Monster Apocalypse

Monster Apocalypse
Chapter 035 : Meninggalkan Dungeon Tower


__ADS_3

Natan membuka layar interface melihat Job apa yang bisa didapatnya dengan mengubah Job Mage, dan terlihat berbagai pilihan yang tidak jauh berbeda dari sihir. Pilihan itu sendiri adalah Witch, Wizard, Warlock, Sorcerer, Enchanter, Necromancer, Alchemist, Magician, Sage, Shaman dan Seer.


Witch atau Witchcraft adalah wanita yang menggunakan sihir dalam bentuk roh netral atau kutukan, dan sihirnya digunakan sebagai black magic atau digunakan untuk niat buruk.


Wizard adalah kebalikan dari Witch. Sama-sama penyihir yang menggunakan kekuatan roh, spirit bahkan juga bisa menyihir benda-benda di sekitarnya. Beberapa juga menggunakan gulungan atau kertas, hanya saja semua sihirnya digunakan untuk kebaikan.


Warlock ...


Natan menghilangkan semua penjelasan yang tidak perlu. Ia tidak ingin menjadi penyihir yang bertarung jarak dekat, ia tidak ingin menjadi penyihir yang mampu menguasai berbagai sihir karena sudah ada Ayumi, tidak ingin menjadi penyihir yang mampu memanipulasi pikiran.


Alchemist? Sudah ada Erina. Magician? Ia rasa Job itu tidak terlalu berguna dan setiap serangannya lemah. Sage? Itu sangat tidak cocok dengannya. Shaman? Mengutuk orang lain sangat merepotkan karena harus mengambil barangnya, lebih baik membunuhnya langsung. Seer? Daripada menggunakan ramalan yang belum tentu kebenarannya, lebih baik bertanya langsung pada NPC Shop.


"Tentu saja pilih Necromancer!" Natan menekan Job Necromencer pada layar interface di depannya.


[Mendapatkan Skill Skeleton Disease Lv.01 (Aktif) 250MP/Menit]


[Dapat membangkitkan monster maupun manusia dan monster. Maksimal level monster yang dapat dibangkitkan adalah 20 level diatas Player. Meningkatkan level skill dapat menambah jumlah monster yang dibangkitkan, membuka tipe monster, dan menaikan level monster]


"Skeleton Disease? Penyakit tulang?" Natan memiringkan kepalanya heran saat membaca nama skill yang ia dapatkan.


"Skeletal Disease!" Ayumi dan Erina berteriak bersamaan membenarkan ucapan Natan.


Natan hanya diam dan mengangkat kedua bahunya. Apa yang ia ucapkan tadi tidak salah, karena memiliki arti yang sama, hanya saja ia merasa sangat aneh dengan penjelasannya.


"Dengan levelku yang sekarang, aku hanya mampu membangkitkan sampai level dua ratus tujuh puluh, dan untuk membangkitkan Wyvren, sepertinya belum bisa karena level Skeleton Disease yang masih rendah."


Natan menggunakan Point Skill untuk meningkatkannya sampai level tujuh, dan ada informasi tambahan yang muncul di depannya. Terlihat jika ia sudah bisa memanggil Skeleton Archer dan Warrior, serta mampu memanggil 14 kerangka tulang.


Tapi sayangnya ia masih belum mendapatkan pemberitahuan apakah ia bisa membangkitkan monster seperti Griffin ataupun Wyvren.


Natan berjalan menghampiri Item Drop Wyvren yang belum menghilang maupun diambil. Ia mengarahkan telapak tangannya pada Item Drop. "Rise."


[Gagal Membangkitkan Wyvren]


[Skill Skeleton Disease masih berada ditingkat dasar]


Natan mengerutkan keningnya, dan mencoba untuk membangkitkan Griffin yang letaknya lebih jauh setelah mengambil Item Drop berupa daging, cakar, taring, dan sisik. Ia kembali mengulurkan tangan kanannya ke depan, dengan telapak tangannya yang mengarah ke bawah. "Rise."


[Gagal Membangkitkan Griffin]


[Skill Skeleton Disease masih berada ditingkat dasar]


"Apakah Skeleton Disease bisa berevolusi seperti Deteksi dan Inventory?"


[Dungeon Tower akan ditutup dalam waktu 10 menit]

__ADS_1


Natan tersentak saat melihat informasi yang muncul di depan matanya secara tiba-tiba. Ia masih belum mengambil semua item yang terjatuh dari Griffin di dalam hutan. Ia menoleh melihat Ayumi dan Erina yang sedang mengambil 100 kilogram daging Flame Dragon dan barang lainnya.


"Kalian berdua, ayo kita kembali ke hutan. Aku ingin mengambil barang di sana dan beberapa bibit."


Natan berlari terlebih dahulu meninggalkan Ayumi dan Erina.


Ayumi dan Erina menoleh melihat Natan yang berlari, kemudian mereka berdua mempercepat mengambil barang-barang yang dijatuhkan dari membunuh Flame Dragon, lalu menyusul Natan dengan menunggangi Kuro.


Ketika sudah sampai di hutan, Natan terus mengambil Item Drop dan membiarkan Adik-adiknya untuk memetik buah-buahan maupun tanaman lain yang dirasa dapat dikembangkan.


Tidak butuh waktu lama untuk mengambil semua item yang terjatuh. Ia bahkan sempat menghampiri Adik-adiknya yang kebetulan sedang memetik sayur hitam, dan di sana adalah tempat monster Ogre terbunuh.


Natan pergi ke kanan sekitar dua puluhan meter dari Adik-adiknya. Kemudian berjongkok dan menyentuh tanah di bawah pohon, yang batang pohonnya terdapat bercak darah yang menempel. "Rise."


