
Hubungan Natan dengan Calista semakin dekat, dan hampir setiap malam keduanya tidur bersama, meski tidak melakukan hal-hal aneh yang berlebihan selain berpelukan. Yang paling jauh hanya sebatas membaca buku bersama atau bermain game, dengan Calista yang duduk di pangkuannya.
Kali ini bukan hanya Ayumi dan Erina saja yang mengetahuinya, tapi dua orang yang lain juga tahu hubungan Natan dengan Calista.
Keempat orang itu sangat mendukungnya, bahkan menyarankan untuk menikah langsung.
Tapi, bagaimana caranya untuk menikah di dunia yang seperti ini?
Kesampingkan soal menikah. Saat ini Natan duduk bersandar pada sandaran tempat tidur dengan membuka kedua kakinya, dan Calista yang juga duduk di sana dengan bersandar pada dadanya.
"Kita sudah sampai di mana?" Calista mengamati peta yang baru saja dibeli.
Natan menunjukkan salah satu kota yang tertulis di peta yang digambar pada kulit domba. "Hanoi, Vietnam."
Callista menganggukkan kepalanya, kemudian kembali bertanya, "Kita akan membangun markas di mana?"
Natan membuka peta lain yang dijual di toko buku, kemudian membuka peta dunia sebelum dunia berubah. "Aku berencana membangun di antara Provinsi Qinghai, Sichuan atau Heilongjiang. Tapi aku benar-benar ingin membangun di Sichuan, akses jalan di sana terlihat bagus, dan gunung di sana tidak terlalu terjal." Ia memeluk erat tubuh Calista dari belakang.
Calista merasa ada benda keras yang menekannya dari belakang, tapi ia tidak terlalu peduli akan hal itu, karena selama lima hari mereka tidur bersama, ia selalu merasa ada yang menekannya dan sudah biasa akan hal itu.
"Ngomong-ngomong, kita terus naik level tanpa bertarung, ini sedikit membosankan." Calista menoleh ke kanan menatap wajah Natan.
"Aku tahu, tapi asalkan kau selalu berlatih di atap setiap hari, kemampuanmu tidak akan tumpul."
Calista bergerak lebih mundur lagi dan bersandar pada pundak kiri Natan, merasakan otot-otot Natan langsung tanpa ada sehelai benang pun yang menutupi badan atasnya. "Tentu, aku selalu berlatih setiap pagi. Tapi, di atap benar-benar mengerikan, Skeleton Magic Archer berjaga di sana, dan di lantai dua ada Skeleton Mage."
Natan mengabaikan ucapan Calista yang membosankan itu, kemudian ia melontarkan pertanyaan yang cukup berani, "Calista, bisakah aku mandi bersamamu?"
"Tidak." Calista menyilangkan kedua lengannya di depan dada, menutupi dadanya yang besar, tidak sesuai dengan usianya yang baru 18 tahun.
Natan tertawa kecil dan memeluk Calista lebih erat lagi. "Aku sudah pernah melihatnya saat kau tertidur. Jadi tidak perlu disembunyikan lagi."
Calista mendengkus kesal dengan pipi yang menggembung, kemudian berpindah tempat dari pangkuan Natan ke ujung tempat tidur. "Aku tidur ..."
Natan tertawa kecil melihat Calista yang kesal, lalu ia mengambil selimut untuk menyelimuti tubuh keduanya. Tidurnya Natan tidak memerlukan sebuah bantal peluk lagi, karena sudah ada Calista yang menemani.
***
Sabtu, 26 Juli 2025
Kelompok Natan sudah memasuki perbatasan antara Vietnam dengan China, dan mereka semua mulai bersiap-siap untuk turun dari Mammoth Castle, karena setelah memasukinya, mereka memutuskan untuk berjalan kaki.
__ADS_1
Bagaimanapun, mereka tidak lagi melewati jalanan hutan, melainkan beraspal.
Natan berjalan paling depan untuk memimpin kelompok, dengan Kuro dan Kori yang berada paling belakang untuk menjaga barisan belakang.
Jalanan di sekitar mereka cukup sepi, mengingat ini adalah perbatasan yang jauh dari pusat kota. Banyak rumah-rumah yang telah runtuh menjadi puing-puing, tanah tandus dengan pohon yang mulai layu dan mengering. Hal ini adalah wajar, karena sudah empat bulan berlalu semenjak dunia hancur.
Radar Mapping menangkap tanda-tanda kehidupan dua orang manusia, yang salah satunya hampir mati. Kali ini Natan tidak menghindari, melainkan terus berjalan ke depan tanpa mengubah arah.
Natan juga tidak memberi tahu yang lain jika ada manusia di sana, dan terus berjalan dengan tenang seperti tidak pernah tahu jika di sana ada manusia.
Belasan menit kemudian, Natan sudah sampai di hutan yang bisa dikatakan juga bukan hutan, karena semua pepohonan di sini sudah layu dan bahkan kering. Tidak ada air sama sekali, kemudian ada batu besar yang di balik batu itu ada gubuk kecil, meski tidak ada yang menyadarinya selain dirinya.
Ayumi memiringkan kepalanya saat melihat permukaan tanah. "Kakak, kenapa di sini tanahnya berlubang-lubang? Apakah ada monster? Tapi Ayu tidak merasakan aliran Mana."
"Bukan, itu ulah manusia." Natan menggelengkan kepalanya, kemudian menunjuk salah satu lubang. "Karena tanah ini tandus tanpa ada mata air, manusia yang kekurangan makanan mulai menggali tanah untuk mengambil akar pohon, berharap ada air di dalamnya."
Natan menoleh ke kanan melihat batu besar setinggi tiga meter. "Bukan begitu? Gadis kecil?"
