
Dia tidak tahu apakah Ainsley mendengarnya, tapi dia berharap gumaman dia tadi tidak didengar. Walaupun dia percaya pada Ainsley, tapi dia tetap tidak bisa mengambil risiko tentang nyawanya sendiri.
Natan berdiri seraya menepuk-nepuk rumput yang menempel di mantelnya karena tertiup angin tadi, dan merapikan rambutnya yang berantakan. "Ainsley, apakah ada perbedaan selain dari jumlah lantai dan level monster?"
"Ada ..." Ainsley menatap Natan, lalu melihat Dungeon Tower 2.0 dan menambahkan, "Pertama, tidak ada lagi misi seperti membunuh monster dalam jumlah yang sudah ditetapkan untuk naik ke lantai berikutnya. Kedua, ada sistem memilih lantai, kau bisa memilih lantai yang sudah pernah kau jelajahi. Kemudian, kau juga bisa langsung naik ke lantai berikutnya dengan pergi ke gerbang di tempat tertentu."
Mendengar itu, Natan mengangguk kecil dan tersenyum tipis. Dengan fitur baru dari Dungeon Tower, dia tidak perlu memasukinya dari lantai dasar yang mana terlalu membuang banyak waktu.
"Ibu, aku ingin pergi ke dalam. Ibu mau ikut?"
Brianna melambaikan tangannya meminta Natan untuk datang menghampiri.
Natan berjalan di depan Brianna dan duduk, menunggu apa yang ingin dilakukannya.
Brianna menangkap kepala Natan, lalu memberinya kecupan lain di dahi dan pipi. "Ibu tinggal di luar. Ibu akan menggantikan Natan menjaga Longquan Mountain."
Natan benar-benar tidak bisa melawan saat wajahnya dipenuhi lipstik, dan sepertinya dia tidak boleh menghapusnya.
"Kalau begitu, aku masuk bersama yang lain. Jika ada masalah, tolong beri tahu aku."
Brianna mengangkat tangannya dan memberinya tanda “Ok”.
Natan melihat tim yang akan dibawanya, semuanya hadir kecuali Jia Meiya dan Xia Feiya. Mereka berdua tidak ingin bergabung, yang pertama karena Jia Meiya merasa sudah terlalu tua, dan Xia Feiya yang masih terlalu muda.
Tentu Jia Meiya mengatakannya hanya dengan Natan, tidak mungkin berbicara langsung dengan Brianna karena akan menyinggung perasaannya. Adapun Vely, Jia Meiya juga tidak berbicara dengannya, karena sama saja mengatakan bahwa Vely tua, mengingat mereka berdua hampir di usia yang sama.
Natan menatap istri-istrinya, meski mereka belum mengadakan upacara resmi, tapi dia sudah menyatakan bahwa mereka adalah istrinya. "Kalian bertiga sedang mengandung, jangan bertindak gegabah dan jangan terlalu banyak bergerak."
Ketiganya cemberut dan terlihat tidak senang, ketika mereka hendak memprotes, Natan melambaikan tangannya, memperjelas bahwa dia tidak ingin ada penolakan.
Setelah itu, Natan berbalik, melangkah menaiki tangga batu bersama rekan satu tim. Dia berdiri di depan pintu masuk, dan tiba-tiba layar interface muncul di depan matanya.
[Dungeon Tower Armonia Guild]
[Pilih Lantai : ...]
Natan melihat anggota tim: Tanaka Ayumi Level 596, Erina Adriani Level 596, Vely Anindya Level 595, Izora Calista Level 595, Olivia Edrea Level 595.
Natan memilih Lantai 24 di mana monster-monster di sana hanya Level 575. Tapi meski demikian, tidak banyak yang bisa memasukinya. Hanya kelompoknya yang sudah pernah memasuki puncak, tapi karena sekarang istri-istrinya tengah mengandung, dia tidak ingin mengambil risiko dengan memasuki Lantai 25.
