
Senin, 08 September 2025. Pukul 11.30 (GMT+8)
Kelompoknya sudah sampai di wilayah kekuasaan Xanshai Guild yang tidak terlalu luas ukurannya, tapi memiliki penjagaan yang sangat ketat. Kekuatan mereka juga bisa dibilang cukup kuat dari Guild yang selama ini dilawan.
"Apakah di sana ada tawanan yang perlu diselamatkan?" tanya Natan seraya melihat empat gedung tinggi yang cukup jauh darinya.
Wosh!
Alexa yang mengenakan setelan Ninja muncul di samping Natan dengan posisi berlutut. "Tidak ada, mereka tidak ada pekerja dari manusia biasa. Bahkan jika ada manusia yang lewat, mereka akan langsung membunuhnya."
"Begitu ..." Natan menganggukkan kepalanya berkali-kali. Lalu mengeluarkan Sniper Rifle dari Inventory. "Maka, ini akan menjadi lebih mudah karena tidak harus menyelematkan orang lain."
Natan mengarahkan senjatanya pada gedung yang berjarak dua kilometer. Ia melihat ada Archer ataupun Magic Archer yang bersembunyi di atap dan di dalamnya.
"Suhu stabil, kecepatan angin stabil." Natan menarik pelatuk Sniper Rifle setelah memastikan semuanya siap.
Natan menembak tanpa henti, mengarahkannya pada belasan Player yang bersembunyi. Barat daya, utara dan barat laut, tidak ada satu pun yang ia sisakan.
Natan menurunkan senjatanya dan menyimpannya. "Mereka mulai panik, kemungkinan ada dua ratus Player. Kalian semua hati-hati."
Rombongan kembali berjalan dengan kecepatan yang tidak terlalu cepat, dan yang berdiri di barisan depan adalah Player maupun Non-Player dengan Job Paladin.
Natan menundukkan kepalanya seraya melihat pedang hitam di tangan kirinya. "Sudah waktunya, sudah lama aku tidak menggunakan pedang."
"Benarkah?" Ayumi memiringkan kepalanya menatap heran tangan Natan. "Bukankah saat Giant menyerang, Kakak menggunakannya?"
Natan tertegun dan kembali menggantung pedangnya di belakang pinggang. Lalu memainkan pipi Ayumi yang sedikit membengkak karena terlalu banyak makan. "Ayumi, aku tidak melarangmu memakan banyak makanan. Tapi perhatikan kondisi tubuhmu."
Ayumi memalingkan wajahnya menghindari tatapan Natan, ia melihat Erina yang penampilannya tetap sama, tidak berubah sama sekali. "Ba- Baik, Ayu akan berolahraga saat perjalanan pulang."
Erina tertawa terbahak-bahak melihat Ayumi yang ditegur. "Bukankah aku sudah bilang, tiap pagi aku membangunkanmu untuk berolahraga. Tapi kau malah memilih untuk tidur lagi."
Ayumi menatap tajam Erina dengan bibir yang sedikit maju karena kesal.
Natan menggeleng pelan, lalu mengenakan perlengkapan lainnya, seperti sepatu dan sarung tangan.
Belasan menit kemudian, mereka sudah memasuki kawasan Xanshai Guild.
Bang! Bang! Bang!
Sejumlah serangan dilepaskan sesaat setelah mereka datang, tapi semua serangan itu berhasil ditahan oleh 250 Paladin di barisan depan, kemudian Blue Mage yang mampu menyalin serangan lawan itu melepaskan serangan yang sama.
Blue Mage dengan jumlah 25 orang melepaskan bebatuan besar yang mengenai gedung-gedung tinggi, membuat gedung itu kehilangan keseimbangan dan runtuh.
Ketika gedung pencakar langit mulai runtuh, Player yang berada di dalamnya mulai berkurang satu per satu, entah terbunuh secara instan atau kehabisan darah karena luka yang diderita.
__ADS_1
Magic Archer yang berada di barisan belakang, melepaskan ratusan anak panah mengarah pada gedung-gedung yang sudah runtuh. Wizard juga melepaskan bola api ataupun panas es tanpa henti, dengan bantuan White Mage yang membantu menyingkat waktu cooldown.
