini masih musim dingin, sehingga monster udara masih belum terlihat, meski sudah mendapatkan pemberitahuan melalui Player System.


Puluhan menit berjalan dan dua hari semenjak kedatangan mereka di Singapura, akhirnya mereka memutuskan untuk bersantai sejenak seraya membangun Mammoth Castle.


Sebelumnya Natan tidak ingin membangunnya karena ingin menghindari masalah, tapi setelah menggunakan Mapping sepanjang jalan dan scope dari sniper untuk mencari manusia, ia tidak menemukannya sama sekali.


Tidak membutuhkan waktu lama untuk Mammoth Castle kembali dibangun, dan mereka semua masuk setelah selesai.


Calista melompat ke arah karpet tebal dan berguling-guling di sana. "Akhirnya, setelah lama berjalan kaki, aku bisa bersantai!"


Natan tersenyum tipis dan pergi ke lantai satu untuk memetik buah segar. Ia sendiri tidak tahu mengapa tanaman yang merupakan makhluk hidup bisa disimpan di Inventory List, yang mana seharusnya itu tidak mungkin kecuali tanahnya dihilangkan.


Tapi dengan cepat ia bisa menerimanya, mungkin ini semua karena ia adalah First Player.


"Ada apel, stroberi, mangga, jambu, bahkan durian." Natan berjalan melewati beberapa baris pot tanaman. Dengan ruang 4,5m × 11m sudah cukup untuk membuat kebun.


Natan berjalan ke bagian paling ujung dan mengambil buah durian yang pohonnya hanya setinggi satu meter. Meski pohonnya rendah, tapi berbuah, itu bisa terjadi karena Cairan Penyubur buatan Erina yang sangat membantu.


Natan mengambil tiga buah durian, dan menyimpannya ke dalam Inventory List, bukannya Inventory Guild. Kemudian ia kembali naik ke lantai dua untuk dimakan bersama-sama.


Calista duduk saat Natan mengeluarkan durian yang telah matang dan menoleh menatap Natan. "Natan, apakah kita akan menambah anggota Guild?"

__ADS_1


Natan terdiam sejenak dan meneguk air minum dalam kemasan, kemudian meletakkannya kembali di lantai. "Entahlah. Tapi karena kita ingin membangun suatu wilayah, tentunya harus menambah anggota Guild. Entah itu bagian produksi, perajin, ataupun penyembuhan, meski di sini kita memiliki Healer, White Mage dan Saint."


Vely mendongak menatap Natan yang duduk di seberangnya. "Apakah kau akan menerima dari kalangan apa pun? Maksudnya dari Player negara mana pun?"


Natan menganggukkan kepala, ia sudah memikirkan ini sejak lama, bahkan saat awal membuat Guild Armonia dan berniat pergi meninggalkan Indonesia. "Tentu, mungkin akan ada kendala dalam bahasa. Tapi jika menggunakan bahasa Inggris, seharusnya mudah dimengerti."


Natan bisa berbahasa Inggris, Ayumi Jepang dan Inggris, Erina mampu menguasai bahasa Inggris meski hanya sedikit. Untuk Vely, bisa menguasai bahasa Inggris. Lalu Calista dan Olivia, ia tidak mengetahuinya.


"Bahasa apa yang kalian kuasai?" Natan menoleh ke kiri menatap Calista dan Olivia.


"Korea/China." Keduanya menjawab secara bersamaan meski jawabannya berbeda.


"Bagaimana?"


"Aku sangat menyukai membaca manwha." Calista menjawabnya.


"Bermain game gacha, dan melihat artis favorit."


Natan terdiam tidak habis pikir alasan keduanya mau belajar dan menguasai bahasa-bahasa itu. Tapi jika diingat, ia belajar bahasa Inggris juga karena agar memudahkannya dalam bermain game.


"Setelah kita membangun wilayah dan mendapat lebih banyak anggota. Lalu apa yang akan kita lakukan selanjutnya?" tanya Vely yang sangat penasaran.


Natan sendiri tidak tahu harus berbuat apa jika semua sudah tercapai, tapi daripada memikirkan sangat jauh, lebih baik melakukan tujuan yang ada terlebih dahulu. "Entahlah, mungkin aku akan terus membunuh monster dan menaikkan level setinggi mungkin, kemudian mencari jawaban mengapa dunia berubah ..."


Natan terdiam sejenak dan memikirkan apakah harus memberi tahu apa yang ia pikirkan saat ini atau tidak. "Hah... Lebih baik tidak usah," gumamnya.


