Monster Apocalypse

Monster Apocalypse
Chapter 264 : Pertempuran Terakhir (8)


__ADS_3

Pertempuran berlangsung sangat lama dan tidak tahu sudah berapa lama waktu berlalu; hari atau minggu karena tidak ada konsep waktu di tempat ini.


Banyak korban jiwa berjatuhan dari kubu Penjaga yang berasal dari dunia berbeda. Kubu Monster Ancestors sangat kuat, tidak kenal takut karena mereka tidak memiliki pemikiran, tidak memiliki emosi dan lain sebagainya.


Berbeda dengan pihak Penjaga yang merupakan kehidupan cerdas, saat melihat rekan yang jatuh, emosi mereka akan terpengaruh, bagian ada yang terduduk lemas di tanah dan menerima kematiannya begitu saja.


Natan berada di garis belakang, dia menerima banyak luka setelah bertarung dengan monster tanpa tubuh fisik yang sangat menyulitkannya.


Ayumi duduk dengan kaki dilipat, dia menyembuhkan luka parah yang diterima Natan di mana tangannya terpotong. "Kakak ..."


Natan mengacak-acak rambut Ayumi, lalu mengelus pipinya hingga turun ke dagu. "Aku tidak apa-apa, lihat wajahku, aku tidak pucat, wajahku cerah."


Ayumi tidak merasa baik, dia tetap khawatir karena penyembuhannya cukup lambat. Padahal dia sendiri sudah bisa menumbuhkan empat anggota tubuh, bahkan menumbuhkan tangan dari orang disabilitas yang terlahir tidak sempurna.


Natan tersenyum tipis, mengusap kepala Ayumi dengan tangannya yang tidak terputus. "Aku tidak apa-apa."


"Kalian ..." Olivia datang, kekhawatiran muncul di wajahnya saat melihat luka Natan, tapi dia segera tenang. Walaupun khawatir, dia tidak ingin memperparah keadaan dengan kekhawatirannya. "Ayu, cepat sembuhkan Natan, setelah itu pergi ke garis depan. Jangan bersantai di sini."


"Musuh-musuh kuat sudah dibersihkan, skeleton Kakak juga membantu banyak bahkan mengambil alih peran. Jadi tidak masalah untuk bersantai." Ayumi mendengus memandang Olivia.


Olivia mengangkat alisnya, dia menyeringai. "Bisa-bisanya kau mendengus." Ia menerjang Ayumi, menggelitik pinggangnya.


Natan menggelengkan kepalanya, dia melambaikan tangannya yang tumbuh. Luka ini didapat karena serangan yang diterimanya datang tiba-tiba sampai tidak sempat memindahkan dampak luka.


"Kalian berdua, meski aku sudah membuat penghalang di sekitar, tapi tetap tidak pantas bermain seperti itu."


Olivia dan Ayumi berhenti, mengangguk. Keduanya berdiri, merapikan pakaian mereka yang berantakan.


Natan melambaikan tangannya memerintahkan semua skeleton yang membuat penghalang untuk pergi ke garis depan.


Penghalang menghilang, Huanran muncul di depan Natan. "Kau tidak apa-apa?"


Natan tertegun sejenak melihat nenek buyutnya yang datang di depannya, mengkhawatirkannya dirinya meski keadaannya sendiri tidak terlalu baik. "Nenek Ra- Ra- Ranran ..."


Dia masih sedikit aneh memanggil nenek dari ibunya dengan sebutan semacam itu, tapi itulah yang diinginkan oleh nenek buyutnya. Jika dia memanggilnya secara normal, nenek buyutnya akan marah, dan sepupunya yang lain juga memanggilnya seperti ini.


"Aku baik-baik saja, Nenek Ranran lebih parah dariku."


Tidak hanya lengan yang menghilang sampai bahu, tapi juga paha yang robek sampai tulangnya terlihat, dan yang terparah adalah perutnya yang tertusuk tulang hingga tembus ke belakang.


Huanran menghela napas saat mengetahui bahwa cicitnya baik-baik saja.


"Oliv, Ayu, tolong bantuannya."


