
Natan kembali memberikan Inti Sihir pada Kori untuk meningkatkan level agar cepat-cepat mencapai level 300, dan melihat apa yang akan ia dapatkan dari Kori dengan level seperti itu. Ia berharap dengan sangat, Kori bisa membawa mereka semua terbang di langit.
Terbang di langit memang memiliki risikonya tersendiri, di mana saat kehilangan keseimbangan, mereka akan terjatuh, dan terlebih lagi sangat mudah menjadi pusat perhatian maupun serangan. Tapi jika Ice Dragon memiliki lebih tinggi dan kecepatan yang mumpuni, tentunya akan sangat luar biasa.
Setelah melawan Zombie Mutan dan Kobold yang memiliki kesadaran serta pemikirannya sendiri, kelompok Natan memutuskan untuk berpindah tempat melalui jalan terpencil, terkadang juga melewati atap bangunan berukuran normal. Singkatnya, mereka menghindari tempat di mana ada gedung-gedung tinggi.
Kori bisa mengubah bentuknya seperti gelang yang dikenakan di tangan kiri Natan, sehingga lebih memudahkan menyembunyikan keberadaan semua orang yang ada.
"Natan, sampai kapan kita akan berlari? Ini sudah dua jam."
Natan menoleh ke kiri menatap Calista, kemudian memalingkan wajahnya kembali dan fokus ke depan. "Kita akan berlari sampai hari hampir petang, dan mencoba untuk menghindari keramaian."
Calista mengangguk kecil dan terus memandangi wajah Natan dari samping, kemudian ia tersenyum lembut.
Natan merasakan tatapan yang cukup intens dari Calista, tapi ia mengabaikannya.
Ayumi dan Erina yang berlari di belakang Natan saling menatap satu sama lain, setelah memandangi perubahan ekspresi Calista. Keduanya terlihat terkekeh kecil saat menyadari ada yang diam-diam terlihat menyukai Kakak mereka berdua.
"Kakak, apakah Kakak berniat untuk mencari pacar?" Ayumi bertanya pada Natan, meski pandangan tertuju pada Calista.
Natan terdiam sejenak, kemudian menjawab, "Kau masih terlalu kecil untuk memikirkan hal itu, lagi pula aku tidak tahu bagaimana caranya orang berpacaran dan apa yang harus dilakukan."
Plak!
Ayumi dan Erina menepuk dahi mereka secara bersamaan, benar-benar tidak menduga akan mendengar jawaban yang sangat aneh.
Kelompok enam orang itu terus berlari tanpa henti, hingga langit mulai berubah warna menjadi jingga, menandakan bahwa Matahari hampir terbenam di ufuk barat. Akhirnya mereka semua memutuskan untuk beristirahat di salah satu bangunan dengan ukuran normal
Di sekitar bangunannya sendiri banyak sekali kerangka tulang manusia, yang sepertinya mati karena terkena serangan monster, mengingat tata letaknya yang tidak beraturan.
Rumah yang mereka tempati memiliki tiga lantai dengan bagian dalam yang luas, dari lantai tiga langsung bisa melihat ke lantai dasar. Dengan ini, mereka bisa menyerang dari atas apabila ada monster yang memaksa untuk masuk.
Natan meminta bantuan pada Ayumi, Erina dan Calista untuk menciptakan dinding pelindung.
Lalu Natan berjaga-jaga di setiap lantai tiga, ia juga meledakkan setiap dinding yang memisahkan ruangan, agar pandangannya tidak terhalang sama sekali dan bisa melihat ke mana pun arahnya. Dengan tidak adanya halangan dinding, mereka juga bisa pergi apabila ada hal-hal berbahaya yang tidak visa mereka selesaikan.
Beberapa jam kemudian, mereka mulai tidur setelah menyantap beberapa makanan, dengan pelindung yang masih aktif.
Natan tidak tidur dan memilih untuk berjaga-jaga, karena ia merasa ada yang aneh setelah meninggalkan gedung berlantai 30 sebelumnya. Ia merasa ada yang mengawasinya, meski tidak berani datang, lebih tepatnya karena hari masih siang.
Jika demikian, maka orang atau monster itu akan datang di malam hari saat semua orang tengah beristirahat.
__ADS_1
Natan duduk bersila di luar pelindung dengan mata terpejam dan melipat kedua lengannya di depan dada. Semua peralatannya ia sembunyikan, sehingga terlihat seperti orang yang tanpa penjagaan sama sekali.
Hingga pada waktu tengah malam, Natan mulai mendengar suara kelelawar yang sangat pelan, seperti kelelawar itu memiliki kemampuan untuk merendahkan suara.
Natan membuka mata kanannya melirik ke kanan belakang, melihat sudut ruangan di mana kelelawar kecil bersembunyi. Kelelawar itu bernama Vilbert, Vampire dengan level 360. Ini adalah monster dengan level tertinggi yang selama ini ditemuinya.
Kelelawar itu berubah menjadi manusia berambut putih panjang, pakaian serba hitam, mata merah menyala, bibir merah darah dengan taring tajam, serta kuku hitam seperti pisau.
Vilbert melesat ke arah Natan dengan tangan kanan yang terbuka, bersiap-siap untuk menyerang kepala Natan.
Clang!
Terdengar suara yang cukup keras, seperti dua logam yang saling berbenturan. Terlihat, cakar Vilbert yang terhalang oleh dua pedang besar milik Skeleton Commander. Karena suara itu juga, semua orang yang sedang beristirahat di dalam pelindung terbangun.
