
Minggu, 05 Oktober 2025
Natan berjalan santai di kota, menemani adik-adiknya bermain salju dalam keadaan tenang seperti ini. Biasanya saat mereka bermain salju, keadaan sangat menegangkan karena khawatir dengan monster yang menyerang Mammoth House.
"Ayumi, Erina! Jangan memaksa Kuro!"
Ayumi dan Erina sedang menaiki kereta salju yang ditarik Kuro; Natan tidak ingin keduanya memaksa Kuro sampai kelelahan, karena ia tidak tega melihat hewan peliharaan yang menemaninya dari awal sampai kelelahan.
"Baik, Kakak!" Keduanya menjawab bersamaan dengan sedikit berteriak.
Ketika mereka berdua sudah cukup jauh dari Natan, mereka berdua terlihat mendekat satu sama lain, seperti sedang membahas sesuatu.
"Erina, apakah kau tahu minggu depan tanggal berapa?" tanya Ayumi memastikan—ia akan kesal jika Erina tidak tahu apa yang dimaksudnya, karena ini adalah hal yang sangat penting.
Erina berpikir sejenak seraya memainkan jari-jarinya untuk menghitung tanggal hari ini dan tanggal minggu depan. "Ulang tahun Kakak!?"
Ayumi menutup mulut Erina dan mendesis saat jari telunjuknya di depan bibirnya. "Ssshh! Diam, jangan keras-keras, nanti Kakak mendengarnya."
Erina menganggukkan kepalanya perlahan dan meminta Ayumi untuk melepaskan tangan yang berada di mulutnya. "Oke-oke, kita harus memberi tahu yang lain, dan jangan biarkan Kakak mengetahui hal ini. Kita harus membahas di mana ulang tahunnya diadakan, dan jangan biarkan Kakak datang sebelum waktunya."
Ayumi mengangguk kecil, lalu menoleh ke belakang melihat Natan yang sangat jauh dari mereka berdua. "Aku harus memasak makanan yang enak mulai sekarang, tapi aku tidak bisa menyimpannya di Guild Storage, karena Kakak bisa mengetahuinya atau ada yang memakannya."
Erina tidak bisa tidak setuju, karena terkadang ia sering mengambil makanan yang harusnya dibuat untuk Natan, tapi ia yang memakannya, dan karena tindakannya itu sering kali dimarahi oleh Ayumi. Namun, meski demikian, ia tidak merasa jera dan selalu melakukannya berkali-kali.
"Lalu, bagaimana kau menyimpannya?" tanya Erina—ia penasaran dan berharap bisa mengambil makanan, setidaknya menyicipi hidangan buatan Ayumi untuk acara ulang tahun nanti.
Ayumi menganggukkan kepala berkali-kali dengan melipat kedua tangan di depan dada. "Hehehe! Aku sudah menciptakan alat dengan bantuan Paman Bardhy dan Bibi Lucy." Ia mengangkat tangan kanannya.
Ada gelang berwarna biru yang nampak asing karena tidak pernah ada di NPC Shop; ukiran-ukiran unik terlihat di bagian dalam maupun luar gelang, dan ada Inti Sihir Lv.300 yang berjumlah ratusan namun dipadatkan menjadi satu.
__ADS_1
"Gelang Storage, ini bisa menyimpan seperti Inventory, tapi hanya bisa menyimpan dengan ukuran empat kali empat, atau enam belas blok. Tidak seperti Guild Storage yang bisa memiliki ribuan blok penyimpanan." Ayumi sangat bersemangat dalam menjelaskannya.
Erina hanya menganggukkan kepalanya berkali-kali; tidak ada ketertarikan terhadap gelang yang dipakai Ayumi, dan lebih fokus menikmati keripik kentang yang didapatnya saat menyusuri Kota Chengdu sebelum dihancurkan.
Erina juga lebih nyaman menggunakan penyimpanan yang disediakan di Guild, hanya perlu membuka System Player, dan sudah bisa mengoperasikannya tanpa harus menggunakan Mana.
"Kuro, ayo menangkap ayam, bebek, domba dan sapi!" teriak Ayumi mengangkat tangannya—banyak yang harus disiapkan dan ia berencana memulainya dari sekarang.
"Meow~" Kuro menjawabnya dengan suara lembut sebelum berubah menjadi Lion King.
Kuro mulai berlari lebih cepat lagi membawa Ayumi dan Erina keluar dari kota, pergi ke tempat lain di mana peternakan berada.
Natan yang berada di kejauhan, hanya diam dan menghela napas saat melihat Kuro yang berlari lebih kuat. Ia menundukkan kepalanya melihat waktu di jam tangan, kemudian menoleh ke kanan belakang. "Ini sudah waktunya, apakah kau tidak keluar?"
Mana berkumpul di belakangnya membentuk pusaran cahaya di mana itu adalah tanda NPC Shop datang, tapi tanda yang sekarang tidak semenarik dan sebaik dulu, karena pada awal NPC Shop muncul, akan ada pilar cahaya biru yang melonjak ke langit.
Natan menoleh ke belakang dan perhatiannya langsung tertuju pada kursor hijau dengan nama Anna di sana; sudah lebih dari empat bulan atau sekitar 1.448 kali yang datang adalah Ainsley, bukan orang lain. Tapi, entah mengapa perasaannya merasa aneh saat melihat wanita di depannya, seperti tidak asing lagi.
