
Ketika yang lain sudah selesai mandi, barulah ia bersama dengan tiga orang yang mencintainya mulai mandi bersama. Saling membersihkan dan berendam bersama di kolam air panas yang terasa sangat nyaman.
Ketahanannya benar-benar diuji saat harus melihat enam pelampung besar yang mengambang di permukaan air, terlebih Calista yang duduk bersandar di depannya.
"Aku memang mengajak kalian mandi bersama, tapi ini terlalu berlebihan."
Kedua tangannya digandeng dan diapit oleh dua gunung, kemudian tongkat ajaibnya diapit oleh persik empuk.
Ketiga orang itu tidak menjawabnya dan lebih menekan tubuh mereka pada Natan.
Calista bersandar di dada Natan seraya mengangkat kedua tangannya, membuatnya dadanya semakin terlihat besar saat mengambang di permukaan air. "Aku melihatmu terlihat sedikit panik, apakah monsternya cukup banyak?"
Natan bernapas dengan cepat seperti ada yang bangkit di dalamnya, dan akhirnya ia mengangkat kedua tangannya, memainkan dua pelampung di depannya. "Bisakah kau jangan menggodaku."
"Untuk monster, sekitar seratus ribu atau bahkan lebih."
Calista tidak seperti sebelumnya yang akan menahan diri, sekarang ia melepaskannya dengan tenang, melepaskan suara merdu yang sangat menggoda karena remasan dan belaian Natan.
"Calista, apakah kau harus mengeluarkan suara seperti itu?" Olivia terlihat marah.
Masih dengan suara yang terus keluar, Calista mencoba untuk berbicara, "Aaahhh ... uuhhh. Ka- Kau mana tahu ... ka- karena belum melakukannya ... bah- bahkan, Natan tidak menyentuhmu sama sekali."
Olivia sangat kesal dengan ucapan Calista barusan yang secara tidak langsung mengatakan bahwa dirinya tidak menarik. Ia menatap Natan yang masih saja memainkan dada Calista. "Natan, ayo lakukan saat ini juga."
Tanpa sadar Natan menekan dua tombol secara bersamaan karena terkejutnya ia atas permintaan dari Olivia. Ia menoleh ke kiri menatap Olivia. "Bukankah kita sudah setuju untuk—"
Mulut Natan disumpal oleh dada Olivia, tapi ia masih bisa berbicara setelah ia mengigit tombol di dalam mulutnya. "Lusa, setelah kita membunuh monster, ayo lakukan." Ia menatap dalam mata Olivia.
"Walaupun itu artinya kita akan melakukannya meski baru empat hari."
Olivia menganggukkan kepalanya sebagai balasan, dan memegangi kedua dadanya untuk meminta dimainkan.
Natan meminta Calista untuk menyingkir dari pangkuannya, yang kemudian digantikan oleh Olivia yang duduk berhadapan dengannya, di atas pangkuannya. Kemudian, ia mulai menghisap dua permen yang menempel itu secara bergantian.
Vely dan Calista juga meminta hal yang sama.
Akhirnya Natan melakukan pijatan lembut ataupun kuat di tubuh mereka, entah bagian atas atau bawah secara bergantian. Hingga tak lama, ketiganya tidak mampu menahan panas tubuh dan suhu pemandian, yang membuat mereka pingsan.
Natan memilih untuk berjaga-jaga di dinding batu dengan membawa sniper rifle yang ia peluk, setelah ia membawa ketiganya ke kamar masing-masing.
Seraya menunduk dan menghela napas panjang, ia berucap, "Bukan hanya harus menjaga suasana hati masing-masing, aku juga harus bersikap adil."
Natan mengacak-acak rambutnya, memikirkan tentang wanita tidak akan ada habisnya. Ia telungkup dengan sniper rifle yang ia arahkan pada dataran rendah, di mana kamp monster berada.
__ADS_1
Walaupun sudah membunuh pemimpin mereka dan tidak disadari, ia masih berkeinginan untuk menghabisi nyawa monster berlevel tinggi, agar esok hari tidak terlalu menyusahkan untuk membunuhnya. Dengan melakukan ini, ia juga membantu Jia Meiya dan Xia Feiya untuk naik level, meski saat bangun nanti mereka akan sedikit mual karena peningkatan yang tergesa-gesa.
"Setidaknya satu monster memimpin seribu pasukan, yang artinya ada seratus pemimpin." Natan mengamati Mapping dan kamp monster secara bersamaan.
Mapping juga bisa digunakan melalui Skeleton Knight yang ia kirim ke kamp monster secara diam-diam, dan membunuh yang bisa dibunuh di tempat sepi.
Natan mengatur pernapasannya agar tidak terlalu gugup dan berefek pada tembakannya yang mungkin saja akan keluar dari jalur.
"Jarak sekitar dua kilometer, kecepatan angin empat puluh knot dari arah barat, suhu minus delapan derajat celcius. Ketebalan tembok ... tidak tahu."
Ketebalan tembok juga harus diperhatikan saat menembak, takutnya akan menimbulkan benturan keras yang berdampak pada monster lain.
Natan mengalihkan perhatiannya pada kelelawar yang menggantung di bawah atap, kelelawar dengan level 340.
