Monster Apocalypse

Monster Apocalypse
Chapter 212 : Reruntuhan


__ADS_3

Natan memanggil Kuro dan naik di atasnya, sudah lama dia tidak menaiki Kuro, atau bahkan bisa dibilang tidak pernah. Dari awal memiliki, hanya Ayumi dan Erina yang naik, sedangkan dia, hanya berlari di sampingnya.


"Terus lari ke depan, abaikan semua monster yang menyerang, biarkan skeleton yang menghadapinya."


Kuro meraung keras membuat tanah sedikit bergetar dan debu di sekitarnya naik karena angin berputar-putar mengelilinginya. Kemudian ia berlari ke depan, tapi sebelum ia berlari, ia mengeluarkan serangan berbentuk tombak yang membelah monster.


Natan memegang kain hitam yang digunakannya untuk masker agar tidak terbang tertiup angin. "Ibu tidak mengatakan secara spesifik, hanya mengatakan kalau aku harus datang ke sini."


"Jika hanya monster, aku bisa menaiki Dungeon Versi 2.0. Apakah di sini ada harta tertentu? Aku sudah menemukan ribuan barang rampasan, tapi tidak ada satu pun yang memuaskan." Sampai saat ini, perlengkapan yang dikenakan Natan masih belum berubah sama sekali.


Natan tidak lagi berbicara, hanya diam dengan Kuro yang membawanya.


Dari waktu ke waktu, monster akan terus menyerang dari bawah tanah, tapi skeleton yang menjaganya langsung membunuh monster. Naga di langit juga sesekali menembakkan napas api yang membakar habis.


"Apakah aku tersesat?" Akhirnya, setelah Natan duduk di atas Kuro selama satu jam, dia bertanya-tanya karena apa yang di sekitarnya hanyalah tanah tandus tanpa ada apa pun.


"Sepertinya aku salah berteleportasi."


Natan sudah menyebarkan banyak skeleton, dan salah satu perspektif yang diambil dari skeleton, itu adalah FNB Stadium di mana Piala Dunia 2010 berlangsung. Meskipun, sekarang sudah menjadi reruntuhan karena serangan berbagai macam monster yang ada.


Saat Natan terus berpikir, tiba-tiba dia mendengar suara aneh dan meminta Kuro untuk berhenti. Suara itu datang dari bawah tanah, dia meminta Kuro untuk berlari memutar.


Kuro menuruti perintah. Ia mundur ratusan meter, kemudian kembali berlari.


"Suara tanah ini berbeda, seolah ada ruang bawah tanah yang tersembunyi." Natan melompat turun, lalu mengusap tanah tandus yang panas.


Jika pendengarannya tidak sensitif, dia tidak akan menemukan perbedaannya. Bahkan terkadang, orang normal tidak bisa membedakan suara antara keramik yang ada adonan semen di bawahnya dan yang tidak ada.


"Gali." Natan memerintahkan skeleton untuk menggali tanah. Adapun mengapa tidak meminta Skeleton Earth Mage, itu karena bisa mengakibatkan guncangan seperti gempa, dan mungkin apa yang ada di dalamnya akan rusak.


Tepat setelah dia memerintahkan skeleton untuk menggali, tiba-tiba dia intuisinya mengatakan kalau ada yang mengawasinya dalam kegelapan. Kegelapan di sini tentunya bukan berada di tempat gelap, melainkan tersembunyi.


Natan memiringkan kepalanya, kemudian dia melihat sinar biru yang melewatinya. Sinar biru itu membentuk anak panah, melesat menuju skeleton.

__ADS_1


Bang!


Anak panah itu meledak ketika mengenai kepala skeleton, membuat skeleton itu mendapatkan sedikit goresan. Api yang menyala membakar tanah, membuat suhu naik lebih tinggi.


"Hahahaha! Aku mendapatkannya!"


Tiba-tiba terdengar tawa terbahak-bahak. Batu besar yang cukup jauh dari Natan, mengalami perubahan pada salah satu sudutnya, terlihat lebih gelap, seolah ada bayangan.


Terlihat seorang pria berkulit cokelat seperti terbakar sinar matahari, mengenakan seragam kamuflase dan memegang busur panah. Dari awal, dia bersembunyi di sini menunggu mangsa yang lewat, tapi setelah melihat Natan, dia mengalihkan mangsa yang biasanya dia cari, dan memilih membunuh manusia.


Tapi tawanya tidak berlangsung lama. Ketika dia melihat asap mulai menghilang, dia melihat semua kerangka tulang masih utuh, menatapnya dengan mata biru bagaikan nyala api, dan manusia yang diserangnya tadi sudah menghilang.


"Aku tahu kita tidak pernah bertemu, tapi kau menyerangku. Kau harus tahu aturan dunia, berani menyerang, berani bertanggung jawab. Berani membunuh, berarti siap untuk dibunuh."