"Hieek!?" Jeritan kaget terdengar dari balik batu besar.
"Apakah kau tidak ingin keluar?" Natan berjalan menghampiri batu besar.
Natan bisa melihat pakaian gadis kecil itu berwarna cokelat kusam penuh dengan tambalan, banyak goresan pada lengan, kakinya penuh dengan luka dan melepuh. Serta jari-jari tangannya yang juga terluka parah, bahkan kuku-kuku jarinya juga patah ataupun terlepas.
Pakaian gadis kecil itu juga terlihat banyak sekali tanah yang menempel, yang artinya gadis kecil inilah yang menggali tanah untuk mendapatkan akar pohon.
Ayumi dan Erina berlari menghampiri, kemudian membantu gadis kecil itu berdiri dan menawarkan air minum.
Wajah gadis itu benar-benar terlihat jelas. Ekspresi wajahnya yang sangat kelelahan, bibir pecah-pecah dan banyak ruam di wajahnya. Tapi, yang membuat Natan takjub adalah matanya masih memancarkan semangat untuk terus hidup.
Vely yang melihat ini merasa sakit, bagaimanapun ia adalah Pshycolog. Ia juga merasa malu karena kalah dengan gadis kecil yang mentalnya masih terjaga, berbeda dengannya yang sudah dewasa namun hampir gila saat di Pangkalan Militer.
"Te- Terimakasih." Gadis kecil bernama Xia Feiya itu kembali bersujud, tapi dengan cepat dihentikan oleh Ayumi dan Erina.
"Ah! Ibu." Xia Feiya berlari lagi ke balik batu besar.
Natan dan yang lain juga berjalan mengikuti Xia Feiya, dan melihat seorang wanita yang sekiranya berusia tiga puluhan tahun sedang terbaring tak berdaya di atas tempat tidur yang terbuat dari kayu keras tanpa alas.
Wanita itu terlihat kurus seperti tulang yang dibalut dengan kulit, bagian sekitar matanya menghitam dan tubuhnya gemetar seperti kedinginan, meski cuaca hari ini benar-benar sangat panas.
Natan mengerutkan keningnya saat melihat Job yang dimiliki oleh wanita bernama Jia Meiya, Gardener dan Chef, tanpa ada Job bertarung. Tapi, itu adalah Job yang saat ini benar-benar Natan butuhkan, agar ada yang merawat kebunnya nanti.
__ADS_1
Memang dengan Potion buatan Erina bisa dengan mudah untuk menumbuhkan tanaman, namun jika ada yang lebih berpengalaman, itu akan lebih baik.
"Sudah berapa lama kalian berada di sini?"
Xia Feiya terdiam sejenak, kemudian menundukkan kepalanya dan menjawab, "Dua minggu."
Natan tertegun, dua minggu adalah waktu yang sangat lama di tempat seperti ini, dan lagi Xia Feiya mampu bertahan hidup serta merawat ibunya yang sakit. Ini adalah hal yang sangat luar biasa untuk gadis kecil berusia lima tahun.
"Ayumi."
Ayumi menganggukkan kepalanya, kemudian menyembuhkan Jia Meiya dan Xia Feiya. Dengan Healing Lv.10, yang Lv.05 mendapatkan efek Restore, dan Lv.10 mendapatkan efek luar biasa lainnya. Ayumi bisa menyembuhkan luka yang sangat parah sekalipun.
"Natan ..." Calista menggenggam tangan kiri Natan.
Natan menoleh ke kiri dan tersenyum hangat, melihat ekspresi Calista yang seperti mengatakan 'Bawa mereka'. "Tenang saja, aku memang bertujuan membawa mereka berdua."
Bahasa yang digunakan Natan kali ini adalah bahasa Indonesia, berbeda saat berbicara dengan Xia Feiya yang menggunakan bahasa China.
Jia Meiya mulai membuka matanya perlahan, kemudian terkejut dan duduk meringkuk bersandar di batu besar dengan memeluk erat Xia Feiya. "Si- Siapa kalian!?" Ada ketakutan di matanya, yang sepertinya adalah trauma.
"Kami adalah pengelana, apakah kalian ingin pergi bersama kami? Kami akan menjamin keselamatan, makan, dan tempat tinggal untuk kalian." Natan mengulurkan tangan kanannya menawarkan bantuan. Namun apabila ia ditolak, maka ia akan langsung pergi.
"Tidak—" Jia Meiya terhenti saat didahului oleh Xia Feiya.
"Kami mau!"
Jia Meiya menunduk menatap Xia Feiya. "Fei'er!"
"Ibu..." Xia Feiya mendongak menatap wajah Jia Meiya dengan mata yang berlinang air mata. "Aku tidak ingin melihat Ibu terbaring di tempat tidur, aku ingin Ibu tetap hidup dan menemaniku..."
Mendengar hal ini, Ayumi dan Erina mulai menangis. Akhirnya Natan memeluk keduanya dan mencoba menenangkan Adik-adiknya itu. Jika untuk Ayumi, mungkin tidak terlalu menyakitkan, namun untuk Erina yang kedua orangtuanya terbunuh karena dimakan monster di depan mata, itu adalah hal yang berbeda.
Jia Meiya mendongak menatap Natan dan yang lain, kemudian menganggukkan kepalanya. "Baik, aku akan mengikuti kalian semua. Tapi jangan perlakukan putriku dengan buruk, aku akan melakukan pekerjaan kasar, asalkan putriku aman."
Natan yang masih sedikit membungkuk untuk memeluk Ayumi dan Erina itu tersenyum ringan. "Baiklah ..."
...
***
*Bersambung...
__ADS_1