Tubuh mereka diselimuti oleh cahaya biru, kemudian pecah menjadi serpihan cahaya yang menghilang.
__ADS_1
Brianna yang melihat Natan menghilang, menghela napas, lalu menatap Ainsley. "Apa kau benar-benar ingin menikahi putraku?"
Ainsley menoleh dengan mata terbuka lebar. "Mengapa tiba-tiba?" Ia tidak pernah berharap Brianna akan bertanya seperti ini.
Brianna terdiam untuk beberapa saat seraya mengerutkan keningnya, seolah sedang bertengkar dengan pikirannya sendiri. Dia menghela napas, kemudian menjawab, "Kau tahu, kan, aku tidak pernah percaya dengan Penjaga. Aku bisa merestuimu dengan Natan, tapi aku harap kau bisa menjaganya dari Penjaga. Aku tidak ingin putraku dimanfaatkan."
Ainsley masih terkejut, karena itulah dia tidak langsung menjawabnya. "Bahkan meski aku ingin menikahinya, apakah kau tidak masalah? Buang dulu masalah Penjaga, apa kau benar-benar ingin Natan menikahiku?"
Brianna menunduk, mengepalkan tangannya penuh dengan emosi. "Tidak ..."
Ainsley menghela napas, dia sudah tahu jawabannya, hanya saja dia merasa aneh karena Brianna yang tiba-tiba. "Maka tidak perlu, bahkan tanpa harus membuat hubungan seperti itu, aku tetap melindunginya. Bahkan meski hubungan kami tidak bisa sampai ke sana, itu tidak masalah, aku akan menganggapnya sebagai adikku."
Brianna tidak terlihat senang, bahkan menatap sinis Ainsley. "Kau mengatakan itu, tapi kenyataannya kau mengunci pergerakan Natan dan mencium bibirnya. Apa kau kira aku tidak mengetahuinya?"
Ainsley tertegun dengan keterkejutan di wajahnya, kemudian dia tersenyum dan tertawa canggung.
...***...
—Lantai 24, Dungeon Tower—
Hamparan rumput luas, angin sepoi-sepoi menerpa ilalang, dandelion yang terkena angin, terbang ke langit mengikuti arah angin bertiup. Sinar matahari turun dari langit menyinari hamparan rumput, membawa perasaan hangat yang membungkus tubuh, aroma rerumputan segar membawakan kenyamanan yang berbeda.
Natan menghirup udara segar di sekitar, lalu mengembuskannya perlahan. "Udara di sini lebih segar daripada di luar."
Ya! Dungeon Tower di Armonia Guild digunakan sebagai tempat untuk mencari sumber makanan, dan semua yang ada di sini bisa dikonsumsi. Daging sapi di Lantai 24 adalah yang terbaik, mengalahkan Wagyu A5.
"Ya." Natan setuju akan hal itu, dia juga ingin menangkap daging sapi. Lantai 1 — 25 adalah monster yang bisa dimakan, dan dia tidak tahu monster apa di Lantai 26 — 50.
Dia mengeluarkan Sako TRG Mana, sekarang dia tidak lagi merasa lemah atau malu ketika menggunakan senjata ini. Sekarang, dia hanya memiliki satu tujuan, membunuh monster dan musuh dengan cara tercepat, tidak perlu lagi menggunakan cara konvensional yang membahayakan nyawa.
Erina memiringkan kepalanya saat melihat Sako TRG Mana. "Kakak tidak pakai pedang? Biasanya Kakak pakai pedang, bertarung jarak dekat, seolah sedang membuat wanita-wanita kagum."
Natan terdiam dan merasakan kedutan di matanya. Terutama ketika mendengar tawa kecil istri-istrinya, dia bertambah kesal dan tidak tahu harus berkata apa.
Dia menarik napas dalam-dalam, kemudian dia berkata, "Sebelumnya aku malu karena berada di belakang, jadi lebih memilih menggunakan pedang. Tapi setelah berlatih dengan Ibu, aku merasa tidak perlu lagi malu dengan kekuatan yang dimiliki."
