
Natan dibawa ke kedai kecil seperti bar malam, di dalam sini gelap dengan penerangan yang minim. Ada aroma tidak menyenangkan yang tersesat di udara, membuatnya merasa enggan berlama-lama di sini.
Tapi dia hanya bisa menahannya sambil melihat sekeliling, menggunakan kemampuan Appraisal, dia bisa melihat apakah makanan di atas meja diberi racun atau tidak.
"Di mana hati manusia yang kau katakan?"
Sosok besar itu terdiam, lalu tertawa terbahak-bahak dengan suara keras yang menarik perhatian semua pengunjung. "Bagus, bagus! Kau tertarik dengan hati manusia, aku akan membawamu ke sana! Tapi, kita belum bisa pergi, kita harus menunggu sampai malam hari."
"Hati manusia adalah makanan langka, kau harus membayar deposit sebesar 500 Juta Gold untuk mendapatkan tiket masuk."
Natan terdiam sambil menggaruk kepalanya. Dia memikirkan sesuatu: mengapa harus membayar kalau dia bisa membunuh semua manusia di sini? Bahkan satu Skeleton Commander dengan Level 639 sudah cukup untuk membunuh semua orang di dalam bar ini.
Tapi demi mengetahui tentang Kota Surga, dia hanya mengangguk dan mengeluarkan Gold dalam jumlah yang sesuai. "Aku membayarnya, sepertinya hati manusia adalah makanan teratas dan sangat digemari, aku ingin mencobanya."
Sosok besar itu mengangguk, lalu dia bertepuk tangan.
Bartender tua yang sedang melayani pelanggan lain, tiba-tiba berjalan ke arah Natan. Mengambil kantong uang di atas meja dan menyerahkan undangan yang disimpan di dalam bajunya kepada Natan.
Natan menerimanya, tidak ada prompt muncul yang artinya ini adalah undangan biasa yang bisa dipalsukan, tapi dia tidak terlalu peduli dan menyimpannya ke dalam Tas Ruang.
Bartender tua dengan penampilan rapi, mengambilkan wine merah dan menuangkannya di gelas kaca di depan Natan. Lalu mendorongnya perlahan. "Silakan, pelanggan yang terhormat."
Natan mengambil gelas, memutar-mutar wine di dalamnya dan mencium aromanya setelah menurunkan sedikit maskernya. Setelah memastikan tidak ada cairan aneh yang ditambahkan di dalamnya, dia meminumnya tanpa memperlihatkan wajahnya.
Wine ini tidak terlalu enak, sehingga Natan meletakkannya kembali setelah menyesapnya sedikit. Dia sudah sering minum wine bersama ibunya di balkon saat malam hari, dan kualitasnya yang terbaik, sehingga ketika minum wine jenis ini, dia tidak terlalu puas.
"Apakah rasanya tidak sesuai dengan selera Anda?"
Natan terdiam, mendongak menatap bartender yang berdiri di balik meja di depannya. "Ini enak, tapi biasanya aku hanya minum teh tawar, bukan wine."
__ADS_1
Bartender mengangguk, tapi tidak melalukan sesuai yang seharusnya di mana memberikan apa yang diinginkan pelanggan. Natan juga tidak peduli, dia memejamkan matanya, mengeluarkan skeleton kecil yang merupakan kerangka tikus untuk menyebar.
Dengan pencahayaan yang minim, tikus yang dikeluarkannya tidak dapat dideteksi.
Natan ingin tahu apa yang istimewa tentang bar yang terlihat bobrok dari luar ini.
Sosok besar di samping Natan, melihat Natan dengan penasaran, tapi saat melihat Natan yang menutup mata, dia mengedipkan matanya saat menatap bartender di depannya.
Bartender tahu apa artinya, dia mengeluarkan undangan lain yang serupa dan memberikannya pada sosok besar.
Sosok besar mengambil undangan dan menyeringai. Jumlah uang yang dibayarkan Natan tadi cukup untuk dua orang, dan dia menipu Natan untuk membayar tagihannya sendiri.
Natan menyadari tindakan bartender, tapi masih tetap fokus dengan tikus yang mencari ke seluruh sudut bar. Sampai dia menemukan pintu bobrok yang berlubang yang tersembunyi dan tidak mencolok. Dia mengendalikan tikus untuk masuk ke sana, penerangan di sini sama-sama minim, tapi lantainya tidak lagi kayu, melainkan logam tebal yang sulit ditembus.
Dinding maupun langit-langitnya sama-sama terbuat dari logam, dan setelah berjalan belasan meter di lorong, terdapat pintu tebal seperti brankas yang dijaga oleh belasan pria besar dengan berbagai macam senjata konvensional.
Natan membuka matanya lagi, dia menoleh menatap sosok besar di sampingnya. "Kapan acaranya di mulai?"
