Monster Apocalypse

Monster Apocalypse
Chapter 250 : Pergi ke Papua


__ADS_3

Natan sudah sampai di makam ayahnya, atau bisa dibilang makam kedua orangtuanya. Dia menunduk melihat makam yang membeku, tapi untungnya es yang mengubur cukup jernih.


"Ini aneh, melihat makam Ibu, tapi Ibu hidup kembali." Natan berlutut, dia menaburkan bunga dan menyiramnya dengan air yang diambil dari Mata Air Elf.


Saat dia mengatakan itu, tiba-tiba ada panggilan masuk. Dia membukanya, dia melihat Calista yang menelepon, dan di sampingnya ada Jia Meiya yang meminum teh hangat.


“Natan.”


"Ada sesuatu?" Natan tahu ada hal penting, karena istri-istrinya sangat jarang melakukan panggilan video.


“Malam ini kau kembali, kan? Anak-anak merindukanmu.”


Natan tersenyum, dia mengangguk dan menjawab, "Iya, aku kembali malam ini, aku juga merindukan mereka."


“Enaknya.” Tiba-tiba terdengar suara Ayumi, dan Ayumi berdiri di belakang Calista. “Ayu juga ingin mengandung anak Kakak.”


Natan memandang Ayumi, lalu menghela napas. "Kau masih memanggilku “Kakak” meski kita sudah suami-istri?"


“Karena kebiasaan.” Erina muncul dan berkata, “Lagi pula, Kakak menyukainya, kan?”


Natan tersenyum tipis dan tidak mengatakan apa-apa. Ayumi dan Erina sudah menjadi istri keenam dan ketujuh selama satu bulan, mereka berdua juga memiliki nafsu paling besar di antara semua istrinya, bahkan Jia Meiya kalah.


Dia sendiri tidak menyangka akan menikahi mereka, tapi kembali lagi, selama dua tahun terakhir, Ayumi dan Erina selalu menyatakan cinta meski dia menolaknya terus-menerus, namun mereka tidak peduli. Sampai akhirnya dia menyerah dan menerima mereka berdua.


"Sebelum malam aku kembali, dan malam harinya setelah anak-anak tidur, kita akan berolahraga bersama-sama."


“Berdelapan?”


Natan menatap Jia Meiya. "Iya, semuanya sekaligus."

__ADS_1


Ayumi menatap Natan dan berkata, “Kakak, bisa jemput Ayu? Ayu ingin memeluk Kakak saat ini juga, dan kita bisa bermain di apartemen Kakak.”


Natan terdiam dengan mulut terbuka, dia benar-benar kewalahan, bukan dari segi fisik, melainkan pikiran. Adiknya yang dulu menggemaskan dan sedikit polos, tapi sekarang telah menjadi istrinya dan sangat manja. Jika yang lain memiliki jadwal sendiri, Ayumi akan meminta jatah setiap hari dan setiap ada kesempatan, di mana pun dan kapan pun.


Calista dan Jia Meiya menoleh menatap Ayumi, mereka berdua ingin pergi bersama Natan, tapi mereka tidak bisa.


Natan menggelengkan kepalanya dan berkata, "Tidak mungkin, kau tunggu di sana dengan tenang, jangan macam-macam. Jangan tinggalkan Istana Armonia."


Niat awalnya datang ke Indonesia untuk melihat makam orangtuanya dan melihat apartemen tempatnya tinggal dulu. Jika dia membawa Ayumi dan Erina di saat cuaca dingin seperti ini, niat awalnya akan berubah, dia malam akan meminta mereka untuk menghangatkan tubuh.


Ayumi cemberut, tapi dia tidak marah, dia menganggukkan kepala dan berkata, “Ayu akan menunggu kedatangan Kakak.”


Erina menggelengkan kepalanya dan menghela napas saat melihat tingkah laku Ayumi yang tidak berubah sama sekali, masih sama seperti 16 tahun lalu.


Natan memandangi istri-istrinya, dia tersenyum hangat, dia masih tidak percaya hidupnya akan berubah sejauh ini. Dia mendongak, melihat langit, tapi tidak ada yang baik karena semuanya adalah awan hitam.


"Dua tahun lagi adalah pertempuran penentu, kita berjuang bersama-sama untuk anak-anak."


“Tentu.” Calista tersenyum hangat, lalu dia mematikan panggilan video.


