Monster Apocalypse

Monster Apocalypse
Chapter 262 : Pertempuran Terakhir (6)


__ADS_3

Brianna dan Ainsley mengambil lawan masing-masing, menggunakan kekuatan kasar untuk melawannya langsung.


Keduanya memukul iblis yang menghalangi, membuat kedua iblis itu melesat seperti rudal yang jatuh dan menghantam tanah dengan kerasnya.


Booom!


Dua iblis yang menghantam tanah itu bersinar dengan cahaya biru cerah di tengah-tengah perutnya, kemudian retakan muncul yang menyebar ke seluruh tubuh seperti jaring laba-laba.


Kemudian...


Duarr!


Kedua iblis itu meledak menjadi api yang menyala membentuk jamur raksasa, gelombang panas menyebar ke segala arah yang membunuh sesama maupun monster lainnya. Kekuatan iblis ini tidak bisa diremehkan, sehingga saat tubuhnya meledak, pastinya akan menghasilkan daya ledak yang luar biasa.


Pemicu ledakan itu adalah Mana yang dikirim oleh Brianna dan Ainsley ketika menyerang dengan pukulan, menyumbat aliran Mana di jantung hingga penuh dan mengembang sampai tubuh tidak mampu menahannya, kemudian meledakkannya.


Teknik ini sulit ditiru, karena ada persyaratan berat untuk dapat melakukannya, yaitu telah mencapai Keberadaan tingkat Keempat.


Walaupun dari awal menjadi Player sudah bisa memanipulasi Mana, tapi itu adalah Mana milik sendiri, dan sulit untuk menyusupkan Mana ke dalam tubuh orang lain tanpa persetujuan pihak lain, apalagi meledakkannya dari dalam. Tentu, tidak semua Keberadaan tingkat Keempat bisa melakukannya, tapi bagi yang bisa, sudah dipastikan bahwa itu adalah Keberadaan tingkat Keempat.


Iblis yang terlihat seperti pemimpin, tercengang untuk beberapa saat ketika melihat bawahannya yang melesat jatuh dan meledak dalam hitungan detik.


Bang!


Belum lepas dari keterkejutannya, iblis tersebut mendapat serangan yang lebih kuat dari bawahannya tadi. Dia melesat seperti komet yang terbakar dengan ekor api berwarna merah yang mengikuti, kemudian saat jatuh mengenai tanah, ledakan yang lebih besar terbentuk.


Walaupun mengatakan ledakannya lebih besar, namun tidak ada api yang terbentuk, hanya angin kencang seperti ratusan duri yang menusuk ke segala arah.


Iblis yang berada di tengah-tengah ledakan, tergeletak di lubang yang dalam dengan setengah tubuh yang tenggelam di dalam tanah. Memandang langit, melihat Briana dan Ainsley dengan mata kosong ketika keduanya mulai menghabisi bawahannya.


"Tingkat Keempat!" Iblis itu membelalakkan matanya. "Bagaimana ... bagaimana Keberadaan tingkat Keempat ... yang setara dengan Penjaga ada di sini?!"


Yang diketahuinya hanya Keberadaan tingkat Ketiga yang tertinggi di sini, bahkan kalaupun ada yang lebih tinggi, itu hanya Semi-Keempat.


Brianna menunduk, menatap iblis yang masih tertahan di tumpukan batu.

__ADS_1


Ainsley mengayunkan tangannya, membuat semua iblis yang masih terbang jatuh satu per satu. Tanah yang berada jauh di bawahnya juga bergetar dan mulai merosok lebih dalam; udara terlihat terdistorsi dan semua kecuali kawan yang berada dalam jangkauannya mulai tenggelam di tanah.


"Medan gravitasi milikmu memang luar biasa seperti biasanya." Brianna menoleh sekilas, lalu mengangkat kedua tangannya.


Drrtt...


Kilauan cahaya di langit malam bergetar, kemudian mulai membesar dengan cahayanya yang semakin terang.


Natan mendongak, dia melihat planet yang tidak masuk dalam hubungan antar-planet lain mulai bergetar dan turun sangat cepat. Cahaya merahnya semakin terang benderang, mengubah kegelapan sekitarnya seperti siang hari seolah sinar matahari langsung jatuh ke satu tempat.


Planet kecil yang ukurannya lebih besar dari Bulan, pergi ke arah monster raksasa yang hanya terlihat bagian kakinya saja.


Cahaya yang dibawanya menerangi langit malam, memperlihatkan wujud asli dari raksasa. Monster dengan fisik seperti manusia, berwarna merah tanpa pakaian, memegang kepalanya sendiri. Ya! Memegang kepalanya sendiri, itu karena di bagian lehernya tidak ada apa pun selain bulu-bulu halus yang menggeliat seperti cacing yang terkena garam.


