
"Tu- Tunggu!" Natan benar-benar panik saat tidak bisa menggerakkan tubuhnya, dan tiba-tiba ia merasakan seperti ada aliran listrik pada badan bagian bawahnya. "Ta- Tangan siapa itu?!—"
Calista mencium bibir Natan untuk menghentikan suara yang berisik, yang kemungkinan akan membangunkan yang lain.
Walaupun level Natan lebih tinggi dari yang lain, ia benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa diam saat Calista mencium bibirnya dan ada dua tangan yang sedang memegangi tongkatnya untuk membuatnya berdiri tegak.
Jantungnya berdebar kencang saat ada cairan manis yang memasuki mulutnya, membuat tongkatnya semakin berdiri tegak dan benar-benar keras.
"Puah..." Calista melepaskan ciumannya pada Natan, dengan kedua tangan yang masih memegangi wajah Natan.
Natan melirik ke kiri dan kanan, bisa melihat Vely maupun Olivia yang mengunci lengannya. Ia juga menyadari jika dua tangan yang sedang memainkan miliknya adalah Vely dan Olivia.
Napas Natan terengah-engah karena jantungnya berdebar lebih dari biasanya. "Hei, apakah kita harus seperti ini?"
Calista melepaskan atasannya, kemudian kembali mencium leher Natan hingga meninggalkan bekas merah di sana.
Vely dan Olivia juga terus bekerja sama untuk memainkan tongkat Natan tanpa henti. Ketiganya sama-sama tidak memiliki pengalaman akan hal ini, tapi setelah makan malam tadi, mereka berbicara dengan Xia Meiya, menanyakan tentang hubungan kekasih.
Harga diri Natan sebagai pria benar-benar ternodai malam ini, yang mana harusnya mendominasi, tapi malam ini ia tidak bisa melakukan apa pun bahkan untuk menggerakkan tubuhnya.
Bagian atas ditahan oleh Olivia yang telah menggunakan Light of Battlefield, dan untuk bagian bawah memang bisa ia gerakkan, tapi itu hanya akan melukai dirinya sendiri.
Hingga akhirnya pahanya dikunci oleh kaki Vely dan Olivia, membuatnya benar-benar tidak bisa bergerak sama sekali.
"He- Hei, to- tolong berhenti. Ingat, kalian menggunakan ... Light of Battlefield."
Gerakan tangan Vely dan Olivia mulai bergerak secara berirama, tidak terlalu terburu-buru seperti tadi, kini lebih lemah lembut untuk tidak menyakiti Natan.
Napas Natan tidak beraturan saat bagian sensitifnya dicium oleh Calista. Tapi ia tetap mencoba untuk bertahan dan berucap, "Ca- Calista, apakah kau tidak masalah dengan ini?"
Calista menghentikan tindakannya dan berhenti memeluk Natan seraya menjilati lehernya tadi, kemudian ia duduk di perut dengan kedua tangan yang bertopang pada dada Natan. "Tidak masalah, mungkin Natan tidak mengetahuinya, tapi Kak Vely terlihat mencintaimu."
"Eh!?" Natan menoleh ke kiri menatap Vely, dan memang terlihat wajah Vely yang memerah. Lalu ia kembali mengalihkan pandangannya pada Calista yang ada di atasnya. "Bagaimana?"
Calista mengembuskan napas panjang dan kembali memeluk Natan. "Insting wanita. Aku sudah menyadarinya saat kita bertemu pertama kalinya, aku melihat Kak Vely selalu memandangimu. Saat aku terjatuh ke atasmu, di mana saat Natan menolongku, aku melihatnya dengan jelas Kak Vely terlihat cemburu."
Natan benar-benar tidak menduga akan hal itu, Vely Anindya yang selama ini merupakan Guru di sekolah dan ia anggap sebagai seorang kakak, ternyata mencintainya. Tapi, masih ada satu yang menjadi masalah.
"Lalu, bagaimana dengan Olivia?"
__ADS_1
"Olivia merasa sangat tertolong dengan adanya Natan, dan ingin berterimakasih. Lalu aku juga sadar, di dunia seperti ini, seorang wanita tidak akan bisa menahan kekasihnya hanya memiliki dirinya sendiri ..."
Calista terdiam sejenak, kemudian melanjutkan perkataannya, "Karena itu, kami bertiga siap untuk menjadi pasanganmu."
Natan tertegun ketika mendengar pernyataan itu, sebagai seorang pria, tentunya ini adalah berkah, tapi baginya, ia merasa ada rasa bersalah dan seperti tidak tahu diri. "Olivia, bukankah itu berlebihan. Jangan rendahkan dirimu hanya untuk berterimakasih."
"Aku tahu Natan akan mengatakan itu. Tapi, aku sudah memikirkannya." Olivia mengecup lembut pipi kanan Natan seraya menekan bagian kepala di bawah.
Begitu pun dengan Vely yang mencium pipi kiri Natan dan memainkan telur yang menggantung.
"Aakh..." Natan benar-benar mengeluarkan suara seperti wanita, dan ia menyalahkan semua ini terjadi karena obat yang diberikan Calista padanya.
Calista berdiri untuk melepaskan bagian bawahnya, kemudian ia berjongkok di atas tongkat dan mulai turun perlahan seraya mengigit bibir bawahnya.
