Monster Apocalypse

Monster Apocalypse
Chapter 038 : Tujuan


__ADS_3

"Kakak, Ayu sudah selesai mengobatinya."


Natan tersenyum tipis saat mendengar suara Ayumi yang berada di dalam tenda. Ia menoleh ke belakang sembari berucap, "Baiklah, kalian bertiga naik ke atas Kuro. Kita akan pergi meninggalkan Pangkalan Militer melewati jalan masuk tadi ..." Ia mengeluarkan Kuro dari dalam bayangannya.


"Tujuan awal kita, Kota Jakarta!"


Tidak ada yang menanyakan keputusan Natan kecuali Vely yang nampak sangat terkejut mendengar hal itu. Bagaimanapun, saat ini mereka berada di Kota Malang, membutuhkan waktu lebih dari sepuluh jam untuk sampai di sana menggunakan mobil, itu pun melalui jalur bebas hambatan.


"Ayo berangkat!" Natan berlari ke arah timur di mana ia masuk ke Pangkalan Militer tadi, bersama dengan Kuro yang mengikutinya dari belakang.


Vely yang duduk di bagian belakang tidak terjatuh karena tubuhnya dililit oleh bayangan Kuro, tapi tidak perlu khawatir karena tidak terlalu erat.


Kecepatan mereka berlari sangat cepat, terutama untuk Natan yang secepat suara. Namun meski demikian, larinya tidak menimbulkan angin kencang karena ia menggunakan kemampuan Stealth.


Natan yang sudah berhasil keluar dari Pangkalan Militer itu berbelok ke kiri, melewati jalanan yang melengkung.


Kepanikan dan ketakutan terjadi di Pangkalan Militer saat Kuro berlari di jalanan, pasukan bersenjata mulai menembaki Kuro. Namun Ayumi menciptakan Magic Barrier yang melindungi mereka agar tidak terkena serangan.


Natan yang mendengar suara tembakan memilih untuk menghentikan langkah kakinya, dan menoleh ke belakang melalui pepohonan dan pagar besi. Ia melihat Kuro yang ditembak meski ada perlindungan.


Tanpa ragu, Natan mengeluarkan snipernya dan menembak kepala tentara, membunuh mereka yang menembaki Kuro.


"Bukannya aku kejam atau apa, tapi di dunia yang hancur ini, aku akan menghilangkan kemanusiaan ku untuk melindungi orang-orang terdekat."


Setelah membunuh tiga tentara, Natan kembali berlari dengan Kuro yang mengejarnya di belakang. Mereka juga tidak membutuhkan waktu lama untuk meninggalkan Pangkalan Militer, dan pergi sangat jauh dari sana.


Saat ini mereka sudah berada di suatu rumah mewah yang tidak berpenghuni dan nampak sekali banyak dinding yang hancur. Mereka berlima beristirahat di atas rumah, dan mendengarkan cerita Vely Anindya.


Vely sendiri masih bergetar memeluk erat tubuhnya sendiri. Ia sangat ketakutan saat tiga tentara mulai menembak, terlebih lagi secara sekilas ia melihat Natan yang membunuh ketiga tentara.


"Ini bukan pertama kalinya aku membunuh manusia, dengan tiga manusia tadi, aku sudah membunuh delapan." Natan tidak bisa tetap diam untuk masalah ini, lambat laun Vely harus mengetahuinya dan membunuh manusia untuk kali pertama.


"Erina sudah membunuh dua."


"Ayu sudah membunuh tiga manusia."


Vely bergidik dan menatap Natan dengan mata yang bergetar. "Ke- Kenapa?" Air matanya mulai mengalir.


Natan menghembuskan napas panjang dengan kepala tertunduk, kemudian mendongak menatap Vely tegas. "Untuk bertahan hidup. Di dunia yang kacau ini, manusia mulai melihat manusia lain sebagai mangsa. Aku membunuh karena mereka ingin mencelakai Adik-adikku, mereka melepaskan serangan."

__ADS_1


"Kami berdua membunuh karena mereka melukai Kak Natan." Ayumi menambahkan penjelasan Natan.


