
Natan memberikan banyak sekali Inti Sihir untuk Kori untuk menaikkan levelnya, setidaknya ia akan menaikan level sampai 300 dan tidak ingin lebih, agar Kuro yang lebih awal tidak merasa tersaingi. Kuro juga ia beri makan, meski tidak terlalu banyak, tapi setidaknya ada. Bagaimanapun, Kuro masih bisa dianggap monster yang butuh Inti Sihir sebagai makanan.
Ketika sudah menghabiskan ratusan Inti Sihir dengan level 100 setiapnya, Kori sudah mencapai level 90 dan ada perubahan pada bagian tubuhnya. Kori sudah setinggi satu meter, dengan bentangan sayap sejauh tiga meter. Masih terlalu kecil, setidaknya ketika bentangan sayapnya 100 meter, mungkin Kori sudah bisa membawa manusia di atasnya.
Walaupun sudah tumbuh besar, Natan tetap meminta Kori atau Kuro dalam wujud kecil, jika tidak dalam keadaan bertarung.
Kori juga cukup akrab seperti Kuro, keduanya bisa berteman baik satu sama lain, serta berteman dengan rekan satu tim lainnya.
Natan duduk di ujung atap gedung tinggi, dan memakan camilan rumput laut yang sangat enak. "Aku tidak pernah memakannya saat di Indonesia, karena harganya cukup mahal dan isinya sangat sedikit. Tapi karena ini adalah negara asal di mana camilan itu dibuat, tentunya toko penyedia tersebar di mana-mana."
"Kakak!" Ayumi melompat dari belakang.
Natan kehilangan keseimbangannya dan berpegangan pada tiang di sebelah kirinya. Kemudian kembali duduk dengan menghela napas lega. "Jangan bermain seperti itu, berbahaya." Ia memberikan sentilan pada Ayumi.
"Bagaimana jika kita jatuh dari lantai tiga puluh? Ini cukup tinggi."
Ayumi tertunduk sedih. "Maaf." Setelah mengucapkan itu, ia tertawa kecil dan meninggalkan Natan, pergi menuju Kuro dan Kori.
Natan menghela napas dan menggelengkan kepalanya, tidak habis pikir dengan tingkah Ayumi. Kemudian kembali memandang kota seraya menyantap camilan. Pengaturan pada Inventory Guild sudah ia ubah, untuk waktu camilan, bukan lagi sehari sekali, tapi sehari bisa mengambil 10 sampai 15 untuk setiap camilan yang berbeda.
Bukan karena ingin bertindak boros, tapi memang karena persediaan yang berlebih. Bisa memberi makan 50.000 orang untuk waktu tiga tahun. Jika untuk enam orang saja, bukankah bisa memberi makan mereka selama ribuan tahun.
Memangnya manusia bisa hidup sampai selama itu?
"Natan, apakah kau masih memikirkan para Player di Forum?" Calista mendatangi Natan dan duduk di sebelah kiri.
Natan sedikit menganggukkan kepala. Informasi dari Player yang ada di Forum memang mengejutkan, dan patut untuk dipertimbangkan, meski dirasa sangat aneh. Player di sana mengatakan jika dunia berubah karena permainan suatu eksistensi yang merasa bosan, dan tentu saja ini sangat mengguncang dunia.
Lalu ada informasi lain, Player yang memberikan informasi itu telah mati mengenaskan, dan informasi yang diberikan di Forum juga menghilang.
Natan hanya bisa memikirkan satu kemungkinan, dunia ini benar-benar permainannya yang dimainkan oleh eksistensi kuat di luar sana, dan mereka yang memberi tahu informasi ini keluar, orang itu akan terbunuh.
Untungnya, hanya Natan dan Calista yang mengetahui informasi ini. Keduanya juga bersumpah tidak akan memberi tahu pada yang lain.
Tapi, Natan berharap jika semua ini adalah kesalahan, tidak ada eksistensi kuat di luar sana, dan terbunuhnya Player itu karena kecerobohannya sendiri. Ia bahkan sudah bertanya pada NPC Shop, dan sampai saat ini tidak ada hal aneh, meski diperingatkan hanya untuk meningkatkan level setinggi mungkin.
__ADS_1
Maka, berita itu tidak benar. Penghapusan di Forum karena tidak ingin memberikan pengaruh buruk pada Player lain, yang akhirnya tidak ingin meningkatkan level.
"Biarlah, sudah tidak usah memikirkan itu lagi. Aku ingin memakan ramen buatan tangan Ayumi, bukan ramen instan."
Natan berdiri dan meninggalkan Calista seorang diri.
Dengan segera, Calista juga bangkit dan mengejar Natan agar tidak kehabisan.
Untuk makanan Kuro dan Kori, sekali makan Natan memberikan 50 kilogram daging banteng yang dipanggang oleh Ayumi. Ayumi sudah bisa mengendalikan suhu api, meski api itu sangat besar seperti lautan, tapi suhunya bisa hangat seperti nyala lilin.
"Setelah ini, kita akan ke mana?" Vely mendongak menatap Natan di kanan depannya.
"Tetap China, karena di sana memiliki wilayah terluas. Tapi, sebelum itu, aku ingin mencari monster lebih banyak lagi untuk menjadi Skeleton Squad." Natan berharap sebelum sampai di China, Skeleton Disease II sudah mencapai level maximal, atau bahkan bisa berevolusi lagi.