"Light of Battlefield! Hammer of Blessing!" Olivia membantu agar damage yang dihasilkan lebih besar lagi.
Natan berjalan membelah barisan, sudah siap untuk melawan Beeserker Lv.410 yang masih hidup dan sepertinya berlindung di balik tubuh bawahannya. "Aku akan menghadapi Guildmaster Xanshai. Kalian semua, berhati-hatilah ..."
"Baik!"
Semua pasukan membukakan jalan untuk Natan yang melangkah perlahan, serta menghalangi serangan-serangan atau bebatuan yang jatuh dari langit agar tidak mengenainya.
Wush!
Bola api yang cukup besar melesat ke arah Natan yang berjalan santai seperti berjalan di tanam, mengabaikan semua bahaya yang mengintai.
Erina berlari dengan kecepatan penuhnya menghampiri Natan, lalu berdiri di sebelahnya. "Absolute Defense!"
Erina berhasil menahan bola api yang mengarah pada Natan, lalu ia melihat musuh yang berada di dalam asap cokelat. "Light Stab!" Ia menusukkan pedangnya lurus ke depan.
Tusukan pedang cahaya Erina membelah asap yang menghalangi pandangan, memperlihatkan Mage berjubah merah yang terluka pada bagian kepalanya karena terkena pedang. Tapi yang lebih menarik perhatian, adalah Player yang duduk di atas mobil berwarna hitam, membawa pedang besar yang tinggi.
Player itu adalah Berserker yang dimaksud, kulitnya berwarna cokelat karena terbakar teriknya matahari, dan tidak mengenakan pakaian. Rambutnya berwarna hitam sepundak yang sedikit bergelombang.
"Armonia Guild? Kalian datang membalas dendam?" Berserker mendongak menatap tajam Natan. Kemudian ia mendengkus dingin mengungkapkan penghinaan terhadap Natan. "Hanya bocah, bahkan jika kau membawa banyak orang. Kalian tidak akan bisa mengalahkanku."
Natan mengabaikan kesombongan Dongfang Xanzhi, melihat anggota Xanshai Guild yang mulai berjatuhan. "Apakah kau tidak peduli dengan anggotamu?"
Dongfang Xanzhi melompat dari mobil, menerjang ke arah Natan yang berjarak dua puluhan meter. "Mereka pantas untuk mati!" Ia mengayunkan pedang besarnya mengarah pada Natan.
Natan menarik bilah pedang dari sarungnya, lalu mengangkat di atas kepalanya dalam posisi horizontal, menahan serangan Dongfang Xanzhi. Ia tidak merasakan adanya tekanan saat menahan pedang besar, namun tidak lama kemudian, pedang besar itu memancarkan sinar merah, yang membuat beratnya bertambah.
Boom!
Jalan yang Natan pijak hancur saat tekanan yang mengenai pedangnya semakin berat, tapi posisi tangannya tetap kokoh memegangi pedangnya. Natan juga tahu kemampuan Dongfang Xanzhi hampir sama seperti Calista, sehingga ia harus berhati-hati.
Natan mengibaskan pedangnya ke kanan, menyingkirkan pedang Dongfang Xanzhi ke samping, meski hanya tangan kanannya saja yang terlepas dari gagang pedang. Lalu ia mengangkat kaki kirinya, menendang kepala Dongfang Xanzhi.
Dongfang Xanzhi mendengkus dingin, mengangkat lengan kanannya untuk menahan tendangan Natan.
Natan menekuk kaki kirinya, membatalkan tendangannya dan sedikit membungkuk seraya memutar tubuhnya. Ia juga menebas perut dan lutut Dongfang Xanzhi.
Karena Natan mendapat Buff Light of Battlefield dan Hammer of Blessing, damage yang ia berikan pada Dongfang Xanzhi cukup besar.
"Ugh!" Dongfang Xanzhi merintih saat perut dan lututnya terluka, ia tidak menduga Natan akan membatalkan serangan dalam waktu seperkian detik.
