Monster Apocalypse

Monster Apocalypse
Chapter 059 : Dungeon Vampire Castle


__ADS_3

Natan tidak tahu apakah ini semua telah diatur atau hanya kebetulan belaka, setelah Vilbert terbunuh, hanya dalam waktu singkat saja sudah ada pemberitahuan tentang Dungeon Vampire Castle yang tidak jauh dari tempatnya saat ini.


Jaraknya sekitar 50 kilometer, dan hanya membutuhkan waktu paling lambat adalah tiga menit untuk sampai.


Untungnya, Dungeon Vampire Castle baru terbuka saat pagi hari, pukul 08.00 waktu setempat, mengikuti waktu Bangkok, Thailand.


Walaupun terlihat berbahaya, Natan berencana untuk memasuki Dungeon, dengan harap mendapatkan Item Drop yang sangat langka dan berharga. Siapa tahu ia bisa mengubah Job Necromencer menjadi lebih kuat lagi, seperti halnya Archer menjadi Marksman.


***


Rabu, 09 Juli 2025


Kelompok Natan bergegas pergi ke arah utara untuk menuju Dungeon Vampire Castle yang sebentar lagi akan terbuka, dan ia sudah menekankan pada yang lain untuk selalu waspada, karena tidak mungkin hanya mereka saja yang datang ke sana.


Bagaimanapun, masih banyak manusia yang selamat, meski hanya Guild Armonia yang sudah mencapai level 300 ke atas.


Tiga puluh menit terlewat, dengan kecepatannya sedang, akhirnya mereka sudah tiba di tempat yang telah ditetapkan. Saat ini mereka berdiri di rumah bertingkat dengan dua lantai, memandangi gundukan tanah yang di sana ada pusaran cahaya biru, dengan layar interface merah di depannya.


Banyak tim lain yang juga datang ke sini dan berdiri di atas bangunan masing-masing, dengan setiap timnya beranggotakan 10 sampai 20, ini seperti membawa Guild ketimbang tim.


Anggota paling sedikit adalah tim Natan, tapi setidaknya mereka adalah yang terkuat di sini.


Ada yang datang melompat ke arah atas rumah di mana Natan berada. Orang itu adalah pria yang sekiranya berusia 25 tahunan, berambut hitam pendek dengan potongan rapi, memiliki alis tebal dengan pandangan sedikit menjijikkan.


Pemuda itu mengenakan jirah perak, dengan pedang di bagian pinggang.


"Apakah tim kalian hanya memiliki satu laki-laki? Bagaimana jika tidak ada yang melindungi kalian? Bagaimana jika kalian bergabung denganku?" Pemuda itu mengulurkan tangannya, dan memperlihatkan anggota tim miliknya.


Anggota tim pemuda itu memiliki 15 pria, dan tidak ada wanita sama sekali.


Natan yang tidak mengetahui apa yang dikatakan pemuda itu hanya memilih diam dan fokus pada Dungeon Vampire Castle.


Pemuda itu terlihat sangat kesal dan menurunkan tangan kanannya, kemudian kembali melompat ke arah bangunan di mana anggota timnya menunggu. Ada niat membunuh yang benar-benar terlihat jelas di matanya.


Natan membuka layar interface dan mengirimkan pesan di Guild Chat untuk semuanya agar lebih waspada, karena kemungkinan besar akan ada penyergapan dan pembunuhan.


Natan membuka Mapping yang memang selalu aktif, tapi ia atur agar jangkauannya lebih luas lagi. Ia bisa melihat setidaknya ada 10.000 Player yang datang, dengan level terendah adalah 120, dan yang tertinggi adalah dirinya.

__ADS_1


Sebelum kedatangan kemari, Natan juga sudah mengatakan untuk tidak mengambil barang dari Inventory Guild di hadapan Player lain. Ia mengatakan bahwa ini adalah kemampuan yang hanya diterima oleh Guild Armonia, karena merupakan Guild pertama di dunia.


Dalam penyerangan ini, Natan tidak menggunakan senjata utamanya, melainkan menggunakan tombak dengan level 80 untuk mengecoh. Jika sudah memasuki Dungeon, barulah akan menggunakan senjata utama.


Waktu terus berjalan dan terlihat ada perubahan pada bagian pintu masuk Dungeon. Warna layar interface sudah mulai berubah, oranye yang kemudian biru.


[Bangkok : Dungeon Vampire Castle telah dibuka]


[Dungeon bawah tanah, dapat menampung banyak Player sekaligus. Hanya bisa dimasuki selama satu jam, setelah satu jam terlewati, tidak ada yang bisa masuk lagi]


Seketika itu juga 10.000 Player mulai bergerak secara bersamaan mulai bergerak ke arah pusaran biru selebar satu lapangan sepak bola.


Pemuda yang sebelumnya mengajak Vely itu kembali menatap tajam, kemudian melompat membawa semua anggota tim.


Natan yang melihat Kannik Duangphen bergerak ke pintu Dungeon masih tetap diam, dan membiarkan semuanya masuk terlebih dahulu. Kemudian ia mengganti senjatanya dengan Black Sword.


"Bersiap-siap, pastikan aktifkan pelindung setelah kita masuk. Karena orang tadi pastinya memiliki niat buruk, mungkin saja kita akan disergap saat masuk." Natan kembali mengingatkan semua orang untuk selalu waspada.


