Monster Apocalypse

Monster Apocalypse
Chapter 197 : Menghancurkan Camp High Orc


__ADS_3

"Ayumi."


"Sudah." Ayumi mengembalikan Inti Sihir yang sudah dibentuk sesuai seperti magazen dan memiliki kandungan Sihir Angin di dalamnya.


Natan menerimanya, mengganti magazen yang sudah ada dengan magazen baru. Dia berbalik, tiarap di tepi tebing dengan menghadapkan moncongnya ke arah menara pengawas.


Dia tidak membuang terlalu banyak waktu karena bisa mengungkapkan keberadaannya di sini. Dia langsung menarik pelatuknya; peluru angin seukuran ibu jari melesat membentuk pusaran kecil dengan kecepatan putar yang luar biasa.


Dari waktu ke waktu, peluru angin itu akan semakin tipis, tapi tekanan yang diberikan semakin kuat serta kecepatannya terus bertambah.


High Orc yang berjaga di menara pengawas, kembali berbalik arah ke tempat Natan berada. Matanya menyipit, dan ketika dia membuka mulutnya hendak berbicara .... itu semua terlambat.


Peluru angin bertekanan mengebor kepalanya melalui dahi, menembusnya sampai mengenai tanah belasan meter di bawahnya.


Ketika peluru angin itu mengenai tanah, tanah meledak dengan suara nyaring, menimbulkan asap dan debu naik ke langit.


Natan melepaskan tembakan sekali lagi untuk membunuh High Orc lain yang ada di satu menara pengawas. Kemudian dia mengambil adik-adiknya dan berlari ke arah lain untuk meninggalkan jejak.


Gruoahhhh!


Dia bisa mendengar suara raungan marah yang menggelegar dari camp, tapi dia tidak peduli dan terus bergegas ke tempat lain untuk melepaskan tembakan berikutnya.


Ayumi dan Erina kembali kesal karena rambut mereka yang baru saja disisir, harus berantakan lagi. Apalagi cara membawa mereka berdua, seperti membawa karung beras, ini menyebalkan.


Tidak butuh waktu lama untuk sampai, apalagi dia menggunakan Shadow Movement yang membuatnya bergerak seperti bayangan hitam di siang hari.


Ketika sudah tiba, dia berada di area perbukitan dan berada lebih jauh dari sebelumnya. Tadi, dia berada di utara dari Camp High Orc, sekarang ada di timur laut.


Natan berlutut dengan satu kaki dan duduk di tumit kaki kanannya. Dia mengangkat sniper, menggunakan scope untuk mencari target.


"Kakak sialan!" Ayumi menghentakkan kakinya berkali-kali seraya mendengus dingin.


Erina tidak berbeda jauh dengan Ayumi, dia sama-sama kesal dan melakukan tindakan yang sama.


Natan mengabaikan kekesalan mereka berdua. Dia tidak khawatir tentang keduanya, mereka sangat mudah untuk dibujuk, hanya perlu mengusap kepalanya atau memberikan sedikit pelukan.


Setelah mengatur napasnya, Natan menarik pelatuk.


Peluru angin kembali ditembakkan, membelah udara di depannya, menukik tajam dan semakin tipis tapi membawa tekanan yang kuat di bagian depannya.


Sama seperti sebelumnya, Natan menembak beberapa kali sampai semua High Orc yang ada di menara pengawas terbunuh. Kemudian dia bertindak seorang diri tanpa membawa Ayumi dan Erina, dia bergegas ke arah timur, tenggara, selatan, barat daya, barat, barat laut, utara dan kembali lagi ke timur laut.

__ADS_1


Cukup melelahkan karena harus mengitari Camp High Orc, dan setidaknya hampir menempuh jarak delapan kilometer untuk mengitarinya. Walau kecepatannya sekarang melebihi kecepatan suara, tapi tetap saja cukup melelahkan.


Natan sudah kembali, dia melihat Camp High Orc sudah kacau balau. Banyak High Orc yang bergegas keluar dari tempat mereka, membawa gada besar dan meraung marah.


"Aku bisa membunuh musuh dengan satu serangan, tapi untuk membunuh mereka semua, tidak mungkin bisa." Natan menghela napas. Dia menoleh ke belakang, melihat Ayumi yang menatapnya, kemudian mendengus dan memalingkan wajah.


Natan mengulurkan tangannya, mengusap kepala Ayumi. "Ayumi, tolong jatuhkan hujan meteor di sana. Kita harus cepat-cepat naik ke lantai selanjutnya."


Ayumi berbalik menatap Natan. "Tidak jadi berlama-lama di sini?"


Erina mengerutkan keningnya, ada sedikit kekesalan di matanya. Dia kesal jika Natan terburu-buru hanya karena ingin bertemu Calista dan yang lain. "Iya! Bukankah Kakak berjanji untuk berpetualang bersama kita di sini dan berlama-lama? Mengapa terburu-buru?"


Natan sudah menduga bahwa keduanya akan bereaksi seperti ini. Dia mengusap kepala mereka berdua, tersenyum dan menjawab, "Aku tidak masalah jika kita berlama-lama di sini. Tapi tempat ini tidak cocok untuk menginap, siang terlalu panas, dan malam terlalu dingin. Tidak ada air di sini, pohon sangat jarang, bahkan rumput pun rumput kering."


