Monster Apocalypse

Monster Apocalypse
Chapter 220 : Kembali Sebelum Pergi Lagi


__ADS_3

Natan menghela napas dan melompat turun dari tubuh mayat ini; tidak ingin berlama-lama di sana karena sangat licin, membuatnya tidak nyaman saat menginjaknya karena menimbulkan suara becek yang tidak enak didengar.


"Tempat ini sangat kacau."


Natan menoleh ke belakang seraya memegang gagang pedang di belakang pinggangnya, tapi ketika melihat pusaran cahaya biru yang muncul, dia menghela napas dan terlihat tenang.


Terlihat sosok cantik keluar dari dalam pusaran cahaya, memiliki rambut kuning cerah yang indah, wajah cantik dengan kulit putih, bibir merah merona sedikit berair, dan telinganya yang runcing menambah daya tariknya.


"Ainsley ..." Natan memiringkan kepalanya melihat sesuatu di belakang Ainsley, tapi tidak melihat apa pun sampai pusaran itu tertutup.


Ainsley tersenyum manis, dia berjalan sampai berhenti di depan Natan. "Mencari apa? Brianna tidak datang bersamaku." Ia mengulurkan tangannya, memeluk Natan.


Natan tidak menolak pelukan Ainsley, membiarkannya begitu saja. Saat dia menarik napas, dia mencium aroma yang familiar dan dirindukannya. Dia mendongak menatap Ainsley. "Jubah ini, memiliki aroma tubuh Ibu, mengapa kau memakainya?"


Natan membalas pelukan Ainsley dan kembali menunduk, membenamkan wajahnya di dada Ainsley untuk menghirup aroma yang sangat nyaman ini.


Ainsley mengusap kepala Natan. "Aku mengambilnya diam-diam saat dia sedang dalam pelatihan pengolahan Mana."


Ainsley melihat Natan yang sangat manja hanya karena dia memakai jubah Brianna. "Apakah kau sangat mencintai Ibumu?"


Natan mengangguk dan menjawabnya tanpa ragu-ragu, "Ibu adalah cinta pertamaku. Dia adalah wanita hebat yang membawaku ke dunia ini, wanita pertama yang memelukku saat aku lahir, wanita pertama yang menciumku. Wanita kuat yang menjagaku saat aku menangis di malam hari, dan pahlawanku. Karena dia, aku masih bertahan hidup di dunia ini, dia menggunakan tubuhnya untuk menghalau pecahan kaca ... dia ... dia ... dia menggunakan tubuhnya untuk menghalau patahan besi rangka mobil."


Ainsley menepuk-nepuk punggung dan mengusap kepala Natan. "Kau sangat manja, pantas Brianna mengatakan bahwa kau adalah bayi kecil."


Natan tidak mengatakan apa-apa, dia tetap diam saat memeluk tubuh Ainsley.


Ainsley juga tidak keberatan, bahkan senang karena bisa memeluk Natan seperti ini, memeluk pria yang dicintainya, dan saat ini dia masih berusaha untuk mendapatkan restu dari Brianna untuk bisa bersama Natan. Adapun Calista, Vely dan Olivia, asalkan Brianna mengatakan “Ya”, ketiga wanita itu tidak bisa berbuat apa-apa.


"Ibu menyuruhku ke sini, apakah untuk ini? Mengapa bukan kalian yang bertindak?"


Ainsley menunduk menatap Natan. "Kami bukannya tidak ingin bertindak, tapi tidak bisa. Masalah Player harus diatasi sesama Player, tapi beda halnya kalau Iblis ikut campur, kami akan turun tangan."


"Itu merepotkan." Natan membenamkan wajahnya lagi di dada Ainsley.


Ainsley tertawa kecil, tapi tidak mengatakan apa-apa lagi selain mengusap kepala Natan. Adapun masalah di Kota Surga di atas, pastinya akan terjadi kekacauan setelah kematian Penguasa, tapi dari awal, dia hanya perantara antara Player dengan Penjaga, jadi dia tidak terlalu peduli dengan keselamatan Player ini.


Tapi lain halnya dengan Natan, Ainsley sangat senang menggodanya, dan karena ciuman pertamanya adalah Natan, maka Natan adalah miliknya.


Ainsley menunduk, melihat Natan yang tertidur. "Entah mengapa aku bisa mencintai bocah ini."

__ADS_1


"Sampai kapan kau akan memeluk putraku?"


Ainsley menoleh ke belakang melihat Brianna yang mengenakan celana jeans berwarna cokelat, dan untuk atasannya hanya dalaman berwarna hitam, sehingga dia memperlihatkan perut rampingnya dan belahannya.


"Sebentar lagi." Ainsley membelai rambut yang menutupi mata Natan, lalu memberinya kecupan di dahi.


Brianna duduk di samping Ainsley, dia menyentuh kepala Natan, kemudian ada cahaya yang menyelimuti tangannya. "Dengan ini dia bisa tidur lebih lama, tapi saat kita meninggalkan tempat ini, dia akan bangun."


Brianna duduk di lantai, lalu mengangkat Natan di pangkuannya seperti bayi. "Dia lebih tinggi dariku, aku bermaksud membiarkannya bersandar di dadaku, tapi nyatanya aku yang bersandar di dadanya."


Ainsley berdiri seraya menepuk-nepuk debu yang menempel, dia melihat mayat gurita yang terlihat menjijikkan. "Kapan kau muncul di depannya? Mengapa selalu diam-diam?"