Sosok besar menyimpan undangan dengan kecepatan kilat. Dia mengatur napasnya dan menjawab, "Tengah malam waktu normal. Bagaimana kalau sekarang aku membawamu berkeliling di Kota Surga?"
Natan mengangguk dan berdiri. Dia mengikuti sosok di depannya untuk mengelilingi Kota Surga yang dikatakan sebagai kota impian setiap orang-orang yang memiliki kekuatan dan uang, tapi tidak bisa melakukannya saat dunia masih baik-baik saja.
Ketika baru keluar dari dalam bar, dia bisa mendengar teriakan yang datang dari pinggir jalan. Natan bisa melihat seorang pria paruh baya kurus yang dipukul oleh tiga orang dengan tongkat kayu, tapi tidak ada yang menolongnya, semua orang di sekitarnya hanya melihat dan tertawa, seolah sedang menyaksikan pertunjukan.
"Bagaimana menurutmu tentang ini?"
Mendapati pertanyaan, Natan terlihat tetap tenang saat menjawab, "Tidak ada yang spesial, yang kuat yang bertahan, semua orang memiliki keuntungan masing-masing saat awal perubahan dunia. Mereka yang seperti ini, adalah mereka yang tidak bisa keluar dari keterpurukan."
Natan melihat sekeliling, dan menambahkan, "Aku juga melihat, hanya ada tiga jenis orang di sini: mereka yang memiliki kekuatan, kaya, dan budak."
__ADS_1
"Ya ..." Sosok besar mengangguk dan berkata, "Budak di sini tidak hanya untuk pekerja kasar, tapi bisa digunakan untuk melampiaskan amarah seperti yang kau lihat tadi, ada juga budak untuk melampiaskan nafsu yang tidak bisa melawan. Budak di sini tidak memiliki hidup, bahkan meski pelanggan ingin memotong telinga atau mencongkel mata budak, budak tidak bisa melawan."
Natan mengangguk dan terus berkeliling, tapi dari waktu ke waktu, dia melihat ada yang lain. Dia mengerutkan keningnya dan bertanya, "Semua budak di sini, manusia dengan ras kulit putih?"
Sosok besar mengangguk. "Kita tahu orang kulit putih pernah berkuasa pada masanya di sini, tapi Nelson Mandela berjuang untuk kesetaraan setiap ras. Tapi, siapa yang menyangka, setelah wafatnya Nelson Mandela, hukum di sini berubah, meski tidak terlihat di permukaan, tapi tetap ada ..."
"Orang kulit putih kesulitan mencari pekerjaan, hidup di bawah ambang kemiskinan, mereka tinggal di daerah kumuh, mengingatkan pada hari-hari terburuk pada zaman Apartheid."
Natan mengangguk. Dia pernah mendengar tentang berita orang kulit putih di kawasan Afrika Selatan, di mana mereka hidup sulit, tapi semangat mereka tetap tinggi dalam hidup, seperti berusaha bertani, mencari ikan di danau. Berbeda dengan kawasan kumuh orang kulit hitam, jika ada orang kaya yang pergi membawa mobil dan dalam keadaan jendela terbuka, maka harus bersiap-siap untuk gerombolan anak-anak maupun orang dewasa yang menyerang untuk meminta makan.
Orang kulit putih sangat sulit mendapatkan pekerjaan, bahkan jika memiliki pekerjaan, akan ditempatkan di tempat pembuangan sampah, dan untuk para wanita, harus sangat berhati-hati agar tidak ditanggapi dan dijadikan sebagai bahan pemuas bagi para pria.
Ini sama seperti zaman dulu, di mana orang kulit hitam dipertontonkan di kebun binatang.
Melihat Natan yang diam, sosok besar itu batuk beberapa kali, lalu berkata, "Acara malam ini, pihak penyelenggara berhasil menangkap beberapa wanita dari Asia Timur dan Tenggara. Mereka adalah orang-orang yang dikirim oleh perusahaan dari negara asal yang bekerja di sini, tapi setelah bencana datang, orang-orang setempat memiliki kekuatan dan mulai menyerang."
"Apakah Kota Surga tidak takut diserang oleh pasukan dari negara mereka?"
Sosok besar tertegun, lalu tertawa terbahak-bahak. "Tidak mungkin, Penguasa Kota Surga sangat kuat. Asal kau tahu, dia adalah yang terkuat di sini, dan dia adalah Player dengan Level 650!"
"Oohh..." Tidak ada keterkejutan di wajah Natan. Level 650 terlihat kuat, tapi di matanya tidak ada perbedaan dengan Level 200. Dia bahkan sudah pernah bertarung satu lawan satu melawan monster dengan Level 780.
Sosok besar mengerutkan keningnya, dia mengharapkan kalau Natan terkejut, tapi ternyata tidak, ini membuatnya tertawa canggung. Dia kembali batuk, lalu mengantar Natan untuk berkeliling lagi.
...
***
*Bersambung...
__ADS_1