
Natan mengangkat pedang mengarahkannya ke Penguasa Kota Surga, tapi dia belum memutuskan untuk menyerangnya sekarang.
Penguasa Kota Surga membuka matanya, memperlihatkan mata biru bagaikan langit. Dia menatap Natan dengan pandangan penuh penghinaan. "He-he-he... Ha-ha-ha!"
Penguasa Kota Surga mengeluarkan tawa yang tidak nyaman didengar, apalagi tawa itu tidak keluar dari mulut manusia, tapi dari mulut gurita yang menjadi tubuh bawahnya, sehingga menyemburkan darah yang menempel di taring tajam.
Tawanya juga membawa rasa penindasan yang tidak dapat dijelaskan, tapi terasa seperti sedang berada di rumah hantu yang gelap dan ada banyak pasang mata yang menatap.
Natan menurunkan pedangnya perlahan, tapi gerakan turunnya pedang ini meninggalkan bayangan. Sebelumnya dia telah belajar ilmu pedang dari Huanran, Nenek Buyutnya.
Ayunan pedangnya sangat lambat, tapi udara di sekitarnya bergerak ke arah yang berlawanan, seolah udara telah terbelah dan membentuk ngarai yang dalam, lalu udara itu menggulung ke kiri dan kanan.
Skeleton Commander melompat di depan Natan, lalu Skeleton Commander lain menendangnya.
Skeleton Commander yang ditandai itu melesat seperti proyektil yang ditembakkan dan hanya dalam hitungan detik sudah tiba di depan tubuh utama Penguasa. Skeleton mengangkat pedang besar dengan kedua tangan, lalu mengayunkannya sekuat tenaga.
Penguasa tidak mungkin diam saja ketika ada yang menyerangnya. Dia membuka mulutnya, tiba-tiba ada asap hitam yang keluar dari sana.
Booom!
Ledakan datang dengan Penguasa sebagai pusatnya, ledakan itu membentuk kabut asap tebal yang menghalangi pandangan, semuanya hanyalah kegelapan tanpa adanya cahaya sedikitpun.
Kepanikan terdengar dari segala arah, tapi Natan tetap tenang di tempatnya seolah bukan apa-apa, karena bagaimanapun, dia bisa melihat dalam malam.
"Semburan asap, ini seperti tinta yang dikeluarkan gurita maupun cumi-cumi saat dalam bahaya. Artinya kau tidak bisa menghindari serangan tadi, tapi memilih meledakkan asap untuk menciptakan gelombang kejut yang mendorong skeleton—"
"Aaarrrgghh!"
Tiba-tiba ada teriakan menyakitkan yang memotong pengamatan Natan.
Natan melihat sekitarnya, melihat Player yang berteriak saat tubuhnya terbakar, dan dari dalam tubuhnya terlihat ada cahaya biru berbentuk titik-titik yang terbang menuju Penguasa Kota Surga.
Natan menggunakan Appraisal untuk mengamati Penguasa, dan menemukan bahwa exp yang dibutuhkan untuk naik ke level selanjutnya terus terisi. Dari sini, dia tahu kalau Penguasa ini sudah menanamkan kutukan melalui Skill Pelahap Hati, dan saat mengaktifkan kutukan, Player ini akan mati dengan semua exp diambil.
"Bangkit."
Booom!
Ledakan lain kembali datang, tapi ledakan ini bukan berasal dari serangan Penguasa, melainkan dari munculnya 650 Skeleton, setengah dari jumlah total skeleton yang dimiliki Natan.
"Bunuh mereka semua."
Semua skeleton menyebar ke segala arah, dan setiap Player akan diserang oleh tiga sampai lima skeleton berlevel tinggi, sehingga tidak butuh waktu lama untuk membunuh mereka semua.
__ADS_1
"Grroooaahh!" Penguasa mengeluarkan raungan marah yang menggetarkan ruangan, pilar-pilar penyangga mulai hancur berkeping-keping, tapi langit-langit ruangan masih bertahan.
Freeze!
Skeleton Ice Mage mencipta dinding es yang mengurung Penguasa dari segala arah, kemudian Fire Mage melepaskan bola api dengan suhu di atas 2.000° Celcius, membuat dinding es langsung menguap, menggantikan asap hitam menjadi kabut putih yang tebal.
Penguasa mengeluarkan raungan lainnya yang terdengar sangat marah. Belasan tentakelnya berayun ke segala arah, membentur dinding maupun lantai dengan kerasnya.
"Tembakkan air dingin."
Air ditembakkan ke lantai logam yang meleleh, kemudian karena perbedaan suhu yang sangat besar, mencapai ribuan Celcius, mengakibatkan ledakan keras dengan kabut tebal yang menyebar ke segala arah, membentur dinding dan mengguncangnya.
Raungan lain kembali terdengar, raungan ini bukan hanya marah, tapi juga karena mendapat luka yang tidak bisa dihindari.
Mulut gurita yang besar itu terbuka lebar, lalu menghirup udara dalam jumlah besar. Ia menghisap semua kabut yang menghalangi pandangan.
Natan melihat kabut yang terhisap. "Bukankah gurita bisa melihat melalui kulit? Apakah mungkin kau tidak memiliki kemampuan itu, sehingga harus menghilangkan semua kabut."
