Monster Apocalypse

Monster Apocalypse
Chapter 097 : Sampai Pagi


__ADS_3

Pemandian air panas di Istana Armonia hanya satu, namun cukup luas untuk bisa menampung sembilan puluhan orang secara langsung di satu tempat. Dan, ada khasiat tertentu yang bisa menghilangkan kelelahan maupun menambah stamina.


Natan bersandar di tepi kolam air panas, kemudian ia menoleh ke belakang saat mendengar suara. Alangkah terkejutnya ia saat melihat Vely, Calista, Olivia yang masuk, tapi mereka juga membawa kelompok Yan Jing bersama.


Untuk Ayumi, Erina, Jia Meiya dan Xia Feiya, mereka berempat sudah selesai mandi terlebih dahulu.


Natan tidak mengerti maksud dari semua ini, tidak mungkin, kan, ia harus melakukannya dengan mereka semua. Jika iya, lebih baik ia melawan ratusan Giant Knight secara bersamaan.


Berbicara tentang Giant Knight, ia mengambilnya menjadi salah satu anggota Skeleton Squad. Untuk Giant pertama yang dilawan, ia tidak sempat atau lebih tepatnya tidak bisa mengambilnya, karena Mana Point yang beregenerasi dalam satuan menitnya terlalu sedikit.


Walaupun Mana-nya 119.775 Point, tapi regenerasinya hanya 11.076 MP/m. Ia membangkitkan Skeleton tidak berdasarkan pada Mana yang dimiliki, tapi regenerasinya, agar tidak terlalu membebankan tubuh.


Tanpa bertanya apa yang sebenarnya terjadi, Natan mengubah tubuhnya menjadi bayangan hitam, yang keluar dari pemandian air panas. Ia mengambil mantel handuk dan menunggu di kamar.


Natan yang sudah memasuki kamar dengan ukuran 15 × 15 meter, langsung melemparkan tubuhnya ke atas kasur yang muat untuk lima orang dewasa. Ia terlentang, bersiap-siap menunggu kedatangan Vely, Calista dan Olivia, atau bersiap-siap untuk diperas habis.


"Apakah mereka masih lama?—"


Bang!


Pintu kembar setinggi delapan meter terbuka cukup keras, memperlihatkan Olivia yang berdiri di tengah-tengah dengan Vely dan Calista di samping.


Ketiganya memasuki kamar dan menutupi pintu, memasang Alat Sihir untuk menahan agar pintu tidak bisa dibuka dari luar, serta suara di dalam tidak bisa didengar dari luar.


"Bukankah ini baru tiga menit sejak kalian mandi?" Natan heran karena mereka bertiga mandi cukup cepat. Bagaimanapun, ia tahu betul berapa lama yang dibutuhkan mereka untuk mandi.


Olivia berjalan menghampiri Natan seraya melepaskan mantel handuk, memperlihatkan tubuh mulusnya tanpa cacat, dua gunung dan buah persik yang kencang. "Biasanya kami harus merawat kuku, alis, bulu mata dan lain sebagainya agar tetap cantik di depan Natan ..."


"Tapi, karena Natan pergi ketika kami baru masuk, kami hanya mandi biasa tanpa berendam." Olivia beranjak naik ke atas tempat tidur.


Calista juga naik ke atas tempat tidur melalui jalur lain, kemudian melepaskan mantel handuk yang ia kenakan maupun yang dikenakan Natan. Tangan kirinya langsung menggenggam tongkat ajaib yang mulai berdiri tegak.


Vely juga tidak tinggal diam dan ikut menyerang Natan. Ia datang menghampiri, memegang dadanya sendiri yang diarahkan ke mulut Natan.


Natan membuka mulutnya, menghisap tombol merah muda yang lembut dan harum itu. Kemudian ia merasakan basah di dada kiri dan kanannya, ternyata sedang dihisap oleh Calista maupun Olivia.

__ADS_1


Sepertinya mereka tidak benar-benar memerasku, tidak ada kekuatan yang berlebihan.


Natan tidak diam saja dan menikmatinya, ia juga menggerakkan kedua tangannya dan meremas dua buah persik empuk milik Calista maupun Olivia. "Bukankah ini semakin besar, dan juga kencang."


Calista dan Olivia menghentikan jilatan di dada Natan, kemudian mendongak menatap Natan. "Itu karena Natan selalu meremasnya, kami juga melakukan perawatan," ucap Calista.


"Natan ..."


Natan mengalihkan perhatiannya pada Vely, lalu kembali menghisap tombol merah muda miliknya. Ada rasa manis yang tidak asing saat menghisap yang kedua kalinya, ia tahu cairan apa ini, karena ia pernah meneguknya dari mulut Calista.


Seketika itu juga, tongkat yang sudah sangat keras, bertambah keras lagi.


Natan merasakan ada yang menjepit bagian bawahnya. Ia menunduk dan melihat Olivia yang menggunakan dada bulatnya untuk menjepit tongkatnya, ini adalah pertama kalinya, karena sebelum-sebelumnya hanya menggunakan tangan.


Vely dan Calista memindahkan tangan Natan agar merentang, kemudian mereka berdua menindih lengannya untuk dijadikan sebagai bantal. Keduanya memainkan dada Natan, seraya mencium bibirnya secara bergantian.