Vilbert yang sebelumnya tersenyum itu terkejut dengan mata terbuka lebar, kemudian ia mengepakkan sayapnya dan melompat mundur.
Natan tidak membiarkannya dan sudah berada di belakang Vilbert, dengan kedua sumpit di tangannya. Sumpit itu terbuat dari perak, yang konon katanya salah satu kelemahan dari Vampire. Tidak tahu benar atau tidak, tapi tidak ada salahnya mencoba.
Sumpit ini ia dapatkan dari salah satu tempat orang kaya di Singapura, yang seluruh hiasan rumahnya terbuat dari perak dan emas.
Kelemahan Vampire sendiri terletak pada sayap, dan telinga runcingnya yang apabila diserang, akan menimbulkan efek bergetar pada tubuh dan kehilangan keseimbangan.
Natan menancapkan kedua sumpit pada bagian pangkal sayap Vampire.
Natan yang melihat itu sedikit kaget, tidak menyangka jika apa yang ia baca ternyata benar-benar merupakan kelemahan dari Vampir. Namun karena terpana, ia sampai terdiam dan tidak menyadari bahwa ada serangan.
Boom!
Natan melesat sepuluh meter terkena pukulan pada dadanya, dan terdengar suara retak pada tulang rusuk. Ia juga menghantam dinding ruangan dan memuntahkan seteguk darah segar dari dalam mulutnya.
Natan menggerakkan tangannya yang tertanam, kemudian turun dari lubang di dinding dengan menelan Pil Health untuk memulihkan tulangnya yang patah.
Ia bisa melihat Skeleton Commander sedang bertarung melawan Vampire, dengan Calista dan Olivia yang membantu di barisan depan.
"Iron Hand! Steel Body!" Olivia memperkuat seluruh fisiknya dan kedua tangannya. "Body Relocation!" Saat Calista mengalihkan perhatian, ia berpindah ke belakang Vampire.
Olivia memukulkan tinjunya pada pangkal sayap yang sudah terluka. "Ki Explosion!"
Ada ledakan energi tubuh Calista yang merupakan Mana, ledakan itu merusak punggung Vampire hingga melepaskan sepasang sayap.
"Aaahh!" Vilbert merentangkan kedua tangannya, mendorong semuanya untuk menjauh dari sana. "Sound Wav—"
__ADS_1
Natan mengalirkan Mana pada kedua matanya dan menatap tajam Vilbert, melepaskan Intimidasi Lv.Max.
Vilbert yang sebelumnya hendak melepaskan kemampuan, akhirnya berhenti dan tertunduk saat ada tekanan di atas kepalanya. Ia seperti merasakan ada pedang tajam yang dingin di lehernya, dan kematian adalah akhir dari semua.
"Serang!" Natan masih melepaskan Intimidasi dan mengambil posisi berjongkok, kemudian melepaskan tembakan Peluru Mana pada bagian paha Vilbert.
Jleb! Jleb! Jleb!
Belasan pedang menembus tubuh Vilbert, yang merupakan pedang dari Skeleton Knight. Kemudian melompat menjauh dari sana.
"Hammer of Blessing!" Olivia mengaktifkan kemampuan yang menambah 120% STR selama 30 detik untuk setiap anggota tim. Kemudian ia mendekati Vilbert dengan kedua tangan saling mengepal. "Gratitude Pray!"
Tubuhnya mulai bersinar terang seperti lampu senter, cahaya dari langit-langit ruangan juga muncul dan membasuh Vilbert yang berlutut tidak bisa bergerak sama sekali, bukan hanya karena pedang tapi juga karena kedua kaki Vilbert membeku.
"Aarrgghh!" Vilbert berteriak sangat keras, dan terlihat ada asap putih keluar dari tubuhnya, dengan luka-luka bakar yang menyelimuti.
Bam! Bam! Bam!
Hammer membentuk 'Salib' terus jatuh dari langit-langit ruangan, menimbulkan damage yang luar biasa, itu semua adalah serangan dari Olivia dan mereka yang bisa melepaskan serangan jarak jauh.
Vilbert menoleh ke arah Natan dengan tatapan tajam. "Vampire Castle, akan membalaskan dendam ini!—"
Natan hanya diam dan mengangkat snipernya, dengan moncong senjata yang mengenai pelipis Vilbert, kemudian menarik pelatuknya.
Tubuh Vilbert mulai retak dan berubah menjadi abu halus yang menghilang tertiup angin.
Item Drop yang tergeletak di lantai tidak terlalu berguna, hanya ada cakar, taring, darah dan jubah hitam yang menambah kekuatan dari sihir kegelapan.
Natan mengambil jubah hitam, kemudian menyimpannya ke dalam Inventory List, yang nantinya akan ia berikan pada Skeleton Mage dengan kekuatan sihir kegelapan.
"Vampire Castle?" Natan melipat kedua lengannya di depan dada.
"Apakah itu Dungeon?" Vely mendatangi Natan.
"Dungeon?!" Ayumi dan Erina sangat bersemangat ketika mendengarnya.
Natan sedikit mengangguk dan tersenyum ringan. "Kembali beristirahat, besok pagi kita akan bersiap-siap untuk mencari Dungeon Vampire Castle. Bagaimanapun, Dungeon kali ini memiliki monster dengan level tinggi."
Kelima orang lainnya mengangguk, kemudian beristirahat. Begitu pun dengan Natan yang tidur, dengan penjagaan tebal oleh semua Skeleton Squad.
...
__ADS_1
***
*Bersambung...