Penguasa menyerang dengan belasan tentakel seperti ular yang menerjang.
Natan menghindari setiap serangan yang mampu menembus lantai logam sambil terus berlari mendekati Penguasa.
Dia menebas tentakel yang menyerang, tapi tebasannya tidak terlalu dalam, dan detik berikutnya tentakel itu beregenerasi kembali tanpa ada luka sedikitpun.
Whooooosh! Bam!
Tentakel melesat seperti anak panas yang ditembakkan, tapi Natan berhasil menghindarinya, bahkan dia berjalan di atasnya. Tentakel itu menembus lantai logam, dan ketika hendak diangkat, tiba-tiba es yang sangat dingin membekukan tentakelnya agar tidak bisa ditarik kembali.
Natan tiba-tiba sudah berada di depan Penguasa.
Penguasa membuka mulutnya lagi untuk melepaskan kabut asap yang mampu meledak seperti sebelumnya, tapi mana mungkin Natan membiarkan Penguasa melalukan apa yang diinginkan.
Natan mengulurkan tangannya, membungkam mulut Penguasa. Tapi ternyata tidak sesuai dengan harapannya, tubuh Penguasa sangat licin, dan karena dia menutupnya sambil menerjang, tangannya terpeleset sehingga terlepas.
Dia berdiri di atas tubuh gurita, dan terasa sangat licin, seolah berdiri di atas lantai keramik yang disiram dengan air sabun. Tapi dia segera mencari akal, yaitu menusuk pedang di tubuh gurita dan berpegangan agar tidak terjatuh.
"Grroooaahh!"
Raungan lain kembali terdengar, dan Penguasa membalikkan tubuhnya dengan mulut terbuka, memuntahkan cairan hitam.
Cairan yang ditembakkan berubah menjadi gelembung air, tapi mengeluarkan kilatan seperti petir berwarna biru yang saling beresonansi satu sama lain.
Natan mengeluarkan pipa besi yang tajam pada bagian ujungnya, lalu menancapkan pipa itu. Tapi itu belum berakhir, dia menginjak pipa itu sekuat tenaga sampai masuk seluruhnya.
__ADS_1
Raungan lain kembali terdengar bersamaan dengan gelembung air yang meledak, menciptakan badai petir yang menyerang ke segala arah dengan liarnya, menghancurkan dinding, lantai maupun langit-langit ruangan.
Natan berpindah tempat dengan kecepatan melebihi suara, dan setelah muncul, dia sudah memegang tombak besar yang dilapisi dengan api hitam, api terpanas di dunia.
"Melihat dari serangan demi serangan yang kau lepaskan, kau tidak pernah melakukan pertarungan nyata. Jika beberapa puluh orang di Kota Surga bekerja sama, harusnya mudah sekali membunuhmu, tapi mereka takut dengan kata “Level 650”, padahal tidak ada apa-apanya."
Whooooosh!
Natan melemparkan tombak seperti proyektil yang ditembakkan dari tank. Kecepatannya melebihi kecepatan suara, setidaknya dua kali kecepatan suara, itu menimbulkan ledakan supersonik dengan udara yang terbelah.
Tombak itu masuk ke dalam mulut besar gurita sampai menembusnya, kemudian api hitam itu mulai membakar bagian dalamnya.
Pemuda yang bertelanjang dada di atas gurita, bergoyang ke sana-sini karena merasakan sakit yang luar biasa.
Natan mengeluarkan mayat tikus kecil dan melemparkannya. "Rise."
Tikus itu berubah menjadi kerangka tulang dengan api biru di dalamnya, kemudian tiba-tiba mengalami perubahan lainnya setelah diberi nama: tubuhnya sedikit lebih besar, ia memakai kain hitam rusak sebagai penutup kerangka tulang, dan api di dalamnya bertambah besar.
Natan mengepalkan tangannya ketika melihat tikus memasuki mulut gurita. "Corpses Explosion."
Booom!
Ledakan keras di dalam membuat tubuh gurita membesar dengan luka-luka di sekujur tubuhnya, asap hitam juga keluar dan terlihat luka bakar yang sangat parah, sampai membuat tubuhnya merah seperti sedang dipanggang.
Natan berpindah lagi di depan Penguasa dengan keadaan melompat. "Shadow Movement."
Tubuhnya berubah menjadi bayangan karena kecepatannya yang berkali-kali dari kecepatan suara, dan tiba-tiba terlihat kilatan cahaya berwarna putih seperti garis halus yang miring, kemudian terdengar suara mendesing dengan Natan yang muncul kembali beberapa meter di belakang Penguasa.
Slash!
Kepala Penguasa terlepas dari lehernya, darah hitam menyembur seperti air mancur, dan saat darah itu mengenai logam, logam terlihat meleleh.
"Tebasanku masih terlalu lambat."
Walaupun mengatakan demikian, tapi nyatanya sangat cepat sampai suaranya datang belakangan dan buruh satu detik untuk kepala Penguasa terlepas setelah ditebas.
"Masih jauh untuk menyamai kekuatan Ibu."
...
***
*Bersambung...
__ADS_1