
Natan merebahkan tubuhnya di atas kursi santai dengan punggung setengah bersandar, dia memeluk Jiang Shuya yang sudah bangun di atasnya. "Sayang, lihat awan itu, bentuknya seperti kupu-kupu."
Jiang Shuya bersandar di dada Natan, dia memakai kacamata hitam agar matanya tidak sakit saat melihat langit yang cerah. "Ayah, Shu'el ingin punya cayap kupu-kupu."
Natan menunduk, mengusap kepala Jiang Shuya. "Baik, Ayah akan membuatkan sayap kupu-kupu untuk Shu'er tersayang. Tapi, Shu'er harus rajin makan dan berolahraga agar sehat, baru Ayah akan membuatkannya."
"Ayah janji?" Jiang Shuya berbalik menatap wajah ayahnya dengan mata berbinar.
Natan mengusap pipi Jiang Shuya dengan lembut dan berkata, "Ayah janji."
Jiang Shuya tersenyum bahagia, dia memanjat tubuh Natan. "Shu'el mencintai Ayah." Ia mengecup pipi Natan.
Natan tercengang, lalu dia tersenyum. Dia berdiri dan menggendong Jiang Shuya di satu tangan, dia berjalan di tepi danau seraya menunjuk bunga teratai di danau. "Sayang, bunga itu mekar di malam hari, saat sinar bulan turun, itu sangat indah. Apa Shu'er ingin melihatnya nanti malam?"
"Iya!" Jiang Shuya menjawabnya dengan suara keras yang sangat bersemangat.
Natan tersenyum, dia mengusap kepala Jiang Shuya dengan lembut. Saat dia berjalan, dia menghampiri Xia Feiya dan mengulurkan tangan kirinya. "Mau berjalan-jalan bersama Ayah?"
Xia Feiya mengangguk, dia mengambil tangan Natan dan menggenggamnya.
Natan pergi berjalan-jalan dengan Xia Feiya dan Jiang Shuya. Dia melihat putri tertuanya dan sangat menyayangi serta sangat berterima kasih, karena Xia Feiya yang tidak pernah menyerah, dia bisa bertemu dengan Jia Meiya dan menjadikannya sebagai istrinya.
Jia Meiya yang berdiri di kejauhan bersama istri yang lain, tersenyum hangat saat melihat Natan yang menggenggam tangan Xia Feiya.
Natan berbalik saat merasakan ada yang menatapnya, dan saat matanya bertemu dengan mata Jia Meiya, dia tersenyum seraya mengedipkan salah satu matanya.
"Apa Fefei kesulitan mengurus banyak adik?"
Xia Feiya mendongak, menggeleng dan tersenyum. "Tidak, Fefei tidak kesulitan, Fefei senang memiliki saudara dan saudari, mereka memanggil Fefei dengan sebutan “Kakak”, itu sangat membahagiakan!"
Natan tersenyum, dia berlutut di depan Xia Feiya dan mengusap kepalanya dengan lembut. "Terima kasih, Ayah senang mendengarnya."
Xia Feiya tersenyum bahagia dan berkata, "Fefei juga senang!"
Natan tersenyum, dia kembali berdiri dan menggenggam tangan Xia Feiya, di tangan lain dia menggendong Jiang Shuya dengan hati-hati. "Mari kita berkeliling."
__ADS_1
Natan mengajak kedua putrinya berjalan-jalan di tepi sungai, bersantai di hamparan bunga yang tidak jauh, berlarian mengejar rusa yang dipelihara, dan lain sebagainya.
Sampai mereka kembali ke tenda, hari sudah petang dan anak-anak menangkap banyak ikan segar yang dimasukkan ke dalam ember besar.
"Ayah, lihat!" Charles memegang tang pengait yang mengangkat ikan dengan panjang setengah tubuhnya.
Natan menyerahkan Jiang Shuya ke Jia Meiya, lalu menghampiri Charles. "Luar biasa, tapi hati-hati dengan ekornya, ikan ini bisa memukul tubuhmu yang kecil."
Charles mendengus dingin, dia memalingkan wajahnya. "Huh! Ayah menyebalkan."
Natan tertawa kecil, dia mencubit pipi Charles dengan lembut, lalu menggendongnya. "Ayah hanya bercanda, jangan marah seperti itu."
Charles tetap memalingkan wajahnya, tapi tangannya tidak bisa bohong, dia melingkarkan tangannya memeluk leher Natan.
...
Keluarga besar mereka tetap berada di tepi danau, mereka memasang tenda besar agar semua orang bisa tidur bersama.
Saat malam hari di mana langit berbintang, pantulannya terlihat jelas di permukaan danau dan teratai di danau mekar, memancarkan cahaya putih keperakan yang indah.
