Monster Apocalypse

Monster Apocalypse
Chapter 123 : Rindu dengan Ibu


__ADS_3

Natan tidak tidur semalaman karena menunggu Anna datang untuk menanyakan perihal Brianna Alexander, tapi sampai pagi tidak pernah melihatnya datang. Biasanya, Anna akan selalu datang setiap dua jam sekali semenjak menggantikan posisi Ainsley.


"Di mana dia?" Natan duduk di pagar balkon kamarnya, melihat lurus ke depan tanpa ekspresi.


Natan melihat gelang di tangan kirinya dan berkata pelan, "Aku yakin dia adalah Ibu, karena tidak ada yang tahu tentang gelang ini. Gelang ini sama persis, dari warna, ketebalan benang, ukiran kayu, dan lain sebagainya."


"Ini sudah delapan jam semenjak dia pergi, harusnya dia datang empat kali, tapi ..." Natan mengembuskan napas panjang.


"Natan~"


Natan mendengar ada yang memanggilnya dari belakang, tapi ia mengabaikannya dan tatapannya tetap tertuju pada hamparan salju di halaman. Pikirannya kacau karena teringat pada Ibunya, dan ia sangat yakin yang datang tadi malam adalah Ibunya. Ia tidak tahu mengapa selama ini menyembunyikan diri, mengapa tidak datang padanya saat awal-awal Kehancuran Dunia.


"Apakah Ayah masih hidup?" Mata Natan terbuka lebar, senyum mengerikan juga terlihat di wajahnya seperti orang yang terkena gangguan mental.


"Benar!" Natan berdiri tiba-tiba dan tertawa terbahak-bahak, memikirkan Ayahnya yang masih hidup membuatnya tambah bersemangat dan mentalnya lebih terganggu. "Ayah masih hidup! Pasti!"


Calista yang berdiri di belakang Natan, terdiam dengan tatapan khawatir. Segera, ia menarik Natan agar turun dan memeluknya erat. "Natan, tenanglah! Bukankah kau sudah mengatakan bahwa orangtuamu sudah tiada?"


Natan tersentak, kembali dalam kesadarannya. Air mata berkumpul di matanya, tapi ia mencoba untuk menahannya agar tidak pecah.


Calista tidak lagi berbicara, hanya diam memeluk Natan dan menepuk-nepuk kepalanya agar kembali tenang. Ia tidak tahu apa yang membuat Natan menjadi seperti ini, ia juga tidak bertanya sebelum diberi tahu oleh Natan sendiri.


Vely dan Olivia tetap berada di dalam kamar. Keduanya saling memandang satu sama lain, memikirkan apa yang sebenarnya terjadi pada Natan. Kemudian, mereka berdua berdiri di belakang Calista dengan khawatir.


Natan mengatur napasnya sampai tenang, kemudian melepaskan diri dari pelukan Calista.


"Gelang ini ..." Natan melihat gelang yang berada di tangan kirinya. "Gelang yang sama persis seperti pemberian Ibuku saat masih kecil. Aku mengira, NPC tadi malam adalah Ibuku. Jika diingat, suaranya hampir sama meski dia berusaha mengubahnya."


"Be- Benarkah!?" Calista sedikit berteriak.


Natan mengangguk kecil dan kembali berkata, "Iya, bukankah aneh? Dia tahu bahwa aku ulang tahun, tahu usiaku dan bahkan menyiapkan hadiah. Pertemuan pertama kami, dia juga membahas tentang keluarga Alexander di Inggris, dan kebetulan Ibuku berasal dari Inggris."


Tubuh Calista bergetar saat terbesit pikiran yang semoga saja tidak terjadi. Ia mengangkat tangannya perlahan dan mengepalkannya di depan dada. "Ap- Apakah Natan akan pergi ke sana?"

__ADS_1


Natan terdiam menyembunyikan niatnya. Ia memang berencana untuk pergi ke Inggris, menemui Neneknya apakah masih hidup atau tidak, setelah 15 tahun tidak saling menghubungi.


Calista mengigit bibinya, mencoba untuk tetap tenang dan ikhlas. "Pergilah, aku tahu Natan ingin pergi ke sana. Aku ingin ikut, tapi sepertinya kau tidak mengizinkannya."


"Aku akan tinggal seminggu, atau paling tidak sampai musim semi datang." Tidak mungkin Natan langsung pergi saat ini, di saat Armonia Guild baru memperluas wilayah dan banyak yang harus diawasi. Apalagi masih musim dingin, banyak monster berkeliaran.


Natan tidak takut dengan monster, hanya saja ia harus menjaga monster-monster untuk tidak masuk ke wilayah Armonia Guild. Bagaimanapun, ia adalah Guildmaster yang memiliki banyak tanggung jawab.


"Aku akan meninggalkan Kuro dan Kori di sini, saat aku meminta bantuan, kalian bisa menyusulnya. Aku akan membuatkan jalur yang aman agar bisa kalian lewati."


Natan memeluk mereka bertiga secara bergantian, dan menyimpan Skeleton Knight dan Magic Archer di bayangan masing-masing untuk memantau bagaimana keadaan mereka.


"Aku pergi dulu, aku ingin melepaskan emosi dengan membunuh monster-monster di luar tembok."


