Monster Apocalypse

Monster Apocalypse
Chapter 177 : Ibu...


__ADS_3

"Natan!" Tiba-tiba ada teriakan feminim yang familiar dan terdengar panik dari arah tangga yang mengarah ke lantai dasar.


Natan menoleh ke arah sumber suara, terlihat Calista yang membawa Jia Meiya dan Xia Feiya. Dia mengerutkan keningnya saat melihat dua orang itu. "Bukankah kalian berdua ... tidak. Apakah ada kejadian khusus yang membawa kalian berdua ke sini?"


"Sergapan!" Jia Meiya langsung berteriak. "Ada ribuan orang yang datang ke sini, perlengkapan mereka di atas Level 450 dan semuanya Kualitas Atas!"


Natan mengerutkan keningnya, lalu teringat akan Earth of Eternity. Dia menoleh menatap Blackskull yang tergeletak di lantai.


"Ha-ha-ha! Keugh!" Blackskull tertawa terbahak-bahak, lalu terhenti karena tenggorokannya tersendat oleh darah kental.


Natan tidak ingin terlalu lama lagi dan langsung menebas leher Blackskull.


Seketika itu, inventaris barang langsung dipenuhi oleh harta-harta yang berasal dari Skull Guild. Hampir tidak ada yang berharga, tapi seperti kata pepatah: meski nyamuk tetaplah daging; meski kecil tetaplah uang.


"Semua orang berkumpul di lantai dua, abaikan semua. Jika ada tawanan yang selamat ..." Natan merenung sejenak, meski dia tidak peduli, tapi masih ada sedikit ketidaknyamanan yang tertinggal. "Ikat mereka, kita bisa membawa mereka ke tempat rehabilitasi di rumah."


...


Setelah menunggu, semua anggota datang ke lantai atas dan hampir setiap orang membawa satu atau dua orang yang selamat. Meski dikatakan selamat, tapi mata mereka kosong dan kehilangan semangat untuk hidup.


Natan sudah bisa menebaknya, hal ini wajar dan selalu ada di mana-mana. Guild berkuasa akan menangkap wanita dan membunuh pria, sama seperti yang ditawan saat ini, mungkin pacar atau suami mereka dibunuh di depan mata.


"Ketua ..." Yan Jing datang menghampiri Natan. Ekspresinya terlihat tidak nyaman. "Banyak dari mereka, yang ingin bunuh diri."


Natan menganggukkan kepalanya. Kemudian, dia tersentak dan melihat ke arah barat saat merasakan bahwa skeleton mulai terkena serangan. Segera, dia memberi perintah. "Semuanya, pergi ke balkon dan melompat ke atas Ksatria Lebah."


Tanpa penundaan, mereka langsung bergegas menuju Ksatria Lebah, dan karena ada tawanan yang dibawa, Natan mengerahkan skeleton untuk menjaga mereka agar mereka tidak melompat dari ketinggian.


Tepat setelah mereka naik ke atas Ksatria Lebah, istana milik Skull Guild bergetar seperti gempa diiringi dengan retakan-retakan yang muncul di dindingnya dan runtuh.


Natan mengamati peta untuk mencari di mana saja Earth of Eternity datang. Ketika tahu bahwa hanya datang dari arah barat, dia tersenyum tipis dan mengendalikan Ksatria Lebah untuk pergi ke arah yang berlawanan.


Mungkin di mata Earth of Eternity, Armonia Guild sudah kalah karena tidak mungkin untuk pergi dari tebing tinggi, tapi yang tidak diketahui mereka, Natan bisa terbang dan sangat mudah baginya untuk bepergian.


Natan tersenyum tipis saat memandang skeleton yang mundur dan mulai melihat sekelompok manusia.

__ADS_1


Pemimpin pihak lain adalah seorang pemuda berambut pirang kekuningan, mata biru dan memakai zirah emas. Pembawaannya seperti tokoh utama dalam komik, seperti pahlawan pembela kebenaran.


Ketika Guildmaster Earth of Eternity melihat Skull Guild yang hancur, tubuhnya gemetar karena kemarahan. Dia mendongak melihat Kstaria Lebah yang membawa sekelompok orang. "Armonia Guild! Aku pasti akan membunuhmu!"


Natan yang berada di atas Ksatria Lebah dan melihat bagaimana Guildmaster Earth of Eternity marah, dia tersenyum tipis, mengangkat tangan kanannya dan mengarahkan jari tengahnya. "Pikirkan tentang keselamatanmu."


Reinhart sangat marah ketika melihat provokasi dari Natan. Ini adalah pertama kalinya ada yang menghinanya seperti ini, biasanya yang bertemu dengannya akan membungkuk atau bahkan berlutut. Di keluarganya, dia adalah orang paling berbakat dan akan dijadikan pewaris apabila kiamat monster tidak ada.


