Monster Apocalypse

Monster Apocalypse
Chapter 255 :


__ADS_3

“Omong kosong?! Sebesar itu? Tidak mungkin ada makhluk dengan ukuran seperti itu!” Perdana Menteri berdiri seraya membanting kedua tangannya di atas meja, tentu bukan meja di ruang pertemuan, tapi meja di ruangannya sendiri.


"Itulah yang sebenarnya." Natan memandang Perdana Menteri dengan ekspresi datar. "Dunia tidak bergerak berdasarkan logika kita, dunia bergerak sesuai dengan ketentuannya, dan, kita tidak bisa lagi menggunakan logika untuk memikirkan hal ini. Contoh, ada banyak kadal di luar sana, apakah sebelum Kehancuran Dunia ada kadal sebesar itu? Tentu, mengecualikan zaman prasejarah."


Perdana Menteri membuka mulutnya, tapi dia memilih menahannya dan menelan kata-katanya.


Natan mengabaikan Perdana Menteri, dia sendiri tahu kebencian apa yang dimiliki Perdana Menteri terhadapnya. Alasannya karena dia mengambil seluruh Provinsi Sichuan sebagai Kerajaan Armonia, yang mana ini mencoreng nama Pemerintah Pusat.


Tapi Natan tidak peduli, dia membersihkan area yang dipenuhi monster dengan usaha dan tenaga, dan tentunya dia harus mendapatkan hadiahnya seperti memiliki wilayah yang dia bersihkan.


Bahkan dia ingin memperluas Kerajaan Armonia dan memberikan wilayah pada anak-anaknya sebagai hadiah. Walaupun anak-anaknya tidak menginginkan wilayah untuk dikelola, tapi dia harus tetap memberikannya sebagai hadiah pernikahan.


Natan menoleh melihat Xiang Yin An yang merupakan Ketua Taiyang Guild. "Guild kalian menjaga di area utara, apa ada pergerakan dari monster-monster di sana?"


Xiang Yin An berdiri dan itu menarik perhatian semua pria di ruangan kecuali Natan. Dia sendiri belum menikah meski sudah berusia 40 tahun, karena dia bisa hidup ratusan tahun, sehingga dia menganggap 40 tahun masih terlalu muda.


"Daerah utara terus menghadapi serangan monster setiap siang dan malam. Level mereka tidak terlalu tinggi, hanya Level 750 — 850, tapi yang menjadi masalah adalah mereka mampu menggunakan sihir. Tidak ada korban jiwa di pihak kami, tapi kami kesulitan karena kekurangan personel." Xiang Yin An membaca laporan yang telah disiapkan oleh sekretarisnya dan dia juga sudah melakukan pemeriksaan nyata.


Natan menganggukkan kepalanya dan merenung untuk sesaat sebelum berkata, "Ibu Kota akan mengirim 80 Penyihir dan 300 Magic Archer untuk membantu, serta akan ada 20 Kapal Udara yang berangkat."


"Terima kasih, Yang Mulia." Xiang Yin An tersenyum tipis seraya membungkukkan badannya, kemudian kembali duduk.


Natan mengangguk, kemudian dia meminta yang lain untuk melaporkan semua keadaan di kota yang mereka kelola.


Agatha, adalah orang terakhir yang memberi laporan karena dia sendiri harus bertugas sebagai sekretaris Natan.


Setelah selesai pertemuan, akhirnya diambil kesimpulan bahwa Kerajaan Armonia dan Pemerintah Beijing akan bekerja sama membersihkan semua monster, termasuk menghancurkan Dimensional Cave.


Pemerintah Pusat menggunakan pesawat tempur mereka, pesawat tempur yang ditenagai oleh Batu Sihir dan mengubahnya ke listrik. Berbeda dengan Kerajaan Armonia yang mengubah Batu Sihir ke Sihir Terbang sehingga lebih mudah dalam memobilisasi kendaraan tempur udara.


...


Natan menyusun dokumen, lalu dia berdiri dan menemukan Xia Feiya sudah berdiri di sampingnya.

__ADS_1


"Ayah, biarkan Fefei yang membawanya." Xia Feiya mengulurkan tangannya.


Natan tersenyum, dia menyerahkan dokumen, lalu merangkul bahu Xia Feiya. "Putri Ayah sudah besar, hampir berusia 22 tahun." Ia mencubit pipi Xia Feiya, lalu mengecup pelipisnya.


"Apa sudah menemukan calon suami yang cocok? Bagaimana dengan putra ketiga Agatha? Bukankah kalian dekat?"


Xia Feiya menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya yang memerah. "Ayah... Jangan bicara sembarangan, kami hanya sebatas teman, kami belum sampai sejauh itu."


