
Meskipun banyak pertanyaan, Natan tidak mengatakan apa-apa selain menangis di pelukan Brianna. Tangisnya ini menarik perhatian, tapi segera semua orang yang melihatnya berbalik tanpa mengatakan sepatah kata pun.
Brianna tidak mengatakan apa-apa, hanya menangis saat memeluk erat Natan. Lima belas tahun, dia meninggalkan Natan seorang diri, ini adalah penyesalan terbesar dalam hidupnya. Ketika dia mengingat bagaimana hidup yang dijalani Natan melalui ingatan dari sudut pandang orang ketiga yang dikirim Ainsley, dia tidak bisa menahannya.
Terutama tentang paman dan bibi yang saling bertengkar hanya untuk memperebutkan harta warisan yang sengaja ditinggalkannya untuk Natan. Dia sangat marah dan ingin membunuhnya. Tapi ingatan ini sengaja diblokir oleh Ainsley, dan setelah mengetahui dari Natan, barulah dia meminta Ainsley untuk memperlihatkannya.
Brianna ingin datang kembali ke Indonesia untuk melihatnya, tapi dia mengurungkan niatnya karena badai salju di sana. Untuknya, itu tidak berefek, tapi dia tetap tidak datang karena sudah tahu bahwa mereka semua mati karena kedinginan dan kelaparan.
"Pasti berat bagimu." Brianna mengusap belakang kepala Natan.
Natan tidak mengatakan apa-apa dan tetap menangis.
Brianna merasakan sakit untuk Natan ketika melihat ini. "Ibu ada di sini, Ibu akan memanjakan Natan. Ibu akan menebus waktu yang terbuang."
...
Setelah waktu yang cukup lama, Natan mendongak menatap wajah ibunya dan membelainya. "Ini benar-benar Ibu." Suaranya bergetar dengan keterkejutan yang masih ada.
Brianna mengusap tangan Natan yang menyentuh wajahnya. "Iya, ini Ibu. Jangan menangis lagi, kau adalah pemimpin mereka, apakah kau harus menangis seperti ini?" Ia menggoda Natan, menyentuh hidungnya dengan lembut.
Meski mengatakan demikian, Natan masih menangis. Dia melepaskan semua emosinya yang tertahan selama belasan tahun ini. Bagaimanapun, dia ditinggalkan saat berusia empat tahun dan tidak pernah menangis dari saat itu sampai akhir-akhir ini.
Brianna mengecup kening, pipi Natan, dan saat hendak mengecup bibirnya, dia menariknya kembali karena tahu bahwa Natan bukan lagi anak kecil berusia tiga atau empat tahun.
Jadi, Brianna hanya memeluk Natan dan mengusap kepalanya. "Ibu tahu Natan memiliki banyak pertanyaan, tapi lebih baik kita kembali dulu."
Natan menganggukkan kepalanya, lalu melepaskan diri dari pelukan Brianna dan mengusap air mata yang membasahi wajahnya. Memang banyak pertanyaan, tapi seperti yang dikatakan ibunya tadi, ini bukan waktu yang tepat karena tempat ini tidak aman.
"Apakah selama ini Ibu mengawasiku?" Natan sedikit takut dan malu saat menanyakan hal ini.
Natan takut kalau-kalau ibunya tahu bahwa dia sering membunuh manusia, dan malu kalau-kalau ibunya melihat dia sedang bermain bersama dengan kekasihnya di kamar sampai pagi. Bayangkan, melakukannya saat ditonton oleh ibu kandung...
Brianna merenung sejenak saat melihat ekspresi Natan yang malu-malu. Segera, dia mengetahui isi pikiran Natan. "Ibu mendukungmu, dan ... Ibu menginginkan cucu yang cantik."
Natan tertegun dengan wajahnya yang merah. Dia menundukkan kepalanya malu-malu, dia tahu bahwa ibunya sudah mengetahui tentangnya yang tidur bersama tiga wanita sekaligus.
__ADS_1
"Malam ini, tidur bersama Ibu, Ibu ingin membacakan cerita dan memelukmu seperti saat kecil dulu." Brianna mengusap kepala Natan, tersenyum hangat dan mengecup keningnya kembali.
Natan tidak mengatakan apa-apa, dia hanya tersenyum cerah dan menganggukkan kepalanya.
Brianna bangkit, mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Natan.
Keduanya berjalan menuju tempat yang lain yang berada cukup jauh. Sampai akhirnya mereka tiba di tepi sungai, sungai kecil yang sebelumnya kotor sudah dimurnikan: tidak ada lagi tumpukan mayat atau darah yang menggenang, aliran air mengalir dengan lancar.
Ayumi yang sedang memancing di tepi sungai bersama Erina, menoleh ke arah Natan. "Kakak ..." Ia bersemangat, ingin melompat ke arah Natan, tapi berhenti saat melihat Brianna. "Siapa?" Ia memiringkan kepalanya, merasa pernah melihatnya tapi lupa di mana.
"Ayumi sudah pernah melihatnya di foto, dia adalah ibu kandungku yang awalnya sudah meninggal karena kecelakaan lima belas tahun lalu. Tapi entah bagaimana, dia hidup kembali dan menemuiku." Natan menjelaskannya saat menatap Ayumi dan menoleh ke arah Brianna. Dia sendiri masih tidak percaya.
Mendengar itu, bukan hanya Ayumi, bahkan semua orang yang hadir kecuali tawanan tercengang.
Banyak yang kehilangan orangtua saat bencana ini.
Ayumi bergetar saat melangkah menghampiri Brianna. "Ap- Apakah Ayu juga bisa bertemu Ibu?"
