
Sangat sulit untuk menemukan keberadaan Skull Guild di Amerika yang sangat luas, sampai saat ini masih belum menemukannya. Ini seperti mencari jerami di tumpukan jarum, sudah sulit, ditambah menyakitkan karena pengeluaran Mana terlalu banyak.
"Sepertinya jarak mempengaruhi pengeluaran Mana. Padahal sebelumnya aku tidak membutuhkan Mana lagi untuk mempertahankannya."
Calista bangun dari tidurnya, duduk lalu menunjuk ke dalam gua. "Sayang, apa kau dengar suara 'cit cit' dari sana?"
Natan tersenyum tipis saat mendorong tubuh Calista untuk kembali tidur. "Tidak apa-apa, itu suara tikus mati. Skeleton yang kukirim ke sana membunuh mereka."
"Begitu." Calista sedikit mengangguk, lalu kembali tidur.
Natan merasa sudah cukup beristirahat, tapi tidak mungkin untuk membangunkan yang lain yang masih terlihat tertidur pulas karena kelelahan. Akhirnya ia hanya bisa bermain-main seperti anak kecil yang menggambar di tanah menggunakan ranting pohon.
Ini adalah penyerangan Dimensional Cave tersentak yang pernah ada, mereka bisa makan dengan tenang, tidur dengan baik, dan membunuh monster tanpa harus turun tangan langsung.
Ini terlihat bukan seperti berburu monster, tapi piknik di kebun binatang.
"Merepotkan jika terus berjalan, saat mereka bangun nanti, aku akan mengeluarkan “ARM-03-K” agar kami bisa sampai lebih cepat."
ARM-03-K adalah mobil keluaran terbaru dari gabungan Departemen Blacksmith dan Departemen Sihir. Menggunakan desain Hummer H1 6×6, dengan suspensi dari bahan terbaik dengan tambahan sihir.
"Ngomong-ngomong, aku tidak terlalu bersemangat seperti dulu. Aku dulu sangat bersemangat saat memasuki mansion untuk mengambil senjata, aku dikepung ribuan zombie. Tapi setelah bertambah kuat, banyak monster yang bisa dibunuh dengan satu tebasan, itu membosankan."
"Semoga saja di Amerika nanti, aku bisa menemukan laboratorium atau apa pun yang bisa menarik perhatian. Mungkin, aku bisa bertemu dengan Nemesis, Tyrant, atau Axemen."
Natan terdiam ketika menyadari ada yang salah dengan ucapannya. Dengan menggelengkan kepalanya, ia menambahkan, "Tidak, Axemen terlalu mengerikan."
Natan meregangkan otot-otot tubuhnya yang sedikit kaku saat berdiri, lalu ia kembali duduk di samping Calista. Dia mengangkat kepala Calista dengan lembut, lalu meletakkannya di pangkuannya. Melihat betapa cantiknya Calista, membuatnya merasa hangat dan bahagia.
Siapa yang menduga, mereka berdua dulu hanyalah teman bermain di game online, kemudian bertemu di Sumatera dan sekarang menjadi kekasih.
***
Akhirnya setelah benar-benar cukup beristirahat, mereka melanjutkan perjalanan menuju bagian terdalam dari Dimensional Cave menggunakan ARM-03-K.
Natan mengemudikannya dengan bebas karena jalanan sudah diratakan tanpa ada bebatuan yang menghalangi; terasa seperti aspal yang baru dibuat.
Lorong gua tidak tidak gelap, dan malah sedikit bercahaya di bagian langit-langit. Yang memancarkan cahaya adalah sejenis jamur dan cacing yang telah bermutasi karena tinggal berdekatan dengan jamur itu.
"Berapa dalam kita turun?" Ayumi bertanya dengan nada tidak senang karena sudah berjam-jam duduk di kursi belakang, tapi sampai sekarang belum bisa melihat seberapa dalam ujungnya.
Natan mendongak menatap Ayumi melalui kaca yang menggantung di atasnya. "Ayumi, jangan tidak sabaran."
"Baik, Kakak." Ayumi menundukkan kepalanya dengan bibirnya yang mencibir.
__ADS_1
Natan tersenyum tipis saat menggelengkan kepalanya.
...
Mobil terus melaju kencang tanpa hambatan sekalipun, sampai mereka bisa melihat sebuah pintu besar dengan tinggi menggapai tiga puluhan meter. Pintu itu berwarna hitam dengan ukuran aneh yang tidak bisa dijelaskan di daun pintu.
Natan menghentikan mobil kemudian turun darinya, dan menyimpan mobil ke dalam Inventory setelah semua orang keluar dari dalam mobil.
Sudah ada yang menyambut saat mereka turun dari mobil, itu adalah skeleton yang dikirimnya tadi saat mereka sedang beristirahat.
Berdiri di depan ruangan bos, Natan merasakan perasaan familiar yang pernah dialaminya saat bertarung melawan Fire Dragon. Perasaan sedikit tekanan, mungkin ini karena sudah lama tidak pernah menjelajah seperti ini dan alam sadarnya teringat akan pertarungannya dengan Fire Dragon yang hampir membuatnya terbunuh.
"Apakah semuanya sudah siap?" Natan mengangkat tangannya menyentuh pintu.
Semuanya hanya diam saat menganggukkan kepala.
Natan menghela napas mencoba untuk mengendurkan semua tekanan yang membebaninya. Dengan dorongan kecil, pintu itu mengeluarkan suara 'ngung' saat terbuka perlahan, tapi setelah setengah terbuka, tiba-tiba pintu itu bergerak sangat cepat sampai menimbulkan suara 'bang' yang keras.