"Benarkah?" Erina masih tidak yakin dengan jawaban Natan. "Bukan untuk menarik perhatian?"
Natan menepuk wajahnya. Dia menghela napas, menunduk ke samping melihat Erina di kirinya. "Jika aku bilang bukan, apakah Erina percaya?"
"Tidak." Erina menggelengkan kepalanya dengan tatapan polos saat menatap Natan.
__ADS_1
Natan membungkuk seraya mengulurkan kedua tangannya, lalu mencubit pipi lembut Erina. "Bagaimana kau bisa tidak percaya pada kakakmu sendiri."
Erina tidak merasakan sakit, bahkan tertawa kecil saat dicubit di pipinya oleh Natan.
Tiba-tiba, Natan berhenti mencubit pipi Erina dan menoleh ke belakang saat merasakan pergerakan yang mendatanginya. Dia berdiri tegak, berbalik seraya mengangkat scope untuk melihat Sapi Kulit Merah.
Di Lantai 24 ada 500 Sapi Kulit Merah. Seperti sapi pada umumnya, hanya saja kulitnya berwarna merah dan mampu memantulkan sinar matahari.
"Malam ini masak apa? Ayu ingin kebab." Ayumi mengeluarkan air liur saat melihat Sapi Kulit Merah. Dia menatap Erina, dan bertanya, "Kau ingin makanan apa?"
"Meat ball!"
"Bakso?" Ayumi memiringkan kepalanya.
"Bakso ada campuran tepung. Aku ingin meat ball! Daging cincang asli!" Erina mendengus dingin.
Natan sudah mulai terbiasa dengan Ayumi dan Erina yang selalu berdebat tentang hidangan yang akan dimakan. Sekarang, dia tidak lagi seperti dulu yang selalu menenangkan mereka, sekarang dia membiarkannya saja.
Natan menarik napas dalam-dalam, kemudian dia menarik pelatuk, melepaskan tembakan.
Peluru Mana berwarna biru melesat membelah angin, dan karena terkena sinar matahari, peluru itu disamarkan warnanya.
Peluru itu mengenai kaki kanan depan Sapi Kulit Merah, membuat sapi itu terjatuh dan menggesek tanah. Ia mengeluarkan lenguhan panjang yang terdengar menyakitkan dan sedih.
Natan tidak peduli, dan menarik kembali pelatuk untuk menembak Sapi Kulit Merah.
Tembakan itu mengenai kepala dan langsung membunuhnya. Sapi itu bercahaya dengan warna biru dan sedikit kemerahan. Ketika cahaya menghilang, terlihat Sapi Kulit Merah masih berada di permukaan rumput, tanpa kulit, perutnya terbelah dan isi perutnya menghilang.
Natan tercengang ketika melihatnya. Sebelum Dungeon Tower ditingkatkan, Sapi Kulit Merah hanya akan menjatuhkan daging, dan itu pun antara rusuk atau paha. Tapi sekarang, bisa dibilang utuh kecuali kulit dan isi perut.
Ayumi dan Erina berteriak mengungkapkan kegembiraannya, kemudian keduanya berlari menuju daging yang tergeletak di atas rumput.
Natan menundukkan kepalanya, merenung, memikirkan apakah semua drop dari monster yang dibunuh di Dungeon Tower akan seperti ini. "Ini adalah hal yang baik, kami kekurangan makanan karena musibah langit gelap. Tapi, kulitnya juga berharga, itu bisa digunakan untuk membuat pelindung dan dijual."
Dia bingung, sebelum dan sesudah ditingkatkan sama-sama memiliki keuntungan tersendiri. Sebelumnya, dia bisa mendapatkan kulit meski dagingnya sedikit. Sekarang, dagingnya banyak, tapi tidak ada kulit untuk membuat perlengkapan.
"Setelah keluar dari sini, aku akan bertanya pada Ainsley."
...
***
__ADS_1
*Bersambung...