Natan tersenyum tipis, dia berdiri dan mundur menjauh, lalu meminta sebagian skeleton untuk menggali es.


Skeleton mulai bertindak, mereka menggali es yang menutupi dengan hati-hati agar tidak merusak makam.


Natan mengeluarkan kursi kayu dan duduk di sana dalam diam, dia tidak mengatakan apa pun, dia tidak menghubungi siapa pun lagi. Dia hanya menunggu skeleton menyelesaikan tugasnya.


Setidaknya butuh setengah jam untuk menggali dan memindahkan makam di sekitar sehingga memiliki lebih banyak area kosong.


Natan berdiri, dia memandangi lubang dengan kedalaman 6 meter dan berdiameter 12 meter. Dia juga melihat makam orangtuanya yang sebelumnya sedikit hancur, kini sudah diperbaiki dan kembali seperti sedia kala.

__ADS_1


Dia melompat turun memasuki lubang yang telah digali, lalu menaburkan bunga di makam dan kembali menyiramnya dengan Mata Air Elf.


Mata Air Elf ini sendiri adalah mata air yang keluar dari celah kecil yang muncul di akar Pohon Elf, ini sangat berharga, dan tidak dijual. Jika memang dijual, bahkan satu Kota Armonia sebagai pusat dari Kerajaan Armonia tidak dapat membelinya meski hanya sebotol air mineral.


Alasan mengapa dia bisa mendapatkannya sendiri adalah karena hubungan baiknya dengan Ainsley. Selama 15 tahun, dia hanya mendapatkan 1,8 liter air dari Mata Air Elf, tapi ini sudah sangat banyak karena dia mengambil 12% pendapatan dari Mata Air Elf yang terkumpul selama 15 tahun.


Dia sendiri tidak terlalu jelas fungsi dari air ini, Aniela, Ratu Elf tidak tahu manfaatnya. Dikatakan hanya Ainsley yang mengetahuinya, tapi dia sendiri tidak dapat menghubungi untuk bertanya.


Natan menghela napas, dia melompat keluar dari dalam lubang dan meminta skeleton untuk membangun area pertahanan di sini yang terbuat dari logam terbaik.


Dia menunggu lagi untuk waktu yang lebih lama, sekitar satu jam.


Dia melihat bangunan berbentuk pagoda yang sangat menarik berwarna merah, dengan tinggi lebih dari enam meter. "Aku tidak terlalu berlebihan, kan? Tapi sepertinya tidak, aku hanya tidak ingin makam orangtuaku rusak, jadi ini harus dilakukan, ya! Harus!"


Natan melihat sekeliling, sudah lama dia di sini, setidaknya dua jam, tapi tidak ada kehidupan apa pun yang datang menghampiri, entah manusia ataupun monster.


"Sekarang masih pukul sepuluh waktu China. Ngomong-ngomong, aku sudah seminggu di Indonesia, sepertinya malam ini memang harus kembali. Tapi sebelum itu ..."


Natan mengangkat syal hitam di lehernya untuk menutup bagian hidung dan mulutnya. "Aku akan ke Papua untuk melihat keadaan di sana, sepertinya ada sesuatu di Gunung Puncak Jaya. Aku tidak tahu apa ini hal baik atau buruk, tapi tidak ada salahnya untuk mencari tahu, mungkin aku bisa mendapatkan barang berharga seperti saat menggali Makam Poseidon di Yunani."


Dia mengeluarkan Kori yang disimpannya, kemudian melompat naik ke atasnya.


Ksatria Lebah dalam jumlah besar juga dipanggil, mereka digunakan untuk membawa Skeleton Squad. Dia sendiri tidak menyimpan mereka di dalam bayangannya, karena dia ingin menggunakan mereka sebagai pengawal, bahkan meski levelnya yang saat ini terbilang tertinggi dan terkuat, tapi marabahaya tidak tahu kapan datang. Setelah dia merasakan perasaan hampir mati, dia menjadi orang yang sangat berhati-hati.


"Dari sini ke Papua sejauh 3.664 kilometer, dan dengan kecepatan Kori saat ini, harusnya bisa sampai dalam waktu satu setengah jam, tapi anggap saja dua jam dan sampai di sana saat tengah hari. Kemudian berkeliling di sana selama lima jam, mencari informasi penting, siapa tahu menemukan artefak, barulah kembali ke rumah."


...


***

__ADS_1


*Bersambung...


__ADS_2