Natan mundur beberapa langkah, kemudian kembali bergerak maju secara menyamping. Ketika sudah berada di samping kiri Dongfang Xanzhi, ia mengayunkan pedangnya mengarah pada leher lawannya.
__ADS_1
"Domina— Keuk!"
Natan meludahkan jarum di mulutnya yang sudah ia siapkan. Jarum itu mengenai pelipis Dongfang Xanzhi dan ada racun di bagian ujungnya. Karena jarum itu pula, Dongfangzhi Xanzhi tidak bisa menyelesaikan ucapan untuk mengaktifkan skill.
Cara ini cukup berisiko, karena bisa saja ia yang menelan jarum dan terkena racun.
Klang!
Pedang Natan membentur pedang besar yang digunakan Dongfang Xanzhi. Natan sendiri tidak menduga Dongfang Xanzhi mampu menahan racun yang menyebar, dan tetap menggerakkan pedang besar untuk menahan serangannya.
Ada aura merah yang menyelimuti tubuh Dongfang Xanzhi, yang secara perlahan mulai menyebar.
Melihat itu, tanpa berpikir panjang lagi, Natan mundur menjauh sampai tidak masuk dalam jangkauan Dongfang Xanzhi. Itu adalah aura yang membuat pertahanan lawan akan menurun setengahnya, dan menaikkan damage serangan pengguna sebanyak 50%.
"Puh!" Dongfang Xanzhi meludahkan darah yang bercampur dengan racun. Ia mengusap bibirnya seraya menatap tajam Natan yang menjauh darinya. "Apakah kau takut? Panggil Guildmaster kalian!"
Natan hanya diam dengan tatapan datar menatap Dongfang Xanzhi. Ia mengecek Mapping untuk mengetahui apakah semua anggota Xanshai Guild sudah terbunuh semuanya.
"Jangan mengabaikan ku!" Dongfang Xanzhi muncul tiba-tiba di depan Natan seraya mengayunkan pedangnya secara horizontal.
Natan berjongkok menghindari serangan pedang Dongfang Xanzhi. Lalu ia melangkahkan kaki kirinya ke depan sebagai tumpuan, seraya mendorong pedangnya ke atas secara vertikal.
Slash!
Luka yang cukup dalam terbentuk di tubuh Dongfang Xanzhi, terutama untuk bagian pangkal paha yang mengeluarkan darah deras. Non-Player yang melihat itu bergidik seraya memegangi pangkal paha masing-masing, termasuk Natan yang merasa sedikit nyeri.
"Aaarrrgghh!"
"Shadow Movement." Natan bergerak sangat cepat seperti bayangan di siang hari.
Dari kejauhan, hanya terlihat Dongfang Xanzhi saja yang berdiri seraya memegangi pangkal paha dan pedang besarnya agar tetap berdiri. Dan, ada bayangan hitam yang bergerak sangat cepat ke sana-kemari, dengan darah yang memercik dari Dongfang Xanzhi.
"Bahkan jika levelmu tinggi, aku adalah Player teratas. Jumlah statistik kekuatanku juga empat belas ribu ..."
Boom!
Natan yang muncul di depan, langsung menendang kepala Dongfang Xanzhi. "Tidak sepertimu yang hanya sebatas tujuh ribu."
"Sebelumnya, aku menduga kau bisa membantuku berlatih karena levelmu tinggi. Tapi, aku merasa Fang Shangjia lebih hebat. Kau juga tidak memiliki pengalaman dalam hal seni pedang, kau sangat mudah kehilangan pegangan, ayunan pedangmu terlalu mengandalkan kekuatan, dan tidak fleksibel."
Natan mengayunkan pedangnya berkali-kali, memotong anggota tubuh Dongfang Xanzhi. Bahkan ia juga menusuk mulut lawannya dengan pedang agar tidak terlalu berisik.
"Hah ..." Natan menghela napas panjang, merasa kecewa dengan lawan yang ia dapatkan. Sepertinya, ia hanya bisa menunggu di mana akan datang monster kuat, seperti Zombie Mutan yang pernah ia lawan.
...
__ADS_1
***
*Bersambung...