Semuanya menganggukkan kepalanya sebagai balasan.


Natan tersenyum ringan dan melompat dari atap rumah, kemudian berjalan memasuki pintu Dungeon secara bersamaan.


***


Langit berwarna merah darah dengan tanah hitam tandus penuh retakan, pohon-pohon yang tumbuh jarang dan itu pun sudah mengering tanpa daun yang tumbuh.


Natan menoleh ke sekitarnya, melihat semua Player sedang duduk di atas sesuai kelompok masing-masing tanpa ada yang bergerak lebih dalam. Ia tidak mengetahui mengapa mereka semua hanya diam di sini tanpa pergi untuk membunuh monster, namun tidak lama kemudian semua pertanyaannya terjawab.


[Bertahan Hidup 24 Jam]


[Cobalah untuk bertahan hidup selama 24 jam, hati-hati dengan sekitarmu, entah monster atau manusia lain. Jika mampu bertahan hidup dalam waktu yang telah ditentukan, Player akan dapat turun ke lantai 2]


Natan membawa yang lain ke tempat yang lebih dalam, menghindari Player yang kebanyakan dari mereka adalah pria paruh baya, yang memiliki tatapan tidak nyaman bagi Veli, Calista dan Olivia.


Setidaknya Natan membawa mereka sejauh 500 meter dari Player lain, dan membangun jebakan yang mengelilingi tempat mereka berada. Jebakan itu hanyalah sebuah parit, tapi di dalamnya sudah ada pagar tulang yang mencuat dan sangat tajam.


"Kalian lihat tadi? Kita menjadi pusat perhatian. Karena itulah, persiapkan diri sebaik mungkin, dan sepertinya akan ada kekacauan di sini. Dari sepuluh ribu Player, mungkin setengahnya akan terbunuh karena pertarungan antar Player," ucap Natan yang mengeluarkan pedang dari sarungnya, kemudian merawatnya.

__ADS_1


Natan melirik jauh ke belakang, melihat yang lain sedang memasak. Akhirnya, ia memutuskan untuk memasak juga dengan bantuan Ayumi.


Banyak sekali perhatian yang tertuju pada kami, sepertinya memang salah memasuki Dungeon luas seperti ini.


Natan bisa mendengar pembicaraan Player lain melalui Skeleton Knight yang ia sembunyikan di dalam bayangan pemuda tadi, tapi sangat disayangkan ia tidak bisa memahami apa yang diucapkan mereka. Namun tidak masalah, setidaknya ia bisa membunuh mereka secara langsung apabila mereka menyerang terlebih dahulu.


Bukan hanya satu, Natan juga menyembunyikan Skeleton Knight dan Jahe di berbagai tim lawan, di saat ia menginjak bayangan mereka dengan sengaja.


"Natan, mengapa kau sangat waspada?"


Natan menoleh ke kiri depan melihat Vely yang membawa sumpit. "Ini adalah Dungeon, sudah sepatutnya kita waspada. Pembunuhan bisa terjadi kapan pun, mungkin saat kita tertidur, atau bahkan saat ini juga ..."


"Kita adalah orang asing, yang tidak mengetahui apa yang mereka bicarakan. Siapa tahu mereka sedang menyusun rencana, untuk mengurangi jumlah Player yang ada."


Calista menganggukkan kepalanya berkali-kali dengan melihat lengannya di depan dada, menandakan setuju dengan apa yang dikatakan Natan. "Benar-benar, apalagi Kak Vely sangat cantik, mungkin saja ada om-om gila yang datang di malam hari."


Calista menoleh pada Natan, kemudian mengubah perhatiannya pada Player lain. "Haruskah aku membunuhnya sekarang?"


Natan hanya diam dan menghela napas panjang, kemudian fokus pada makanannya di depan. Tapi meski demikian, ia benar-benar merasa tidak nyaman karena banyak tatapan mata yang tertuju padanya, terlebih makanan yang tim Natan makan cukup mewah ketimbang yang lain.


Hingga waktu terus berjalan, tidak terasa sudah memasuki waktu tengah hari, tapi anehnya di dalam Dungeon sudah malam, itu ditandai dari angin dingin yang bertiup dan langit mulai gelap.


Player lain masih berada di tempat mereka berada, di mana tempat itu di depan pintu Dungeon. Tapi pintu itu sudah menghilang, dan akan muncul setelah Dungeon berhasil diselesaikan.


Natan yang duduk bersila dengan mata terpejam dan memeluk pedang itu, akhirnya membuka mata secara tiba-tiba saat merasakan kehadiran monster jauh di kanannya, yang merupakan arah selatan.


Ketika yang lain tidak mampu membedakan arah, Natan bisa dengan mudah membedakannya karena Mapping.


Natan berdiri dari tempatnya dan menghilangkan jebakan yang ada, kemudian berjalan ke arah utara. "Ayo kita pergi, tidak lama lagi akan ada gelombang monster, dan sangat sulit untuk mengatasinya di tempat ini tanpa ada dataran tinggi."


Tanpa ragu atau bertanya, anggota tim Natan langsung berjalan mengikuti dari belakang.


Cibiran dari Player lain terdengar, meski tidak mengetahui apa yang dikatakan, tapi sepertinya memiliki makna menghina.


...


***

__ADS_1


*Bersambung...


__ADS_2