
Natan tidak mengharapkan hal semacam ini, Penjaga ternyata memiliki wujud yang berbeda dari yang dibayangkannya. Kemudian melihat dari luka yang diderita, harusnya mengalami pertarungan yang mengerikan, dan tentunya tidak bertarung di asal tempat.
Dia menarik napas dalam, lalu menghilang dari tempatnya berdiri.
Ketika Natan kembali muncul, dia sudah berada di atas di mana tanah tandus berada. Dia meminta Skeleton Earth Mage untuk menutup lubang, mengembalikan semuanya seperti semula untuk menghilangkan jejak galian.
"Sekarang, apa yang lagi yang harus aku lakukan? Ibu meminta ke Afrika mungkin karena ini, tapi setelah mendapatkannya, lalu apa?"
Natan benar-benar bingung tanpa tujuan. Tujuan pertama adalah untuk hidup, sekarang dia sudah hidup dengan baik, bahkan bertemu lagi dengan ibu tercinta. Tujuan kedua adalah membangun tempat yang aman untuk orang-orangnya dan orang yang ingin datang, dan itu sudah terwujud.
"Apakah hanya harus membunuh Monster Ancestors?"
Natan melompat, duduk di atas Kuro. Dia melambaikan tangannya, memperlihatkan ratusan hologram yang melayang di depan Kuro. "Pergi ke sana, aku tadi melihat ada pergerakan aneh di balik reruntuhan."
Pada gambar di hologram, itu menangkap gambar stadion yang telah diratakan tapi masih meninggalkan puing-puing yang berserakan. Tadi, dia melihat ada pergerakan aneh, seolah ada yang bersembunyi di sana tapi tidak tahu apa, dan Natan tidak ingin mengirim skeleton lebih jauh untuk memeriksanya.
Natan mengubah hologram di depan menjadi anak panah berwarna merah. Dia meminta Kuro untuk mengikuti panah di depannya.
Adapun mengapa tidak berteleportasi seperti biasa, itu karena kemampuannya masih dalam masa pendinginan setelah dia berteleportasi dari ruang bawah tanah.
Kuro berlari dengan kecepatan tinggi sampai terlihat seperti bayangan di udara, kecepatannya sudah melebihi kecepatan suara.
Natan menutup matanya, menunggu Kuro membawanya ke tempat yang telah ditetapkan. Tempatnya tidak terlalu jauh, tapi medan yang dilalui cukup sulit karena banyak tanah retak sampai membentuk ngarai yang dalam, membuat perjalanan harus memutar jalan.
Walaupun cukup jauh sampai memutar jalan, tapi tidak sampai membuatnya menggunakan kemampuan Teleport.
Ketika sudah sampai di reruntuhan, dia tidak langsung masuk, melainkan diam di tempat yang lebih tinggi dan menjaga jarak dari reruntuhan.
Natan menggunakan teropong untuk melihatnya, dia melihat ada bebatuan yang tersusun membentuk semacam gerbang, dan di depannya ada yang berjaga-jaga.
"Dilihat dari warna kulit, mereka bukan ras asli. Apakah mereka orang-orang yang dipanggil melalui Gulungan Pemanggilan Manusia?"
Melihat ada penjaga di sana, Natan mulai mengingat tentang kota bawah tanah yang dikelola oleh Pemerintah Beijing. Dia berpikiran kalau ada kota bawah tanah di sini untuk menghindari monster ataupun kondisi alam yang tidak memungkinkan untuk tinggal di permukaan.
Natan ragu-ragu, dia masih bingung apakah harus pergi ke sana atau tidak. "Tapi, aku sudah sampai sejauh ini. Mungkin ada alasan lain mengapa Ibu memintaku untuk pergi ke sini."
Natan merenung, dia mengingat lagi tentang Player yang mencoba membunuhnya dan dia mendapat gulungan aneh yang ditemukannya dari tubuh lawan. Dia mengepalkan tangannya, menarik napas dalam-dalam dan berjalan.
__ADS_1
Dia sudah mengambil keputusan untuk mengecek reruntuhan di sana.
Natan tidak membawa Kuro, atau lebih tepatnya menyembunyikan Kuro di dalam bayangannya agar tidak menarik perhatian.
"Berhenti di sana!"
Natan dihentikan oleh pria paruh baya yang berjaga, mengenakan pakaian seperti orang dari militer, tapi memakai kain cokelat untuk menutupi wajahnya sampai leher.
"Aku ingin masuk." Natan mengeluarkan Batu Sihir Level 500.
Melihat Batu Sihir yang dikeluarkan Natan, pria paruh baya itu memandang rekannya, lalu mengangguk sebelum mempersilakan Natan masuk.
"Ada aturan di dalam, aku tidak peduli kau datang dari mana, tapi jangan membuat kekacauan. Jika tidak, keamanan akan datang, dan jika keamanan tidak bisa menghentikan, penguasa akan turun tangan."
Natan yang melangkah melewati kedua pria paruh baya, berhenti dan bertanya, "Siapa penguasa ini?"
"Tidak perlu banyak bertanya!"
