Monster Apocalypse

Monster Apocalypse
Chapter 199 : Bersembunyi dari River Guard


__ADS_3

Ketiganya berjalan menuju sungai yang dangkal, tapi tidak langsung turun untuk menyeberang, melainkan memasukkan tangan secara perlahan dan hati-hati.


Tangan Natan masuk sangat dalam, bahkan dia sampai harus tengkurap dan bahunya basah. Dia menariknya lagi, lalu mengambil tombak sepanjang dua meter untuk mengecek kedalaman air, tapi ternyata, bahkan tombak dua meter sekalipun tenggelam dan tidak bisa mengetahui seberapa kedalaman pastinya.


Dia tidak menyangka sungai yang terlihat dangkal, tapi ternyata sangat dalam. Jika tidak hati-hati dan langsung melewatinya tanpa memastikannya terlebih dahulu, mungkin dia akan basah kuyup, tapi itu tidak masalah. Namun berbeda dengan adik-adiknya yang tidak bisa berenang.


Menyeberangi sungai bukan masalah, dia bisa melakukannya dengan mudah. Tapi ada yang paling merepotkan, jika melewati sungai di depannya, dia akan memasuki Wilayah Ras Elf. Memasuki tanpa izin, sama dengan penyerangan, dan mungkin akan dianggap sebagai musuh dari Ras Hob-Goblin. Ini, merepotkan.


Tepat saat dia berpikir, dia mendengar suara aneh dari sisi hutan di belakangnya.


Khee! Khee! Khee!


Natan berbalik melihat ke arah di mana sumber suara datang. Dia melihat sekelompok Goblin, tapi ukuran mereka lebih tinggi seperti manusia dewasa, dan kulitnya pun tidaklah hijau seperti Goblin pada umumnya, melainkan merah.


Salah satu Hob-Goblin mengangkat busur panah, kemudian melepaskan tembakan.


Anak panah yang ditembakkan tidak sesuai yang diduga, itu bukan satu anak panah, melainkan belasan anak panah yang terbuat dari Mana.


Melihat ini, Natan menarik adik-adiknya untuk berdiri di belakangnya, kemudian dia menggesek kakinya di tanah.


Tanah sedikit bergetar, kemudian terlihat tulang-tulang yang mencuat dari dalam tanah, membentuk dinding tulang yang menghalau serangan.


Ketika tulang dan anak panah bertemu, itu menimbulkan suara seperti logam yang bertabrakan.


Natan menurunkan salah satu tulang, melihat berapa tinggi level monster yang datang.


[Nama : Tidak ada]


[Ras : Hob-Goblin]


[Jenis : Goblin Archer]


[Level : 595]


[HP : 215.450]


[MP : 185.400]


Melihat statistik yang dimiliki, Natan langsung membalas serangan dengan Peluru Mana Sihir Angin yang ditembakkan dari Sako TRG Mana. Itu melesat membentuk pusaran angin tajam, dan dari waktu ke waktu, akan semakin tipis dengan ketajaman yang terus bertambah.


Natan membunuh tiga di antaranya dari lima. Dua lainnya bergegas seperti bayangan karena kecepatannya yang tinggi, tapi dari sudut pandangnya, dia masih bisa menangkap pergerakan Hob-Goblin.


Dia berbalik kembali dan berada di belakang Ayumi dan Erina dengan tangan menyilang.


Suara benturan logam terdengar saat Natan berhasil menahan belati di kiri dan tangannya dengan belati yang sama. Dia melihat Hob-Goblin yang mengenakan pakaian tertutup, tapi masih tidak bisa menyembunyikan penampilan mereka yang jelek.

__ADS_1


Natan mendorong belati lawan dengan tebasan menyilang, kemudian menendang keduanya dengan telapak kakinya.


Dua Hob-Goblin di depannya terlempar memasuki sungai.


Ketika keduanya jatuh di tengah-tengah sungai, air melonjak naik cukup tinggi, kemudian meledak dengan gelombang air yang lebih kuat seperti semburan.


Natan merasa ada yang salah. Dia mengambil adik-adiknya, lalu mundur menjauh dari sungai yang nampak dangkal ini. Ketika sudah cukup jauh, dia bisa melihat ular besar yang tegak dengan Hob-Goblin di mulutnya.


"Ini ..." Natan terdiam kehabisan kata-kata, tidak bisa menjelaskan apa yang dilihatnya.


Ini adalah kali pertamanya melihat hal semacam ini di Dungeon, bukan dari monster di dalam sungai, melainkan monster lain yang tidak masuk dalam daftar misi. Biasanya, di setiap lantai hanya memiliki satu monster. Adapun Hob-Goblin dan Elf, dia bisa memakluminya karena ada dalam daftar misi, tapi ular di sungai? Dia tidak tahu.


"Tunggu ..." Natan tercengang ketika menyadari ada yang salah. "Sungai!"


"Sungai ini memiliki ilusi? Terlihat dangkal dan jernih, tapi siapa sangka sangat dalam dan menyimpan bahaya di dalamnya."


