Monster Apocalypse

Monster Apocalypse
Chapter 227 : Bos Tersembunyi


__ADS_3

Natan mengusap tubuh polos Liu Xinmei di dalam pelukannya, sesekali membelai dan mencium rambutnya yang harum.


Liu Xinmei menunduk, mengulurkan tangannya menggenggam ular yang berdiri tegak. "Kita masih memiliki banyak waktu sebelum matahari terbit, ingin aku menghisapnya?"


"Tidak perlu ..." Natan menggelengkan kepalanya dan berkata, "Sekarang, aku hanya ingin memelukmu, tapi tidak masalah jika kau menggenggamnya."


Liu Xinmei memainkan milik Natan dengan lembut, kemudian dia mendongak, mengamati pundak Natan. "Sayang, aku sudah lama penasaran, dengan levelmu, tidak sulit menghilangkan luka, tapi mengapa ada bekas gigitan di sana?"


"Ah? Ini ..." Natan menyentuh pundaknya, lalu dia mulai menceritakan asal mula mendapatkan tanda gigitan di kedua pundaknya.


Ketika Liu Xinmei mendengar tentang malam pertama dan Vely, Calista dan Olivia yang meninggalkan tanda di pundak Natan, dia terus memandangi pundak kiri Natan yang masih memiliki satu bekas gigitan. "Aku ... ingin menggigitnya."


"Tentu ..." Natan membelai rambut Liu Xinmei, menyisirnya ke samping telinga. "Tapi, apa bisa meninggalkan bekas? Mereka menggigitnya karena kesakitan, jadi tenaga yang dikeluarkan cukup banyak."


Liu Xinmei terdiam, dia melihat milik Natan yang digenggamnya. "Sepertinya, nanti-nanti saja." Ia melihat dada kanan Natan, lalu mengecupnya sekuat tenaga sampai meninggalkan bekas merah. "Untuk sementara, aku memberi tanda di sini, setelah siap, hapus tanda ini dan ganti di pundak."


Natan membiarkan Liu Xinmei melakukan apa pun yang diinginkan.


Liu Xinmei yang sudah memberi tanda, mengubah posisinya duduk di pangkuan Natan, tapi tidak sampai masuk, melainkan terjepit di antara dua bongkahan daging padat.


Natan mengambil selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua, lalu dia meremas bokong padat Liu Xinmei yang lembut.


Liu Xinmei tersenyum hangat menatap Natan, lalu dia menyandarkan kepalanya di dada dan membiarkan Natan bermain-main dengan tubuhnya. "Aku mau tidur, lakukan apa pun yang kau suka, tapi jangan sampai masuk, aku hanya mau melakukannya dalam keadaan sadar, bukan saat tidur."


Natan tersenyum tipis, membelai rambut Liu Xinmei yang menutupi matanya. "Aku juga tidak ingin melakukannya saat kau tidur, bagaimanapun, aku ingin mendengar suara eranganmu yang menggemaskan."


Liu Xinmei tersipu malu, tapi dia membuka mulutnya, lalu mengecup bibir Natan sampai lidah mereka bertemu dan mengeluarkan suara.


Ciuman mereka berakhir. Liu Xinmei menyandarkan kepalanya; Natan memeluk erat dengan tangan kanan mengusap punggung, dan tangan kirinya yang meremas salah satu bongkahan daging padat Liu Xinmei.


Kemudian keduanya menutup mata, mencoba untuk tidur.


...***...


—Siang Harinya—


Mammoth Castle sudah menjadi dari hutan, setidaknya berada di jarak yang aman dari ledakan maupun dampak dari angin yang timbul nantinya.


Natan membuka layar hologram yang sama, memperlihatkan penglihatan yang diambil oleh Ksatria Lebah dari langit. "Hah ..." Ia menghela napas.


"Hari ini, aku mengorbankan seratus skeleton, ini adalah harga yang cukup besar."


