
Natan memasuki gerbang yang terbuka setelah berhasil membunuh King Kobold yang cukup menyusahkan, dan saat ini mereka sudah tiba di arena persawahan yang luas dengan padi yang telah menguning sejauh mata memandang.
Melihat ini, Natan tidak bisa menahan kebahagiaannya. Ia sudah cukup untuk memakan roti keras dalam waktu yang lama karena harus menghemat pengeluaran beras. Dengan padi sejauh mata memandang, ia bisa memakan nasi sebanyak apapun yang ia mau.
"Be- Beras!!" Natan berteriak bahagia dan mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi ke langit.
Ketika ia sedang merasa sangat bahagia, layar interface yang memberikan misi muncul di depan wajahnya.
[Dungeon Tower Lantai 51]
[Bunuh Grasshopper Fangs (0/150)]
[Reward : 4.000.000 Point Exp tambahan, mengecualikan Point Exp yang didapat dari membunuh Giant Crab, dan membuka Portal Cahaya untuk pergi ke lantai 52]
Natan menaikkan sebelah alisnya saat melihat misi yang harus diselesaikan. "Belalang?"
"Kesampingkan dulu soal monsternya, kita harus menyimpan semua padi yang sudah menguning ini. Tapi, kita akan membutuhkan banyak waktu untuk mengupas kulitnya."
Erina berjalan menghampiri Natan dan menarik mantelnya. "Kak Natan, Erina punya skill yang bisa memisahkan beras dengan kulitnya?"
Natan menoleh cepat ke kanan menatap Erina dengan mata berkilauan. "Benarkah?!"
Erina menganggukkan kepalanya. "Iya, Erina membelinya dari NPC Shop untuk memudahkan memisahkan beberapa kandungan dari herbal."
Natan tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya, ia berlutut dan memeluk erat Erina. Kemudian ia juga memeluk Ayumi secara bersamaan.
Tidak lama setelahnya, Natan mulai memotong semua padi yang telah menguning dan membawanya pada Erina.
Erina mengarahkan kedua telapak tangannya pada padi yang menumpuk. Lingkaran sihir berwarna hijau muda terlihat di bawah tumpukan padi, dan satu lingkaran sihir lainnya yang berada di sebelahnya.
"Alchemy Extract."
Tumpukan padi itu bercahaya yang sama seperti lingkaran sihir, berserta lingkaran sihir yang satunya. Tiga detik kemudian, cahaya itu meredup dan terlihat tumpukan kulit padi di lingkaran sihir pertama, serta tumpukan beras di lingkaran sihir yang sebelumnya kosong.
"Oohhh, oohhh!" Tanpa sadar Natan mengeluarkan suara saat melihat beras yang terpisah dari kulitnya.
Dengan segera, ia mengambil karung yang sudah dibelinya saat Dungeon berubah tempat menjadi alam liar. Ia sudah bersiap-siap untuk hal semacam ini apabila ada daerah persawahan.
Ketika mereka terus menebas padi kuning yang berada di lahan seluas 1256 hektar. Natan mulai mendengar suara aneh seperti balik-balik helikopter yang tiap detiknya semakin keras dan banyak. Ia menengadahkan kepala melihat ke belakang, arah barat. "Ini ..."
Natan melihat ratusan belalang berwarna kuning dengan kaki hitam kecokelatan, memiliki taring yang cukup tajam, dengan ukuran tubuh seperti bus.
"Bersiap!"
__ADS_1
Erina mengangguk dan mengangkat pedangnya untuk menggunakan Absolute Defense, kemudian menancapkan di tanah untuk menggunakan Caster Enhanchment.
Ayumi juga bergerak dan menancapkan bagian bawah Magic Wand, menciptakan Barrier serta ruangan yang terbuat dari sihir tanah.
Natan mengeluarkan Sako TRG dan mengarahkannya pada belalang taring melalui jendela-jendela yang ada di dinding ruangan. Untuk saat ini hanya ia yang bisa melakukan serangan, karena jika Ayumi ataupun Erina yang melakukannya, maka semua ladang di sini akan rusak dan tidak bisa lagi dipanen.
Dengan STR 2167 dan dipotong oleh pertahanan Grasshopper Fangs, kemungkinan damage yang masuk hanyalah sebanyak 750 STR. Meski hanya sebatas itu saja, tapi setidaknya ia bisa membunuh satu belakang untuk tiga sampai empat tembakan.
Bang! Bang! Bang!
"Sial!" Natan tidak bisa menahan diri untuk mengumpat. Belasan belalang sudah menghantam Absolute Defense dan ini membuatnya sulit untuk menembak.
Natan pergi ke tengah-tengah ruangan, mengarahkan snipernya ke lubang di bagian langit-langit, dan untungnya masih ada sedikit celah untuk pelurunya bisa keluar.
"Increase Shot!"