"Kau adalah target pertama." Natan menarik pelatuk sniper rifle secara beruntun. Menembak tepat di tubuh kelelawar dan di kiri bawahnya.
Benar saja, tembakan pertama hanya mengurangi setengah HP dan membangunkan kelelawar itu yang kemudian bergerak, namun sudah ada peluru lain yang menunggu.
"Satu terjatuh." Natan sedikit mendongak untuk mengedipkan matanya, kemudian kembali melihat melalui scope. "Selanjutnya kau, Troll."
Troll di sini sangat berbeda sekali dengan Troll yang ia lihat di film cinema keluarga.
Natan kembali menenangkan pernapasannya dan menghitung berapa banyak kemungkinan akan membunuh Troll dalam sekali tembak. Ketika sudah menghitung semua, dari suhu yang kemungkinan akan berubah beberapa detik setelah menembak, dan perubahan arah angin.
Wush! Wush! Wush!
Natan menembak pada bagian leher untuk membuat monster itu kehilangan suara, bagian dada dan kepala agar lebih yakin lagi jika monster itu mati.
Dua jam kemudian, setelah membunuh sekurangnya ada 90 monster, akhirnya Natan memilih untuk kembali masuk ke dalam rumah karena tubuhnya yang kedinginan.
Waktu juga masih menunjukkan pukul tiga satu lagi waktu setempat, dan Natan langsung beristirahat di sofa agar memudahkannya untuk membunuh jika ada monster yang datang.
Baru menutup matanya untuk beberapa detik, ada suara yang membangunkannya.
"Natan..."
Natan membuka matanya perlahan. "Kalian?"
"Apakah aku terlalu berisik dan membangunkan kalian?"
Vely, Calista dan Olivia menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Kami melihatmu terus membunuh monster, tapi kami tidak memanggilmu agar tidak mengganggu." Calista duduk di sebelah kanan Natan dan memberikan segelas cokelat panas.
"Terimakasih." Natan menerimanya dengan kedua tangan.
"Apakah Natan ingin memakan sesuatu?" tanya Olivia yang membungkuk di depan Natan, dengan kedua tangannya yang bertumpu pada paha Natan.
Natan menyeruput cokelat panas, kemudian mendongak dan menjawab, "Aku ingin memakan sesuatu yang hangat dan berkuah."
"Shabu-shabu?"
"Boleh." Natan menganggukkan kepalanya.
Shabu-shabu. Hidangan yang memiliki bahan-bahan dan cara memasak yang serupa dengan sukiyaki. Shabu-shabu juga berisi daging yang diiris tipis dan berbagai sayuran yang dimasak dengan kuah yang tersedia sebelum menyantapnya. Hanya saja, shabu-shabu mempunyai rasa yang lebih gurih dan tidak terlalu manis seperti halnya sukiyaki.
Olivia menganggukkan kepalanya, kemudian melakukan persiapan di meja bundar kecil di depan sofa. Untungnya sudah ada bumbu yang sudah tercampur, sehingga hanya perlu memanaskan air.
Keempat orang itu makan malam bersama, dan tiga wanita itu tidak takut jika berat badannya bertambah, karena mereka selalu berolahraga secara rutin setiap pagi dan sore.
***
Selasa, 29 Juli 2025. Pukul 08.30 (GMT+8)
Hari ini adalah hari di mana pertarungan luar biasa akan dimulai, dan jumlah monsternya terus berkurang seiring dengan berjalannya waktu karena Skeleton Fire Mage dan Magic Archer yang dikirim saat tengah malam untuk mengacaukan pertahanan.
Natan berdiri di Mammoth Tank yang berada di depan Mammoth Castle. "Ayumi, turunkan dindingnya."
Ayumi yang berada di atap menganggukkan kepalanya, kemudian dinding batu itu mulai turun tertelan oleh tanah.
Natan sudah berlevel 400, membuat Skeleton yang bisa ia bangkitkan bertambah, dan semua monster dibawah level 350 bisa ia bunuh dalam sekali tembak. Sehingga, perburuan monsternya akan lebih mudah lagi untuk sekarang, sampai ada monster level 500.
Setelah dinding batu sudah turun, Mammoth Tank dan Mammoth Castle mulai bergerak perlahan.
Semua Mammoth Tank berada di depan, lalu untuk penjagaan di bagian sisi kanan kiri dan belakang, ada Skeleton Magic Archer di atap yang sudah bersiap-siap untuk melepaskan tembakan.
Kemudian ada tambahan lain, Xia Meiya yang baru berusia lima tahun itu mendapatkan Job Warlock, yang bisa memanggil Spirit atau Golem untuk membantu pertarungan, meski masih dilevel rendah.
Calista dan Olivia juga mendapatkan Job baru. Soulknife yang memiliki kemampuan menciptakan pedang atau pisau dengan Mana, dan Warmage yang merupakan penyihir jarak dekat.
Jia Meiya, yang memiliki Dual Sub-Job, Gardener dan Chef, akhirnya mendapatkan Job Gladiator. Ia memakai senjata seperti tombak, meski matanya sangat besar seperti Axe.
...
***
__ADS_1
*Bersambung...