Mendengar itu, Ayumi dan Erina terdiam dan saling memandang. Kemudian melihat sekeliling, memang sangat kering dan panas.


"Baiklah." Ayumi mengambil Tongkat Sihir Kosmos. Dia berdiri di tepi tebing, melihat Camp High Orc yang jatuh ke dalam kegaduhan.


Gemuruh menggelegar seolah langit sedang marah saat berubah menjadi merah-oranye. Suhu naik secara signifikan, menjadi lebih panas dari sebelumnya, bahkan oksigen terbakar membuat riak kecil di langit.


"Fire Meteor!" Ayumi mengayunkan tongkat sihirnya secara vertikal ke bawah.


Api menyala di bawah langit, menyebar dan membentuk bola yang memadat seperti tanah. Kemudian bola itu melesat jatuh seperti hujan, membelah udara dengan kecepatan tinggi.


Gelombang udara panas menyebar, membuat rerumputan yang tumbuh jarang itu mengering bahkan menghitam.


Booom! Booom! Booom!


Hujan meteor jatuh menghantam Camp High Orc, mengakibatkan ledakan keras yang mengguncang bumi. Api menyala, naik ke langit membentuk jamur raksasa. Gelombang kejut dengan udara panas menyebar ke segala arah, membawa kehancuran yang luar biasa.


Natan memeluk Ayumi, kemudian menangkap Erina dan bergegas meninggalkan tempat ini. Jika dia tetap tinggal di sini, mereka akan terkena dampak yang sama, bahkan meski itu sudah berjarak cukup jauh.


Booom!


Ledakan lain datang, Camp High Orc dihancurkan sepenuhnya. Api yang menyebar dalam bentuk cincin, menyapu apa pun yang dilewatinya. Gunung-gunung maupun bukit merah disapu, mengubahnya menjadi debu yang tertiup angin.


Natan sedikit gugup, dia mengubah tubuhnya menjadi bayangan yang bergegas terbang di udara. Dia juga berteleportasi singkat, di mana dia melihat bayangan yang ada di balik batu, dia berpindah ke sana dan terus berlari.


Gruoahhhh!


Dalam kobaran api, terdengar raungan yang membawa kemarahan, kebencian, permusuhan dan niat membunuh yang kuat.

__ADS_1


Natan sedikit goyah saat dia berlari. Dia menggertakkan gigi, menghentakkan kakinya dengan kuat dan kembali bergegas meninggalkan tempat.


[King of High Orc dalam keadaan marah]


[+30% STR, +10% AGI, -15% VIT]


[King of High membangkitkan semangat juang. Memiliki kemampuan mendeteksi yang kuat dan indra penciuman yang tajam, ia mampu mendeteksi aroma yang berbeda]


Natan tercengang ketika melihat prompt yang muncul di depannya. Bukan karena kemampuan dari King of High Orc, tapi karena pengingat sistem. Sebelumnya, tidak ada hal semacam ini meski dia dalam keadaan hidup dan mati, tapi kali ini berbeda.


"Sistem Player yang cacat. Bagaimana bisa Penjaga membuat sistem seperti ini? Sebelumnya tidak ada Gold, kemudian berkembang sedikit demi sedikit. Tidak bisakah langsung ke tingkat yang tinggi?"


Natan melihat misi yang diberikan, dan melihat jumlah monster yang dibunuh naik sedikit demi sedikit. Ini menjelaskan bahwa monster di sana terbunuh perlahan, menderita luka berat, kehabisan napas dan terpanggang.


...


Setelah berlari cukup jauh, Natan berhenti dan menghela napas. Dia menurunkan adik-adiknya dengan hati-hati, kemudian dia berdiri seraya memegangi pinggang belakangnya.


"Kalian sangat berat, pinggangku sakit."


"Kakak tadi bilang apa?"


Natan tertegun sejenak, kemudian tertawa canggung sambil mengusap kepala Erina. "Kalian ringan, cantik dan menggemaskan."


Erina terkekeh kecil saat matanya tertutup, menikmati usapan lembut di kepalanya.


Ayumi mengambil tangan Natan, mengangkatnya dan meletakkannya di atas kepalanya sendiri.


Natan tahu apa yang diinginkan Ayumi dan mengusapkannya. "Kalian berdua sangat menggemaskan."


Keduanya tertawa kecil, terlihat sangat bahagia karena bisa bersama-sama seperti dulu.


Booom!


Ledakan keras datang dari belakang, dan itu bukan berasal dari api atau apa pun itu yang sehubungan. Ledakan itu datang dari serangan gada dari King of High Orc.


Tanpa berbalik untuk melihatnya, Natan kembali memeluk adik-adiknya dan bergegas meninggalkan tempat. Dia ingin mencari tempat yang sangat tinggi untuk bisa melepaskan serangan.


Adapun menyerang dari dekat, tidak ada kepikiran ke sana. Bukan hanya levelnya terlalu tinggi, tapi juga King of High Orc dilapisi oleh aura merah yang membuat suhu tubuhnya panas, bahkan udara sedikit terbakar.


...

__ADS_1


***


*Bersambung...


__ADS_2