"Tung—" Tidak sempat menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba kepala sudah pernah meninggalkan lehernya, darah menyebar dan pandangan berganti dari langit dan tanah. Kemudian di akhir penglihatannya, dia bisa melihat pria yang mengenakan pakaian hitam yang awalnya dia serang tadi.


Natan yang baru membunuh, tidak mengalami perubahan dalam ekspresinya. Dia sudah sering mendapatkan serangan diam-diam selama ini, dengan alasan mencoba peruntungan, merampok, ingin menaikkan level dengan membunuh sesama Player.


Natan mengeluarkan botol kimia yang berisi cairan merah. Saat dia ingin menghilangkan mayat seperti biasanya, tiba-tiba dia menarik tangannya lagi ketika melihat ada kertas yang diselipkan di sabuk pria yang baru dibunuhnya.


Dia berjongkok, melihat gulungan kertas yang nampak datang dari zaman kuno. Dia mengambilnya, langsung menyimpannya ke dalam Inventory, tapi ada hal yang tak terduga.


[Pengingat: Item ??? tidak memungkinkan untuk disimpan di dalam Inventory, Tas Ruang, ataupun yang serupa]


Natan sedikit terkejut, kemudian dia mengerti mengapa orang ini tidak menyimpannya di dalam Tas Ruang meski memiliknya.


Dia membuka gulungan yang diikat dengan kain hitam. Ketika membukanya, dia tidak mengerti apa pun yang tertulis di sana, semua huruf-huruf kuno di Bumi, dia tahu, tapi tetap tidak mengerti apa yang tertulis.


"Aku akan meminta Annaya untuk menerjemahkannya, harusnya dia tahu ini."


Natan tiba-tiba terdiam ketika berbicara tentang Annaya, entah mengapa bayangan Ainsley yang selalu muncul tiba-tiba di depannya, kembali muncul di benaknya.


"Dia sangat menyebalkan, tapi dia adalah gudang informasi. Tidak ada dia, aku sangat kesulitan untuk mencari tahu informasi dunia."

__ADS_1


Natan mengeluarkan tas ransel, memakainya di dalam mantel. Tas ini sangat kecil dan tipis, dan dipakai di dalam mantel, itu tidak terlihat seperti sedang memakai tas. Dia menyimpan item yang tidak bisa dikenali, tapi dia merasa bahwa ada informasi yang kaya di dalamnya.


Natan mendongak melihat tempat di mana ledakan berasal atau tempat di mana dia diserang tadi. Dia berjalan ke sana sambil menuangkan cairan asam yang sangat kuat di mayat yang tergeletak, membuat tubuhnya menghilang beserta semua perlengkapan yang dikenakan.


Dia berjalan ke sana, skeleton tidak terganggu dengan serangan tadi, mereka masih menggali dengan tenang, dan lubang yang digali semakin dalam.


Sampai akhirnya sudah lebih dari 100 meter, Natan melihat pasir di samping galian mulai turun dan menghilang perlahan, memasuki lubang kecil seukuran ibu jari.


Tidak lama kemudian, lubang melebar sampai cukup dilewati oleh bus besar.


Natan melompat turun, di sini sangat gelap, dan dia masih belum bisa merasakan daratan. Hingga beberapa menit, dia mendarat di tanah keras dengan sedikit aliran air di belakangnya.


Dia mengeluarkan senter kecil yang mampu menerangi kegelapan dalam radius 100 meter.


Mata Natan terbuka lebar ketika melihat apa yang ada di depannya. Itu adalah bangunan kuno seperti Piramida, kecuali ada tangga di salah satu sisi.


Pada bagian puncak, terdapat altar besar dengan kerangka binatang buas berbentuk harimau yang berdiri, menerkam mangsa.


Kemudian dia melihat sekitar, menemukan banyak kerangka manusia yang bersujud menghadap ke kerangka harimau ini. Jumlahnya ada puluhan ribu.


Natan mulai merasakan perasaan yang tidak nyaman di hatinya. Dia berada di dalam ruang bawah tanah, dia melihat banyak kerangka manusia, dan masing-masing kerangka membawa suasana aneh yang menekan.


"Apakah Ibu memintaku datang ke sini untuk ini? Kerangka, apakah Ibu ingin aku membangkitkan mereka semua? Tapi, untuk apa? Kemampuanku terbatas."


Natan menarik napas dalam, dia memberanikan diri untuk pergi menuju altar tinggi. Dia merasa ada panggilan khusus di atas sana, dan memiliki pengaruh terhadap Job Necromancer miliknya.


Dia tidak tahu apa itu, tapi intuisinya mengatakan akan ada hal baik.


...


***


*Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2