Brianna merasa sakit saat melihat tatapan penuh harap Ayumi, dia ingin mengatakan sesuatu yang baik, tapi maaf, kenyataan sangat menyakitkan. "Maaf. Bencana ini, Penjaga hanya memilih sepuluh ribu orang secara acak. Kami diberi tugas yang berat, ada yang bunuh diri karena tidak tahan, ataupun bunuh diri karena keluarga yang ingin mereka temui terbunuh. Adapun aku, aku sudah lama ingin bertemu dengan Natan, tepatnya saat kalian di Singapura saat menghadapi Fire Dragon. Tapi ..."
Brianna terdiam sejenak seraya mengusap kepala Ayumi. "Aku belum memenuhi syarat, dan baru akhir-akhir ini bisa dibebaskan dari tugas. Dengan demikian, akhirnya aku bisa bertemu dengan Natan."
Brianna memeluk erat Ayumi. Dia juga melihat Erina yang menangis dan memeluknya. "Aku harus berterima kasih pada kalian, karena kalian, Natan bisa bertahan. Mulai sekarang, kalian bisa menganggapku sebagai ibu kalian."
Ayumi dan Erina mendongak, lalu menganggukkan kepalanya.
Di sisi lain, Natan menghampiri Calista yang sedang berdiri mematung di bawah pohon. "Calista, ibuku meminta cucu."
Calista tersadar dari lamunannya, dia mengusap air matanya. Dia juga berharap untuk bisa bertemu dengan ayahnya yang merawatnya, tapi saat mendengar penjelasan Brianna tadi, dia sudah menyerah.
"Tentu ..." Calista menganggukkan kepalanya dengan ekspresi yang masih kosong, hingga tiba-tiba tersentak dan menyadarinya. "Tunggu! Cucu?"
Natan menganggukkan kepalanya. Awalnya dia tidak ingin membahas hal ini, tapi setelah banyak yang mengatakan tidak peduli dengan Penjaga dan ingin melakukan hal yang mereka suka, dia juga ingin melakukannya. Terutama dengan ibunya yang menginginkan cucu, dan kebetulan ibunya berada di bawah Penjaga. Tentu, ibunya sudah tahu tentang Monster Ancestors, tapi masih menginginkan cucu? Hanya ada satu jawaban, Monster Ancestors membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk memecahkan segel.
Ini hanya tebakan, tapi menurutnya, mungkin butuh sepuluh tahun lagi sampai Monster Ancestors keluar. Bagaimanapun, waktu dekat yang digunakan di sini bukan waktu Bumi. Bagaimana jika itu waktu Ras Elf? Yang ratusan tahun hanya terasa seperti satu tahun bagi mereka.
__ADS_1
Bagaimana jika itu adalah waktu Ras Naga? Yang sepuluh tahun hanya terasa seperti waktu tidur siang.
Calista menundukkan kepalanya dan mengangguk kecil. "Baiklah. Jadi, kami tidak perlu lagi meminum ramuan. Tapi, bagaimana dengan Monster Ancestors?"
Natan mengusap kepala Calista. "Tidak perlu khawatir, aku menduga sepuluh tahun lagi baru muncul. Jika kita menunggu sepuluh tahun, kita masih muda, bisa-bisa saja, tapi Kak Vely."
Calista menoleh ke arah Vely yang sedang memasak bersama Jia Meiya. Dia mengangguk paham, memang sulit bagi Vely karena sedikit tua.
***
—Keesokan Harinya—
Kelompoknya masih di Washington, tapi semua tawanan sudah dikirim ke Armonia Guild untuk direhabilitasi. Sedangkan Natan dan yang lain, mereka berencana untuk berkelana di sini, untuk meningkatkan level dan mencari sumber daya berharga yang tidak dimiliki oleh Armonia Guild.
Selain sumber daya dari tanaman dan hewan, Natan ingin mencari teknologi yang maju di sini. Memang tidak bisa digunakan, tapi bisa diteliti sebagai referensi untuk menciptakan teknologi yang lebih maju menggunakan Batu Sihir.
Kemudian, Brianna adalah yang memimpin, karena memang sudah sering mengelilingi dunia dan dengan Level 680, memang sangat cocok untuk memimpin.
Dengan monster tertinggi yang masih Level 600, Brianna bisa dengan mudah membunuh monster yang biasanya membutuhkan cukup banyak waktu.
Natan sendiri tidak masalah apabila Brianna yang memimpin, dia bahkan senang karena bebannya untuk memastikan keselamatan semua orang sedikit berkurang, dan tidak perlu lagi terlalu membuat rencana.
Meski, kekuatan tertinggi masih didominasi olehnya dengan bantuan Skeleton Squad.
"Seperti yang sudah kita rencanakan, kita akan pergi ke tebing di mana Skull Guild dibangun sebelumnya. Kita akan menyelidiki Earth of Eternity, kemungkinan mereka membawa Buku Terkutuk." Brianna menatap semua orang, dan saat mereka menganggukkan kepala, dia tersenyum.
Dengan demikian, Brianna menyentuh tanah, tiba-tiba pola sihir berwarna biru muncul dengan diameter tiga puluhan meteran.
Angin bertiup kencang, menerbangkan dedaunan saat cahaya putih menyilaukan muncul.
Ketika cahaya menghilang, terlihat Elang Langit berwarna cokelat yang bentangan sayapnya mencapai 100 meter muncul di depan mereka. Paruhnya berwarna putih, matanya merah.
Natan yang melihat Elang Langit, tidak bisa berkata-kata lagi karena levelnya sangat tinggi, itu Level 650.
...
__ADS_1
***
*Bersambung...