Olivia dan Ayumi tidak mengatakan apa-apa, mereka bertindak segera bahkan sebelum Natan selesai berbicara.


Huanran melihat Ayumi yang mencabut tulang di perutnya, tapi dia tidak merasakan sakit apa pun yang cukup mengejutkan.


Natan melambaikan tangannya dan tiba-tiba di depannya ada enam bayangan hitam yang muncul. Dari bayangan ini terwujud sosok wanita cantik dengan darah yang melumuri tubuh.


"Istriku, putriku. Kalian sudah lama di garis depan, saatnya beristirahat sebentar."


Natan mengulurkan tangannya untuk mengusap darah di pipi Xia Feiya, ada rasa sakit dan tidak nyaman saat melihat putrinya terluka seperti ini. "Jangan memaksakan diri, melihatmu seperti ini membuat Ayah sakit."

__ADS_1


Xia Feiya mengangguk kecil dan tiba-tiba perhatiannya tertuju pada lengan kiri Natan. Walaupun tidak ada luka di sana, tapi melihat dari pakaian yang rusak, dia tahu bahwa lengan itu sebelumnya terpotong.


"A- Ayah." Xia Feiya memegang tangan kiri Natan. "Apa sakit?"


Natan tersenyum tipis dengan menggelengkan kepala. Dia mengulurkan tangannya, memeluk Xia Feiya. "Tidak sakit lagi karena Fei'er memegang tangan Ayah."


Xia Feiya membalas pelukan Natan. "Ayah, Fei'er lelah, boleh istirahat di pelukan Ayah?"


"Tentu, apa yang tidak untuk putri Ayah." Natan mengeluarkan sofa untuk duduk seraya memeluk Xia Feiya yang duduk menyilang di pangkuannya. "Bagaimana hubunganmu dengan Agrea?"


"Hubungan kami baik-baik saja, meski dekat, tapi belum sampai ke arah itu."


Natan membelai rambut Xia Feiya yang basah karena darah monster. "Benarkah? Tapi wajahmu merah, seperti Fei'er menyukainya, tapi dia tidak peka."


Xia Feiya tertunduk dengan kepala bersandar di dada Natan.


Calista mengusap kepala Xia Feiya. "Sayang, apa tidak apa-apa kita mundur?"


Natan melihat ke belakang, dia melihat tidak hanya dirinya yang mundur. Tim lain juga mundur, entah mundur karena kelelahan, atau mundur karena takut dan putus asa. "Tidak apa-apa."


Glenda mendarat di samping Huanran yang sedang dirawat, lalu menoleh melihat banyak korban. "Top Player, mereka berlomba-lomba untuk ke puncak dengan harapan hidup damai. Tapi, siapa yang mengira malah seperti ini ..."


Natan menundukkan kepalanya dalam diam, memeluk erat Xia Feiya yang gemetar. "Hidup damai, monster muncul, berlomba-lomba naik level untuk bertahan hidup dan menuju kedamaian, tapi hanya karena kuat, malah dibawa ke tempat ini."


Calista, Olivia, Erina memiliki keluarga sebelumnya, tapi mereka tidak terlihat sedih, karena bagaimanapun itu sudah sangat lama. Terutama Calista dan Olivia yang sudah memiliki putra dan putri.


"Tapi, kalau tidak seperti ini ..." Xia Feiya mendongak. "Fei'er tidak akan bertemu Ayah, dan tidak akan memiliki Ayah."


Natan mendongak, dia melihat belasan orang berdatangan. Keluarga Alexander kembali, mereka terluka parah.


Ayumi merentang kedua tangannya, membuat area khusus untuk siapa pun yang berada di dalamnya sembuh.


"Pohon Kehidupan yang dibangun Ainsley tumbang, aku tidak tahu berapa banyak kehidupan yang mati." Jia Meiya menoleh ke belakang melihat Pohon Kehidupan yang tumbang, dan di langit samar-samar melihat Ainsley harus bertarung melawan puluhan ribu musuh sehingga tidak bisa memperhatikan Pohon Kehidupan.


Natan menurunkan Xia Feiya dari pangkuannya. Dia mengambil pedang yang tergeletak, termasuk tombak dan sniper riffle. "Kalian di sini, jangan ada yang mengikuti."