"Benarkah?" Natan mencubit pipi Xia Feiya dengan lembut seraya tertawa, dia senang sekali menggoda putri tertuanya ini. "Jika kalian memang berpacaran, Ayah setuju-setuju saja, tapi jangan menikah terlalu cepat, Ayah tidak ingin salah satu putri Ayah meninggalkan istana."


"Ayah ..." Suara Xia Feiya mengecil dengan kepala yang semakin tertunduk malu.


Natan tersenyum tipis, dia mencubit pipi Xia Feiya sekali lagi, lalu dia berhenti menggodanya dan pergi menuju pintu keluar.


Ketika dia keluar, dia menoleh ke kanan, dia melihat Shuya, Celine, Orla, Hannah dan Xiaoai yang berjongkok seraya bersandar di dinding.


"Hei, bidadari kecil Ayah, mengapa kalian di sana?" Natan menghampiri putri-putri kecilnya.


Hannah dan Xiaoai mendongak, mata mereka berbinar ketika melihat Natan yang datang. Keduanya berdiri dan berteriak, ""Ayah!""


Putri-putrinya selalu ingin mendandaninya, entah dari Vera dan Octavia, Jiang Shuya, Celine dan Orla, hingga Hannah dan Xiaoai. Tapi saat bermain bersama ibunya, mereka akan bermain boneka dan belajar.


Charles, Ling Wei dan Verdinand lebih suka membaca dan menggambar saat masih kecil, serta bermain lego kayu.


Natan berjongkok, mengusap kepala Hannah dan Xiaoai. "Mau bermain apa hari ini?"


Hannah mengangkat tangan kanannya yang membawa kuas. "Hannah mau mendandani Ayah supaya cantik!"


Natan memiringkan kepalanya dan bertanya, "Mengapa tidak bersama Ibu Xinmei dan Ibu Meiya?"


Hannah dan Xiaoai menoleh, keduanya saling memandang, kemudian menatap Natan seraya menjawab secara bersamaan, ""Karena Ibu sudah cantik!""


"Apa Ayah tidak cantik?"

__ADS_1


"Tidak!" Celine bergabung dan berkata, "Ayah tidak cantik, tapi tampan, karena itu kami ingin mendandani Ayah supaya cantik!"


Natan tersenyum tipis, dia mendongak menatap Shuya. "Shu'er juga?"


Shuya tidak menjawab, tapi kepalanya mengangguk.


"Baiklah." Natan menganggukkan kepalanya, lalu dia berdiri.


Shuya melompat, dia memeluk Natan dengan kaki yang melingkar seperti koala. Celine dan Orla duduk di pundak lebar Natan. Hannah dan Xiaoai tergantung, dipeluk Natan seperti membawa dua karung secara bersamaan.


"Tuan Putri sangat dekat dengan Yang Mulia." Salah seorang pelayan yang berdiri di sudut berbicara dengan suara rendah.


Calista berdiri di belakang Natan, mengangkat kedua tangannya memegangi Celine dan Orla agar tidak jatuh. "Kalian berdua, jangan selalu duduk di sana, itu berbahaya."


"Tapi ini menyenangkan, Ibu." Celine memegang kepala Natan agar dia tidak terjatuh.


Natan tertawa dan berkata, "Tidak apa-apa, aku senang mereka bisa bersenang-senang seperti ini."


Celine membuka mulutnya, tapi kembali menutupnya lagi. Dia khawatir dengan putrinya, dan khawatir dengan suaminya yang setiap hari membawa anak-anak di pundak, takut apabila ada masalah dengan tulangnya. Tapi karena suaminya berkata demikian, maka dia hanya bisa diam.


...***...


—30 Hari Kemudian—


Natan mulai melatih kemampuannya lagi meski tidak seluruh kemampuan yang dikerahkan, karena meski Kota Armonia memiliki pelindung yang sangat kuat di bawah sihir Brianna, tapi jika dia mengerahkan seluruhnya, dampak kerusakannya tidak kecil, dan dia tidak mau itu terjadi.


Pada saat ini, dia berdiri di tengah lapangan latihan, memegang pedang kayu. Dia menengadahkan kepalanya, memandangi langit biru dan membiarkan keringat membasahi tubuhnya yang tidak memakai baju.


"Satu bulan lagi, pertempuran terakhir datang, dan aku bisa bertemu dengan Ibu. Hannah dan Xiaoai belum pernah bertemu dengan Ibu, mungkin dua bulan dari sekarang atau setelah pertempuran berakhir, mereka akan bertemu."


Natan menghela napas, dia berjalan membawa pedang kayu dan meletakkannya di penyimpanan senjata yang tergantung di dinding, lalu mengambil senjata lain yang merupakan tombak besi. Dia ingin melatih semua senjata yang dikuasainya. Dia tidak tahu apakah kemampuannya dalam memanipulasi tulang bisa berfungsi atau tidak, dan karena itulah dia ingin melatih kemampuan bertarung jarak dekatnya.


...

__ADS_1


***


*Bersambung...


__ADS_2