Monster Apocalypse

Monster Apocalypse
Chapter 160 : Kepungan Tikus


__ADS_3

Kelompoknya telah memasuki Dimensional Cave, mereka merasakan perasaan aneh sedikit ada tekanan yang datang dari segala arah. Cahaya yang menyilaukan mata juga membuat mereka merasa tidak nyaman dan harus menutupnya.


Ketika perasaan tidak nyaman telah menghilang, mereka membuka mata.


"Di mana ini?" Calista membuka matanya perlahan.


Medan mereka sekarang cukup keras: gua besar dengan diameter dua puluhan meteran, banyak stalagtit maupun stalakmit yang sangat runcing. Tidaklah aneh jika bebatuan runcing itu bisa membawa pada kematian.


Dinding gua berwarna merah, ratusan meter di depan mereka sudah tidak terlihat, sepertinya gua di sana berkelok-kelok.


"Pastikan tidak ada efek negatif pada tubuh kalian, pastikan semuanya baik-baik saja, dimulai dari tubuh sampai perlengkapan serta hal-hal kecil lainnya." Natan mengingatkan semua orang sambil mengeluarkan Skeleton Commander.


Vely berada di barisan belakang, tapi di depan Jia Meiya yang membawa senjata berat. Vely fokus pada alat yang dibawanya, yang seperti tab meski ukuran layarnya seperti laptop.


Alat yang dibawanya memiliki fungsi seperti Mapping. Tapi lebih sederhana karena hanya menangkap titik yang mengandung Mana, semuanya berwarna merah tidak peduli lawan ataupun kawan. Namun ada penanggulangannya, semua anggota tim membawa chip khusus di saku celana mereka, sehingga di alat yang dibawa Vely akan berwarna hijau.


Kemudian, Mapping akan menangkap semua hal dan membuat peta dalam jangkauan satu kilometer. Tidak seperti alat sihir ini, yang mana hanya bisa mencatat tempat yang sudah dilalui.


"Saya— Natan, seratus meter di depan, di balik batu besar ada monster." Vely memberitahukan tentang monster dengan wajahnya yang memerah.


Natan terus mengamati Mapping, dan cocok dengan apa yang dikatakan Vely. "Terima kasih."


Cit, Cit, Cit...


Tiba-tiba mereka mendengar suara mendecit seperti tikus yang berasal dari balik batu yang ditunjuk Vely. Lalu dari balik batu, terlihat kepala tikus yang menjulur keluar. Tikus itu memiliki mata merah dengan sepasang gigi tajam, kepalanya sangat besar, dan ukuran tubuhnya dua kali sapi. Ekornya sangat kokoh seperti cambuk besi.


Natan mengerutkan keningnya. "Moogle?"


"Tidak, tidak, tidak!" Ayumi menggelengkan kepalanya berkali-kali. "Moogle tidak seperti itu, Moogle sangat lucu! Dia bukan Moogle!"


Natan terdiam tanpa bisa berkata-kata. Akhir-akhir ini, dia tahu bahwa Ayumi sangat suka dengan karakter Moogle di salah satu game fiksi. Itu tikus bulat putih dengan hidung merah dan sayap vampire, dan ada balon merah di atas kepalanya.


Bahkan, Ayumi meminta penjahit di Kota Armonia untuk membuatkan boneka Moogle dengan ukuran berbeda: dari ukuran telapak tangan sampai dua meter.


"Benar!" Erina menambahkan, "Moogle sangat lucu! Tidak seperti monster itu!"


"Ya! Kakak benar!" Sekarang, bahkan Xia Feiya menambahkan.


Natan benar-benar tidak bisa berkata-kata dan tidak ingin memberi tahu mereka bertiga bahwa, monster di depannya memang dalam Ras Tikus Moogle.


Cit, Cit, Cit...


Tikus Moogle berlari ke arah kelompok delapan orang dengan mulut mengeluarkan air liur. Tikus itu memancarkan cahaya merah di matanya, seolah-olah telah menemukan mangsa.