Sebelas Peluru Mana melesat naik ke langit, melewati semua belalang yang masih terbang dan belum menutupi semua bagian pelindung yang ada.
"Bullet Rain!"
Sebelas Peluru Mana itu memancarkan cahaya biru dan ada tambahan lima peluru lain di setia satunya. Semua peluru itu mulai berjatuhan dari langit seperti hujan, mengenai bagian atas belalang.
Damage yang dihasilkan dari hujan peluru harusnya cukup banyak, namun karena ada sayap yang menghalau, tiga sampai empat peluru yang jatuh hanya menghilangkan sepasang sayapnya saja.
Natan berpindah lagi ke tempat yang lain, dan terus menembak belalang yang ada tanpa henti. Hingga satu jam berlalu, semua belalang sudah terbunuh dan Absolute Defense tidak mengalami keretakan seperti sebelumnya.
***
Lantai 54
Seminggu berlalu dan ini adalah hari ke 40 mereka berada di dalam Dungeon Tower. Sangat melelahkan dan menyusahkan melawan semua monster mengerikan dengan level tinggi di sini, berbeda sekali di luar sana yang tidak sampai melebihi angka dua digit.
Apalagi monster yang baru saja mereka lawan, Worm. Tempat saat ini juga berada di gurun pasir yang sangat panas, tidak ada tempat bernaung sama sekali dan tentunya sihir tanah tidak bisa bertahan lama.
Karena udara yang panas jugalah, sihir air tidak bisa bertahan lama di udara, dan Mana yang dibutuhkan juga meningkat sebanyak dua kali dari jumlah awal.
Natan juga berpikiran banyak Player yang terus berjatuhan saat memasuki Dungeon Tower saat ini. Itu semua karena tidak ada monster yang ada, dan hanya tersisa Dungeon Boss yang tentunya sangat mustahil untuk dilawan.
"Kakak, apakah kita harus berangkat sekarang?"
Natan menoleh ke kiri melihat Ayumi yang duduk di atas bantal. "Entahlah, kita tidak bisa bertahan lama di gurun, dan tidak tahu monster apa yang akan kita lawan. Kita bisa bertahan sampai sekarang karena pertahanan kalian berdua, dan sihir-sihir area dengan damage besar."
"Tapi ..." Natan berdiri dari bantal yang digunakan sebagai tempat duduk. "Lebih baik kita berangkat sekarang, dan jangan lupa simpan tenda yang kita gunakan untuk bernaung."
__ADS_1
Ayumi dan Erina mengangguk, berdiri dari tempat duduk mereka, kemudian mulai membongkar tenda.
Tidak lama kemudian, setelah mempersiapkan diri, akhirnya mereka berjalan menuju gerbang hitam yang tidak jauh dari tempat mereka berada.
Ketika mereka membuka gerbang berwarna hitam dengan ukiran aneh, dan mulai memasukinya, apa yang mereka lihat adalah hutan rimbun dengan pepohonan yang tinggi.
[Dungeon Tower Lantai 55]
[Bunuh Goblin Lv.175 (0/200)]
[Bunuh Orc Lv.200 (0/150)]
[Bunuh Ogre Lv.225 (0/100)]
[Bunuh Cyclops Lv.250 (0/50)]
[Bunuh Griffin Lv.265 (0/25)]
[Bunuh Wyvren Lv.275 (0/10)]
[Bunuh Dragon Lv.300 (0/1)]
[Player Reward : 2 Weapon, 2 Ring, 2 Gloves, 2 Earring, Clothes, Necklace, Shoes Lv.300, ???]
[Semua Equipment dapat ditingkatkan]
[Pet Reward : Evolution, Pet Armor]
[Reward : 73.500.000 Point Exp]
Mata Natan berkilauan saat melihat hadiah yang berkilauan dan setiap Player akan mendapatkan jumlah yang sama. Ini adalah hal yang sangat luar biasa sekali, tapi tentunya dibarengi dengan risiko yang sangat besar
Jika hanya membunuh monster darat mungkin bisa dilakukan dengan mudah, tapi apabila monster yang terbang dengan kecepatan tinggi, itu sangat sulit dan hampir mustahil untuk dilakukan, terlebih lagi Dragon yang ukurannya masih belum diketahui.
Ayumi dan Erina mulai mengangkat tangan mereka, memegangi ujung mantel Natan karena sedikit ketakutan dengan monster yang harus dilawan.
Natan mengusap puncak kepala Ayumi dan Erina, mencoba untuk menenangkan keduanya.
"Untuk saat ini, ayo kita buat tempat beristirahat di dahan pohon seperti biasa, dan gunakan dedaunan untuk menutupi tempat tinggal kita."
Natan berjongkok, kemudian mengangkat keduanya, dan melompat naik ke atas pohon setinggi delapan puluhan meter.
...
__ADS_1
***
*Bersambung...