Raksasa itu mengangkat kepala di tangannya, kemudian mata yang awalnya tertutup itu terbuka, memperlihatkan mata hitam legam.


Bang!


Tanpa adanya peringatan, tiba-tiba planet yang digerakkan oleh Brianna menerima serangan mematikan. Salah satu sisi yang menghadap ke monster raksasa itu meledak, memecah tanah dalam bentuk berbagai ukuran; berhamburan ke segala arah seperti meteor yang memborbardir daratan.


Batu seperti meteor itu menghantam tanah di berbagai tempat, menciptakan sebuah ledakan mematikan dengan gelombang panas yang lebih tinggi dan kuat dari sebelum-sebelumnya.


Natan tertegun sejenak, kemudian dia memerintahkan 18.000 Skeleton untuk membuat penghalang tulang, menggunakan kemampuan yang sama, yaitu: Bone Wall!


Tanah bergetar hebat, kemudian terlihat tulang-tulang besar yang mencuat dari dalam tanah membentuk tembok. Tembok seperti Great Wall of China dari sisi satu ke sisi yang lain, hanya saja memiliki ketebalan berkali-kali lipat dan tingginya yang puluhan kalinya.


Istri-istrinya mundur dan berdiri di belakang Natan.


Erina dan Olivia membantu memperkuat penghalang yang diciptakan Natan, beserta dengan semua Player yang memiliki kemampuan serupa, mereka menciptakan penghalang berlapis, entah terbuat dari Elemen Cahaya, Tanah, bahkan Air.


Booom! Duarr!


Meteor menghantam tanah dan menimbulkan suara keras yang merusak gendang telinga, kemudian diiringi oleh suara ledakan yang lebih keras serta api menyala membentuk jamur raksasa. Gelombang panas menyebar, mengenai dinding tulang, menghasilkan suara derak yang membuat semua orang gugup.


Natan melihat profilnya yang memperlihatkan pengurangan Mana dalam jumlah besar, bahkan penambahan Mana tidak dapat mengurangi pemakaiannya. Dia menggertakkan giginya, mengeluarkan Mana Pil dan langsung memasukkannya ke dalam mulutnya sebanyak 10.

__ADS_1


Crack!


Natan yang berada dalam posisi berlutut dengan tangan menyentuh tanah, tiba-tiba mendongak menatap tembok tulang saat dia mendengar suara retakan. "Sial! Uhuk!"


"Keugh! Cuih!" Natan meludahkan darah yang terkumpul di dalam tenggorokannya karena luka dalam yang diterimanya.


Walaupun dia memerintahkan skeleton untuk menggunakan kemampuan Bone Wall, tapi kemampuan ini aslinya adalah miliknya, sehingga saat ada kerusakan, termasuk kehabisan Mana dalam jumlah besar, maka dia akan menerima serangan balasan.


Olivia dan Ayumi mengulurkan tangan, menyentuh punggung Natan untuk menyembuhkan serta memberikan Mana tambahan.


Natan merasakan luka dalamnya yang berangsur-angsur membaik, tapi dia tidak berani gegabah.


Dia menggigit bibirnya, dia sangat gugup saat melihat tembok tulang yang mulai memerah karena terkena suhu yang sangat panas.


"""Tsunami!"""


Natan mendengar teriakan yang datang bersamaan dari satu tempat, dia menoleh untuk melihatnya. Dia melihat Players Mage yang menggunakan kemampuan yang sama, dan sepertinya mereka berasal dari Guild yang sama.


Tanah di depan Players ini berdiri mulai retak, kemudian terlihat air yang menyembur keluar membentuk dinding air ukuran besar. Kemudian dengan lambaian tangan bersama, dinding air itu melengkung ke depan, membentuk gelombang tsunami yang jatuh melewati tembok tulang.


Natan bisa mendengar suara desis yang tercipta karena suhu panas yang terkena air. Dia menunggu beberapa waktu sebelum akhirnya menghilangkan tembok tulang.


Dia melihat pemandangan yang mengerikan seolah dia berada di Neraka. Walaupun sudah dibasuh dengan air dalam jumlah besar, di beberapa titik masih ada api yang menyala, tanah meleleh membentuk lahar panas, asap yang mengepul naik ke langit.


Natan menarik napas dalam-dalam dan berkata, "Keberadaan tingkat Ketiga seperti Players tidak cocok dengan pertempuran ini. Kita, hanya menjadi pelengkap biasa ..."


Calista melambaikan tangannya, melihat daftar Players yang berasal dari Bumi. "Dari 10.000 Player, sudah 893 yang mati, ini kematian yang besar."


Natan menghela napas dengan emosi yang tidak bisa dijelaskan, dia diam tanpa kata, dan mulai berpikir bahwa menjadi Player dengan level tinggi bisa dianggap sia-sia dalam pertempuran ini.


...


***


*Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2