Tikus Moogle hanya level 400, mahir dalam kecepatan dan serangannya relatif rendah, tapi dengan kecepatannya itulah yang membuat orang merasa tidak cocok.


Melihat tikus yang bertindak, mereka mempersiapkan formasi.


Erina berada di barisan terdepan, dengan Olivia di sebelah kiri dan Natan di sebelah kanan. Calista di belakang Erina seorang diri. Vely, Ayumi dan Xia Feiya berada di barisan ketiga. Jia Meiya berada di barisan belakang, dengan Kuro dan Kori yang membantu di kiri dan kanan.

__ADS_1


Kuro dalam bentuk Lion King, Kori dengan ukuran seperti elang.


Walaupun musuh yang dilawan bisa dibunuh dengan mudah di level mereka yang sekarang, tapi mereka akan menahan diri dan memilih bekerja sama untuk meningkatkan kerja sama mereka tanpa berbicara.


Erina memegang erat perisai di tangan kirinya untuk menahan serangan tikus tanpa keahliannya. Ia ingin mencoba menahannya murni dengan fisik.


Bang!


Kepala tikus menghantam perisai yang ukurannya hampir sama dengan tubuh Erina. Tikus itu sedikit linglung karena benturan, membuatnya sedikit melangkah mundur dengan hidung terluka.


Erina memanfaatkan kesempatan, menarik pedang di tangan kanan untuk mengambil ancang-ancang, kemudian menusuknya ke depan dengan serangan normal.


Cit!


Tikus itu terluka cukup parah pada bagian bahu kirinya, darah merah mengalir seperti air kran.


Erina masih bergerak, memanfaatkan tubuhnya yang kecil, dia berlari dengan posisi sedikit membungkuk. Ketika tiba di bawah kepala tikus, dia mendorong kepala tikus dengan perisainya.


Tikus itu tersentak hampir berdiri ketika terkena serangan.


Kemudian Olivia akhirnya bergerak di depan Erina, dia mengangkat kaki kanannya, menendang leher tikus dengan kekuatan penuh.


Dengan suara keras, tikus itu terangkat beberapa meter karena tendangan Olivia.


Vely yang telah bersiap-siap dengan busurnya, melepaskan tembakan anak panah. Anak panah dengan jumlah lebih dari sepuluh itu melesat hanya dalam waktu dua detik, menusuk tubuh tikus yang bulunya cukup tebal.


Bam! Bam!


Tendangan itu menimbulkan suara keras dengan gelombang udara, membuat tikus melesat ke belakang. Tepat saat baru tiba, Jia Meiya sudah melompat dengan membawa senjata besar seperti karakter Escanor. Senjata itu diayunkannya, menghantam tikus menggunakan bagian belakang senjata.


Masih berada di udara, Olivia memutar tubuhnya kembali dalam posisi horizontal. Kemudian saat tikus hampir mengenainya, dia mengayunkan kakinya secara vertikal ke bawah, menendang tikus menggunakan tumit kaki belakangnya.


Booom!


Tikus itu melesat turun, menghantam tanah sampai menciptakan lubang besar dengan ukuran tiga kali tubuh tikus itu sendiri.


Cit ... cit—


Tikus itu mencoba untuk bangkit kembali dengan tubuh gemetar, meski pada akhirnya terbunuh karena tombak es yang jatuh dari atasnya, menembus tubuhnya sampai menusuk tanah berbatu di bawahnya.


Natan yang tidak menyerang dan hanya mengamati, menganggukkan kepalanya dengan senyum tipis. Kerja sama mereka masih terjalin, dan bahkan terlihat lebih kompak meski sudah lama tidak berburu bersama.


"Pertahankan kerja sama ini. Tapi harus tetap waspada, musuh kita hanya satu, mungkin ke depannya akan ada ratusan atau bahkan ribuan."


Semuanya menganggukkan kepala, kemudian Olivia dan Calista bertukar tempat. Kali ini, Olivia akan bertindak sebagai pendukung, bersama dengan Vely yang merangkap sebagai pendukung serangan jarak jauh dan memberikan buff ataupun debuff pada lawan.


