
Serangan Natan mematahkan momentum Human Chimera dan barisan mereka menjadi sangat kacau. Apalagi serangannya tidak beraturan; menyerang tanpa henti dan hanya membutuhkan seperkian detik saja untuk mengganti magazen kosong.
Natan melompat turun dari mobil yang membeku seraya berteriak, "Paman! Apakah kau hanya diam di sana? Kau tidak akan bisa menaikkan level jika hanya diam!"
Adrian tersentak, kemudian berlari mengikuti Natan dari belakang setelah mengambil senjata yang tergeletak di tanah. "Mati kalian semua! Rekan-rekan sialan! Kalian mengurungku selama satu bulan!"
Adrian menembak Human Chimera yang melarikan diri tanpa ampun. Ketika amunisinya telah habis, ia akan melemparkan senjatanya dan mengambil yang baru di tanah ataupun di atas mobil.
Booom! Booom! Booom!
Natan yang sudah membantai Human Chimera, menoleh ke belakang melihat sumber ledakan keras dan bisa melihat asap tebal mulai memasuki gua. "Oh? Markas Kedua mereka mulai bergerak, sepertinya mereka benar-benar ingin cepat-cepat mati. Padahal, aku ingin membiarkan mereka hidup lebih lama lagi."
Natan menggelengkan kepalanya merasa kasihan pada mereka yang hidupnya sia-sia. Mereka memiliki keluarga, tapi membuang kemanusiaan mereka dan memilih menjadi monster. Ia tidak peduli apakah mereka memiliki istri dan anak yang menunggu, selama mereka monster, ia akan membunuhnya.
Kejam? Dari awal Natan tidak sedang bermain-main sebagai seorang Pahlawan. Ia hanya ingin membunuh mereka yang mengganggu dan monster yang menyebabkan ini semua terjadi. Karena inilah, setiap kali ia mencari anggota tambahan, mereka harus berguna.
Bahkan, Ayumi dan Erina yang merupakan adiknya saja, ia manfaatkan pada awalnya, meski sekarang ia sudah lebih lunak.
Natan meminta Skeleton Mage yang sudah maju untuk menyimpan semua barang yang ditemukan, terutama mobil-mobil maupun teknologi yang sedang dikembangkan.
"Apakah kau akan maju?" Adrian mencoba menghentikan Natan agar tidak keluar karena terlalu berbahaya.
Natan hanya tersenyum tipis dan melewati Adrian. Hanya sedikit tambahan musuh, tidak ada perbedaan.
"Bagaimana mungkin aku membiarkan Point Exp pergi di saat mereka sudah datang? Aku harus membunuh mereka agar bisa naik ke level lima ratus lima puluh."
Natan mengganti senjatanya dengan Sako TRG Mana. Memang tidak bisa menyerang secara beruntun seperti dua ratusan tembakan dalam waktu satu menit, tapi setidaknya damage yang dihasilkan lebih besar dan tidak perlu repot-repot untuk mengganti magazen.
"Skeleton Commander dan Knight. Kalian tidak perlu lagi bertahan, serang mereka semua. Jika ada manusia, tahan, aku ingin melihat apakah mereka berguna atau tidak."
Adrian yang mendengar ucapan Natan, hanya bisa diam tak tahu harus berkata apa. Melihat sikapnya yang sangat dingin, ia merasa banyak hal berat dan menyakitkan yang dilalui Natan. Ia menghela napas berat, dan berharap bisa kembali ke keluarga Alexander untuk menemui Ibunya, siapa tahu bisa membantu menenangkan Natan.
Bagaimanapun, Natan terbilang cukup dekat dengan Nenek, meski baru sekali melihatnya langsung di Indonesia.
Booom!
__ADS_1
Skeleton Commander dan Knight menerjang Human Chimera yang menggunakan senjata berat. Mereka hanya membawa pedang besar, dan setiap tebasan akan membunuh Human Chimera tanpa ampun.
Natan duduk di Mammoth Tank, mengarahkan moncong snipernya ke luar gua. "Karena kalian senang dengan ledakan dan api, maka aku akan memberikan kalian hadiah yang serupa."
Natan menarik pelatuknya, melepaskan tembakan Peluru Mana mengarah pada tengah-tengah Human Chimera yang berjaga-jaga di belakang mobil berat. "Increase Shot. Bullet Explosion."
Boom! Duarr! Duarr!
Belasan Peluru Mana mengenai mobil dan Human Chimera, yang kemudian meledak sangat keras dengan api besar serta getaran kuat yang menggetarkan daratan maupun salju di lereng gunung.
Freeze!
Skeleton Ice Mage menciptakan dinding es di atas pintu gua untuk menghalau longsoran salju dan mengubah arahnya ke api yang menyala.
Natan tidak bisa menahan tawanya melihat musuh yang habis terbunuh tanpa sisa dan bahkan terkubur oleh longsoran salju. Level mereka hanyalah 300 — 390, dan levelnya yang sekarang sudah 545.
Karena longsoran salju tadi, pintu keluar terhalang dan mengurung Natan di dalamnya. Tapi ia sama sekali tidak khawatir, bahkan ia masih bisa tersenyum setelah mengalami musibah seperti ini.