Angin kencang bertiup kencang dari dalam ruangan yang gelap, membuat Natan dan yang lainnya mundur selangkah karena kencangnya angin seperti badai.
Swosh! Swosh! Swosh!
Tiba-tiba ada suara seperti api yang menyambar ketika disiram bensin. Ternyata benar, api biru menyala di pilar kiri dan kanan sampai ke bagian terdalam ruangan, memperlihatkan singgasana tinggi.
Berdiri di samping singgasana, ada dua tikus yang membawa tombak putih, dan samar-samar mengeluarkan aura membunuh.
Tikus yang duduk di singgasana masih belum bertindak, matanya masih terpejam tanpa merasa terancam.
Berbeda dengan tikus penjaga di sampingnya, mereka membuka matanya tiba-tiba, memperlihatkan mata merahnya yang tajam.
Tikus itu bergerak secara bersamaan saat membawa tombak masing-masing, tubuh mereka terlihat seperti bayangan putih saat melesat ke arah Natan dari dua arah yang berlawanan.
Natan berlari ke arah mereka berdua dengan kecepatan yang lebih cepat, dan saat mereka hampir bertemu di tengah-tengah ruangan, di sampingnya terlihat ada tulang yang mencuat keluar dari dalam tanah.
Tulang itu berada di samping tombak yang dibawa tikus, kemudian tulang itu bergerak mendekat ke arah Natan, membuat tombak itu masuk dalam jangkauan tangannya.
Natan memiringkan tubuhnya untuk menghindari serangan tombak, kemudian tubuhnya berbalik memunggungi dua tikus saat berhasil menangkap dua tombak dengan tangannya.
Dia melompat mundur untuk mendekati dua tikus seraya memukul perut mereka dengan sikunya. Kemudian kembali berputar seraya melepaskan pukulan yang lebih keras.
Tidak berhenti setelah memberikan pukulan, dia melompat di antara keduanya dan melepaskan tendangan ke kiri-kanan secara bergantian.
Kedua tikus itu melesat ke dua arah yang berlawanan, menghantam dinding dengan suara keras.
__ADS_1
Natan mendarat dengan kedua kakinya yang sedikit menekuk, kemudian dia kembali melesat sambil menarik pedang dari sarungnya yang berada di belakang pinggang. Dia mengalirkan Mana ke dalam pedang, membuat pedang itu mengeluarkan aura hitam seperti aura kematian.
Dia sudah sangat dekat dengan tikus yang duduk di singgasana, hanya perlu membunuhnya agar Dimensional Cave hancur dan mereka bisa keluar dari sini.
Tepat saat tinggal beberapa langkah lagi, dua tikus yang sudah diserang olehnya, tiba-tiba bangkit dan muncul di belakang Natan dengan cakar tajam yang muncul di tangan mereka.
Kedua cakar itu menebas ke arah kepala Natan.
Natan menurunkan pedangnya untuk menancap ke tanah agar dia bisa mendapatkan pegangannya, kemudian ia langsung berjongkok untuk menghindari serangan. Dia bisa mendengar suara angin bersiul karena tebasan di atas kepalanya, itu sangat cepat dan kuat, bahkan dari jauh bisa terlihat kilatan cahaya putih.
Serangan itu bisa menebas kepalanya, bahkan jika tidak terpotong, paling tidak akan menimbulkan luka yang sangat parah.
Natan mencabut pedang dari tanah dan mengayunkannya secara vertikal ke atas, menyerang tikus di sebelah kanannya dengan harap bisa membunuhnya langsung.
Seolah-olah sudah mempelajari kesalahan sebelumnya, tikus itu melompat mundur untuk menghindari serangan. Begitu pun tikus yang lain saat melihat pedang berbelok arah untuk menyerangnya.
Tapi yang tidak mereka sadar, dari belakang mereka sudah datang Calista dan Olivia yang muncul dalam sekejap.
Calista mengayunkan dua pedang ke arah punggung tikus, dengan Olivia yang melakukan tendangan pada kepala, yang membuat tikus menghantam ke lantai.
Calista menginjak punggung tikus saat menebas lehernya, membuat kepala tikus terbang dengan darah yang mengucur deras.
"Manusia, apakah kalian siap menerima murka Monster Ancestors?"
Natan berdiri seraya menepuk-nepuk debu yang menempel di pakaiannya dan mengabaikan tatapan mengejek Calista maupun Olivia karena dia tidak bisa membunuh tikus-tikus itu.
Dia tidak menjawab pertanyaan King of Rat dan memilih untuk langsung menyerang dengan pedangnya.
Tebasan pedang itu turun saat sudah tiba di depan singgasana, mengarah pada King of Rat yang masih duduk tenang.
Ketika pedang hampir mengenai mahkota yang dikenakan King of Rat, tiba-tiba tubuhnya menghilang dan hanya meninggalkan mahkota yang terbelah bersama dengan singgasana itu.
Bang!
Pintu besar tertutup rapat yang menimbulkan tiupan angin kencang, memadamkan semua api biru yang menyala di pilar.
Natan menyimpan pedang, lalu berlari ke arah Calista terlebih dahulu sebelum mengambil Olivia, kemudian berkumpul dengan rekan satu tim yang lain.
Dia mencoba melihat tangannya sendiri di dalam kegelapan total, dan mendapati bahwa dia tidak bisa melihat tangannya sendiri tanpa kemampuannya. Ini menjelaskan seberapa gelap ruangan di sini.
...
***
__ADS_1
*Bersambung...