"Cu- Cukup— Ugh!" Natan merintih saat tongkatnya dicengkeram erat Olivia, yang menghentikan aliran lahar.


Olivia melepaskan cengkeramannya perlahan, kemudian berdiri dan berjongkok di atas pinggul Natan. "Aaahhh..." Ia merintih panjang.


Walaupun Natan diperlakukan seperti ini, tapi ia tidak merasakan sakit seperti awal, di mana mereka menggunakan Light of Battlefield.


Olivia berada di atasnya selama setengah jam, kemudian tubuhnya menggeliat dan kelelahan. Tapi, karena mereka berniat ingin memeras Natan, Natan tersenyum tipis dan menerima tantangan itu.


Natan membalikkan tubuhnya, membuat Olivia berada di bawahnya. Ia melakukannya terus-menerus selama dua jam berganti-ganti posisi, kemudian melakukannya dengan Calista dan Vely secara bergantian sampai pukul dua pagi.


"Hah, hah, hah ..." Natan bernapas terengah-engah, kelelahan karena melakukan selama enam jam tanpa beristirahat.


Natan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur yang basah karena keringat dengan posisi terlentang. Ia merasa bersyukur karena ini sudah berakhir, melihat Vely, Calista dan Olivia yang berada di sampingnya dengan mata terpejam. Tapi, ia terlalu naif karena berpikiran seperti itu.


Olivia membuka matanya, lalu kembali duduk di atas perut Natan. "Aku sudah cukup beristirahat, ayo lakukan lagi. Bukankah kami bilang akan menghukummu sampai Matahari terbit." Ia memegang tongkat, kemudian memasukkannya.


Natan tertegun dengan mulut sedikit terbuka, kemudian tersenyum tipis dan menerimanya. Ia mengulurkan kedua tangannya, memeluk erat pinggang Olivia seraya duduk. "Baiklah, ayo lakukan sampai pagi."


Natan mengangkat dan menurunkan tubuh Olivia yang duduk di pahanya, seraya mencium bibirnya.

__ADS_1


Keempat orang itu melakukannya bersama sampai pukul enam pagi yang artinya sepuluh jam melakukannya. Vely, Calista dan Olivia beristirahat sejenak menunggu giliran, berbeda dengan Natan yang harus tetap siaga tanpa beristirahat sama sekali.


"Natan, sudah pagi, apakah kau tidak ingin bangun?" Calista menggoyang-goyangkan tubuh Natan mencoba membangunkannya.


Natan membuka matanya sejenak, kemudian menutup lagi sembari berucap, "Aku lelah, biarkan aku beristirahat. Aku tidak menyangka kalian benar-benar memeras ku sampai kering."


Calista mengangguk kecil, lalu berjalan menuju pintu keluar menyusul Vely dan Olivia yang sudah pergi terlebih dahulu.


Natan tertidur pulas dengan tubuh yang lengket akan keringat, tapi karena ia sangat lelah, ia tidak langsung membersihkan tubuhnya. Hingga saat ia membuka matanya kembali, jam dinding sudah menunjukkan pukul 13.33 waktu setempat.


Natan beranjak turun dari tempat tidur. "Atatata ..." Ia menepuk-nepuk pinggangnya.


"Entah sudah berapa kali aku mengatakannya, tapi akan aku katakan sekali lagi, melawan Giant Knight terasa lebih mudah ketimbang melawan mereka bertiga di tempat tidur."


Natan menoleh ke kiri melihat bak kecil berisikan air bersih, dengan handuk kecil di sebelahnya. Ia mengambilnya, kemudian mulai membersihkan aroma tubuhnya yang bercampur, sebelum akhirnya mengenakan mantel handuk untuk pergi ke pemandian air panas.


Natan pergi ke halaman depan setelah selesai membersihkan tubuhnya. Ia bisa melihat kota sudah mulai dihias dengan cantik, dan ada lampion-lampion merah yang menggantung, menyilang di atas jalan.


Acara malam ini mengusung tema China dan Jepang, yang banyak hiburan-hiburan.


"Sudah tidak ada monster di Kota Chengdu, sepertinya aku harus pergi ke kota lain yang masih di Provinsi Sichuan, atau bahkan pergi ke provinsi lain. Aku juga bisa pergi ke Rusia, Korea untuk mencari monster kuat."


Natan menengadahkan kepalanya melihat langit biru yang tidak panas maupun dingin. Angin bertiup sepoi-sepoi mengenai wajahnya yang tampan. Ia menghirup napas dalam-dalam, kemudian mengembuskannya perlahan. "Iya, aku akan pergi ke Kota Chongqing yang tidak masuk provinsi mana pun. Aku dengar, di sana adalah kota militer, seharusnya di sana banyak shelter."


Bukan untuk bergabung dengan pihak militer, tapi ia merasa di shelter yang selalu didatangi manusia, pastinya akan memiliki monster yang banyak karena manusia-manusia yang datang memancing monster.


"Tapi, aku tidak membawa banyak orang, aku juga tidak melalui jalur darat, melainkan udara agar bisa sampai dengan cepat. Ini juga untuk jaga-jaga apabila Armonia Guild diserang, aku bisa kembali."


Natan tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya, merasa jika idenya sangat luar biasa.


...


***


*Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2