Skeleton Fire Mage berkumpul di depan Natan dan Skeleton Squad lain pergi dari depannya. Fire Mage mengumpulkan kekuatan mereka di satu tempat membentuk gumpalan api merah yang sangat panas. Tiba-tiba, dari gumpalan api itu mengeluarkan tembakan api seperti laser, menghantam dinding salju dan meledakkannya.
Getaran kuat kembali dirasakan dan membuat longsoran susulan. Tapi, longsoran itu langsung menguap bahkan sebelum menyentuh tanah, mereka tidak mampu menahan suhu panas dari serangan gabungan Fire Mage.
Asap tebal menghalangi pandangan Natan saat melihat ke luar gua, tapi tidak lama kemudian angin kembali bertiup dan menghilangkan asap yang menghalangi. Bisa dilihat, ada sebuah parit sepanjang 100 meter dengan lebar 15 meter dan setidaknya sedalam 4 meter.
Adrian terpana dengan mata melebar dan mulut terbuka. Ia memindahkan pandangannya pada Natan dan pintu gua secara bergantian. "Natan, kau berada di level berapa?" Ia sudah sangat penasaran, dan selama ini menahannya, tapi sekarang rasa penasarannya mengalahkan sopan santun.
Natan tersenyum tipis ketika berjalan seraya berkata dengan santainya, "Empat ratus tiga puluh." Ia sengaja memalsukan levelnya agar tidak ada yang tahu siapa dirinya yang sebenarnya.
Jika bisa, ia ingin identitasnya tetap rahasia sampai memusnahkan Skull Guild.
Adrian tersentak dan bertanya lagi dengan gemetar, "E- E- Empat ratus? ..."
Natan hanya diam dan tersenyum saat menoleh ke belakang menatap Adrian, kemudian kembali mengalihkan pandangannya saat berjalan untuk keluar dari gua.
Baru saja keluar dari gua, Natan bisa mendengar suara siulan panjang dan merupakan suara gesekan antara udara dengan benda berat. Tanpa melihat ke atas, Natan menembak benda yang jatuh.
__ADS_1
Whooooosh!
Peluru Mana melesat tajam ke atas, kemudian terdengar suara dentang dan diiringi dengan ledakan keras serta suhu panas.
"Natan!" Adrian berteriak melihat api yang akan mengenai Natan.
Skeleton Ice Mage mengangkat tangan.
Freeze!
Api yang membakar itu membeku dalam sekejap. Dapat membekukan api, itu bertanda bahwa level dan kemampuan mereka sangat tinggi. Tapi, ada yang berlevel tinggi, namun tidak bisa membekukan nyala api, yang artinya ini adalah murni kemampuan Ice Mage.
"Shadow Step." Natan berubah menjadi bayangan hitam yang bergerak sangat cepat dan sudah menyingkat jarak sekitar delapan puluhan meter. Ia berjongkok dengan Sako TRG Mana mengarah ke lereng gunung di belakangnya.
"Aku akan membalas perbuatan kalian." Natan menarik pelatuknya, melepaskan Peluru Mana yang melesat tajam membelah udara.
Dorr! Dorr! Dorr!
Tembakan beruntun berasal dari mulut gua di lereng gunung yang setidaknya setinggi dua ratusan meter.
Peluru Mana membelah diri dan mereka mengenai langit-langit gua maupun lereng gunung di bawah mulut gua. Kemudian meledak keras dengan api yang menyala sangat besar, bahkan ada asap hitam membentuk jamur raksasa.
Natan yang sedang berlutut, tiba-tiba terbang karena di bawahnya muncul Ksatria Lebah yang belum ia perlihatkan di depan Adrian. Ia terbang dengan kecepatan tinggi ke arah gua di lereng gunung.
Ksatria Lebah terbang di depan mulut gua dengan suara dengung yang mengganggu. Ksatria Lebah mundur perlahan bersamaan dengan munculnya jarum-jarum tajam di sekitar dengan jumlah puluhan. Kemudian, dengan suara dengungan lebih keras, semua jarum itu melesat ke arah mulut gua.
Boom! Boom! Boom!
Jarum-jarum itu melesat kencang dengan target yang tidak beraturan, mengakibatkan melebarnya mulut gua dan bahkan bagian bawahnya sampai hancur. Bebatuan di atasnya juga jatuh dan sebagiannya menutupi mulut gua, namun detik berikutnya hancur menjadi debu karena terkena tembakan jarum.
Natan duduk bersila dengan tenang di atas Ksatria Lebah; menunggu asap tebal sampai menghilang, barulah ia masuk untuk mengambil semua sumber daya yang mereka punya. Walaupun ia terburu-buru, ia tidak ingin bertindak bodoh dengan masuk ke sana saat asap menghalangi, meski ia bisa melihatnya dengan jelas di dalam kegelapan.
"Calista, Vely, Olivia. Tunggu aku, sebentar lagi aku selesai di sini, kemudian kita bisa tidur bersama lagi. Aku merindukan pelukan hangat kalian."
...
__ADS_1
***
*Bersambung...