
Brianna Alexander melihat Natan dari kejauhan bersama Ainsley di sampingnya. Matanya berkaca-kaca, ada kerinduan dan kesedihan yang terdalam saat melihatnya. "Sayang..."
Ainsley menggelengkan kepalanya saat bersandar di pembatas tembok. "Jika kau merindukannya, datang dan peluk dia."
Brianna menundukkan kepalanya seraya mencengkeram erat tangan kanannya di depan dada. "Aku ingin, tapi belum siap. Kau tahu, aku sudah mati, dan bangkit belum lama ini, apakah dia masih mengenaliku? Bahkan jika masih mengenali, apakah dia masih menerimaku?"
Ainsley berdecak kesal ketika mendengarnya, tapi tidak memberikan respon tentang hal itu dan mengalihkan pembicaraan. "Dia hampir Level 600, aku akan datang ke sana dan mencium bibirnya."
"Tidak!" Brianna menoleh dan berteriak. "Aku tidak masalah kau mencium pipinya, tapi tidak dengan bibirnya!"
Ainsley mengerutkan keningnya. "Apa masalahnya?"
Brianna menepuk dahinya. "Aku tidak ingin memiliki menantu yang ratusan tahun lebih tua dariku."
Ainsley menghela napas, meski ada sedikit kemarahan, dia mengabaikannya. "Kontribusi yang kau berikan sudah cukup, kau bisa berkumpul kembali dengan Natan. Banyak orang yang dibangkitkan sudah bekerja keras, tapi mereka tidak memenuhi target. Kau adalah satu-satunya."
Ada ratusan orang yang dibangkitkan oleh Penjaga, tapi lebih dari setengahnya bunuh diri karena keluarga yang ingin mereka temui, sudah terbunuh oleh monster atau manusia lain. Impian mereka, yang telah mereka nantikan dengan bekerja keras, pupus dan akhirnya menyerah.
Brianna terdiam, dia tahu hal itu, tapi masih belum cukup berani. Rasa bersalah karena meninggalkan Natan masih membayanginya.
"Jika dia sudah naik ke Level 700, aku akan pergi menemuinya. Aku ingin memeluknya, memanjakannya, aku ingin menghabiskan waktu dengannya." Tatapan Brianna hangat saat melihat Natan dari kejauhan.
"Tapi ..." Ainsley tidak tahu apakah harus melanjutkannya atau tidak saat melihat tatapan hangat Brianna. "Dia sudah sangat dewasa, apakah kau harus memanjakannya?"
"Apa kau bilang?!" Brianna menatap tajam Ainsley dan berteriak. "Seberapa pun usianya, dia tetap bayi kecilku!"
Ainsley terdiam tanpa mengatakan sepatah kata pun seraya mengangkat bahunya. Kemudian saat melihat Natan dari kejauhan, dia teringat sesuatu. "Dia akan menyerang Skull Guild, lebih baik kau menemuinya setelah dia selesai. Tidak baik terlalu lama, kau sendiri mengetahuinya, dia sangat merindukanmu."
Brianna terdiam sejenak sebelum menganggukkan kepalanya. "Baiklah, aku sudah tidak sabar memeluk putraku."
"Benar! Aku juga sudah tidak sabar mencium bibir Natan."
Brianna tersentak, dia menoleh ke arah Ainsley. "Kau ..." Ia berhenti saat melihat Ainsley yang memasuk portal.
Brianna mengalihkan pandangannya kembali ke arah Natan, dia menggigit bibirnya saat merasakan sakit di hatinya. Kemudian menghela napas, lalu memasuki portal yang masih belum menghilang.
__ADS_1
***
Natan menepuk-nepuk kepala Ayumi dan Erina, lalu membiarkan mereka berdua beristirahat. Kemudian dia melihat zombie-zombie yang terus berkurang di bawah serangan bertubi-tubi, meski jumlah pengurangannya lebih lambat ketimbang saat Ayumi ikut menyerang.
Tapi, Natan tidak bisa memaksa Ayumi untuk terus ikut menyerang. Dia mengambil Tongkat Sihir Kosmos Level 600 milik Ayumi dari Inventory. "Ayumi, aku pinjam sebentar."
Karena rendahnya level, Ayumi masih belum bisa menggunakannya.
Melihat Tongkat Sihir Kosmos, Ayumi tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya. Dia tidak bertenaga, dan memilih duduk bersandar di tembok seraya mengambil susu kotak rasa stroberi.
Natan mengangkat tangan kanannya dan mengalirkan Mana ke Tingkat Sihir Kosmos. Tongkat sihir itu memancarkan cahaya biru untuk sesaat sebelum berganti menjadi kehitaman. "Skeleton Mastery! Amplify Damage!"
Skeleton Squad yang sedang bertarung di garis depan, memancarkan aura hitam dan api biru di tubuh mereka membesar, memberikan peningkatan 30% HP dan 70% STR.
Zombie-zombie yang menyerang mengalami penurunan dalam hal kecepatan dan pertahanan ketika tubuh mereka diselimuti aura merah yang keluar dari Skeleton Squad.
Natan menutup matanya; berbagi pandangan dengan Skeleton Knight yang berada di barisan depan sedang menahan Tyrant. Dia bisa melihat mayat-mayat yang tergeletak di tanah. "Revive!"
Kabut hitam keluar dari Skeleton Knight yang dikendalikannya, kabut itu turun menyelimuti mayat Tyrant yang berada di tanah. Ketika semua kabut memasuki tubuhnya, Tyrant sedikit bergetar, kemudian bangkit kembali dengan matanya yang berwarna biru.