Natan berbalik seraya memakai mantel hitam yang ia simpan di Inventory, kemudian melompat turun dari balkon kamar. Ia langsung disambut oleh Ksatria Lebah atau Bee Knight yang muncul dari dalam bayangannya.


Ksatria Lebah membawa Natan ke bagian timur laut dari Kota Chengdu, mendatangi monster yang jauh lebih sedikit, tapi memiliki level lebih tinggi.


Calista meletakkan kedua tangannya di dekat mulutnya, kemudian berteriak, "Pastikan pulang sebelum makan malam!"


Olivia melangkah ke depan Calista dan berdiri seraya berpegangan pada pagar balkon. "Calista, apakah kau serius membiarkan Natan pergi? Apakah kau tidak sedih?"


Calista menghela napas panjang, kemudian menjawab, "Sedih? Pasti, tapi aku tidak bisa menahannya di sini atau ikut, aku hanya menjadi beban baginya. Ketika dia pergi, kita akan menjaga Armonia Guild tetap aman dan meningkatkan level ..."


"Tapi, lupakan tentang level, kita harus meningkatkan pengalaman. Bahkan, Natan bisa dengan mudah melawan musuh yang lebih kuat darinya," sambung Calista berdiri di samping Olivia.


Vely melihat Ksatria Lebah yang berpindah haluan dari selatan ke timur laut. "Dia selalu saja mendorong dirinya dan bekerja keras, lebih banyak dari yang. Tapi, di lubuk hatinya yang terdalam, ia merasa sedih dan sangat kesehatan ..."


"Kesepian karena dari kecil hidup sendiri." Vely menghela napas, membayangkan masa-masa sekolah menengah pertama saat bertemu dengan Natan.


Calista dan Olivia menoleh melihat Vely, kemudian meminta untuk menceritakan tentang Natan yang sebelumnya belum selesai.


***

__ADS_1


Ksatria Lebah tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai, meski ukurannya yang besar, ternyata kecepatannya lebih cepat dari Fire Dragon. Dari segi berat, memang lebih berat Skeleton Fire Dragon dan itu memengaruhi kecepatannya.


Natan sudah sampai pada bagian timur laut Armonia Guild, bukan di Kota Chengdu, melainkan Longquan Mountain.


"Monster-monster di sini lebih sedikit karena tebing tinggi yang terjal. Monster akan melewati gunung, tapi terbunuh saat terperosok ke jurang. Hanya sebagian yang berhasil selamat dan mencoba memanjat tebing ke Armonia Guild."


Natan melihat layar interface di depannya matanya dan mengambil beberapa tong kayu yang berisikan cairan mudah terbakar. Tanpa berlama-lama, ia menendang beberapa tong, yang setidaknya satuannya bisa menampung 120 liter.


Ketika barel yang terbuat dari kayu jatuh mengenai tumpukan monster, barel itu pecah dan membasahi monster dengan cairan mudah terbakar.


Natan mengeluarkan bom molotov. Ia menyalakan sumbunya, kemudian melemparkannya pada tumpukan monster yang kembali jatuh karena tubuh mereka yang licin.


Booom!


Api membakar monster dibarengi dengan suara keras dari ledakan maupun teriakan monster yang berusaha keluar dari kobaran api; salju yang berada di sekitarnya mulai meleleh untuk memadamkan api, tapi karena apinya lebih besar, salju yang meleleh itu langsung menguap.


"Saat menghadapi monster dalam jumlah besar, tidak perlu menggunakan cara bodoh seperti menyerangnya dari jarak dekat. Gunakan cara yang paling mudah tapi efektif!" ucap Natan bersemangat.


Natan terlihat bosan karena selalu mendapat musuh yang lebih lemah darinya, ia ingin sekali menggunakan seluruh kemampuan seperti saat melawan Fire Dragon di Dungeon Tower. Kemudian, meski mendapat lawan yang kuat, mereka juga terlalu banyak dan ia menggunakan Skeleton Squad.


Ingin sekali Natan melawan satu lawan satu untuk meningkatkan kemampuan atau mempertahankannya. Ia tidak ingin kemampuan bela diri yang ia kuasai menjadi tumpul.


"Saat aku pergi ke Inggris nanti, mungkin aku bisa bertemu lawan yang kuat."


Untuk pergi ke Inggris Raya, Natan harus melalui Kazakhstan, Ukraina, Polandia, Jerman. Natan sangat menantikan perjalanan nanti setelah musim dingin berakhir dan memasuki musim semi.


"Levelku sudah lima ratus tiga puluh. Padahal, aku tidak terlalu berusaha, mungkin karena aku bisa mendapatkan Point Exp meski aku tidak ikut membunuh. Seperti halnya Taiyang Guild membunuh monster, aku mendapatkan dua puluh lima persen dari Point Exp yang mereka dapatkan."


Natan tidak tahu apakah ia masih akan mendapatkan Point Exp saat keluar dari Tiongkok, tapi semoga saja bisa tetap mendapatkan Point Exp.


Natan menundukkan kepalanya, melihat api yang masih membakar ribuan monster. "Aku akan menunggu di sini sebentar, kemudian berpindah ke arah tenggara."


...

__ADS_1


***


*Bersambung...


__ADS_2