Monster Apocalypse

Monster Apocalypse
Chapter 170 : Ainsley Mengambil Tindakan


__ADS_3

Sudah beberapa hari berlalu sejak kedatangan gelombang zombie, tidak ada lagi monster berbahaya yang menyerang, tapi sedikit apa pun monster yang menyerang, pasukan yang ada sangat kelelahan. Mengingat, keliling tembok sepanjang 500 kilometer, dan dengan jumlah penduduk yang sedikit lebih banyak dari 15.000, menjaga wilayah seluas itu terlalu sulit.


Belum lagi harus menjaga Armonia Guild, seluas 2.500 kilometer persegi.


Natan sangat membutuhkan lebih banyak tenaga kerja, tidak peduli apakah mereka Player atau manusia biasa. Dia membedakan antara Player dengan manusia biasa sangat mudah, meski sama-sama memiliki antarmuka sistem, tapi manusia biasa lebih berada di garis belakang.


Masalah keamanan saat ini masih bisa diatasi dengan Kori, Fire Dragon dan Ksatria Lebah, ditambah salah satu anggota Taiyang Guild yang merupakan Beastmaster. Mereka bisa mengamankan wilayah melalui udara, dan sangat mudah membunuh monster-monster yang tidak diatasi.


***


Istana Armonia


Natan memandang langit berawan hitam dengan petir biru yang menyambar di langit. "Hari ini kami berencana ke Amerika, tapi di luar badai. Meski di Amerika cuacanya cerah, tapi tetap saja aku merasa enggan."


Natan melangkah mundur dan duduk di sofa seraya menghela napas panjang.


"Kau sepertinya banyak pikiran."


Natan mendongak, melihat Ainsley yang duduk di pembatas balkon dengan kaki menyilang, memperlihatkan kaki jenjang yang mulus bahkan giok. "Kau muncul dan menghilang tiba-tiba. Kadang tidak pernah terlihat selama seminggu bahkan sebulan. Dan anehnya tidak ada yang menggantikanmmu."


"Aku harus datang ke tempat lain, walaupun aku menyukaimu, aku tidak bisa pilih kasih. Jika aku pilih kasih, seperti yang sudah aku katakan, Penjaga akan lebih baik memberikan kekuatan pada individu terkuat sebelum kehancuran dunia daripada menggunakan kekuatannya untuk membuat sistem seperti ini."


Natan terdiam sejenak ketika mendengar kata-kata yang diucapkan Ainsley. "Penjaga, dia pasti mengorbankan banyak hal sampai bisa menunda monster yang datang dengan cara membangun Dungeon dan Dimensional Cave."


Ainsley hanya tersenyum tanpa mengatakan sepatah kata pun saat melompat turun. Dia mengangkat jarinya, mengubah posisi duduk Natan yang awalnya membungkuk menjadi bersandar di sofa.


Kemudian, Ainsley duduk di pangkuan Natan dengan posisi menyamping dan menyandarkan kepalanya di dadanya.


Natan terdiam tanpa kata dan hanya menghela napas. Dia sudah mulai terbiasa dengan Ainsley yang seperti ini.


"Menurutmu, apakah aku seorang bajing**? Aku dikelilingi terlalu banyak wanita, di Armonia Guild, semuanya wanita kecuali aku."


Ainsley mendongak, melihat ekspresi muram Natan. Dia tersenyum dan menjawab, "Tidak perlu merasa bersalah. Di dunia seperti ini, wajar untuk mencari pria kuat sebagai pegangan, bahkan pria juga berpegang pada kaki penguasa kuat untuk bertahan hidup. Dan, manusia harus tetap hidup dengan meneruskan keturunan. Mungkin, ada beberapa orang yang diam-diam menyukaimu."


"Keturunan?" Natan mengerutkan keningnya dan menundukkan kepalanya menatap Ainsley. "Apakah kau termasuk orang yang ingin membuat keturunan denganku?"

__ADS_1


Ainsley tertegun untuk beberapa saat sebelum tersenyum hangat. "Kau terlalu percaya diri, aku baru bilang kalau aku menyukaimu, dan kau langsung seperti itu."


Natan tersenyum canggung. Kemudian melihat Ainsley yang mengendurkan kewaspadaan, membuatnya tertantang. Dia mengangkat tangan kirinya perlahan tanpa suara, mengarahkannya ke telinga runcing Ainsley, ingin sekali merasakan sentuhan di tangannya.


Tapi saat hampir menyentuhnya, Ainsley menepuk tangannya cukup keras.


"Jangan berlebihan." Setelah menepis tangan Natan, Ainsley bangkit dan kembali duduk di pagar balkon. "Sudah kubilang, menyentuh telingaku berarti kau melamarku."


Natan terdiam seraya mengusap tangannya yang merah, itu cukup sakit untuk tepisan sederhana. Dia bertanya-tanya seberapa kuat Ainsley jika benar-benar menyerang.


Natan menundukkan kepalanya lagi dengan tubuh membungkuk. Kedua sikunya bertumpu di paha, dan kedua tangannya terkatup saat menopang dagunya. "Kau tahu, banyak pertanyaan yang setiap hari berdatangan. Monster Ancestors, Penjaga. Penjaga bahkan tidak mampu membunuh Monster Ancestors, tapi Penjaga menggunakan kekuatannya untuk mengembangkan kekuatan manusia, tentunya seluruh kekuatan manusia tidak bisa melebihi Penjaga. Jadi, bukankah itu sia-sia?"


