
Brianna memerintahkan Elang Langit untuk mendarat di tiga kilometer dari Earth of Eternity. Tidak baik langsung menyerang ke sana, karena belum tentu mereka bisa menang dan malah korban berjatuhan. Meski wajar jika ada korban dalam peperangan, tapi Armonia Guild sebisa mungkin tidak akan membiarkan ada korban. Bahkan meski dalam perang sebelumnya ada yang mati, tapi dengan White-Mage, mereka bisa dihidupkan kembali asalkan masih satu menit dari kematian.
"Hari ini kita akan membangun kemah di sini." Brianna melihat perbatasan antara tanah lapang dan hutan, yang dibatasi oleh bebatuan setinggi lima meter membentuk seperti pagar.
Natan meminta skeleton untuk menggali tanah daripada menggunakan sihir, itu karena sihir bisa membuat getaran yang mungkin dapat memberi tahu keberadaan mereka kepada pihak lawan.
Setelah cukup dalam, Natan meletakkan rumah yang disimpannya di dalam inventaris ke dalam lubang. Dengan ini, yang terlihat di atas permukaan tanah hanya lantai dua di mana kamar berada.
Natan duduk di samping Brianna yang sedang mengawasi Earth of Eternity. "Ibu, mengapa Buku Terkutuk dilarang?"
Brianna menoleh menatap Natan, tersenyum dan menjawabnya, "Bukankah Natan sudah tahu alasannya? Buku Terkutuk adalah jebakan yang dibuat oleh Monster Ancestors untuk membuat manusia sangat menginginkan kekuatan dengan cara salah, seperti membunuh sesama, dan dengan demikian, ancaman terhadap Monster Ancestors akan berkurang. Bahkan, Monster Ancestors mungkin bisa mengendalikan orang yang telah jatuh ke tangan Buku Terkutuk."
Mendengar itu, Natan menganggukkan kepalanya dan menghela napas lega karena langkah yang diambilnya untuk membunuh pemegang Buku Terkutuk ternyata benar.
"Tapi, tidak ada benar atau salah di dunia ini." Brianna menghela napas mengungkapkan kekecewaannya terhadap manusia yang memegang Buku Terkutuk.
Natan terdiam tanpa mengatakan sepatah kata pun lagi. Dia mengeluarkan mayat tikus kecil, mengubahnya menjadi kerangka tulang, kemudian mengirimkannya untuk menyusup ke dalam Earth of Eternity.
Tikus kecil sebesar kepalan tangan itu dengan mudah melewati hamparan rumput, dan karena ukurannya yang kecil, bisa menghindari pandangan penjaga. Tapi, dengan ukuran Earth of Eternity, pastinya ada pendeteksi di temboknya.
Saat sudah berada satu kilometer sebelum tiba di tembok, tikus kecil itu menggali tanah agar tidak menarik perhatian. Kemudian dengan kendalinya, Natan mengendalikan tikus itu untuk pergi menuju sisi tembok.
Ini cukup sulit karena layar menunjukkan tanah galian, tapi untungnya Pemetaan atau Mapping bekerja di sini dengan kerangka tikus sebagai pusat.
Brianna melihat Natan yang fokus. Dia memeluk Natan dari samping, lalu mengecupnya terus menerus.
Natan tidak terganggu karena saat kecil dulu sudah sering mendapatkan kecupan sampai wajahnya merah karena dipenuhi oleh cetakan bibir ibunya yang memakai lipstik. Dia bahkan menyukainya, karena dia sudah menahannya sejak lama.
Saat melihat anak-anak lain bersama orangtua mereka di hari libur, dia hanya bisa tersenyum dan menahan sakit. Saat orangtua disuruh datang ke sekolah, dia hanya bisa duduk di sudut dan tetap tersenyum. Saat orangtua menjemput anaknya pulang sekolah, dia hanya bisa menunduk dan berjalan kaki.
Saat anak-anak memiliki mainan, dia hanya bisa melihatnya. Saat anak-anak memiliki makanan enak, dia hanya bisa pergi ke tetangga, rumah Ayumi untuk makan bersama, tapi itu hanya bertahan empat sampai lima tahun. Saat anak-anak menghamburkan uangnya, dia hanya bisa bekerja dengan apa pun yang bisa menghasilkan.
__ADS_1
"Jangan terlalu serius, jika Natan tidak bisa melakukannya, biarkan Ibu." Brianna menarik Natan ke dalam pelukannya, mengusap punggung dan kepalanya.
"Baik, Ibu." Natan tersenyum dan menyandarkan kepalanya di dada ibunya seraya memeluk pinggangnya.
Perasaan hangat ini, adalah perasaan yang sangat menenangkan dan membuatnya merasa aman, dia tidak bisa mendapatkan ini Vely, Calista dan Olivia.
Calista yang melihat Natan senang, menghela napas lega. Dia tahu selama ini banyak beban pikiran yang ditanggung Natan dan tidak pernah menceritakannya, tapi setelah kedatangan Brianna, Natan terlihat lebih sering tersenyum dan auranya tidak lagi dingin. Seolah-olah kegelapan di hatinya susah terhapus.