"Tapi, monster yang selama ini kita lawan masih sama. Tidak ada perbedaan lain." Erina menambahkan.
Memang benar tidak ada monster tambahan dari yang telah diinfokan, hanya Lizardman, Zombie Mutan, Wyvren dan Dragon saja. Ia penasaran apakah ada Vampire atau sesuatu yang serupa dengan manusia, memiliki kekuatan yang bisa membuatnya membangkitkan skill beladiri.
Jika Natan memiliki Skill Pasif Beladiri, bukankah kekuatan dari beladirinya akan meningkat.
Puluhan menit berlalu, mereka kembali beristirahat setelah makan cukup banyak.
Semua orang terkejut saat mendengarnya kecuali Natan yang sudah mengetahui keberadaan monster yang datang. Monster itu adalah Zombie Mutan dengan Koblod. Namun Koblod di sini tidak seperti anjing biasanya, karena memiliki tangan seperti manusia.
Level mereka berdua sendiri, 290 dan 305. Ini adalah waktu yang sangat tepat untuk Natan yang sangat ingin mendapatkan Skill Beladiri, dan ia bisa membangkitkan Zombie Mutan yang telah mati.
Sebelumnya ia ingin membangkitkan Super Zombie, tapi slotnya penuh, dan sekarang ia mendapat mangsa.
Brak!
Pintu terbuka yang menghubungkan lantai teratas dengan atap terbuka dan terlempar, memperlihatkan dua monster yang sudah Natan lihat di kejauhan tadi. Ia tidak menyangka akan melihat dua monster berbeda yang bekerja sama.
Natan yang sudah melirik sekilas itu memalingkan wajahnya dan kembali memandangi indahnya kota yang runtuh.
"Bunuh pria di sana, dan biarkan aku menikmati semua wanita di sini." Zombie Mutan yang terlihat gemuk, kepala botak tengah itu menunjuk ke arah Natan.
__ADS_1
Meski Natan tidak mengetahui apa yang dikatakan oleh Zombie Mutan, yang pasti ia sangat kesal saat mendengarnya.
Kobold setengah manusia itu bergerak sangat cepat melewati semuanya dan sudah tiba di belakang Natan.
Rekan satu tim Natan terlihat terkejut melihat kecepatan itu, meski Erina, Calista dan Olivia bisa melihatnya dengan jelas. Natan sudah memberikan arahan pada mereka untuk berakting seperti orang lemah, agar Zombie Mutan mengendurkan kewaspadaan.
Kobold itu menekan kaki kanannya saat jaraknya hanya tersisa beberapa meter dari Natan, kemudian menerjang dengan pedang di tangan kanan.
Natan hanya diam dan sedikit melirik. "Shadow Step." Ia mengaktifkan kemampuannya saat serangan itu hampir mengenainya.
Serangan Kobold berhasil dihindari, dan Natan kembali muncul di belakang Kobold yang sudah mendarat itu. Ia mengangkat kaki kanannya, dan menendang Kobold untuk jatuh dari atas gedung seraya mengambil snipernya.
"Sharp Eyes." Seketika itu juga Natan melihat kelemahan Kobold yang berada di tengkuk, paha kiri dan bagian pinggang.
Natan menembakkan Peluru Mana berkali-kali hingga tidak menyisakan bekasnya sama sekali. Tidak peduli apakah ia bisa melihat kelemahan atau tidak, selama menembak musuh secara membabi buta dengan damage besar, musuh akan mati.
Rekan satu timnya mengetahui kelelahan Zombie Mutan yang tubuhnya sangat besar, besarnya seperti gentong air. Kelemahannya terlihat pada bagian lutut kaki kiri, mata kanan dan tengah-tengah perutnya.
Natan berbalik menatap Zombie Mutan yang penampilannya benar-benar tidak ingin ia lihat. Ia mengangkat sudut bibirnya dan mendengkus dingin mengungkapkan penghinaan. "Bagaimana? Bawahanmu sudah mati."
Zombie Mutan itu terlihat terpana, kemudian menyeringai lebar. Kemudian bergerak sangat cepat mengarah pada Natan, tidak sesuai dengan ukuran tubuhnya yang besar. Namun baru melangkah, tubuhnya terjatuh dan menggesek atap bangunan dan berhenti di depan Natan.
Natan tidak membiarkan kesempatan yang ada terbuang percuma. Ia mengarahkan snipernya pada bagian kepala, dengan rekan satu tim lain yang juga melepaskan serangan.
Bang! Bang! Bang!
Natan melepaskan tembakan beruntun hingga bagian tubuh atasnya hancur, dengan bagian bawahnya ada luka bakar dan kemudian membeku.
"Kita akan meninggalkan tempat ini, dan berjalan menghindari tempat terbuka. Jika dua monster ini bisa menemukan kita, maka akan ada monster kuat dan cerdas lain di luaran sana."
Tidak masalah melawan monster cerdas lain, tapi saat ini fokus utamanya adalah untuk menaikkan level Kori.
Yang lain hanya menganggukkan kepala sebagai balasan dari ucapan Natan.
...
__ADS_1
***
*Bersambung...