"Kakak! Cepat ledakkan!" Ayumi mengangkat tangan kanannya yang terkepal setinggi mungkin, dan berteriak dengan semangatnya.


Natan terdiam tanpa bisa berkata-kata, tapi dia tetap mengarahkan tangannya ke arah skeleton berada.


Erina mengikuti gerak tangan Natan dan berteriak, "Corpses Explosion!"


"Corpses Explosion!" Xia Feiya juga berteriak dengan suara yang lucu.


Kemudian, layar hologram memperlihatkan percikan api yang muncul di tengah-tengah, lalu ledakan keras terdengar dengan nyala api yang membubung tinggi membentuk jamur raksasa.

__ADS_1


Tidak berhenti di situ, debu terlihat naik melewati nyala api, lalu ledakan lain datang dengan bebatuan besar yang menyebar. Bebatuan itu memiliki berbagai ukuran, meluncur ke segala arah dengan api yang membakar, lalu melesat jatuh menghantam tanah seperti meteor.


Dalam ledakan ini, terdengar raungan marah, kemudian terlihat akar-akar pohon berukuran besar dengan diameter 20 meter, mencuat dari dalam tanah, bergerak liar seperti tentakel gurita yang terkena garam.


Akar itu menghantam tanah, mengamuk membentuk parit yang dalam.


Natan memfokuskan pikirannya, dia membuka Inventory melalui Ksatria Lebah, kemudian terlihat ada ribuan granat tangan yang jatuh seperti hujan. Granat tangan ini adalah granat yang didapatnya saat menyerang markas tentara bayaran bersama Adrian.


Tidak cukup, Natan mengeluarkan Giant Knight setinggi 120 meter. Itu jatuh dari langit, menciptakan suara keras yang memekakkan telinga.


Giant Knight mengayunkan pedangnya yang ukurannya 1,5 lebih besar dari tubuhnya, itu melesat turun membelah angin, menimbulkan angin kencang yang menyebar.


Booom!


Pedang itu jatuh, tapi terlihat akar pohon yang saling terjalin membentuk perisai dengan ukuran yang sama besar seperti pedang, itu menghalau pedang itu jatuh.


Melihat pemandangan ini, Natan menyadari musuh yang dihadapi kali ini cukup sulit.


Natan kembali mengeluarkan skeleton dari bawah kaki Giant Knight, kemudian meledakkannya lagi seraya menyimpan Giant Knight.


Booom! Duarr!


Ledakan lain kembali terdengar dengan nyala api membentuk jamur raksasa; perisai kayu yang menghalau serangan Giant Knight itu hancur berkeping-keping, tapi masih belum cukup untuk membunuhnya sepenuhnya.


Natan terus mengorbankan skeleton sambil menahan sakit dan menangis tanpa air mata.


Ayumi yang berada di samping, terus melompat seraya mengangkat tangan dan berteriak, "Corpses Explosion! Corpses Explosion!"


Natan hanya bisa tersenyum masam saat dia menjatuhkan skeleton dan meledakkannya berkeping-keping.


Tubuh Natan diselimuti oleh cahaya emas saat Olivia mengaktifkan skillnya, dan setiap kali skeleton meledak, di langit akan ada cahaya emas yang berkumpul membentuk tanda salib, kemudian itu jatuh menghantam tanah dengan daya hancur yang luar biasa.


Vely yang duduk di sofa menyesap teh, mengeluarkan tongkat sihir dan menghentakkan di lantai.


Tiba-tiba, ada gelombang kejut yang menyebar ke segala arah...


Di layar, hutan yang mencoba melawan, tiba-tiba berhenti bergerak untuk beberapa saat.


Calista melambaikan tangannya, mengeluarkan pedang di tangan kiri dan menebas. "Dominate."


Kilatan cahaya merasa melesat mengikuti arah pedang, kecepatannya sangat cepat, dan hanya buruh hitungan detik untuk melewati jarak belasan kilometer dan mengenai hutan.


