Monster Apocalypse

Monster Apocalypse
Chapter 152 : Shelter Poland


__ADS_3

Setelah pengaturan, semua anggota tim pergi bersama ke Shelter Poland dengan Adrian dan Addison yang mengikuti. Untuk yang lain, mereka menunggu di luar dengan jarak satu kilometer di ruangan bawah tanah.


Ruangan bawah tanah yang dibuat hanya dalam dua jam oleh Ayumi dan 80 Earth Mage yang membantu.


Awalnya, Natan hanya ingin berangkat sendiri, tapi Ayumi dan Erina meminta untuk berangkat bersama-sama; mengulangi petulangan mereka dulu sebelum membentuk Armonia Guild. Dengan itu, Natan menerimanya dan membawa mereka berdua. Tapi, ketiga istrinya langsung menghalangi jalannya dan meminta permintaan yang sama.


"Apakah sudah siap?" Natan melihat semuanya, perlengkapan mereka masih sama, tapi ada tambahan yang menyelimuti tubuhnya.


Berbeda dengan senjata, gelang, cincin dan anting. Pakaian tidak bisa ditumpuk, setelah memakai pakaian, hanya salah satu atributnya saja yang bisa berfungsi. Karena itu, pakaian luar mereka adalah pakaian sederhana dengan level 300, yang dihargai ratusan ribu gold.


Level seperti ini bisa dianggap rata-rata, sekarang sudah banyak orang dengan level 300. Ratusan juta, untuk level 400, masih belasan juta, level 500, bahkan belum mencapai 100.


Pada saat ini, Natan memimpin kelompok.


"Kita di sana untuk mengamati, tapi jika terjadi sesuatu, mungkin pertarungan akan pecah."


Adrian yang di sebelah kanan Natan, tertegun untuk sementara waktu. "Apakah, apakah kau selalu mencari masalah ke mana pun kau pergi?"


"Mana mungkin!" Natan langsung menyangkalnya tanpa berpikir. "Aku adalah pria yang murah hati, mudah senyum, kuat, pintar, rajin menabung, baik, tidak sombong, dan kaya raya."


Mendengar itu, semua orang terdiam tanpa kata dan memutar matanya dengan malas; mengatakan Natan yang berbicara omong kosong. Jika benar-benar tidak sombong, tidak mungkin mengenalkan diri sedemikian rupa seperti itu.


Natan juta diam dan tidak mengatakan apa-apa, tapi baru beberapa detik, datang pikiran yang selama ini menggangunya. "Paman Addison, Paman adalah Tentara, tapi mengapa tidak bertugas? Kemudian, kenapa tidak ada penggunaan nuklir? Bahkan, sepertinya tidak ada rudal."


Addison menoleh ke kanan sambil mengangkat sebelah alisnya, kemudian melihat ke depan. "Awalnya, aku sedang bertugas. Tapi setelah satu minggu, aku merasa tidak baik untuk menjaga orang lain, bahkan jika itu harus merusak reputasi yang kumiliki, aku tidak peduli. Banyak kritik yang aku terima saat meninggalkan militer, tapi dengan Kehancuran Dunia, bukankah lebih baik memilih keluarga?"


Natan terdiam, itu terdengar kejam karena meninggalkan tugas, apalagi Addison adalah orang yang memberi perintah di balik layar, orang yang bertugas mengambil keputusan dan termasuk salah satu petinggi di militer. Namun, jika dia adalah Addison, dia akan mengambil keputusan yang sama.


"Nuklir?" Addison tertawa masam. "Semua nuklir tidak berfungsi, semua komponen di dalamnya rusak. Setelah diteliti, ada serangga kecil yang memakan bagian dalamnya."


Natan mengangguk kecil, kemudian kembali bertanya, "Bagaimana dengan kapal induk? Stasiun Luar Angkasa? Pesawat? Presiden? Apakah semua negara bekerja sama? ..."


Addison menghela napas panjang dan mengangkat tangan kanannya untuk meminta Natan berhenti bertanya. "Kau seperti Brianna, kadang dia dingin tanpa ekspresi, tapi saat penasaran, dia terus bertanya tanpa henti."


"Ah!" Natan tersentak, bukan karena diberhentikan, tapi karena mendengar nama itu. "Baiklah ..."


Addison tertegun; mengatur napasnya dan menjawab, "Kapal induk telah jatuh, ada Megalodon. Jika satu atau tiga, itu masih bisa, tapi ada ratusan dari mereka. ISS? Baru hari kedua, kami kehilangan komunikasi dengan mereka. Pesawat? Setelah satu minggu, tidak ada yang berani beroperasi. Presiden? Aman. Bekerja sama? Ada beberapa, tapi ada juga yang ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk memperluas wilayah."


"Pemerintah pusat membangun bunker di dalam tanah, dan sepertinya China juga melakukan hal yang sama. Itu berada di Beijing, dan sepertinya menampung jutaan orang di dalamnya."


"Eh?!" Natan tersentak dalam kejutan ketika mendengarnya. Dia sudah pernah ke Beijing, bahkan bertarung melawan zombie di sana, tapi tidak menemukan adanya bunker.


Ide gila melintas di kepalanya dan bergumam, "Mungkinkah..."

__ADS_1


Natan merasa bunker itu berada satu kilometer di bawah tanah, tapi untuk melakukannya, bukankah harus menggelontorkan dana dalam jumlah besar?


"Tapi, sepertinya mungkin, bagaimanapun itu sekitar tiga sampai empat bulan setelah Kehancuran Dunia." Natan menganggukkan kepalanya—menegaskan pemikirannya sendiri.


