
—Keesokan Harinya—
"Um?" Natan bangun dari tidurnya tapi matanya masih tertutup. Dia mencium aroma harum yang berada di depan hidungnya, dia mengulurkan tangannya, kemudian merasakan sentuhan lembut di tangannya.
Dia bingung apa yang disentuhnya, dan meremasnya beberapa kali. Dia tersenyum tipis saat mengetahui apa ini, dan memilih untuk kembali tidur, tapi setelah beberapa kali lagi meremasnya, dia merasa aneh, ini terlalu besar!
Natan membuka matanya perlahan, yang ditemukannya ada dada lembut yang dibungkus dalaman berwarna hitam.
"Sudah puas?"
Natan mendongak, dia melihat Brianna yang tidur dengan tubuh miring, dan kepalanya bertumpu di tangan saat sikunya bertumpu di bantal. Dia tersentak, menarik tangannya lagi dari dada Brianna seraya melompat mundur. "I- Ibu? Bagaimana Ibu bisa di kamarku? Mengapa Ibu berpakaian seperti itu?"
"Kamar Natan?" Brianna mengangkat sebelah alisnya, dia memberi tanda dengan tangannya untuk melihat sekeliling.
Natan melihat sekeliling dengan mata terbelalak, dia bisa memastikan bahwa ini memang bukan kamarnya. Dia tahu apa yang terjadi, tapi dia sangat panik karena tahu-tahu bangun di tempat tidur ibunya.
"Ini ... Ibu?"
"Apakah Natan lupa? Natan tidur sambil berjalan, lalu menyelinap ke dalam selimut Ibu. Natan memeluk erat tubuh Ibu dan menggosok wajahmu di dada Ibu." Brianna meremas salah satu dadanya.
Natan melihat tangannya sendiri dan mendongak melihat dada yang lebih besar dari milik Olivia. Dia menggelengkan kepalanya, dan saat ingin berbicara, rasa sakit datang dari kepalanya. Dia mengiris menahan sakit, tapi sakit itu tidak bertahan lama dan kembali reda.
Tubuhnya gemetar ketika melihat ingatan yang tiba-tiba masuk, dia mendongak menatap Brianna. "Ibu ... kau mempermainkan ku ... Ibu yang membawaku tidur di sini, bahkan Ibu sendiri yang melepas pakaian karena terbiasa tidur seperti itu... Tapi, tapi, tapi..."
Natan tidak bisa meneruskan kata-katanya dan tertunduk malu saat memeluk lututnya sendiri. Banyak hal memalukan yang dilakukannya kemarin, dia menerima usapan lembut dari Ayumi, Erina bahkan Xia Feiya. Dia mencium tangan Vely, Calista dan Olivia seperti memberi salah pada orang yang lebih tua.
Tapi yang lebih memalukan, dia banyak menangis, bahkan saat dia kecil dulu, dia tidak pernah menangis meski dirundung. Kemudian ada hal memalukan lain, dia mandi bersama dengan ibunya yang membersihkan tubuhnya, serta Vely, Calista dan Olivia yang melihat tubuh kecilnya, bahkan tertawa saat melihat tubuh bagian bawahnya.
Ini sangat memalukan, dia seperti ingin mati agar bisa melupakan semua ini. Tapi, dia menang harus mengakui sihir Ainsley benar-benar efektif, bukan hanya tubuh yang mengecil, bahkan pakaian yang digunakan mengikuti postur tubuh.
Dia tidak sanggup menerima ini semua, dan merasa tidak memiliki tempat lagi di dunia.
Natan mendongak menatap ibunya dengan mata sedikit merah. "Ibu, aku ingin tinggal di sini selamanya, aku tidak ingin keluar kamar."
"Tidak bisa." Brianna menggelengkan kepala. "Kau sudah dewasa dan beristri, masa kau masih ingin bermanja-manja dengan Ibu?"
Natan tertegun dengan mulut terbuka, kemudian mengangguk kecil dan turun dari tempat tidur. Dia melangkah dengan kaki berat, dia tidak ingin keluar dari kamar ini dan menemui yang lain, dia tidak bisa menyembunyikan wajahnya.
Dia membuka pintu, keluar dari kamar dan menutupnya perlahan.
Brianna menggeleng pelan dengan senyuman yang menghiasi wajah cantiknya. Dia menghela napas lega karena Natan tidak marah seperti yang dikhawatirkannya, tapi dia tahu tidak boleh melakukan hal semacam ini lagi.
__ADS_1
***
Natan berjalan menuju kamarnya untuk beristirahat dan mengurung diri.
"Oh? Natan kecil sudah kembali?"
Natan mendongak, melihat Liu Xinmei yang tertawa kecil. Dia menundukkan kepalanya lagi dan berubah menjadi bayangan, dia bergegas menuju kamarnya dengan kecepatan tinggi melebihi suara.
Ketika dia sudah kembali ke kamarnya, dia melihat Vely, Calista dan Olivia yang duduk di tepi tempat tidur, seolah sudah menunggunya datang.
"Natan kecil sudah datang." Olivia berdiri, datang menghampiri Natan. Ketika sudah sampai di depannya, dia berjongkok dan menarik celana Natan sampai terlepas.
Natan terkejut dengan tindakan Olivia, tapi dia tidak menghentikannya.
Olivia menyentuh ular Natan dan mengusapnya sampai menegang. "Ukurannya kembali seperti semula."
