
Natan mendongak, dia menghela napas dan menarik Black Sword yang dibuat dari taring Naga Api. "Ayumi, Erina, setelah ini selesai, aku akan membuat kalian berdua hamil."
Suara retakan di langit sangat keras, sehingga Ayumi dan Erina tidak mendengarnya sama sekali. Tapi Calista yang berdiri tepat di samping Natan mendengarnya.
Natan menoleh, memeluk pinggang Calista dan berbisik, "Kau adalah wanita yang membuatku mengerti apa itu sebenarnya cinta, dan kau adalah wanita yang paling berharga. Jika kau ingin mengandung lagi, bilang saja."
"Ya ..." Calista mengangguk, lalu mencubit pinggang Natan. "Aku berharap mendapat laki-laki. Jika itu gadis, dia akan membelamu, lihat Kakak Meiya, semua anaknya perempuan, mereka semua dekat denganmu."
Natan hanya tersenyum tidak mengatakan apa-apa, dan memang benar bahwa semua putri Jia Meiya sangat dekat dengannya, dan karena itulah Jia Meiya sangat menginginkan seorang putra yang bisa membela.
Dia mendekatkan dahinya sampai menyentuh dahi Calista seraya mengusap kepalanya dengan lembut saat dia menutup mata. "Aku sangat mencintaimu."
Calista tersenyum cerah dengan matanya yang tertutup, dia sangat bahagia, meski tidak semua waktu Natan untuknya, tapi dia tetap adalah orang yang selalu mendapatkan banyak perhatian.
"Sayang, jangan perlihatkan kemesraan kalian di depan Ibu. Lagi pula, sebentar lagi ruang ini hancur."
Natan menurunkan tangannya, dia mendekati ibunya dan memeluknya. "Jika Ibu ingin meminta peluk, katakan saja."
Brianna mengusap kepala Natan dan menekannya agar lebih rendah darinya. "Benarkah? Bukannya bayi kecil Ibu yang ingin?"
Calista memandangi ibu dan anak ini, dia mulai berpikir apakah Charles akan seperti ini. Tapi melihat Charles yang sekarang menjadi pendiam dan malu-malu, sepertinya tidak mungkin.
Natan tersenyum, tetapi tidak mengatakan apa-apa. Bahkan meski dia sudah memiliki seorang putri berusia 22 tahun, dia masih tidak ingin ibunya pergi darinya, bahkan sampai saat ini dia masih sangat dekat dengan neneknya, Glenda.
"Jika Celine, Verdi, Orla, Hannah dan Xiaoai melihat Ayah seperti ini, mereka mungkin terkejut." Xia Feiya berkata seraya mengganti perlengkapannya dalam sekejap.
Natan melepaskan diri dari pelukan ibunya, dia juga sudah bersiap-siap dan mengeluarkan Pistol Mana. "Fefei juga sama, bukankah masih seperti bayi kecil setiap kali bersama Ayah? Bagaimana calon suamimu nanti saat melihatmu manja seperti bayi."
"Ayah ..." Xia Feiya mengeluh dengan suara rendah sambil menundukkan kepala.
__ADS_1
Bang!
Tiba-tiba, retakan keras di langit meledak sepenuhnya, menghilangkan ruangan putih di mana-mana.
Angin kencang bertiup membawa suhu panas dan tusukan tajam seperti jarum mengenai permukaan kulit. Aroma darah yang menusuk menyebar ke segala arah dengan cepat, dan lantai putih yang mereka pijak telah berubah menjadi tanah merah dengan aliran darah.
Natan menangkap Xia Feiya dan memeluknya dengan tubuhnya membelakangi tusukan jarum. Dia merasakan aliran listrik di belakang punggungnya dan ada rasa sakit yang tak tertahankan, tapi dia tetap menahannya.
Yang paling lemah di sini adalah Liu Xinmei, tapi yang paling dekat dengan Natan adalah Xia Feiya. Natan hanya berharap istrinya tidak terluka.
Sampai tiupan angin kencang berhenti, akhirnya Natan melepaskan Xia Feiya dari pelukannya dan mendongak, dia langsung melihat di mana Liu Xinmei berada, dan setelah memastikan bahwa semuanya baik-baik saja, dia menghela napas lega.
Natan berbalik dan mengambil Black Sword yang baru saja disarungkan sesaat sebelum melindungi Xia Feiya.
Apa yang dilihatnya benar-benar mengejutkannya, bahkan meski dia sudah pernah menyelam ke laut dalam, tapi dia tidak pernah melihat pemandangan ini.
Yang terpampang di depannya adalah barisan gunung berapi yang terus memuntahkan cairan magma dari dalam perut bumi, yang meledak ke langit dan berhamburan seperti kembang api, tapi bukan kembang api yang indah, melainkan yang mengerikan dan membawa kehancuran di mana-mana.