Teratai ini sendiri adalah obat berharga yang digunakan untuk Health Potion dan menjaga kesehatan jantung, teratai ini hanya bisa tumbuh di danau ini. Pada awalnya, pernah dicoba dipindah ke tempat lain, tapi hanya beberapa hari kemudian teratai itu mati, bahkan meski dapat bertahan, daunnya sangat kecil dan tidak ada bunga yang tumbuh.
Natan tersenyum tipis, dia mendongak memandangi langit berbintang. Dia ingin masa ini berlangsung selamanya, tapi dia tahu, hanya tersisa tujuh tahun sebelum pertempuran yang sebenarnya terjadi.
Dia tidak tahu apakah pertempuran itu akan terjadi di Bumi atau dimensi lain, tapi secara pribadi, dia ingin pertempuran ini terjadi di tempat lain agar tidak ada lagi kehancuran. Jika berada di dimensi lain, dan hanya membawa Player kuat, maka anak-anaknya bisa dikatakan aman di Bumi.
...***...
—5 Tahun Kemudian—
Hanya tersisa dua tahun lagi sebelum pertempuran terakhir datang.
Anak-anaknya sudah cukup dewasa, Xia Feiya berusia 20 tahun, Charles, Vera dan Octavia berusia 14½ tahun, Ling Wei berusia 12 tahun, Jiang Shuya berusia 9 tahun.
Kemudian ada Celine, putri Calista yang berusia 4 tahun; Verdinand, putra Vely berusia 4 tahun; dan Orla, putri Octavia berusia 4 tahun. Ling Hannah, putri Liu Xinmei berusia 2½ tahun, dan Jiang Xiaoai, putri Jia Meiya berusia 2½ tahun.
__ADS_1
Natan sangat bahagia memiliki keluarga besar, dan keluarga ini adalah miliknya sendiri, dia merawat anak-anaknya dengan baik, bahkan dia selalu berada di rumah tanpa pergi ke mana-mana.
Adapun untuk pengalamannya dalam pertempuran nyata, dia terus berlatih bersama dengan ibunya dengan niat saling mencelakai, sehingga tidak menahan diri. Karena itu, kemampuannya bukannya menurun, melainkan terus meningkat meski hanya berada di rumah.
...
Pada saat ini, Natan sudah kembali ke kampung halamannya di Indonesia seorang diri. Dia datang karena penasaran, bagaimana keadaan kampung halamannya, dan dia juga datang karena ingin pergi ke makam ayahnya yang sudah lama tidak dikunjungi.
Terakhir kali dia berkunjung, itu tiga bulan sebelum Kehancuran Dunia, dan sekarang, setidaknya sudah 16 tahun. Usianya sekarang sudah 34 tahun, tapi penampilannya masih tetap sama seperti berusia 18 tahun.
Natan berdiri di daerah yang awalnya adalah perkotaan, dia memandangi kota di depannya dengan ekspresi tak percaya.
"Tempat ini, sepertinya tidak pernah terkena sinar matahari ..."
Tidak ada salju seperti awal-awal dia meninggalkan kota, tempat ini sudah benar-benar tertutup es, terlihat seperti Bumi yang ada di film “Bumi yang Mengembara”.
Sejauh mata memandang, hanya ada es tebal yang menutupi.
Natan berbalik melihat ke belakang, dia melihat tempat yang sangat jauh sudah panas. "Indonesia terbagi menjadi dua sisi: musim panas tiada akhir dan musim dingin tiada akhir."
"Aku tidak tahu apa ini bisa kembali seperti semula .."
Natan kembali melangkah ke tempat tujuan awal, di sekelilingnya ada 1.542 Skeleton Squad yang berjaga-jaga, dengan level terendah dan tertinggi adalah 837 dan 1.003.
Melihat sekeliling, dia melihat ada manusia yang membeku di dalam balok es, monster-monster juga tidak luput dari musibah ini.
Untungnya dengan levelnya yang sekarang, Level 1.115, suhu di tempat ini tidak membuatnya kedinginan bahkan meski tidak mengenakan pakaian apa pun.
"Karena tempat ini sangat dingin, harusnya masih ada makanan instan yang terjaga. Aku akan mencarinya dan membawanya pulang, meski Kerajaan Armonia sudah sangat berkembang, sampai memiliki pabrik makanan ringan dan industri lain, aku tetap merindukan makanan belasan tahun lalu."
Natan berhenti melangkah, dia mendongak melihat langit-langit yang tertutup oleh awan hitam. "Ibu sudah menjadi Keberadaan tingkat Keempat, dia tidak bisa asal kembali ke Bumi sebelum Monster Ancestors dikalahkan. Ini sudah tiga tahun, aku tidak tahu bagaimana kabarnya. Ainsley, aku sudah tidak bertemu dengannya selama delapan tahun, apa dia masih mengenalkan seperti dulu?"
Natan menggelengkan kepalanya, dia melangkah lagi seraya mengirim pesan pada istri-istrinya kalau dia baik-baik saja, dan akan kembali tidak lama lagi.
...
__ADS_1
***
*Bersambung...