
Napas Natan terengah-engah, merasakan kelelahan, kemarahan. Ia sangat lelah karena harus menghindari serangan bertubi-tubi dari gurita, dan marah karena kehilangan Skeleton Fire Dragon yang sangat sulit untuk ditemukan di musim seperti ini. Setidaknya, harus menunggu musim panas untuk bisa mendapatkannya kembali, dan tentunya dengan kesulitan yang berbeda.
"Berapa lama lagi?"
Adrian mengatur napasnya seraya duduk bersandar di pembatas atap di gedung tinggi. Ia menoleh melihat Natan yang terlentang dengan kaki dan tangan terentang seperti bintang laut. "Dua jam dengan berkendara mobil, keluarga Alexander berada di London."
Natan merenung sejenak sebelum menjawab, "Haruskah kita berangkat sekarang?—"
Booom!
Natan bangkit saat mendengar suara ledakan. Ia berlari ke tepian dan bisa melihat asap tebal yang membumbung. Saat melihat dari mana sumber, ia bisa melihat beberapa tank yang berbaris, menembak bagian lautan.
Di laut sendiri, sekitar pelabuhan, ada ikan yang berjalan di darat dengan membawa tombak berbentuk trisula berwarna biru. Tinggi ikan itu sekitar tiga meter, memiliki kaki dan tangan seperti manusia.
"Militer masih bertindak?" Natan sudah lama semenjak melihat manusia lain yang melawan monster, entah memang karena tidak ada manusia di dekatnya, atau karena ia sendiri yang terlalu malas bergabung dengan mereka dan memilih mencari jalan memutar.
"Apakah aku harus mengambil jalan biasa saja? Tidak perlu lagi menghindar manusia?"
Natan memikirkannya cukup lama, dan alasan mengapa selalu menghindari, karena pada awal-awal Kehancuran Dunia. Saat itu ia diincar oleh kelompok mahasiswa yang ingin membunuhnya, dan sampai saat itulah ia tidak mudah percaya.
Natan menggelengkan kepalanya. "Jangan memikirkan itu dulu, untuk sekarang aku akan pergi ke London dan bertemu keluarga Alexander. Tapi, setelah itu apa?"
Adrian mendengar Natan yang menggerutu, tetapi tetap diam, tidak ingin mengacaukan pikiran keponakannya.
Natan berbalik melihat Adrian yang masih bersandar. "Paman, ayo pergi sekarang. Kita bisa sampai dengan waktu dua puluh menit."
Adrian tersentak dengan senyuman lebar. Akhirnya, yang dinantikannya datang juga. "Baik, ayo berangkat sekarang."
Natan mengeluarkan Ksatria Lebah dan melompat ke atasnya bersama Adrian. Kemudian langsung terbang dengan kecepatan penuh ke arah barat laut.
Ketika terbang di langit, Natan melihat ke bawah, mendapati bahwa banyak gedung-gedung yang masih bertahan dan militer masih bertindak semana mestinya, mereka masih membantu memusnahkan monster-monster meski sudah setengah tahun dan tentunya kesulitan untuk menyediakan amunisi.
"Semakin dikit jumlah penduduk, semakin dikit pula monster yang menyerang. Karena itu, Armonia Guild selalu mendapat banyak serangan dari monster-monster, meski semuanya berakhir dengan kemenangan mutlak."
"Tapi, apakah aturan itu akan selalu sama? Mungkin, setelah musim dingin berganti, Inggris benar-benar menghilang karena monster."
Natan berpikiran banyak monster laut yang masih tertahan di dalam lautan yang membeku, dan setelah mencair, tentunya akan lebih banyak monster yang datang, apalagi setelah peningkatan level monster karena sudah enam bulan berlalu, dan tentunya Penjaga kehabisan kekuatan untuk mempertahankan gerbang yang menghubungkan antara Monster Ancestors dengan Bumi.
Waktu terus berjalan dan akhirnya Adrian berseru, "Di sana!"
__ADS_1
Natan mengalihkan pandangannya pada arah yang ditunjuk, terlihat ada sebuah bangunan seperti mansion yang lebih luas dari mansion di Kota Surabaya saat ia mencari senjata api, dan pekarangannya juga lebih luas, dengan tembok mencapai sepuluh meter dan banyak sekali kamera pengawas.
"Ada bangunan seperti itu di kota padat?" gumam Natan. Tapi ia tidak terlalu memikirkannya dan langsung masuk ke dalam pekarangan yang dipenuhi oleh pepohonan, ini seperti taman hutan yang dibangun di dalam tembok.
Ketika mereka terbang di atasnya, tiba-tiba terdengar alarm seperti alarm pemadam kebakaran, suaranya sangat keras dan terdengar mengganggu.
Natan mempercepat terbangnya dan turun perlahan di depan mansion yang memiliki empat lantai. Ia bisa melihat banyak orang yang mengarahkan senjata api di atap, bahkan ada RPG.
"Tunggu!" Adrian berteriak dan melangkah maju ke bagian depan Ksatria Lebah. "Aku Adrian Alexander!"
"Adrian?" Pria yang lebih tua dari Adrian, mengangkat alisnya. Ia mengenakan pakaian pakaian hitam dengan sarung tangan putih, berbagai pernak-pernik militer terpasang di mantelnya.
Adrian melompat turun dari Kstaria Lebah, mendarat di atap berbentuk lantai. "Apa kabar, Kakak? Sudah lama."
Addison Alexander adalah namanya. Ia melangkah dengan hentakkan kaki, kemudian memukul perut Adrian. "Dari mana saja kau? Kenapa baru kembali? Kami mengira kau sudah mati di luar sana!"