Vely masih belum bisa menerima fakta tentang tiga orang di depannya yang telah membunuh manusia. Mentalnya sebagai Psikolog mengatakan bahwa hal itu tidak boleh dilakukan.


Natan mengencangkan bibirnya, benar-benar tidak ingin mengatakan apa yang ia pikirkan saat ini. Namun jika tidak ia katakan, maka masalah akan datang. "Jika Kakak tidak bisa menerimanya, aku bisa mengantar Kakak kembali ke Pangkalan Militer ..."


"Ke depannya, membunuh manusia akan menjadi rutinitas. Mungkin Kakak tidak tahu, tapi setelah naik level empat puluh, Kakak akan membuka Fitur Forum. Di sana banyak Player dari seluruh dunia berbagai informasi, dan berburu satu sama lain. Tidak ada keraguan, mereka bisa membunuh manusia lain hanya karena masalah sepele."


"Membunuh, atau dibunuh!"


Vely terdiam dengan tubuh bergetar ketakutan, ia memeluk tubuhnya sendiri dan tertunduk menatap kedua lututnya. Kemudian ia mulai teringat kejadian yang tidak seharusnya ia lihat di Pangkalan Militer, membuatnya kembali mual ingin memuntahkan isi perutnya.


Natan hanya diam dan memberikan waktu bagi Vely untuk menjawab tanpa memberi minuman.


Belasan menit kemudian. Vely mendongak menatap wajah Natan, tubuhnya tidak lagi bergetar dan tangannya sudah berada di atas lutut. Napasnya sudah mulai tenang, tidak seperti sebelumnya yang bernapas sangat cepat.


"Terimakasih, aku hampir kehilangan diriku sendiri. Aku sudah paham bagaimana dunia berjalan. Apa yang kau katakan ada benarnya, hanya yang kuat yang bisa bertahan di dunia yang kacau," ucap Vely yang suaranya terdengar pelan dan serak.


Natan tersenyum tipis dan menoleh ke kiri melihat dua Adiknya. "Ayo kita kembali makan, tolong masak yang enak."


Keduanya mengangguk kecil dan melalukan persiapan untuk memasak.


"Bagaimana Natan bisa memiliki banyak makanan? Apakah kau tidak ingin berbagi sedikit di Pangkalan Militer?"


Natan menaikkan sebelah alisnya, sudah menduga akan mendapatkan pertanyaan semacam ini. "Membunuh monster bisa mendapatkan Gold, yang bisa ditukarkan dengan bahan makanan di NPC Shop. Kemudian, mengapa aku tidak berbagai, harusnya Kakak bisa mengetahui alasannya."


Vely terdiam sejenak dengan kepala tertunduk dan menyentuh dagunya dengan tangan kanan. "Ketergantungan, ketamakan, kerusuhan, dan yang terparah adalah pembunuhan."


Natan mengangguk, ia tidak perlu menjelaskan lebih lanjut karena Vely yang sudah mengerti. "Lalu, mengapa Kakak sangat kurus saat aku temui di sana?" Ia mengambil air mineral kemasan botol dan menyerahkannya pada Vely.


Vely mengambil minuman itu dan meneguknya untuk beberapa tegukan karena berhemat. "Aku, dipekerjakan untuk menenangkan emosi orang-orang, meski aku bukan Psikiater, melainkan Psikolog, dan dibayar segelas air mineral dengan dua roti berjamur ..."


"Seminggu setelah dunia hancur, memang masih bisa tenang dan tidak terlalu sulit. Namun setelah sebulan berlalu, masalah demi masalah terus berdatangan. Terutama untuk makanan ..." Vely menghentikan perkataannya dan terdiam untuk waktu yang cukup lama, seperti enggan untuk melanjutkannya.


Natan mengangguk kecil, entah mengapa ia paham apa yang ingin dikatakan Vely. "Kalau begitu, lebih baik kita lanjutkan setelah menyantap Yakiniku dan Sukiyaki."