Natan senang telah mendapatkan lebih banyak informasi. Ternyata benar, tidak semua informasi dapat diketahui dari Ainsley. Kemudian, dia merasa ada manusia yang sudah mengetahui bahwa hari Kehancuran Dunia akan datang. Alasannya, itu karena nuklir.


Kemungkinan, manusia ini menjual informasi ke Monster Ancestors mengenai nuklir, sehingga nuklir langsung dinonaktifkan. Tapi, itu hanyalah spekulasi liarnya.


Tidak ada yang tahu kebenaran pastinya.


...


Setelah berjalan cukup lama dan membunuh monster rendahan di setiap jalan, akhirnya mereka sampai di shelter melalui gerbang selatan. Shelter itu terbuat dari tembok setinggi dua puluhan meter dan dibuat dengan sihir.


"Temboknya pendek." Ayumi berdecak saat melihat kualitas tembok yang tidak terlalu baik. Bahkan, dia bisa menciptakan tembok yang lebih dari 100 meter dengan ketebalan yang luar biasa.


"Siapa di sana?!"


Ada teriakan keras yang berasal dari atas tembok, dan saat melihatnya, ada belasan pemanah yang telah bersiap-siap untuk melepaskan serangan.


Addison melangkah, melihat pemanah di atas dan mengalihkan pandangannya pada pasukan yang berjaga di depan gerbang dengan mengenakan zirah. "Kami penyintas, kami ingin beristirahat di dalam."


Belasan pasukan saling memandang, kemudian dari dalam kerumunan, terlihat seorang pria paruh baya yang mengenakan setelan hitam dengan mantel putih.


Natan menganggukkan kepalanya, kemudian melangkah menghampiri pria paruh baya untuk bertransaksi. "Tentu."


Pria paruh baya itu melihat layar interface miliknya sendiri, dan saat melihat pembayaran penuh, dia tersenyum. "Terima kasih, kalian bisa masuk. Kalian bisa pergi ke Kantor Identitas untuk membuat Identitas Shelter Poland. Jika kalian memilikinya, kalian tidak perlu lagi membayar."


Tanpa membuang waktu, mereka langsung memasuki gerbang.


Hal pertama yang dilihat Natan adalah jalanan beraspal yang terasa panas. Kiri-kanannya adalah pohon dengan daun berwarna kuning layu, seolah-olah hampir mati.


Banyak bangunan yang terbangun, dan melihat kepadatan kota. Dia bisa menebak setidaknya ada beberapa ratus ribu.


"Ini seperti kota biasa, tata letaknya bagus. Hanya saja, terasa gersang."


Pria paruh baya bernama Bendetto, mendengar perkataan Natan. Dia tidak marah, tapi menghela napas mengungkapkan ketidakberdayaan. "Apa boleh buat, cuaca sekarang sangat sulit ditebak. Kami harus menggali tanah untuk mencari sumber air, tapi karena sulit, kami hanya bisa membuat penampungan air bawah tanah ..."


"Adapun makanan, kami berhasil mendapatkan bibit dari Dungeon dan menanamnya di bawah tanah."


Natan mengerutkan keningnya. "Apakah tidak masalah mengungkapkan informasi penampungan kalian pada orang asing?"


Bendetto tersenyum, tetapi tidak mengatakan apa-apa dan memilih diam.

__ADS_1


Natan merasakan pihak lain tidak ingin menjawab. Dia juga tidak terlalu peduli, dan minatnya terusik saat melihat papan pengumuman di pinggir jalan.


"Apa itu?" Natan berjalan mendatangi.


Dia bisa melihat daftar pekerjaan yang tersedia di sana.


•Petani \= 300 G/Month


•Penjaga Gerbang \= 1500 G/Month


•Tim Patroli \= 900 G/Month


•Pasukan Tembak \= 2000 G/Month (+30% Gold Drop)


•Penambang \= 600 G/Month


•Pengangkut Batu \= 500G/Month


Banyak lagi pekerjaan yang tersedia. Melihat bagaimana penghasilan dan pengeluaran, bahkan pekerjaan petani masih mendapat untung. Satu Gold bisa membeli satu paket roti sederhana dengan jumlah sepuluh, itu cukup untuk makan selama tiga hari.


Tapi melihat ada restoran dan rumah makan sederhana, sepertinya ada sepuluh gold hanya bisa digunakan untuk membeli dua porsi makanan.


"Informasi?" Natan melihat ada bagian informasi di paling bawah, informasi diperjualbelikan dengan harga tertentu tergantung seberapa penting informasi.


"""Jika Anda ingin membeli atau menjual informasi, silakan datang ke Kantor Informasi"""


Natan merenung, memikirkan apakah harus datang ke sana. Informasi yang dibutuhkannya sudah dijawab oleh Addison, dan untuk saat ini tidak ada pertanyaan yang datang di pikirannya. Tapi, sepertinya tidak ada salahnya untuk datang ke sana.


Dia melihat peta sederhana di bagian lain, kemudian membuka Mapping, memang terlihat banyak titik hijau yang keluar-masuk ke dalam bangunan besar di jalan utama.


Melihat itu, dia langsung pergi ke sana. Dia juga berharap menemukan Player yang bisa dibawanya, tentu tergantung pada Job apa yang didapat.


Untuk saat ini, dia sudah menemukan Mekanik (Adrian), Komandan/Pengatur Startegi (Addison), Infrastruktur Bela Diri (Huanran). Untuk menguasai Provinsi Sichuan, dia butuh banyak orang-orang hebat.


Bahkan dia bisa membentuk pasukan khusus, yang diambil dari warga biasa tanpa Job. Yang melatih pasukan ini nantinya adalah Abraham yang bisa melepaskan tebasan pedang lusinan kali dalam waktu tiga detik.


Walaupun damagenya kecil, tapi cukup merepotkan.


...


***


*Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2