Kegelapan malam yang mencekam, ditambah dengan adanya auman maupun raungan monster yang datang dari celah yang muncul di langit yang gelap; darah mengalir deras membentuk aliran sungai, dua kubu terus bertarung, luka dibalas luka, mata dibalas mata, dan nyawa dibalas nyawa.
Natan melihat sekeliling, dia melihat berbagai cahaya berwarna warna: ungu, kuning, biru, hijau, dan masing-masing warna memiliki kelompok antara 1.000 — 10.000. Dia tahu warna-warna ini mewakili dari dunia yang berbeda dan Penjaga yang berbeda.
"Ibu, aku tahu portal cahaya yang mewakili suatu kelompok, tapi siapa di depan kita yang memimpin pertempuran ini?" Natan memandangi makhluk humanoid dengan sayap putih yang sedang melawan berbagai macam monster.
Brianna mengeluarkan busur panah, mengarahkannya ke salah satu monster yang hanya terlihat setengah tubuhnya. "Mereka adalah ciptaan Penjaga, dan bawahan langsung Penjaga. Mereka memiliki kekuatan yang sama seperti kami, tapi mereka tidak mampu melebihi Penjaga karena mereka ditekan oleh aturan."
Brianna melepaskan anak panah, membuat anak panah itu melesat dan mengeluarkan suara dentangan keras yang dihasilkan dari tali busur yang melemparkan anak panah.
Anak panah yang melesat itu menyala dengan warna merah, dan api mulai muncul di bagian depannya, sampai membentuk ekor api di bagian belakang dan nyala api itu semakin membesar dari waktu ke waktu.
__ADS_1
Anak panah itu mengarah ke tubuh raksasa yang hanya setengahnya saja yang terlihat. Panah kecil di hadapan tubuh itu seperti sehelai rambut rontok yang tertiup angin, dan nampaknya tidak mambawa ancaman sama sekali.
Tapi setelah anak panah itu melewati pertempuran antara kubu Penjaga dan Monster Ancestors, tiba-tiba anak panah itu meledak dengan kekuatan luar biasa yang memberi daya dorong lebih kuat dari sebelumnya.
Anak panah itu menyala seperti komet yang bergerak dengan kecepatan 70.000 km/h, menimbulkan gelombang kejut yang sangat kuat dengan udara panas yang menyebar menghamburkan dua kubu untuk kembali ke tempat masing-masing.
Booom! Duarr!
Anak panah itu menembus tubuh raksasa, meledak dan menghancurkan tubuh yang hanya terlihat setengahnya saja. Darah dan daging berbagai bentuk berhamburan, darah jatuh ke segala arah membentuk hujan deras dengan suhu yang panas seperti mendidih.
“Players dan Pejuang yang datang dari berbagai dunia, kami Penjaga sedang melawan Monster Ancestors di luar dimensi. Kalian harus membunuh monster-monster ini sampai bersih tanpa sisa dan menghilangkan cadangan kekuatan Monster Ancestors.”
Ketika raksasa yang hanya terlihat setengahnya sudah dihancurkan, tiba-tiba terdengar suara yang menggema di langit gelap, bersamaan dengan adanya dentuman keras yang datang entah dari mana. Tidak hanya itu saja, berbagai macam planet muncul di kegelapan, tapi tidak dapat melihat permukaannya dengan jelas.
Planet-planet ini memiliki ukuran yang berbeda serta warna yang berbeda, dan Natan tidak tahu planet apa itu, karena dia sendiri tidak pernah melihatnya, dan sepertinya planet ini tidak ada dalam database yang telah ditemukan oleh ilmuwan di Bumi.
Hanya satu jawaban, planet-planet ini adalah planet yang dijaga oleh Penjaga, dan berasal dari sistem bintang atau bahkan galaksi yang berbeda.
Natan mencengkeram erat Black Sword, dia mengambil langkah ingin bergabung dalam pertempuran. Tapi tiba-tiba, belasan planet yang tergantung di langit itu memancarkan cahaya yang berbeda, lalu dari masing-masing planet ditembakkan cahaya yang berkumpul di satu titik sampai membentuk kumpulan cahaya emas yang indah.
Kemudian cahaya emas itu meledak, berubah menjadi titik cahaya yang tak terhitung jumlahnya dan jatuh seperti kepingan salju mengenai semua Players dan Pejuang dari dunia yang berbeda.
Natan yang awalnya hendak bergabung dalam pertempuran, terdiam ketika merasakan arus hangat yang mengalir ke dalam tubuhnya, dan levelnya juga meningkat pesat dari Level 1.250 ke 1.500 dalam sekejap mata.
Dia membuka tim, dan melihat bahwa semua anggota tim mengalami peningkatan yang cukup memuaskan. Tapi peningkatan setiap orang tidak sama, dan sepertinya ini tergantung dari daftar list Top Players.
...
***
__ADS_1
*Bersambung...