"Aku— Uhum!" Anna mencoba mengubah suaranya; masih tidak ingin Natan mengetahui identitas dirinya yang merupakan Brianna Alexander. "Ainsley sedang sibuk dengan urusannya, aku Anna yang menggantikannya untuk menemanimu. Mungkin kita akan sering bertemu ke depannya."
"Oke. Tapi ..." Natan menganggukkan kepalanya. "Kau tahu, aku hanya membeli informasi yang mungkin kau tidak bisa memberikannya, dan aku juga sering menjual barang daripada membelinya. Bagaimanapun, Armonia Guild sangat berkecukupan."
"Ib— Aku tahu itu ..." Anna hampir menyebut dirinya sendiri dengan panggilan 'Ibu'. "Ainsley sudah menceritakannya, dan aku tidak masalah dengan hal itu."
"Untuk informasi, dengan otoritas yang kumiliki, aku memang tidak bisa memberikannya. Bagaimanapun, biasanya aku ditugaskan untuk mengurus Player dengan level tiga ratus sampai empat ratus, tidak seperti Ainsley yang mengurus Top Five."
Natan tidak menduga bahwa Ainsley memiliki kedudukan yang sangat tinggi, dan jika ia mengingatnya kembali, Ainsley pernah mengatakan jika sangat dekat dengan Penjaga. Berbicara tentang Penjaga dan Monster Ancestors, ia sangat penasaran kapan hari itu akan datang, dan apakah ia bisa menghadapi ataukah bisa bertahan.
"Kota yang kau bangun sangat indah, apakah kau mempelajarinya?" tanya Anna—ia ingin tahu bagaimana hidup Putranya setelah ia meninggalkannya.
__ADS_1
Natan terdiam sejenak, seperti enggan menjawabnya, tapi di sisi lain tidak ada salahnya untuk memberitahukannya. "Iya, aku belajar membuat miniatur dan menjualnya untuk menambah pemasukan. Belajar semua bela diri untuk melupakan rasa sakit dan lain sebagainya."
Brianna atau sekarang menyamar sebagai Anna, menundukkan kepalanya dan menggertakkan gigi seraya mengepalkan kedua tangan; kemarahan dan kekesalan mulai bangkit di dalam hatinya, karena sebelum kematiannya, ia meninggalkan banyak sekali uang yang harusnya bisa digunakan sampai Natan berusia 40 tahun.
"Bukankah keluargamu kaya raya?"
Natan mengerutkan keningnya; merasa bahwa ini sudah terlalu jauh sampai menanyakan hal materi. "Apakah harus menanyakannya tentang keluarga? Lalu, apakah ada hubungannya denganmu jika keluargaku kaya atau tidak?" Ia sudah kesal dan ingin meninggalkan Anna.
Anna terlihat sangat panik, tapi mencoba menahan Natan agar tidak pergi. "Bu- Bukan begitu, aku mendapatkan informasi jika di Inggris, ada keluarga Alexander yang sangat kaya dan terkenal, bahkan bisa memengaruhi ekonomi dunia hanya karena kata-kata mereka. Aku mengira kau berasal dari sana."
Natan hanya diam memikirkan nama belakangnya yang sama-sama Alexander, dan Ibunya yang bernama Brianna Alexander memang berasal dari Inggris, pindah ke Indonesia karena pertukaran mahasiswa. Tapi, ia menolak hal itu dan merasa tidak mungkin Ibunya berasal dari keluarga terkenal di Inggris.
Obrolan keduanya terus berlanjut saat mengelilingi Longquan Mountain, sampai akhirnya Anna harus kembali karena hanya diperbolehkan datang selama 30 menit. Kedekatan keduanya mulai terbangun meski baru bertemu satu sama lain, terutama Natan yang merasa nyaman, seperti bertemu dengan orang yang sangat ia rindukan.
Natan duduk di tepi tembok terdalam dengan kaki menggantung; tatapannya kosong melihat ke depan. "Alexander, apakah Ibu berasal dari keluarga Alexander di Inggris?"
Terbesit pikiran untuk datang ke Inggris dan memastikannya sendiri, apakah keluarga Alexander adalah tempat asal Ibunya. Bagaimanapun, ia hanya pernah melihat keluarga Ibunya saat masih sangat kecil, dan itu pun hanya beberapa minggu, kemudian selalu berkomunikasi melalui panggilan video.
"Setelah musim dingin berakhir dan musim semi tiba, aku akan datang ke Amerika untuk menghancurkan Skull Guild, kemudian datang ke Inggris untuk mencari keluarga Alexander."
"Aku harap, semuanya bisa selesai hanya dalam waktu satu bulan. Aku tidak bisa berlama-lama di luar sana."
Natan menghela napas panjang; banyak hal yang ia pikirkan setelah bertemu dengan Anna. Tapi, daripada terus memikirkannya, lebih baik ia kembali ke Istana untuk beristirahat dan membiarkan Skeleton Squad memburu monster-monster yang terus berdatangan.
Natan turun perlahan melalui tangga batu, kemudian berjalan menuju Istana dalam diam, bahkan ia mengabaikan anak-anak kecil yang menyapanya.
...
***
__ADS_1
*Bersambung...