
Tidak ada yang berbicara di dalam ruangan ini, tapi suara tangis dapat terdengar, terutama suara tangis Charles, Vera dan Octavia yang sangat keras.
Glenda menggigit bibirnya, dia tidak terima melihat ini, cucunya yang paling disayangi yang hidupnya dari kecil sendiri, tapi akan meninggalkannya lagi. "Kalau boleh tahu, berapa lama lagi, dia hidup."
Calista melambaikan tangannya, memberikan izin pada semua orang kecuali anak-anak untuk melihat informasi dasar Natan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
[Nama : Natan Alexander]
[Ras : Manusia]
[Usia : 22 Tahun]
[Level : 822 (89 Miliar/300 Miliar)]
[Job : Assassin/Necromancer/Marksman]
____________________________________________
[HP : [21/784.900] [(90.758/m]
[MP : [226.800/226.800] [15.810/m]
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Glenda tersentak, dia sangat terpukul ketika melihat ini, cucunya akan mati dalam waktu 30 detik. Ditambah, Brianna tidak ada di sini untuk melihat detik-detik terakhirnya.
Hingga tiba-tiba, pintu terbuka keras sampai menimbulkan suara ledakan.
Semua orang menoleh ke arah suara dengan marah, berpikir siapa yang berani-beraninya mendobrak pintu meski sudah dijaga belasan prajurit di luar sana.
Tapi ketika melihat siapa yang datang, ada sedikit harapan yang tersisa.
Ya! Orang yang mendobrak pintu adalah Brianna dan Ainsley.
Ainsley melihat Natan yang terbaring di atas tempat tidur, dia melihat informasi yang membuatnya sangat marah.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
[Nama : Natan Alexander]
[Ras : Manusia]
[Usia : 22 Tahun]
[Level : 822 (88 Miliar/300 Miliar)]
[Job : Assassin/Necromancer/Marksman]
____________________________________________
[HP : [7/784.900] [(90.758/m]
[MP : [226.800/226.800] [15.810/m]
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Kalian semua! Menyingkir! Menjauh darinya! Kita diburu oleh waktu!"
Mendengar itu, Vely, Calista, Olivia, Liu Xinmei dan Jia Meiya menjauh seraya membawa anak-anak dari atas kasur.
Claudia juga turun, mempersilakan Ainsley untuk mengambil tindakan.
Ainsley bergegas dengan panik, dia benar-benar diburu oleh waktu. Saat dia duduk di atas tempat tidur, waktu yang tersisa hanya lima detik. Dia membuka selimut dan kemeja Natan dengan paksa sampai robek, memperlihatkan luka hitam pekat di dadanya yang menyebar luas ke dada kiri, perut, pinggang dan kedua lengan atas.
Melihat pemandangan ini, Ainsley tahu bahwa luka yang diterima sangat-sangat parah.
__ADS_1
"Ini ..." Calista menutup mulutnya, akhirnya dia tahu mengapa selama ini Natan selalu menolak untuk berhubungan, yang mana ini sangat aneh.
Bahkan, mereka tidak lagi mandi bersama, dan Natan selalu memakai pakaian tebal serta panjang selama tiga minggu terakhir.
Ainsley mengangkat tangannya, terlihat jantung berwarna hitam yang muncul di tangannya. Dia menggertakkan giginya dengan marah, dia perlu waktu untuk mengekstrak darah dan sihir dari jantung ini. Adapun mengapa tidak mengekstrak sebelum datang, itu karena efeknya akan langsung menghilang setelah beberapa detik.
Empat detik ... tiga detik ...
"Cepat, cepat, cepat! Sialan!" Ainsley sampai mengeluarkan air mata.
Sampai akhirnya jantung itu mengeluarkan dua titik yang berbeda, berwarna merah dan hitam. Dua tetesan air itu jatuh di atas dada Natan, tapi tidak langsung meresap masuk, melainkan menyatu lebih dulu.
Ainsley melihat informasi yang dimiliki Natan dengan penuh harap.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
[Nama : Natan Alexander]
[Ras : Manusia]
[Usia : 22 Tahun]
[Level : 822 ( 87 Miliar/300 Miliar)]
[Job : Assassin/Necromancer/Marksman]
____________________________________________
[HP : [0,3/784.900] [(90.758/m]
[MP : [226.800/226.800] [15.810/m]
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Ayumi!"