Hutan itu diselimuti oleh cahaya merah, pertahanan dan serangannya berkurang 50%.


Natan menoleh ke belakang. "Jangkauan serangan kalian sudah meningkat sebanyak ini?"


"Bukan apa-apa." Olivia menyesap teh dengan postur yang elegan.


"Ini adalah hal yang biasa." Vely mengikuti gaya Olivia.


Calista terkekeh kecil dan berkata, "Walaupun kami hanya di rumah selama enam bulan ini, kami terus berlatih penggunakan skill-skill kami sampai mahir. Mahir di sini bukan hanya karena Level Max, tapi juga dari segi kontrol, jangkauan, dan lain sebagainya."

__ADS_1


Natan menganggukkan kepalanya dan mengacungkan ibu jarinya.


Ledakan demi ledakan kembali datang, damage yang dihasilkan kali ini lebih kuat dari sebelumnya, terutama saat ada serangan tambahan yang jatuh dari langit.


Sampai akhirnya terdengar raungan tak berdaya yang sedih dan marah, sulur yang berdiri tegak terjatuh menghantam tanah.


Hutan itu memancarkan cahaya, kemudian meledak menjadi serpihan cahaya putih kehijauan yang terbang ke langit.


[Global: Armonia Guild berhasil membunuh World Boss tersembunyi Level 830]


Natan tercengang ketika melihat prompt sistem yang muncul di depan matanya.


[Kontribusi:


No. 01 : Natan Alexander: 100.832.628 (96,48%) \= 68.073.695 Exp


No. 02 : Olivia Edrea: 3.020.067 (2,89%) \= 2.038.895 Exp


No. 03 : Vely Anindya: 418.002 (0,40%) \= 282.200 Exp


No. 04 : Izora Calista: 261.251 (0,25%) \= 176.375 Exp


No. 05 : Tanaka Ayumi: 0 (0%) \= 0 Exp


No. 06 : Erina Adriani: 0 (0%) \= 0 Exp


No. 07 : Jia Meiya: 0 (0%) \= 0 Exp


No. 08 : Xia Feiya: 0 (0%) \= 0 Exp


No. 09 : Liu Xinmei: 0 (0%) \= 0 Exp


No. 10 : Kuro: 0 (0%) \= 0 Exp


No. 11 : Kori:0 (0%) \= 0 Exp]


Ayumi terdiam dengan tangan terangkat, dia hanya memberi semangat sampai lupa menyerang, sehingga tidak mendapatkan kontribusi dari membunuh monster.


Ayumi berbalik menatap Natan dengan air di sudut matanya. "Kakak, hadiahnya berikan pada Ayu."


Natan tersenyum tipis, dia mengambil hadiah yang didapat ke dalam Inventaris Guild dan memberi izin bagi Ayumi dan yang lain untuk mengambilnya. "Aku sudah menyimpannya, kalian bisa mengambilnya ..."


"Rata-rata perlengkapan ini untuk meningkatkan kemampuan sihir, dan mereka yang memiliki unsur air, kayu, angin sangat cocok untuk memakai perlengkapan di sana. Adapun aku, tidak ada yang sesuai."


Ayumi tersenyum bahagia, dia membuka Inventory dan mengeluarkan tongkat sihir polos dengan sehelai daun di puncaknya. "Atributnya luar biasa, tapi penampilannya lebih buruk dari Tongkat Sihir Kosmos Level 600 dari Pohon Monster."


"Sepertinya, Ayu harus bergadang malam ini untuk menggabungkan dua tongkat sihir." Ayumi mendengus, lalu dia menyimpan kedua tongkat sihir.


Natan hanya tersenyum tipis tanpa mengatakan apa pun, dia membiarkan Ayumi melakukan apa yang dia suka. Kemudian, dia duduk bersandar di sofa, memandang langit biru dengan ekspresi sedih. Untuk membunuh bos ini, dia menghabiskan 200 skeleton.


...

__ADS_1


***


*Bersambung...


__ADS_2