Natan kembali melangkah saat tubuhnya didorong. Di berjalan di lorong gelap yang terbentuk dari reruntuhan, suhu di sini cukup panas meski terlindungi oleh bebatuan di atas.
Natan melihat daftar Player, dan Armonia Guild masih mendominasi daftar yang ada. Tidak peduli dari segi kekuatan, kekayaan ataupun wilayah yang dimiliki.
Jika guild-guild lain hanya menguasai wilayah kecil, Armonia Guild sudah mulai menyebar dan hampir menguasai seluruh Provinsi Sichuan. Jika ada tenaga lebih, Armonia Guild sudah menyebarkan sayapnya untuk menutupi seluruh Sichuan, tapi karena kekurangan tenaga kerja, maka hanya diam di tempat.
Ketika Natan terus melangkah, tiba-tiba dia menyadari kalau jalan yang dilaluinya mulai menurun. Turunannya tidak banyak, tapi tetap bisa dirasakan dari waktu ke waktu karena sinar matahari yang masuk semakin sedikit dan sirkulasi udara semakin sulit.
"Aku berputar-putar." Natan bisa merasakan kalau jalan ini berputar secara spiral ke bawah.
...
Puluhan menit kemudian, Natan bisa melihat cahaya di depannya. Tidak tahu sudah berapa jauh dia berjalan, tapi jika masih belum sampai, dia benar-benar berniat akan menghancurkan lorong ini untuk membuat jalan pintas.
Cahaya ini sangat terang, seperti ruangan putih yang ditambah oleh lampu di setiap sudutnya.
Natan menutup matanya karena terlalu menyilaukan, dan setelah melewati gerbang cahaya, dia mengedipkan matanya berkali-kali. Dia membuka matanya, melihat sekeliling, tempat ini tidak terlalu mewah seperti yang diharapkan, tapi tetap luar biasa.
Bangunan terbuat dari beton dengan ketinggian rata-rata cukup untuk bangunan dua lantai. Jalanan terbuat dari blok batu yang disusun, penerangan jalan terbuat dari Batu Sihir yang memancarkan sinar berwarna oranye.
__ADS_1
Bagian langit-langitnya langsung bertemu dengan bebatuan padat, ketinggiannya sekitar 100 meter dari permukaan tanah yang dipijak.
Melihat ini, Natan menebak kalau kota bawah tanah ini setidaknya berada di kedalaman 300 sampai 500 meter dari permukaan tanah di atas.
Natan berjalan, dia melihat orang-orang di sini menutupi bagian wajah mereka seolah mencoba menyembunyikan identitas, tapi anehnya bagian kulit seperti tangan dan kaki diperlihatkan.
"Melihat dari warna kulit, ada yang datang dari Asia dan Eropa. Tempat apa ini? Tidak mungkin mereka semua datang karena berlibur, dan setelah berbulan-bulan bersama-sama membangun tempat ini. Aku lebih percaya kalau mereka menyeberangi lautan dan sengaja datang ke sini." Natan bergumam saat masih berjalan dan melihat sekeliling.
"Sepertinya kau orang baru di sini."
Natan berhenti, menoleh ke kanan melihat sosok besar yang menyembunyikan penampilannya. Sosok itu setinggi lebih dari dua meter, dan melihat dari otot tangannya, dirasa mampu meremukkan pohon kelapa dengan pelukan.
"Ya, aku baru datang hari ini," balas Natan.
Sosok itu menganggukkan kepalanya dan berkata, "Karena penjaga di depan membiarkanmu masuk, maka kau memenuhi syarat untuk bisa datang ke sini."
Natan mengerutkan keningnya. Dia tidak tahu syarat apa yang ditetapkan, apakah Batu Sihir Level 500 adalah syaratnya? Dia merasa bukan itu, mungkin syarat utama adalah kekayaan.
"Tempat apa ini?" Natan mulai waspada dengan tempat ini.
Sosok itu terdiam sejenak, dan meski penampilannya disembunyikan, entah mengapa Natan bisa melihat seringai di balik kain.
"Ini adalah Kota Surga! Kau bisa melakukan apa pun di sini, selama kau punya uang, kau bisa membeli apa pun. Kau bisa membeli informasi, bisa membeli barang langka, termasuk organ dalam seperti hati dan jantung. Kau bahkan bisa membeli wanita untuk dimainkan atau dibunuh!"
Sosok itu merentangkan kedua tangannya, memperlihatkan lengannya yang besar, dan terlihat tengkorak kepala yang tergantung di lengannya.
Natan tertegun. Melihat tengkorak ini, dia bisa tahu kalau pemiliknya baru mati sekitar beberapa hari. Masih ada daging yang menempel di tulang.
"Hahahaha!" Sosok besar itu tertawa terbahak-bahak, menepuk pundak Natan. "Ayo, aku akan membawamu ke rumah makan terkenal di sini. Makanan paling mahal dan populer di sini adalah hati manusia panggang!"
Natan terdiam, tapi dia tidak menolak ajakannya, bukan karena dia ingin mencoba memakan hati manusia, tapi karena ingin menyelidiki tentang “Penguasa” yang dikatakan oleh penjaga di depan.
...
***
*Bersambung...
__ADS_1