Pemandangan yang menakjubkan akhirnya muncul, terlihat tanda tambah berwarna hijau yang mengelilingi Natan, tubuhnya memancarkan sinar hijau keemasan. Tubuhnya yang kering seperti mayat mulai kembali seperti sedia kala, warna hitam di tubuhnya yang penuh dengan retakan mulai menghilang dengan kecepatan yang dapat dilihat oleh mata telanjang.
Melihat ini, Ainsley menghela napas lega. "Akhirnya, dia bisa diselamatkan, tapi, dia tidak bisa langsung bangun."
"Berapa lama?" Brianna datang di samping Ainsley, matanya yang merah sudah berair, dia mencoba menahan agar tangisnya tidak jatuh
Ainsley menggelengkan kepalanya dan menjawab, "Aku tidak tahu, kesadarannya sudah memudar setidaknya satu menit yang lalu. Kita harus menunggunya, dan persiapkan mental, jika dia bangun nanti, mungkin sebagian ingatannya akan menghilang."
Brianna terkejut, dia melangkah mundur dan duduk dengan lemah.
Vely membuka matanya, matanya yang awalnya sudah cerah karena Natan berhasil diselamatkan, kembali kosong tanpa cahaya. "Jika, jika, jika kau terlambat datang, apa aku bisa menghidupkannya lagi dengan Raise?"
"Tidak ..." Ainsley menggelengkan kepalanya. "Dia terkena Mana Iblis, dan pemilik Mana ini adalah Iblis Level 1.600. Natan bisa bertahan selama ini, itu sudah sangat luar biasa, jika itu orang normal, mungkin satu atau tiga hari sudah mati, tapi dia bertahan selama berbulan-bulan."
"Kemudian, aku minta maaf karena terlambat, untuk menyembuhkan lukanya, kita harus memiliki jantung dari Iblis ini, dan aku pergi selama ini untuk berlatih, tapi setelah mengetahui kabarnya dari Brianna, aku langsung mencari Iblis ini."
Ainsley tersenyum tipis. "Jika dia bangun nanti, kalian istri-istrinya, cobalah terus berkomunikasi, dan, aku tahu kalian menyimpan foto rahasia, perlihatkan padanya. Perlihatkan semua foto kenangan yang selalu kalian ambil hampir tiap hari, mungkin, dia akan mengingatnya."
"Aku keluar dulu, kalian para istri dan anak, cobalah mengobrol dengannya, mungkin, suara kalian bisa menyadarkannya." Ainsley menepuk pundak Calista, lalu berjalan keluar, dia juga memandangi Keluarga Alexander yang ada di sini.
Keluarga Alexander tahu ini, jadi mereka keluar satu per satu, menyisakan Claudia, Timothy dan Sophia.
Timothy menepuk pundak Natan dan berkata, "Cepat sadar, atau, Nenek akan terus datang ke padaku."
Sophia mendengus dingin ketika mendengar ucapan kakaknya, dia mendorongnya menjauh, memandangi Natan untuk beberapa saat, lalu berbalik tanpa mengatakan sepatah kata pun.
...***...
—2 Minggu Kemudian—
Natan masih terbaring tidak sadarkan diri di tempat tidur, selama ini istri-istri dan anaknya datang secara bergantian untuk merawatnya.
__ADS_1
Sama seperti saat ini, Calista datang membawa baskom berisi air hangat, dengan Charles yang berdiri di sampingnya membawa handuk kecil.
Calista tersenyum tipis, dia meletakkan baskom di atas meja di samping tempat tidur. Kemudian dia menggendong Charles.
Charles mencelupkan handuk kecil, memerasnya, lalu mengelap tubuh ayahnya. "Ayah, Challes celalu membantu Ibu, Challes uga mengjadi anak yang baik. Jadi, Ayah halus bangun ..." Suaranya merdu, manis dan kekanak-kanakan.
Calista menggigit bibir, dia mengusap kepala Charles dengan lembut. "Ayah ... pasti mendengarnya, dia, pasti bangun."
Charles menganggukkan kepalanya. "Iya! Ayah udah cehat, Challes pelcaya Ayah bica bangun lebih cepat!"
"Ya ..." Calista mengecup pelipis Charles. "Pasti."