Calista tersenyum dengan wajahnya yang tiba-tiba merah. Dia sudah berbicara dengan Brianna tadi, dan dia diminta untuk memberikan banyak cucu. "Ibu mertua sangat luar biasa, akhirnya aku bisa mengandung anak Natan."
"Bukankah itu berarti, kita akan melakukannya sendiri-sendiri?" Vely bertanya.
"Mengapa begitu?" Olivia bertanya balik.
Vely menghela napas, menatap Olivia dan menjawab, "Bahkan saat kita meminum ramuan dan Natan tidak berniat untuk memiliki anak, dia sangat bersemangat, terutama saat dia akan mengeluarkannya, dia menusuknya dalam-dalam. Bayangkan, jika dia sudah berniat seperti itu, bukankah akan lebih intens dan mungkin akan melakukannya satu per satu, tidak langsung bertiga."
Mendengar itu, Calista dan Olivia tiba-tiba sudah bisa merasakan stamina mereka yang habis dan sakit pinggang. Tapi membayangkan bagaimana mereka bisa memiliki waktu pribadi dengan Natan, mereka bahagia.
Sementara itu, Natan terus mengendalikan kerangka tikus sampai tikus tidak bisa lagi menggali tanah, ada batu besar di depannya dan bertekstur rata. "Dinding? Aku sudah sampai tembok?"
Brianna mengabaikan itu dan terus memeluk Natan, bahkan lebih erat seolah tidak ingin melepaskannya.
Merasakan pelukan yang semakin erat, Natan hanya bisa pasrah dan mengendalikan kerangka tikus dengan mata tertutup.
Kerangka tikus yang berada di bawah kendali Natan, kembali menggali tapi kali ini ke menurun. Dia ingin melewati bagian bawah tembok, dan apabila tidak bisa, setidaknya buat ruang untuk Skeleton Knight atau bahkan Giant Knight bangkit di sana.
Dengan Giant Knight membawa pedang ratusan meter, harusnya bisa menghancurkan penghalang dan menembus tembok.
"Ibu akan membantu." Brianna mengulurkan tangan kanannya ke depan tanpa melepaskan pelukannya.
Lingkaran sihir muncul di depan tangannya, dan terlihat ada ular berwarna hitam yang keluar darinya. Ular itu langsung melesat mengikuti kerangka tikus yang sudah berada di kedalaman tanah.
__ADS_1
Natan mendongak, setengah wajahnya tenggelam di dada Brianna. "Ibu, lepaskan, aku kesulitan bernapas."
Brianna tersenyum, tapi tidak mengatakan apa-apa selain memeluk Natan lebih erat.
Natan tidak bisa bernapas, dan akhirnya menggunakan kemampuannya untuk menjadi bayangan. Dia muncul kembali beberapa meter dari Brianna. "Ibu, aku tidak masalah jika Ibu memelukku, tapi jangan terlalu kuat, aku kesulitan untuk bernapas."
Brianna tersenyum canggung, lalu menepuk-nepuk tempat kosong di sampingnya.
Natan tertegun sejenak, kemudian menyerah dan kembali duduk di samping Brianna.
Brianna mengangkat Natan agar duduk di depannya, lalu menurunkan tubuh Natan agar bisa bersandar padanya dan dia bisa memeluknya dengan mudah. "Jika Natan masih kecil, Ibu bisa memangku Natan, tapi sekarang sudah tidak bisa."
Entah mengapa Natan memiliki firasat buruk saat Brianna mengatakan itu. Apakah mungkin ada sihir untuk mengecilkan tubuh? Dia berharap itu tidak ada, dan tidak akan pernah ada orang yang berencana menelitinya.
Brianna yang mengusap kepala Natan, tangannya berhenti bergerak dengan tatapan serius. "Ibu sudah berhasil menembus penghalang tanpa ketahuan, dan tembok sudah meleleh. Sayang, bawa kembali tikus yang kau perintahkan untuk memasuki jalan yang sudah Ibu buat."
"Ah?!" Natan terkejut, tapi segera mengangguk dan mengendalikan kerangka tikus untuk kembali ke atas.
Sesampainya di tempat semula, melalui pandangan kerangka tikus, dia bisa melihat ular hitam seperti cobra, tapi sangat legam dan hanya mata merahnya yang terlihat di dalam kegelapan. Jika bukan karena Night Vision, Natan tidak bisa melihatnya.
Kerangka tikus itu memasuki tembok setebal lima meter, kemudian tikus itu tidak langsung keluar ke permukaan tanah. Natan memilih agar kerangka tikus itu menggali tanah seluas wilayah Earth of Eternity, dan dia akan meledakkan bagian dalam tanah, dengan demikian, Earth of Eternity akan tenggelam.
Pertama, buat ruang setinggi lima meter di kedalaman 30 meter di bawah tanah, lalu keluarkan Skeleton Squad agar proses menggali tanah bisa selesai lebih cepat.
"Ibu, apakah benar tidak apa-apa? Bagaimana jika mereka menyadari ada kerusakan di penghalang?"
Brianna menundukkan kepalanya menatap Natan, mengusap kepalanya dan menjawab, "Panggil naga dan bakar mereka semua, selesai."
Natan terdiam tanpa bisa berkata-kata dan memilih untuk menutup matanya lagi.
...
__ADS_1
***
*Bersambung...