Adrian terbatuk-batuk seraya memegangi perutnya, kemudian mendongak menatap Addison. "Kau tidak pernah berubah, Kakak. Masih kasar seperti biasa."
Wanita tua berambut putih, mengenakan pakaian santai berwarna putih. Kulitnya terlihat kencang, meski sudah sangat berumur. Ia melihat Adrian dengan air mata yang menetes, kemudian tatapannya teralihkan pada pemuda di atas Ksatria Lebah.
"Siapa dia?" tanya wanita tua bernama Glenda Alexander. Awalnya tidak ada Alexander, tapi karena menikah dengan keluarga Alexander, tentunya nama yang dibawanya berganti.
Adrian tersenyum tipis, kemudian pergi ke wanita yang seusianya, rambutnya berwarna cokelat dengan mata biru, mengenakan celana panjang berwarna merah muda dan atasan putih. "Aku kembali."
Wanita itu menangis, berlari memeluk Adrian.
Wanita lain yang penampilannya tidak berbeda jauh, hanya saja rambutnya berwarna pirang. "Ayah!"
Glenda berjalan dengan langkah tertatih-tatih. "Ap- Apakah kau benar-benar cucuku? Pangeran Kecil?"
Natan tersentak, kemudian tersenyum tipis. Pangeran Kecil adalah nama panggilan yang diberikan oleh neneknya dulu saat berkunjung ke Indonesia. Ia tidak menyangka akan mendengarnya lagi.
Natan melompat turun dari Kstaria Lebah, mendarat di depan Glenda. "Ini aku, Nenek."
Glenda mengeluarkan air mata yang mengalir di pipinya, memeluk erat Natan.
Addison mendekati Natan dan mengamati dengan saksama, kemudian tangannya menyelinap ke kantong celananya, mengambil sebuah buku kecil berisikan foto-foto. "Natan, Natan, Natan, Natan ..."
Addison mengalihkan pandangannya berkali-kali antara foto dan Natan. "Kau benar-benar Natan!"
__ADS_1
Natan tidak bisa berkata-kata dalam pelukan Glenda. Apakah harus melakukan itu? Membutuhkan sepuluh menit untuk mengenali keponakanmu sendiri?
Barnard Alexander, pria tua berambut putih mengenakan setelan hitam, kulitnya sedikit keriput, tapi sudah berusia tujuh puluhan tahun. "Di mana Brian— Ibumu?"
Glenda melepaskan pelukannya, melihat Natan untuk menunggu jawaban.
Merasa ada yang salah, Barnard mengangkat tangannya, meminta puluhan orang bersenjata untuk pergi meninggalkan mereka. Ketika semuanya sudah pergi, Barnard kembali menanyakan pertanyaan yang sama.
Natan menarik napas dalam-dalam, kemudian mengembuskannya perlahan. Meski sudah siap, tapi setiap kali mendapati pertanyaan seperti itu, ia akan selalu teringat akan kejadian belasan tahun lalu dan itu membuatnya sedih.
Setelah mengatur napasnya, Natan menjelaskan semuanya, seperti menjelaskannya pada Adrian.
Adrian juga menjelaskan tentang pertemuannya dengan Natan di perbatasan antara Rusia dan China.
Glenda kembali memeluk Natan dengan erat, dan menangis lebih keras lagi. Menangis antara sedih atas kehilangan putrinya, dan kehidupan sendiri yang dijalani Natan selama ini.
Natan menutup matanya, merasakan lega karena sudah mengetahui tentang keluarga Alexander yang dicarinya setelah mendapatkan informasi dari Anna. Tapi, sampai saat ini, ia masih mencari keberadaan Anna yang sangat ingin ditemuinya lagi.
"Natan, menginaplah di sini lebih lama."
Semua orang tertegun ketika mendengar Adrian yang berbicara.
Glenda memegangi wajah Natan dan berkata dengan pelan, "Ke mana Natan akan pergi? Apakah tidak ingin berkumpul di sini bersama kami?"
Natan tersenyum tipis, mengusap punggung tangan Glenda yang berada di pipinya. "Aku harus kembali ke China, rekan-rekanku menunggu di sana, dan aku merasa, tidak terlalu aman di sini. Bagaimanapun, sebentar lagi musim panas, mungkin setelah lautan mencair, monster di lautan akan naik dan menyerang."
Addison tersentak, kemudian mengusap dagunya, memikirkan sesuatu. "Itu benar adanya, berada di sini tidak terlalu aman, China adalah daratan yang luas, lebih aman di sana." Ia mendongak melihat Ksatria Lebah, dan tidak bisa tidak bertanya, "Apakah kau memiliki lebih banyak itu? Berapa banyak yang bisa kau bawa?"
Natan menoleh ke belakang, melihat Ksatria Lebah, kemudian menatap Addison. "Aku memiliki tiga puluh, satunya bisa membawa lima orang. Tapi, aku memiliki alat transportasi yang lebih nyaman lagi."
Addison mengangguk, kemudian membuka mulutnya hendak berbicara, tapi segera dipotong Glenda, "Tidak perlu membahas itu, lebih baik kita masuk, sekarang hampir malam."
Ketika itu juga, mereka semua turun dari atap.
Sementara itu, di bagian sudut, samar-samar ada wanita yang menatap punggung Natan dengan sedih. Ia adalah Brianna Alexander yang selama ini mengawasi Natan secara diam-diam setelah menyelesaikan tugasnya.
...
***
__ADS_1
*Bersambung...