[Berhasil Membangkitkan Skeleton Ogre]


[Monster yang dapat dibangkitkan (1/14)]


Tanah di depan Natan mulai bergetar seperti ada makhluk hidup di dalamnya, yang kemudian hancur dan terlihat sebuah tulang tangan yang keluar dari dalam tanah. Hingga akhirnya benar-benar terlihat, tulang besar setinggi tiga meter yang merupakan kerangka tulang Ogre.


Pada bagian matanya, terlihat api biru yang menyala dan menambah kesan menyeramkan. Tulang itu nampak bungkuk, tidak seperti saat masih hidup. Lalu untuk levelnya, itu berlevel 89 dan memiliki statistik yang lebih tinggi dari monster dengan level yang sama.


~Informasi~


[Ras : Skeleton]


[Jenis : Ogre Knight]


[Level : 89]


[HP : 53.970]


[MP : 8666]


[[Bertahan Lv.05] — [Memotong Lv.04] — [Berpedang Lv.05]]


Natan tersenyum tipis melihat statistik Skeleton Ogre yang ia bangkitkan. Masih tersisa 13 slot lagi untuk bisa membangkitkan monster. Akhirnya ia terus bergerak diburu waktu, dan setiap ia sampai di tempat di mana monster dibunuh, ia langsung membangkitkan mereka tanpa melihat statistiknya.


"Apakah sudah?" Natan menghampiri Ayumi dan Erina yang bermain-main di semak-semak.


"Sudah!" Keduanya menyahutnya bersamaan dan menoleh ke belakang melihat Natan. Kedua tidak merasa takut atupun terkejut saat melihat belasan Skeleton, karena mereka sudah diberi tahu oleh Natan melalui Guild Chat.


Natan terus berjalan menghampiri mereka berdua, dan saat baru melangkahkan kaki, tiba-tiba langit menjadi gelap. Perubahan warna ini seperti lampu di dalam ruangan dimatikan, sehingga tidak ada jeda sama sekali.


Ia menoleh melihat sekitarnya, dan ternyata Dungeon Tower sudah berganti menjadi gedung apartemen biasa. Namun ternyata di lantai teratas bukanlah kamar, melainkan sebuah kantor yang sepertinya kantor pribadi dari pemilik gedung.

__ADS_1


Natan berjalan menuju dinding yang terbuat dari kaca tebal. Ia melihat keluar mengamati jalanan kota yang sudah lama tidak ia lihat. Banyak sekali gedung-gedung yang hancur, mobil-mobil dari Pangkalan Militer berbeda yang meledak, tertindih puing-puing, dan terbalik seperti terkena serangan monster kuat.


Bukan hanya itu saja, ia juga melihat banyak sekali Zombie dan Zombie Soldier yang berada di jalanan.


"Dunia benar-benar menjadi lebih parah. Apakah akan ada Zombie Mutan dan Zombie King?" tanya Natan yang mengerutkan keningnya.


Natan membuka Forum karena penasaran apa yang didiskusikan para Player dari seluruh dunia. Ia mengerutkan keningnya saat melihat apa yang tertulis di sana, hanya ada kekacauan dan kebencian, serta permusuhan. Banyak yang ingin bertemu satu sama lain dan Guild-guild juga mulai terbentuk, mulai berperang untuk memperluas wilayah masing-masing.


Kemudian untuk pencapaian Dragon Slayer, banyak yang ingin membunuh Player dengan Title itu.


"Ayumi, Erina. Kita akan pergi ke Pangkalan Militer di kota ini, aku menduga Guruku berada di sana. Tapi saat kita hampir sampai, kita harus menyembunyikan semua perlengkapan," jelas Natan yang berbalik melihat keduanya.


Keduanya terdiam sejenak dan menatap satu sama lain, kemudian mengalihkan perhatiannya pada Natan. "Baik!"


Natan tersenyum hangat dan mengusap lembut puncak kepala keduanya.


Jika hanya puluhan Player, mungkin masih bisa dilakukan. Namun apabila puluhan ribu, sangat sulit untuk menghadapinya. Setidaknya, aku harus memiliki seribu Skeleton, pasukan tidak kenal lelah dan tidak takut mati!


"Para Skeleton, bersembunyi di bayangan kami bertiga."


Belasan Skeleton itu mulai menghilang terhisap ke dalam bayangan, empat di bayangan Natan, dan sisanya bersembunyi di bayangan Ayumi serta Erina.


Natan kembali berbalik menghadap dinding kaca. Ia menarik bilah pedang dari sarungnya, dan mengayunkannya secara menyilang, membuat dinding kaca itu pecah.


Tanpa berpikir panjang ataupun ragu, Natan melompat turun dari gedung tinggi, diikuti oleh Ayumi, Erina dan Kuro.


"Kita akan membunuh semua monster di sini, dan pergi ke Pangkalan Militer!"


"Baik!"


Ketiga orang itu turun dengan kecepatan tinggi tanpa ada rasa takut sama sekali, karena tinggi seperti ini tidak memberikan sensasi apa pun.


Natan yang hampir menyentuh tanah itu menancapkan pedangnya pada bagian dinding gedung, membuatnya turun perlahan dan menyentuh tanah dengan selamat tanpa adanya luka.


Ayumi menciptakan Magic Barrier di bawah kakinya dan mengendalikan untuk turun perlahan.


Erina menciptakan badai angin kecil yang membuatnya sedikit melayang sebelum mendarat di halaman depan gedung.


"Setidaknya ada dua ribu monster, level tertinggi mereka hanya sebatas delapan puluh," ucap Natan yang melihat Mapping. Ia menghilangkan layar interface di depannya dan mendongak. "Sekarang, haruskah kita mulai?"


...


***


*Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2