Tangan Natan gemetar, dan dia menggenggamnya dengan tangan yang lain. Dia tadi mencelupkan tangannya ke dalam sungai untuk mengecek seberapa dalamnya. Dia menghela napas, bersyukur tangannya tidak dimakan, tapi, dia masih merasakan sedikit tekanan.


[Nama : Gurd]


[Ras : Snake]


[Jenis : Horned Snake]


[Title : River Guard]


[HP : 31.015.450]


[MP : 295.570]


Natan berubah menjadi bayangan saat melihat ular yang menoleh dengan mata oranye yang bersinar. Dia bergegas bersembunyi di belakang pohon, memasuki Wilayah Camp Hob-Goblin.


Sungguh, Dungeon Tower Versi 2.0 sangat sulit. Setelah ini, dia akan keluar dari sini untuk meningkatkan levelnya secara perlahan di luar dengan bantuan Skeleton Squad. Bahkan meski dia ingin naik di Dungeon Tower, dia bukan orang gila yang akan terus naik. Jika dia tidak yakin, maka dia akan kembali.


Booom!


Tiba-tiba tanah bergetar seperti gempa bumi, angin bertiup kencang dengan asap dan debu yang naik seperti badai. Pohon-pohon bergoyang, dedaunan beterbangan karena angin kencang yang bertiup.


Merasakan badai angin kencang yang dihasilkan dari serangan ular, mau tak mau Natan harus masuk lebih dalam meski dia harus memasuki kawasan Camp Hob-Goblin.


Ayumi yang berada di tangan Natan, mengangkat tangannya yang membawa tongkat sihir. "Fire Tornado."


Tongkat sihir bersinar dengan warna merah, kemudian percikan api muncul di tepi sungai dangkal, lalu api itu menyala dan berputar. Nyala api itu terus membesar, udara panas tergulung membuat api semakin besar, menyerang Gurd.


Gurd mendesis marah saat terkena serangan, tapi sisik hitamnya yang tebal menahan sebagian besar damage yang diberikan.

__ADS_1


"Sword of Judgment." Erina tidak diam saja. Meski tahu serangannya tidak berdampak banyak bagi Gurd, tapi setidaknya bisa memberikan waktu bagi mereka untuk menjauh.


Pedang cahaya emas pucat muncul di langit, kemudian dengan lambaian tangan Erina, pedang itu melesat jatuh dengan kecepatan tinggi sampai menimbulkan suara desingan karena gesekan antara udara dengan pedang.


Kepala Gurd yang baru terangkat untuk menjauh dari Fire Tornado, tiba-tiba kembali jatuh ketika beban berat menghantam kepalanya di saat Sword of Judgment mengenainya.


Sword of Judgment tidak bertahan lama, sedikit retak sebelum menghilang. Tapi bukannya tidak berdampak, serangan itu menimbulkan luka dangkal di kepala Gurd, terlihat ada tengkorak putih yang retak, dan darah merah gelap mengalir deras.


Sementara itu, Natan yang awalnya berlari ke arah barat, mengubah arahnya ke utara di mana hilir berada.


...


Setengah jam setelah melarikan diri, Natan berhenti di mulut gua gelap di mana aliran sungai masuk ke sana. Tapi, dia tidak masuk, melainkan berada ratusan meter di depannya. Bagian barat dan timur, tidak lagi hitam seperti sebelumnya, itu adalah pegunungan.


"Kita harus menyeberangi sungai untuk masuk ke Wilayah Elf."


Ayumi melompat turun. "Misinya untuk meratakan Camp Hob-Goblin, apakah Elf diserang? Apakah Hob-Goblin bisa menyerangnya di saat ada monster besar di sungai?"


Erina mengangkat bahunya saat melihat Ayumi yang menatapnya. "Jika kau bertanya padaku, aku harus bertanya ke siapa?"


Ayumi menunjuk ke Natan.


"Kemudian, aku harus bertanya ke siapa kalau kalian berdua bertanya padaku?" Natan memutar matanya.


Ayumi dan Erina saling memandang, kemudian mengeluarkan susu kotak dan meminumnya.


Natan merenung sambil melihat aliran sungai di depannya. Dia sedang berpikir bagaimana cara membawa Ras Elf keluar dari Dungeon Tower ini, dan menjadikan mereka sebagai warga Armonia Guild.


Menurut sumber informasi yang diketahuinya, Elf mampu membuat ramuan yang lebih efektif dengan kemurnian tinggi dan hanya menggunakan bahan tingkat rendah. Dia ingin membawa mereka karena alasan ini, dia bisa mendapatkan hasil dua kali lipat dengan modal setengahnya.


Tapi, apakah mereka mau pergi bersama? Tidak ada yang tahu.


Natan mendongak, kemudian menunduk kembali. "Jika aku mengatakan bahwa aku dikirim Ainsley, apakah mereka mau pergi bersama? Tapi sebelum itu, apakah mereka mengenal Ainsley?"


Natan menghela napas, membuang semua ide yang dipikirkannya. Dia duduk di batu kecil setinggi lutut di belakangnya, mengambil air mineral dan meminumnya.


"Kita istirahat sebentar di sini."


Keduanya menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apa-apa.


...


***


*Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2