Monster Apocalypse

Monster Apocalypse
Chapter 144 : Melawan Roh Hutan


__ADS_3

Natan tidak berani mengejar Roh Hutan yang telah jatuh, itu karena zombie di sekitarnya telah bangkit kembali dan bergerak melindungi Roh Hutan. Dia hanya menunggu di atas Ksatria Lebah yang membawanya, dan menunggu Roh Hutan untuk kembali ke udara.


Roh Hutan bangkit dari dalam lubang dengan puing-puing yang berjatuhan dari tubuhnya. Luka di perutnya sudah pulih, dan darah-darah yang menempel pun menghilang. Ia bisa dengan mudah pulih, karena ia adalah roh dan memiliki kemampuan regenerasi. Tidak mungkin terbunuh kecuali sekali serangan yang menghancurkannya, atau saat Mana-nya habis dan tidak bisa lagi menggunakan kemampuannya.


Roh Hutan mengusap bibirnya saat melayang perlahan meninggalkan daratan. "Untuk berpikir ada manusia seperti ini, tapi, Leluhur Monster akan bangkit dan membunuh kalian semua! Ketika itu datang, monster akan menguasai dua puluh dunia dan Penjaga akan mati perbudak!"


Natan tidak terlalu peduli dengan perkataan Roh Hutan, yang sedang dipikirkannya sekarang adalah bagaimana Roh Hutan bisa terbang. "Apakah aku bodoh? Ayumi bisa membuat Item Sihir Terbang, tidak aneh jika monster bisa terbang."


"Tapi, jika bisa memilih, aku lebih memilih bertarung di daratan. Bagaimanapun, bertarung tanpa pijakan sangat sulit."


Dengan pedang di tangan kanan dan sniper rifle di tangan kiri, Natan menginjak kakinya di punggung Ksatria Lebah. Kemudian dia melesat seperti bayangan hitam yang bergerak di udara.


Roh Hutan pun tidak tinggal diam. Badai angin kencang datang dari belakangnya dengan ratusan daun seperti daun mangga, ujungnya tajam seperti pedang dan itu bergerak sangat cepat ke arah Natan.


"Shadow Step."


Natan berubah menjadi bayangan hitam untuk menghindari serangan Roh Hutan. Pergerakannya sangat cepat di udara—tiba di depan Roh Hutan dengan pedang yang kembali terangkat.


Roh Hutan sudah memperkirakan kedatangan Natan dan teringat serangan sebelumnya. Ia melindungi bagian atas kepalanya dan perutnya untuk menghalau serangan.


Natan tersenyum tipis. Dia tidak lagi menggunakan langkah yang sama seperti sebelumnya. Pedang yang dibawanya terus turun mengikuti ayunan tangannya.


Jleb!


Pedang itu memotong setengah tangan kiri Roh Hutan, dan tertahan oleh benda keras di dalam tangannya untuk terus turun.


Roh Hutan merintih saat tangannya hampir terputus. Tapi segera pulih dan melihat celah dalam serangan Natan. Ia menggunakan tangan kanannya yang terkepal, mengayunkannya langsung ke arah perut Natan, membalas serangan sebelumnya.


Natan mengangkat kaki kirinya.


Crack!


Pukulan Roh Hutan sangat kuat sampai membuat tulang kakinya retak, dan itu sangat menyakitkan. Tapi, Natan masih bersyukur daripada terkena perutnya yang mungkin menghancurkan organ dalamnya.


Natan mengambil Sako TRG Mana, langsung mengarahkannya pada dahi Roh Hutan dan menarik pelatuknya.


Roh Hutan merasakan bahaya yang mengancam, dalam seperkian detik, ia memiringkan kepalanya untuk menghindari serangan.


Bang!


Tembakan kali ini tidak menggunakan peredam, dan suaranya sangat keras di telinga Roh Hutan sampai membuatnya mengeluarkan darah.


Natan sendiri tidak mengeri bagaimana seorang roh, apalagi roh yang terbuat dari pohon dapat mengeluarkan darah.


Memanfaatkan keadaan Roh Hutan yang masih kehilangan keseimbangan karena suara ledakan di telinga. Natan mendorong pedang untuk turun lebih dalam lagi.


Slash!


Tangan Roh Hutan terputus, dan pedang itu langsung menancap pada tulang selangka.


Roh Hutan langsung tersadar ketika rasa sakit yang menjalar dari tangan kirinya yang terpotong, terutama untuk tulang selangka. Pundaknya terlihat menghitam, dan itu terus menyebar, membuatnya terlihat tua seperti pohon yang layu.

__ADS_1


"Brengse*!" Roh Hutan mengibaskan tangan kanannya.


Tiba-tiba ada akar pohon yang keluar dari bahu Roh Hutan, itu melesat seperti ular yang mengejar mangsa ke arah Natan.


"Sial!" Natan mengumpat kesal ketika melihat akar yang menyerang dadanya. Dia menyilangkan kedua senjata di depan dada.


Suara logam terdengar keras ketika serangan Roh Hutan menghantam senjata Natan, membuat Natan melesat seperti meteor yang jatuh.


Rou Hutan mengangkat tangan kanannya. "Root of Death!"


Getaran hebat terjadi di tanah, kemudian retakan-retakan besar muncul di permukaan sampai menciptakan jurang dalam. Itu mengeluarkan kecambah kecil, tapi langsung berkembang menjadi akar pohon yang liar seperti tentakel gurita.


Akar pohon itu melesat ke langit, mengejar Natan yang jatuh.


Whooooosh!