Calista mengambil handuk lain, dia mulai mengelap bagian paha sampai telapak kaki Natan. Dia menoleh melihat Charles yang tersenyum saat mengusap dada Natan. "Apa Charles lelah?"
Charles menggelengkan kepalanya, tapi tiba-tiba perutnya berbunyi. "Challes lapal." Ia mengusap perutnya, lalu menoleh menatap Calista. "Ibu, apa Challes boleh pelgi? Challes mau makan."
"Apa Charles bisa sendiri? Ibu masih harus memandikan Ayah."
Charles menepuk dadanya. "Challes udah becal, Challes bisa makan sendiri." Ia melompat turun dengan hati-hati, lalu berjalan menuju pintu keluar.
Calista mengirim pesan ke Jia Meiya dan Xia Feiya untuk menjaga Charles. Kemudian dia lanjut membersihkan tangan Natan, tapi tiba-tiba, dia melihat jari-jari Natan yang bergerak.
"Na- Natan!"
Natan membuka matanya perlahan, memandang langit-langit ruangan dengan tatapan kosong, dia berkedip berkali-kali, sampai mendapatkan cahayanya kembali.
Dia mendengar ada yang memanggilnya, dia melihat seorang wanita yang sangat cantik sedang menatapnya dengan air mata di matanya. "Si- Siapa?"
Calista tertegun, seolah ada petir yang menyambar hatinya, tapi, dia kembali tersenyum. "Aku istrimu, Calista."
Natan memiringkan kepalanya tidak mengerti. "Istri? Calista? Siapa?"
Calista mengeluarkan album foto, memperlihatkan foto kenangan mereka bersama. Ada Calista, Vely, dan Olivia, lalu lambat laun bertambah ada Liu Xinmei dan Jia Meiya, serta anak-anak.
"Lima istri, anak?" Natan memiringkan kepalanya, lalu menggelengkan kepalanya. "Tidak mungkin, tidak mungkin, aku tidak memiliki istri, bagaimana aku bisa punya anak?"
Calista sudah mempersiapkan hal ini, dia menggigit bibirnya, mengeluarkan album foto lain yang tidak pernah diperlihatkannya pada orang lain. "Lihat ini."
Natan melihat foto-foto di sana, tapi kali ini matanya terbelalak dengan kejutan yang tidak bisa disembunyikan. Foto di sana adalah dia yang menghisap dada wanita di depannya dengan ekspresi bahagia seperti anak kecil.
"Ini tidak mungkin, ini editan, aku bukan orang yang seperti itu." Natan menggelengkan kepalanya.
Calista mengulurkan tangannya, menyentuh pipi Natan.
Natan terdiam, dia ingin memukul tangan wanita di depannya ini, tapi entah mengapa ada rasa sakit di dadanya saat memiliki niat seperti itu. "Mengapa, mengapa ..." Ia mengepalkan tangannya.
Calista menarik kepala Natan, membawanya ke dalam pelukannya. "Kau boleh memukulku jika tidak suka."
Natan mengepalkan kedua tangannya, dia ingin mendorong wanita ini dan memukulnya karena memperlihatkan foto tidak senonoh itu, tapi entah mengapa, dia tidak mampu melakukannya. Sampai akhirnya, dia melemaskan tangannya, lalu memeluk pinggang Calista.
"Aku, aku, aku masih belum percaya kau adalah istriku. Ini, aku memelukmu bukannya aku mau, tapi karena tanganku perlu pegangan."
Calista tertawa kecil, dia mengusap kepala Natan dengan lembut. "Tentu, aku percaya itu. Tapi, bisa aku minta tolong? Saat melihat anak-anak di foto itu, bisakah kau berpura-pura menjadi ayah mereka?"
"Mengapa harus?"
Calista menunduk, menatap mata Natan. "Mereka masih kecil, mereka menganggapmu sebagai ayahnya, apa kau tega melihat anak-anak menangis?"
Natan terdiam, dia membenamkan wajahnya lagi, teringat akan masa kecilnya. Tiba-tiba, entah mengapa, dia memiliki perasaan aneh, dia tidak ingin melihat anak-anak dalam foto itu mengalami apa yang dialaminya semasa kecil dulu.
"Ya, baiklah."
Calista tersenyum hangat, meski hilang ingatan, tapi tidak terlalu masalah asalkan anak-anak mendapatkan perhatian yang cukup.
...
***
__ADS_1
*Bersambung...