...


Semuanya terus melangkah dengan pasti. Setelah melangkah sampai ujung dan sampai pada tikungan, mereka hanya bertemu dengan tiga monster berlevel rendah menurut Dimensional Cave (A).

__ADS_1


Hanya ada satu jalan, itu berbelok ke kanan.


Natan melihat Mapping dengan kerutan di dahi. "Lorong ini sejauh satu kilometer, dan tidak ada monster sama sekali?"


"Ada apa, Saya— Natan?" tanya Calista.


Ayumi dan Erina berdecak seraya menggelengkan kepala. "Ayolah, kita semua sudah tahu tentang Kak Natan yang berpacaran dengan Kak Vely, Kak Calista dan Kak Olivia. Tidak perlu menutup-nutupinya seperti itu," ucap Ayumi.


Jia Meiya menganggukkan kepalanya. "Enaknya menjadi muda."


Natan mengabaikan mereka, dan menjawab pertanyaan Calista, "Aku memiliki kemampuan, sepanjang lorong ini tidak ada monster. Ini aneh, tingkat Dimensional Cave adalah A, tapi sejauh ini monster yang kita temui baru tiga. Bahkan saat aku memasuki Dungeon Tower, kami bertemu setidaknya tujuh ribu sampai sepuluh ribu."


"Apakah Dimensional Cave ini sudah dimasuki orang lain?" Natan menoleh ke belakang, menatap Vely.


Vely membuka alat sihir seperti tab, membaca informasi yang tertera. "Ada banyak Dimensional Cave di sekitar Kota Chengdu, semuanya hampir dijelajahi, tapi hanya di sini yang dijaga ketat. Tempat ini sengaja ditinggalkan untuk kita."


Mendengar itu, Natan merasa semakin aneh. Dia mengatur napas, kemudian memimpin semua orang untuk terus masuk. Sekarang, Natan yang berada di barisan depan.


Mereka terus melangkah sampai tujuh menit kemudahan, mereka melihat cahaya yang di depan mereka semakin membesar.


Ketika mereka terus berjalan, mereka telah sampai di sebuah ruangan dengan tinggi empat puluhan meter dan luas lantainya dua kali lapangan sepak bola. Bagian dinding, terdapat puluhan lubang seperti tempat mereka keluar saat ini.


Natan membuka Mapping, dia melihat setiap lubang itu memiliki lorong dengan ukuran berbeda, dan semuanya melebihi jangkauan Mapping. Artinya, lorong-lorong itu lebih dari satu kilometer.


Pada saat itu, tiba-tiba terdengar suara mendecit yang menggema berasal dari setiap lorong.


Natan terus melihat Mapping, tapi masih tidak menangkap adanya monster. Sampai akhirnya, titik-titik merah sudah memasuki jangkauannya.


Natan menoleh ke belakang, kemudian ke depan. "Pergi ke tengah!" Ia berlari ke tengah-tengah dengan semua orang.


Jika terus berada di lorong tempat mereka, itu akan sangat sulit untuk bergerak, dan mungkin saja ada monster yang tidak dapat dipindai, dan tiba-tiba muncul di belakang. Jadi, lebih baik berada di tengah-tengah meski dikepung.


"Jika setiap lorong berisi seratus monster, setidaknya akan ada enam ribu monster." Natan telah tiba di tengah-tengah, kemudian mengangkat tangannya. "Bone Wall."


Tulang-tulang bermunculan di tanah sekitar sepuluh meter darinya, itu mengelilingi mereka semua membentuk penghalang.


Cit, Cit, Cit! Cit! Cit ... Cit!


Tikus-tikus terlihat berkomunikasi satu sama lain dengan suara keras yang menyebalkan.


Jika dilihat dari langit-langit, tikus-tikus itu bergerak dengan cepat dan berkerumun seperti gelombang putih yang siap menenggelamkan mangsanya.


"Bersiap-siap!"


...


***


*Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2