Brianna yang sedang mencubit-cubit pipi dan hidung Natan, merasa terganggu karena pertanyaan Ainsley. "Aku akan muncul saat cucuku lahir nanti, lagi pula dia sudah dewasa, biarkan dia pergi sendiri."


Ainsley memutar matanya dan mendengus. "Kau mengatakan itu, tapi saat membunuh monster di luar sana, kau selalu berkata “Bayi kecilku sedang apa? Aku merindukannya, ingin tidur bersamanya, ingin mandi bersamanya seperti saat kecil”, tapi di sini, kau berkata lain."


Ainsley melihat Brianna yang mengabaikannya dan sedikit kesal.


"Jika cucumu lahir, kau tidak perlu lagi terlalu perhatian pada Natan. Jadi, bagaimana kalau kau biarkan aku menjadi istrinya, aku akan merawatnya dengan baik."


Brianna hanya diam tanpa mengatakan sepatah kata pun, kemudian dia melihat waktu, dan merasa sudah terlalu lama Natan berada di sini. Karena kekacauan tadi, mungkin sebentar lagi akan ada yang memaksa masuk ke tempat ini.


Ainsley sudah membuka portal untuk pergi, dan dia masuk lebih dulu.


Brianna berdiri di depan portal, dia menoleh ke samping melihat Natan. "Untuk kalian yang bersembunyi di dalam bayangan putraku, jangan mengatakan apa pun tentang ini. Jika tidak, aku akan datang menemui kalian."


Ketika mereka berdua sudah pergi dan portal tertutup sepenuhnya, Natan mengerang, kemudian dia mengedipkan matanya berkali-kali hingga benar-benar bangun.


Natan menggaruk kepalanya bingung, sampai dia menyentuh bibirnya yang sedikit basah. "Ainsley? Sialan! Dia mencuri kesempatan!"


"Biarlah." Natan menghela napas seraya berdiri dan menepuk-nepuk debu yang menempel. "Aku kembali dulu, aku tidak tahu bagaimana Andre di sana."


...***...


—Istana Armonia—


Calista sedang duduk di kursi di balkon lantai tiga, memandangi taman bunga yang indah, berbagai macam bunga dan warna, kupu-kupu terlihat terbang di taman, kicauan burung pun terdengar menambah suasana yang menyenangkan.


Dia ingin sekali turun, tapi perutnya yang besar menyulitkannya untuk naik-turun terus menerus.

__ADS_1


"Sayang ..."


Calista tersentak, dia menoleh perlahan ke belakang, kemudian membelalakkan matanya melihat Natan. "Bu- Bukankah Natan baru pergi kemarin? Mengapa sudah kembali?"


"Oh?" Natan mengangkat sebelah alisnya dan berkata, "Apakah aku tidak boleh kembali lebih cepat?" Ia berlutut di depan Calista, mengusap perut besarnya dan menciumnya beberapa kali.


"Bukan itu ..." Calista menggelengkan kepalanya. "Hanya saja ini terlalu cepat, biasanya paling cepat satu minggu."


Natan berdiri, mengecup kening, pipi, kemudian bibir Calista.


Keduanya berciuman untuk waktu yang cukup lama, setidaknya dua menit penuh.


"Aku bertemu teman sekolah, aku sudah mengirim mereka ke sini, dan aku ingin melihatnya. Tidak baik jika aku meninggalkan mereka di sini sendiri." Natan kembali berlutut di depan Calista, mendekatkan telinganya di perut Calista. "Hampir tujuh bulan, sebentar lagi aku akan menjadi ayah."


Calista mengusap kepala Natan.


"Sayang!"


Tiba-tiba terdengar teriakan yang datang bersamaan dengan pintu yang terbuka, memperlihatkan Vely dan Olivia yang berjalan dengan bantuan para pelayan.


Natan berdiri untuk membantu mereka berdua, membawa mereka berdua dengan hati-hati untuk duduk di samping Calista. Kemudian dia memberi kecupan hangat seperti saat mengecup Calista.


"Ngomong-ngomong, di mana tahanan yang Natan selamatkan?"


Natan terdiam dengan mulut terbuka lebar. Jelas, dia melupakan hal ini, dan pantas saja dia merasa ada sesuatu yang hilang, tapi tidak tahu apa itu. "Aku ... melupakan mereka, mereka ada di dalam bayanganku."


"Aku akan mengeluarkannya sekarang." Natan melambaikan tangannya, mengeluarkan Kuro dari bayangannya, kemudian meminta Kuro untuk mengeluarkan semua orang yang ada di dalam bayangan.


Tapi, ada hal lain yang dilupakan Natan...


Sepuluh wanita muncul di dalam kamar, berdiri di samping tempat tidur menghadap ke balkon, di mana Calista, Vely dan Olivia memandang ke dalam kamar.


Ketika mereka bertiga melihat sepuluh wanita yang memakai pakaian minim dan tipis, bahkan hampir transparan, ketiganya menoleh menatap Natan dengan tatapan dingin.


Natan membuka mulutnya, tapi menutupnya lagi, dia tidak ingin menjelaskannya karena menurutnya malah bisa panjang dan tidak akan selesai, jadi dia lebih memilih untuk tetap diam menikmati makanan ringan di atas meja.


...


***

__ADS_1


*Bersambung...


__ADS_2