Tiba-tiba ada bola api yang melesat seperti meteor, itu tidak satu atau dua, melainkan selusin bola api yang jatuh ke pusat akar pohon.


Booom! Booom! Booom!


Serangan bola api itu menghancurkan akar pohon seperti tentakel, beserta membunuh ribuan zombie di bawahnya tanpa meninggalkan jejak.


Pada saat itu, jumlah Point Exp yang dibutuhkan sudah mencukupi. Natan langsung berhasil naik ke level 578, semua cedera yang diterimanya pun sembuh dalam sekejap mata, darahnya juga bertambah meski tidak langsung penuh.


Akan sangat luar biasa jika Health dan Mana langsung terisi penuh jika berhasil menaikkan level. Jika begitu, bisa dianggap abadi apabila naik level ketika darah akan habis saat hanya tersisa satu serangan.


Ayumi dan Erina datang. Keduanya terbang bersama, lebih tepatnya Erina diikat menggunakan rantai petir yang dikendalikan agar tidak melukai rekan.


Erina melesat seperti bola meriam. "Provoke!"


Roh Hutan yang awalnya menatap tajam ke arah Natan, tiba-tiba merasakan perasaan aneh dan sangat marah ketika melihat Erina. Ia seperti sedang melihat musuh bebuyutan yang sudah sangat lama ingin dibunuhnya.


Roh Hutan mengangkat tangannya, mulai membaca mantra untuk melepaskan sihir terkuat. Karakter misterius muncul di sekitarnya seperti huruf-huruf kuno yang mengelilingi tubuhnya.


"Interject!" Erina mendorong tameng yang dibawanya di tangan kiri, mendorongnya ke udara di depannya yang mengarah pada Roh Hutan.


Suara mendesing, dan pada saat itu juga, Roh Hutan tidak bisa bergerak, bahkan mantra yang sudah dibacanya gagal.


Erina memposisikan tangan kanannya di pinggang, kemudian mendorongnya sekuat tenaga ke depan. "Light Stab!"


Pedang yang dibawanya memancarkan sinar berwarna emas, cahaya itu bergerak, berkumpul di bagian ujungnya. Kemudian, cahaya pedang seperti laser itu muncul dari pedangnya, melesat ke arah Roh Hutan.


Roh Hutan yang membeku tanpa perlindungan, hanya bisa menerima serangan dengan pasrah.


Cahaya pedang itu menusuk dada Roh Hutan sedalam satu inci.


"Lightning Thread!"


Teriakan datang dari Ayumi yang mengangkat tongkat sihirnya. Terlihat banyak sekali benang biru dengan sengatan listrik yang melesat ke arah Roh Hutan dan mengikatnya.


Erina, jatuh dari langit karena kehabisan daya dorong. Tapi, walaupun jatuh, Erina tidak takut dan tetap melepaskan serangan. "Sword of Judgment!"

__ADS_1


Pedang setinggi puluhan meter muncul di atas Roh Hutan. Itu mengeluarkan aura yang sangat kuat, dan dengan ayunan tangan Erina, pedang itu jatuh.


Natan berubah menjadi bayangan lagi setelah kemampuannya dapat digunakan. Dia bergerak ke arah Erina dan menangkapnya dalam pelukannya.


Tepat ketika Natan berhasil menangkap Erina dan pergi dari sana, pedang besar itu melesat bagaikan petir yang menyambar dengan Roh Hutan berada di bawahnya.


Booom!


Pedang itu menghantam tanah, menimbulkan gelombang udara yang menyapu sekitarnya, membunuh zombie-zombie yang terkena kerikil-kerikil tajam seperti ledakan peluru.


"Thunderstorm!"


Tiba-tiba, guntur menggelegar di langit dengan kilatan biru yang muncul. Kemudian, kilatan petir itu berkumpul di satu titik, lalu jatuh menghantam Roh Hutan yang tergeletak di tanah setelah pedang emas menghilang.


"Fire Arrow! Fire Meteor! Fire Tornado! Explosion!" Ayumi melepaskan serangan bertubi-tubi.


Panah jatuh seperti hujan yang menyerang Roh Hutan, diteruskan dengan bola api seperti meteor, kemudian datangnya tornado api yang menghisap apa pun di sekitarnya dan membakarnya, kemudian dilanjutkan dengan ledakan keras seperti rudal.


Api berbentuk jamur raksasa terlihat dengan suhu yang naik dengan tajam.


Natan tidak menyerangnya lagi dan datang di samping Ayumi dengan Erina yang berada dalam pelukannya. Dia juga mengamati darah Roh Hutan yang terus berkurang, lalu kembali naik dan kembali berkurang lagi. Itu terus berulang-ulang sampai Mana Roh Hutan benar-benar habis.


~Informasi~


[Nama : Monsta]


[Ras : Pohon Dunia (Roh Hutan)]


[Jenis : Pencipta Monster]


[Title : Pembelot Roh Hutan]


[Level : 600]


[HP : 495.950/5.345.000]


[MP : 18.750/275.000]


"Windstorm!" Ayumi mengayunkan tongkat sihirnya.


Badai angin datang entah dari mana, itu seperti ribuan pedang yang menyerang secara membabi buta dan menerbangkan asap yang menghalangi pandangan.


Terlihat, Roh Hutan yang terluka parah sedang berada di dalam lubang di tanah yang panas tanpa dapat bergerak.


Melihat itu, mereka bertiga turun perlahan dari langit mendatangi Roh Hutan. Tentunya, Ksatria Lebah pun turun bersama untuk menjaga zombie-zombie agar tidak mendekat.


...


***


*Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2