"Tapi .."


Bang!


Natan melompat seperti artileri yang meluncur, tanah di bawahnya retak, angin bertiup kencang seperti badai topan, pasir dan debu berhamburan ke sekitarnya.


"Itu ..." Calista menggaruk kepalanya. "Aku belum selesai bicara!"


Natan bisa mendengar teriakan Calista, tapi dia terburu-buru pergi untuk membantu ibunya yang harus melawan dua musuh dengan kekuatan hampir mencapai Keberadaan tingkat Keempat. Meski dia tahu bahwa kekuatannya tidak ada apa-apanya di hadapan tingkat Keempat, tapi dia memiliki keunggulan.


Sementara itu, Brianna mundur beberapa langkah saat dipukul mundur oleh monster humanoid.


Monster dengan bentuk hampir serupa seperti manusia, yang menjadi pembeda hanyalah kulitnya yang ungu seperti lebam serta memiliki empat telinga yang runcing.


Brianna melambaikan tangannya, tiba-tiba di belakangnya ada batu seukuran truk yang melesat ke salah satu monster.


Monster terlambat untuk bereaksi, sehingga menabrak batu yang membuatnya terlempar.

__ADS_1


Bang!


Monster lain datang, memukul area dada Brianna...


Brianna menahan pukulan tersebut dengan tangan kirinya, tapi bukannya dia tidak terluka, dia sudah menghadapi ratusan monster yang kekuatannya hanya sedikit di bawah tingkat Keempat, sehingga dia sudah sangat kelelahan.


"Binggo!"


Brianna membelalakkan mata saat melihat monster yang dia sedang sebelumnya tiba-tiba sudah datang di sampingnya membawa pedang besar.


Monster mengayunkan pedang secara horizontal mengarah ke leher Brianna, namun saat hanya tersisa beberapa inci sebelum mengenai leher...


Bang!


Monster tersebut terhempas seperti peluru, melesat membelah lautan api dan mayat yang menggunung.


"Ibu ..." Natan berdiri di samping Brianna dengan satu kaki terangkat setelah menendang monster. Dia merasakan sakit di kakinya, tapi rasa sakit itu menghilang dengan cepat.


Dia menurunkan kakinya dengan hentakkan kuat, menghancurkan tanah di bawahnya dan menciptakan gelombang getaran hebat.


Natan mengepalkan tangan kirinya yang dilapisi oleh tulang-tulang membentuk duri tajam. Dia mengayunkannya pukulannya ke arah monster yang berdiri di depan dan menyerang ibunya.


Monster melompat mundur untuk menghindar serangan, tapi mana mungkin Brianna membiarkannya.


Bang!


Pukulan Natan mengenai bagian kepala monster, menghancurkan salah satu mata dan mematahkan tulang hidung.


Brianna tidak tinggal diam saat diberi kesempatan seperti ini. Dia menebas leher monster menggunakan serangan angin.


Whooooosh!


Natan melihat monster yang ditendangnya tadi melesat ke arahnya cukup cepat. Dia mengambil monster yang baru dibunuh, lalu melemparkannya ke depan.


"Rise."


Monster yang dilemparnya membusuk dengan cepat hingga meninggalkan tulang, namun anehnya monster tanpa kepala tadi menumbuhkan tengkorak baru.


Bang!


Dentuman lain kembali terdengar dengan kekuatan gelombang kejut yang luar biasa. Ke mana pun gelombang kejut itu bergerak, tempat yang dilaluinya akan dihancurkan: tanah meledak, api menghilang dan mayat tersapu.


Natan mengambil ibunya yang kelelahan dan pergi ke garis belakang dengan berubah menjadi bayangan.


Ibunya sudah bertarung melawan monster dari awal mulai sampai sekarang dan tidak tahu berapa lama waktu yang dihabiskan. Dia tidak ingin melihat ibunya kelelahan seperti ini apalagi terluka.


Adapun untuk monster yang tersisa, dia bisa melakukannya, lagi pula masih ada kartu as yang belum diperlihatkannya, bahkan dia menyembunyikan kemampuan ini dari daftar skill yang dimiliki.


...


***


*Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2