Natan bisa melihatnya dengan jelas, ada darah yang mulai melumurinya.
Calista kembali memeluk erat Natan yang tidak bisa bergerak sama sekali, kemudian ia mengigit pundak Natan.
Rasa sakit mulai terasa di pundaknya saat Calista menggigitnya sangat keras, dan bahkan mulai ada darah yang mengalir. Tapi, ia menahannya, karena rasa sakit ini tidak terlalu besar ketimbang rasa sakit yang diterima Calista.
Natan hanya bisa berbaring di kasur dan terus mengeluarkan suara aneh tanpa bisa bergerak sama sekali, hingga satu jam berlalu, barulah ia bisa berada di atas memandangi wajah Calista yang sangat cantik.
Keduanya terus melakukannya tanpa henti, hingga memasuki pukul empat pagi, barulah Natan berhenti melakukannya karena Calista yang sudah sangat kelelahan. Namun, karena obat yang diberikan tadi, tongkatnya masih berdiri tegak.
Walaupun Vely sudah diberikan izin oleh Calista, ia tidak ingin melakukannya dengan Natan, atau belum ingin karena ia merasa akan sangat menyakitkan.
Hingga saat semua benar-benar kelelahan, mereka tidur bersama di satu tempat tidur.
Ketika Natan terbangun, hal pertama yang ia lihat adalah Calista yang tidur dalam posisi telungkup di atas badannya. Di kiri kanan ada Vely dan Olivia yang tidak mengenakan atasan, namun bawahan mereka masih terpakai dengan baik.
Walaupun ia sudah bangun dan tidak terkunci seperti tadi malam, ia masih tidak bisa bergerak karena kedua lengannya digunakan sebagai bantal.
"Bagaimana bisa mereka bertiga mendapatkan obat seperti itu?" Yang Natan ketahui, tidak ada obat semacam itu di NPC Shop. Memang ada herbal-herbal yang menambah stamina dan semangat, tapi tidak ada yang memiliki efek menambah ...
Kecuali, mereka bertiga meminta Erina untuk mencampurkan semua bahan menjadi satu
Natan menatap kosong langit-langit ruangan. "Aku benar-benar melakukannya, meski ada tiga orang wanita di sini, aku hanya melakukanya dengan Calista ..."
"Huum..."
__ADS_1
Ketiganya mulai bangun dari tidur mereka, kemudian masing-masing memberikan ciuman selamat pagi.
"Aku akan mengatakan ini sebelum terlambat, aku tidak bisa melakukannya setiap hari."
"Kenapa? Bukankah stamina Natan cukup untuk melakukannya setiap hari?" Vely terlihat kecewa saat mendengarnya, karena ia juga mencintai Natan, namun belum melakukannya.
Natan mengembuskan napas panjang, kemudian menjawab, "Tidak bisa, bahkan meski staminaku cukup, kita tidak bisa melakukannya setiap hari. Kita harus terus bertarung melawan monster, membangun Guild Armonia, memperluas wilayah dan lain sebagainya ..."
Ketiganya terdiam, tapi tidak ada rasa kecewa, melainkan senyum hangat. Kemudian mereka bertiga pergi bersama untuk membersihkan tubuh yang lengket akan keringat, meninggalkan Natan seorang diri.
Natan beranjak turun dari tempat tidur, berjalan menghampiri lemari kaya dan melihat tubuhnya sendiri, banyak bekas luka di leher, dada dan pundak. "Bagaimana bisa, aku seorang pria tapi ditahan. Olivia menggunakan Light of Battlefield terus-menerus ..."
"Aku melakukannya selama enam jam, benar-benar melelahkan. Lebih melelahkan ketimbang melawan puluhan ribu monster."
Natan memakai pakaiannya dan menambahnya dengan jubah handuk, kemudian ia membuka pintu dan turun ke lantai bawah. Ketika turun di lantai bawah, ia mendengar suara air yang mendidih, dan melihat Ayumi yang sedang menyiapkan sarapan pagi.
"Ayumi ..."
Ayumi menoleh ke kanan. "Kakak? Ada apa?"
Natan memegangi tengkuknya dengan tangan kanan. "Aku sedikit pegal-pegal, bisakah kau berikan aku Healing?"
Ayumi memiringkan kepalanya menatap polos Natan. "Kenapa Kakak tidak istirahat saja?"
Natan tertegun dan mulai mencari alasan yang jelas. "Tidak bisa, kita tidak tahu kapan akan ada monster yang menyerang. Karena itu, aku ingin dalam keadaan yang segar bugar."
Ayumi terdiam sejenak, kemudian menjawabnya, "Baiklah." Ia mengarahkan telapak tangannya pada Natan. "Healing."
Tubuh Natan mulai bersinar dengan warna hijau kekuningan, yang menyembuhkan semua kelelahan dan luka-luka yang ia terima akibat pertarungannya tadi malam.
"Terimakasih." Natan mengusap lembut puncak kepala Ayumi.
Ayumi tersenyum bahagia, kemudian terkekeh kecil saat melihat Natan yang mulai menaiki tangga. "Apakah Ayumi akan menjadi seorang bibi?"
Buk!
Natan tersandung saat menaiki tangga kayu ketika mendengarnya, kemudian ia berlari menuju ke lantai dua untuk memasuki kamarnya lagi.
...
__ADS_1
***
*Bersambung...