Vely ikut mendatangi dan tersenyum kesal. "Kemarin kau memanggilku dengan sebutan “Tua”, kau tahu, itu menyakitkan."
Natan tersenyum canggung seraya menggaruk pipinya. Dia sendiri tidak sadar bahwa dia pernah mengatakan itu.
"Sekarang, ikut kami." Vely menarik tangan Natan, membawanya ke tempat tidur.
Natan tidak tahu apa yang akan mereka lakukan, tapi dia tidak melawannya sedikit pun dan duduk di tepi tempat tidur. Dia mengikuti keinginan mereka yang memintanya melepas pakaian, sehingga membuatnya benar-benar polos tanpa sehelai benang pun yang menutupi.
Vely memegang pipi Natan dan mencium bibirnya sampai lidah mereka saling bertemu.
Natan menikmati ini semua, hingga tiba-tiba kepala ularnya merasakan hangat dan basah secara bersamaan. Dia membuka matanya, melirik ke bawah, dia melihat Olivia yang berjongkok dengan kepala di antara kedua pahanya.
"Natan ..." Calista menyentuh pipi Natan dan memintanya untuk mencium bibirnya.
Natan mengangguk kecil, dia berganti dengan mencium bibir Calista. Kemudian dia merasakan basah di daun telinga dengan dadanya yang bidang diraba-raba, dia tahu bahwa Vely 'lah yang melakukannya dari belakang.
Olivia menghisap sekuat tenaga, lalu menjilatinya beberapa kali sampai semuanya basah. Kemudian dia pergi ke sudut, berkumur-kumur sebelum dia bergabung untuk mencium bibir Natan.
Natan merasakan nikmat yang berkumpul di pangkal pahanya. Tangan Calista dan Olivia mengusapnya naik-turun, itu membuatnya bergetar.
"Aku ingin melakukannya bersama kalian, aku tidak bisa menahannya."
Olivia tersenyum tipis, tapi dia tidak menyetujuinya, melainkan menggelengkan kepala. "Usia kandungan kami baru tujuh hari, bukankah hanya disarankan setelah empat bulan? Natan tunggu saja ..."
Natan menggigit bibirnya seolah enggan, tapi tidak bisa berbuat apa-apa selain menghela napas. Jika dia tidak terlalu bersemangat dan memilih untuk menunda kehamilan dua orang, dia masih bisa melakukannya terus-menerus, dan setelah yang satu lahir, baru dia membuat yang satunya hamil.
__ADS_1
"Jangan seperti itu, kami tetap bisa memuaskanmu seperti ini." Calista memainkan kepala ular Natan dengan lembut.
Natan mengerang, tubuhnya sedikit bergetar saat getaran nikmat mulai berkumpul di pangkal pahanya. Sampai dia menyemburkan cairan hangat yang mengenai beberapa meter di lantai, tapi Calista tidak berhenti dan terus melakukannya.
"Lepas pakaian kalian, aku malu jika hanya aku yang seperti ini."
Mendengar itu, ketiganya mengangguk kecil, lalu melepaskan semua pakaian mereka.
Dengan ketiganya yang tidak berpakaian, Natan bisa melakukan hal yang sama dengan tangannya. Dia memuaskan mereka bertiga secara bergantian dengan sentuhan lembut.
...
Sampai empat jam, mereka berhenti karena terlalu melelahkan. Lebih melelahkan ketimbang berhubungan secara normal, karena melakukannya seperti ini terlalu banyak gerakan yang membuang tenaga.
...***...
—Jum'at, 26 Desember 2025—
Natan masih tidak berani keluar dari kamarnya karena terlalu memalukan, dan dia hanya mengirimkan Skeleton Squad untuk mengamuk di tempat lain sebagai pelepasan emosinya.
Bahkan Brianna sampai datang mengetuk pintu, tapi dia tidak ingin membukanya karena dia sedikit kesal meski tidak mengatakannya. Terutama ketika dia harus menceritakan tentang masa kecilnya yang sendiri, padahal dia sudah berjanji akan memendam semuanya dan menguncinya rapat-rapat.
Alasan mengapa dia menyembunyikannya meski Brianna kembali hidup, itu karena Natan tidak ingin membuat ibunya khawatir.
...
Kali ini Natan berada di samping jendela kaca, melihat dedaunan yang berjatuhan karena tertiup angin. "Jumlah monster dari hari ke hari semakin bertambah, musim sudah tidak bisa ditebak. Terkadang dalam seminggu, musim sudah berganti tiga kali."
"Natan ..."
Natan menoleh ke dalam ruangan, dia melihat Olivia yang berpakaian minim. "Ada apa?"
"Hari ini?" Olivia menggerakkan tangannya naik-turun dan menjulurkan lidahnya.
Natan menggelengkan kepalanya seraya melambaikan tangannya sebagai penolakan. "Tidak dulu, kemarin sudah cukup."
Olivia mengangguk kecil, lalu berjalan mendatangi Natan. Dia duduk di pangkuannya dan bersandar. "Sedang memikirkan apa?"
Natan menggelengkan kepalanya sebagai balasan. Dia tidak ingin memberitahukan kepada Olivia tentang yang dipikirkannya saat ini, dia merasa masalah ini hanya perlu diketahui oleh dia dan ibunya, yang lain tidak perlu tahu.
...
__ADS_1
***
*Bersambung...