Tyrant bermata biru berbalik, melihat Tyrant dari gelombang zombie. Ia membuka mulutnya dan meraung keras, lalu mengayunkan tangan besarnya.
Pukulan Tyrant Mata Biru menghantam Tyrant Zombie, memberikan dampak yang lebih kuat dari Tyrant pada umumnya. Pukulan itu membelah gelombang zombie saat Tyrant Zombie terhempas, menerbangkan zombie-zombie di belakang maupun sekitarnya.
Revive. Keahlian ini memungkinkan Natan untuk membangkitkan monster dalam bentuk aslinya dan membuat monster itu bertarung di sisinya, tapi hanya sementara waktu, bukan permanen seperti Raise Skeleton.
Natan menghela napas panjang, kemudian kembali berbagai pandangan, seolah-olah dia adalah skeleton itu sendiri. "Poison Explosion!"
Tubuh skeleton sedikit mengembang dengan aura aneh yang memadat di tubuhnya, kemudian kembali menyusut seperti balon saat mengeluarkan kabut hitam bercampur hijau gelap. Kabut itu menyebar ke segala arah, menyelimuti seluruh medan pertempuran.
Racun itu menyebar, meracuni kawan ataupun lawan. Tapi karena skeleton tidak memiliki daging, mereka tidak terpengaruh oleh racunnya. Berbeda dengan zombie, tubuh mereka melambat dan daging mereka mulai meleleh seperti mentega dalam kecepatan lambat.
Ketika semua zombie telah diracuni, skeleton menyerang dengan ganasnya. Tidak perlu berusaha keras untuk membunuhnya.
Natan melihat sekeliling, melihat Meriam Energi yang masih memiliki simpanan Mana. Kemudian mendongak, melihat udara, tidak ada lagi zombie terbang yang tersisa. "Simpan Meriam Energi, kita bisa menggunakannya di lain hari."
__ADS_1
Operator Meriam Energi menganggukkan kepala, kemudian mereka menghentikan kerja Meriam Energi. Besi Meriam Energi yang awalnya merah karena panas, secara perlahan mulai menghitam kembali.
Ayumi sudah kembali pulih, dia berdiri dan menatap Natan. "Kakak punya skill itu? Kenapa tidak mengeluarkannya dari awal?"
Natan menoleh melihat Ayumi yang masih berkeringat. Dia tersenyum tipis seraya mengambil sapu tangan di celananya, lalu mengusapkannya di wajah Ayumi dan menjawab, "Saat aku baru naik level tadi, aku mendapatkan hadiah skill-skill ini. Mungkin Ayumi nanti akan mendapatkan hal yang sama."
"Benarkah?!" Ayumi membuka matanya lebar-lebar, matanya berbinar dan terlihat sangat bersemangat, ingin sekali cepat-cepat naik level untuk mendapatkan skill luar biasa.
Natan menganggukkan kepalanya dan tersenyum hangat saat melihat Ayumi yang bersemangat seperti ini. "Tentu, sekarang, kembali beristirahat."
Dia menoleh ke arah lain, menatap Erina. "Erina juga istirahat, jangan memaksakan diri." Ia membersihkan keringat di wajah Erina.
Ayumi dan Erina tersenyum cerah saat menganggukkan kepala, kemudian mereka berdua kembali duduk. Keduanya membuka antarmuka pengguna, melihat Point Exp yang terus bertambah, tapi masih jauh untuk mencapai Level 600. Tapi dengan bantuan Kuro dan Kori, besok pagi bisa mencapainya.
Natan tersenyum tipis saat melihat keduanya, lalu dia mengalihkan pandangannya pada medan pertempuran. Kabut racun masih berada di sana, dan saat melihat antarmuka untuk mengamati jumlah zombie melalui Mapping, dia tersenyum. Zombie terus berkurang, dan skeleton tidak lagi hancur maupun meledak.
Ini bisa dianggap kemenangan, tapi dia masih tidak bisa mengendurkan kewaspadaannya hanya karena zombie-zombie ini tidak bisa menerobos pertahanan skeleton.
...
Dua jam kemudian, zombie sudah benar-benar habis. Tidak ada lagi yang datang dari kegelapan malam, bahkan Natan sampai mengirimkan Ksatria Lebah untuk mengeceknya, tapi memang benar tidak ada lagi.
Natan menghela napas lega, dan langsung duduk bersandar di pembatas tembok. Dia merasa sangat lelah karena harus mengerahkan Mana ekstra untuk mempertahankan buff dan debuff. Apalagi masih harus mempertahankan skeleton yang sudah dikirimnya ke Amerika.
"Kakak mau?" Ayumi duduk di samping Natan, menawarkan roti kukus yang sudah digigit.
Natan terdiam dengan senyum pahit, tapi dia tidak menolaknya dan menggigit roti kukus berisikan daging dan sayur.
Calista datang ke arah Natan setelah membantu Vely dan Olivia. Dia tidak banyak membantu dalam penyerangan, dan hanya membangun kebutuhan semua orang. Ia duduk di paha Natan, lalu membersihkan keringat di wajah Natan.
Natan sedikit terkejut melihat Calista yang duduk di pahanya begitu saja, tapi dia membiarkannya. "Aku sudah menemukan markas yang diduga milik Skull Guild, besok lusa kita akan datang ke sana untuk mencari informasi. Jika itu benar-benar mereka, kita akan menyerangnya."
Mendengar itu, anggota tim yang dari awal bersama Natan, menganggukkan kepalanya. Adapun yang lain, Natan tidak berniat membawa mereka.
...
__ADS_1
***
*Bersambung...