Apa yang dipikirkannya adalah kemungkinan terbesar mengapa dunia berubah, tapi daripada memberi tahu saat ini, lebih baik menunggu saat ia memiliki kewenangan untuk mendapat informasi dari NPC Shop, atau bahkan NPC lain yang mungkin saja akan muncul.


***


Minggu, 29 Juni 2025. Kuala Lumpur, Malaysia


Cuaca di sini sangat aneh, tidak seperti yang ada di Indonesia atau Singapura. Cuaca di sini cukup cerah dan bahkan ada sinar matahari yang mengenai jalanan, salju juga tidak ada sama sekali.


Ketika menoleh ke belakang, terlihat langit gelap dengan salju yang terus turun tanpa henti. Melihat itu, Natan bersyukur keputusannya untuk meninggalkan Indonesia ternyata benar.

__ADS_1


Natan menoleh ke belakang melihat yang lain melalui jendela kaca. "Cuaca di sini cukup cerah, mungkin ada monster berbahaya seperti Wyvren atau Dragon. Apakah kalian ingin tetap melaju, atau kembali ke tempat bersalju?" Ia sedikit berteriak.


Yang lain berjalan keluar saat mendengarnya, dan menengadahkan kepala melihat langit biru dengan sinar matahari.


Natan ingin melanjutkan perjalanan, tapi jika yang lain ingin beristirahat sejenak untuk mempersiapkan diri, maka ia akan membawa kembali memasuki Wilayah Dingin. Bagaimanapun, monster yang muncul kemungkinan lebih kuat dan berbahaya, sehingga kesiapan semua rekan harus benar-benar diperhatikan.


"Lebih baik kita tetap berjalan, tapi tidak menggunakan Mammoth Castle." Vely memberikan saran dan disetujui oleh semuanya.


Semua orang melompat turun dari Mammoth Castle, dan melanjutkan perjalanan mereka setelah Mammoth Castle disimpan. Jika menggunakan benda besar sebagai kendaraan, tentu saja akan diketahui keberadaannya oleh monster-monster udara.


Natan tidak mengambil jalanan utama lagi, melainkan gang-gang kecil agar keberadaan mereka tidak diketahui dan memudahkan menyerang monster dari jarak jauh. Jika Natan yang bergerak sendirian, ia hanya perlu menggunakan Stealth Lv.Max untuk menutupi seluruh jejak kehadirannya.


Pada gang-gang kecil mereka menemukan monster rendahan yang bisa dibunuh hanya dengan melemparkan kerikil kecil. Sesekali juga melihat mayat manusia yang masih segar, bahkan ada yang tubuhnya masih hangat. Dan dengan kemampuan Vely, seharusnya bisa membangkitkan manusia itu, tapi Natan tidak mengizinkannya.


Membangkitkan manusia biasa yang bahkan tidak bisa selamat dari Goblin Lv.05 hanya akan menambah beban.


"Kakak..."


Natan menoleh ke belakang dan melihat Ayumi yang berjalan membungkuk, dengan kedua tangan yang menggelantung. "Ada apa? Mengapa kau berjalan seperti itu?"


"Ayu lelah."


Natan mengambil Kuro yang melingkar di atas kepalanya dan meletakkannya di atas jalan. Hanya dengan tepukkan lembut, Kuro mengubah tubuhnya menjadi lebih besar. Kemudian ia membantu Ayumi dan Erina untuk naik ke atasnya.


Ketika mengangkat Erina dengan kedua tangan, tiba-tiba Natan menoleh ke belakang ke arah utara dan mendongak ke langit. Mapping menangkap belasan monster yang bergerak sangat cepat tidak jauh darinya.


Ayumi yang duduk di atas Kuro juga terfokus pada arah yang dilihat Natan. "Kakak, Ayu merasakan Mana yang kuat dari sana. Mana ini berasal dari monster yang sama seperti Wyvren dan Dragon."


Natan mengangguk kecil, dan berbalik ke arah utara. "Kita akan bertarung melawan mereka semua." Ia sangat yakin bisa memenangkan pertarungan.


Wyvren berlevel 225 sampai 275 dan Dragon dari level 250 sampai 325. Dengan level seperti itu, Natan masih memiliki harapan untuk memenangkannya, apalagi saat ini ia memiliki Skeleton.


...


***

__ADS_1


*Bersambung...


__ADS_2