"Jika akhirnya sia-sia, bukankah lebih baik membiarkan Monster Ancestors lepas kendali dan membunuh kami semua daripada memberikan harapan palsu seperti ini?" Natan mendongak menatap Ainsley, suaranya sedikit meninggi dan ada kemarahan di wajahnya.


Jelas, Natan memang terlihat kuat, tapi terkadang tetap merenung dan muram karena banyak beban yang harus ditanggung. Dia tidak bisa menahannya, bagaimanapun dia hanya berusia 19 tahun.


Ainsley hanya diam tanpa ekspresi saat menatap Natan.


Natan terdiam dan menggertakkan giginya ketika melihat respon Ainsley, kemudian dia kembali menundukkan kepalanya dengan dahi ditopang oleh kedua tangannya.


Natan membelalakkan matanya penuh kejutan, masih ada sedikit kemarahan karena diabaikan. Tapi, detik berikutnya, dia menutup matanya perlahan, menikmati ciuman hangat Ainsley.


Natan ingin mengangkat tangannya, tapi ditangkap Ainsley, bahkan tubuhnya di dorong agar tidak bergerak. Dia teringat kembali dengan masa lalu yang membuatnya trauma, tapi dia tidak bisa bergerak di bawah dorongan Ainsley.


Ini pertama kalinya Ainsley mencium seseorang, tapi setelah mengamati bagaimana Natan dan yang lain bertempur di tempat tidur, dia sudah mengetahuinya. Ainsley mendorong lidahnya ke barisan gigi Natan, memaksanya untuk terbuka. Kemudian lidah mereka terjalin.


Natan tidak bisa menolak, bahkan menggerakkan kepalanya saja tidak bisa, seolah-olah ada tangan lain yang menahannya. Napasnya berat saat lidah Ainsley memaksa masuk ke dalam mulutnya.


Ainsley mundur perlahan, dia melihat wajah Natan yang memerah dengan bibir tipis seperti wanita yang basah. "Kau terlihat seperti wanita."


Bang! Bang! Bang!


Terdengar suara dentuman keras dari pintu masuk, itu dipukul secara paksa tapi tidak hancur ataupun terbuka.


"Mereka datang." Ainsley menghela napas, dia mengecup bibir Natan sekali lagi dan menghilang.

__ADS_1


Ketika Ainsley menghilang, pintu langsung terbuka tanpa halangan.


Dari pintu, terlihat Calista yang melangkah masuk dengan ekspresi muram. "Natan, di luar tembok mulai banjir. Kita bahkan harus mengaktifkan penghalang lanjutan untuk menghalangi air hujan."


Natan terengah-engah saat duduk di sofa balkon, dia mencoba menenangkan napasnya tanpa menoleh ke belakang. "Apakah dia memberikanku racun? Ini membuat tubuhku panas dan bergairah. Sialan!"


Calista berhenti melangkah saat mendengar Natan yang mengumpat. "Natan?"


Natan berdiri, berbalik menatap Calista.


Calista terdiam, kemudian melangkah dengan terburu-buru. "Apakah kau baik-baik saja?" Tatapannya terlihat sangat khawatir ketika melihat Natan yang terlihat seperti demam.


Natan melihat Calista yang berlari ke arahnya. Dia menangkap pinggang Calista, lalu menundukkan kepalanya dan mendekatinya. Bibir mereka bertemu.


Calista terkejut, dia datang ingin melaporkan tentang wilayah, bukan untuk ini. Tapi ketika tangannya menyentuh dada Natan, dia bisa merasakan detak jantungnya yang berdetak kencang dan suhu tubuh Natan memanas.


Calista, secara alami tahu ini. Bagaimanapun, dia pernah memakai cara ini untuk membangkitkan gairah Natan. Dia mendorong tubuh Natan perlahan, mendongak dan menatap wajahnya yang merah. "Bagaimana? Apakah Natan meminumnya sendiri?"


Sudut bibir Natan berkedut. Meminum racun dengan kesadaran sendiri? Mana mungkin, hanya orang bodoh yang melakukannya.


"Kau tahu tentang Ainsley dan Level 600?"


Calista menatap kosong, seolah-olah tidak mengerti. Tapi detik berikutnya, dia membuka mulutnya dengan mata terbuka, dan kemudian menggertakkan giginya kesal. "Wanita sialan itu, aku ingin membunuhnya!"


Calista sudah kesal dengan Ainsley sejak lama, dan ingin sekali menghajarnya setiap kali bertemu.


Walaupun kesal, Calista menahannya dan menatap Natan. "Baiklah, karena di luar hujan, aku akan membantumu melepaskannya."


Natan yang sudah terengah-engah, mengangkat tubuh Calista dan membawanya ke tempat tidur. Dia menurunkannya perlahan penuh kasih sayang, takut membuat Calista merasa takut atau sakit.


Calista tersenyum, sesekali menoleh melihat pintu, dan senyumnya bertambah lebar saat mengetahui bahwa pintu tertutup rapat, bahkan terkunci. Dengan ini, dia bisa menghabiskan malam bersama Natan tanpa harus takut terganggu oleh Vely dan Olivia.


...


***

__ADS_1


*Bersambung...


__ADS_2