Natan mengeluarkan alat sihir yang dapat menciptakan api, atau lebih mudahnya kompor sihir. Ia meletakkan kompor sihir di depannya dan Vely, kemudian meminta Ayumi menggunakan sihir air untuk mengisi panci yang kosong.


Puluhan menit setelah menyantap makanan, mereka melanjutkan pembicaraan yang tertunda.

__ADS_1


"Ngomong-ngomong, mengapa kita pergi ke Jakarta?" Suara Vely sudah kembali seperti semula, terdengar halus dan merdu. Kesehatannya juga mulai membaik, tidak ada lagi lubang di pipi dan bibirnya merah merona.


"Itu hanya pemberhentian sementara. Kita akan pergi ke Pulau Sumatera, dan ke Singapura melalui Pulau Batam. Kemudian melalui banyak negara, kita akan pergi ke China."


Vely memiringkan kepalanya menatap Natan. "Mengapa China? Tidak! Mengapa meninggalkan Indonesia?"


Natan mulai menjelaskan penjelasan yang sama pada Vely, seperti saat ia memberikan penjelasan pada Ayumi dan Erina lebih dari satu bulan yang lalu.


Mendengar itu, Vely hanya bisa terdiam dan menganggukkan kepalanya. Memang aneh mengapa dunia bisa berubah, dan saat mengetahui informasi tentang Player, bepergian ke luar memang adalah cara teraman untuk hidup ketimbang berdiam di satu tempat dan bersembunyi.


"Ngomong-ngomong, mengapa mentalku tergganggu. Saat aku hendak berkeliling untuk menenangkan diri, secara tidak sengaja ... aku ... melihat mayat manusia ... yang dipotong ... untuk dijadikan bahan ... makanan," ucap Vely yang suaranya semakin terdengar pelan.


Natan bersikap biasa-biasa saja, tidak ada reaksi tertentu seperti mual-mual. Sebagai orang yang telah membunuh manusia, ia merasa hal itu tidak ada yang mengguncang, terlebih di dunia yang kacau. Saat ia masuk ke Pangkalan Militer, ia sudah menduganya karena melihat kesehatan pengungsi di sana.


Alasan mengapa Vely bisa kurus, Natan sudah bisa menebaknya. Tidak ingin memakan makanan yang diberikan atau disediakan dari Pangkalan Militer.


"Kakak, sebelum kita pergi ke Kota Jakarta, aku akan membantu Kakak menaikkan level ke level seratus dengan cara membunuh monster."


Vely tersentak dan sedikit takut. "Me- membunuh monster?"


Natan mengangguk kecil, kemudian menjawab, "Hanya itu cara untuk bertahan hidup, dan cara itu juga yang dapat memberikan kita makanan. Daging yang kita makan, berasal dari daging monster ..."


"Bukan monster seperti Goblin dan Ogre, melainkan hewan-hewan ternak. Jadi tidak perlu khawatir, untuk daging monster seperti Goblin, aku menjualnya untuk ditukarkan dengan bahan lain."


Vely yang mual itu kembali tenang saat mendengar penjelasan lebih lanjut. "Baiklah, aku memang tidak terlalu biasa dan hanya pernah membunuh ayam kecil. Tapi, aku akan berusaha untuk tidak menyusahkan kalian." Api menari-nari di matanya mengungkapkan tekad yang membara.


Natan, Ayumi dan Erina tersenyum.


"Malam ini kita akan beristirahat di sini, besok kita lanjutkan perjalanan." Natan berdiri seraya menepuk-nepuk pakaiannya yang sedikit kotor dengan debu.


Ayumi juga berdiri untuk membangun rumah sederhana, dengan Erina yang mulai membersihkan peralatan makan dibantu oleh Vely.


Natan mengangkat tangan kanannya perlahan, mengeluarkan 14 Skeleton Knight. "Kalian semua, cari monster dalam radius dua ratus meter. Potong kaki dan tangan mereka, kemudian bawa kemari."


Skeleton Knight itu berlutut, kemudian melompat turun dari atap rumah, berpencar ke segala arah untuk menjalankan perintah.


...


***

__ADS_1


*Bersambung...


__ADS_2