Tepat saat Reinhart menegang pedang di pinggangnya ingin menyerang. Tiba-tiba tanah bergetar diiringi dengan ledakan keras di belakangnya.


Reinhart yang dekat dengan ledakan, terhempas ke depan dan mendarat beberapa meter di tanah. Tulang-tulangnya patah dan punggungnya terluka dengan luka bakar sampai dagingnya terlihat.


Natan yang masih belum pergi, tersenyum dingin saat memandangnya. "Bodoh, apakah mereka tidak tahu kalau aku meninggalkan skeleton di sisi lain dan menyelinap ke belakang mereka?"


"Uhuk!" Reinhart berusaha untuk bangkit. Dia mendongak melihat Natan di udara, matanya yang sayu terbuka lebar saat melihat moncong yang diarahkan untuknya.


Sebelum sempat berbicara, tiba-tiba darah dingin mengalir dari dahinya dan pandangannya berangsur-angsur menghitam.


Natan menghela napas, kemudian dia mengendalikan Ksatria Lebah untuk pergi.


***


Dia membuka Forum dan menulis di sana.


[Spathi: “Apakah kalian tidak memikirkan untuk bekerja sama dan mengalahkan Monster Ancestors?”]


Post yang dikirim Natan langsung menarik perhatian, dan banyak balasan yang berasal dari dua kubu: ada yang mendukung dan ada pula yang menentang.


[Sinchan: “Untuk apa bekerja sama? Aku sudah memiliki kekuatan, aku akan melakukan apa pun. Dengan kekuatan, aku bisa berkuasa, aku bisa memiliki wanita mana pun, bahkan wanita yang pernah menolakku, kini berlutut dan memohon untuk perlindungan!”]


[Chicken: “Itu ide bagus untuk bekerja sama, tapi kita tidak tahu bagaimana wujud Monster Ancestors. Monster yang muncul sekarang sudah Level 600, mereka bisa berbicara dan sangat sulit untuk dibunuh. Setiap kali mereka akan mati, mereka pasti akan meneriakkan tentang Monster Ancestors. Jika monster yang sangat kuat memuja Monster Ancestors, lalu seberapa kuat dia? Apakah kita manusia yang awalnya lemah, bisa bertarung melawannya? Bahkan Penjaga sampai meminta pertolongan pada kita. Jika dia tidak mampu, lalu apa gunanya kita manusia yang lemah?”]


[Strongest_Human: “Tidak perlu bekerja sama! Aku sendirian bisa membunuh Monster Ancestors seorang diri!”]


[Strongest_Stone: “Maaf, tapi untuk orang di lantai atas yang mengatakan ingin membunuhnya sendiri, kau baru Level 420, tidak mungkin melakukannya!”]

__ADS_1


Natan terdiam ketika melihat balasan dari postingan yang dikirimnya di Forum. "Sepertinya hanya aku yang terlalu banyak berpikir, mereka bahkan tidak peduli dengan Monster Ancestors dan melakukan apa pun yang mereka inginkan."


Natan menertawakan dirinya sendiri yang berkeinginan untuk menaikkan level sampai mampu membunuh Monster Ancestors. Dia terlalu naif, tidak mungkin itu bisa dilakukan dengan mudah.


"Baiklah, aku akan melakukan apa pun yang kuinginkan. Jika aku mati, maka matilah, jika aku hidup, maka aku akan terus hidup."


Natan berdiri, mengangkat kedua tangannya dan meregangkan otot-otot tubuhnya.


Saat Natan berdiri, dia tidak menyadari bahwa di belakangnya sudah ada portal biru yang terbuka. Sesosok mengenakan mantel jubah hitam keluar darinya, dari postur tubuhnya, sosok itu adalah seorang wanita.


Mengangkat kerudung kepalanya, memperlihatkan wajah cantiknya; rambut cokelat dengan mata biru muda, bibir tipis berwarna merah muda yang menggoda. Wajahnya halus, ada kerinduan dan kasih sayang yang terpancar di matanya.


Bibirnya gemetar saat terbuka, kemudian dia berkata dengan getir, "Natan..."


Natan tersentak dan melompat ke depan ketika mendengar suara yang tiba-tiba datang dari belakangnya. Dia menoleh perlahan, kemudian matanya terbuka lebar-lebar.


Meski tidak melihatnya secara langsung untuk waktu yang sangat lama, tapi dia masih mengingatnya dengan jelas siapa wanita di depannya. Bagaimanapun, dia selalu melihat fotonya setiap hari.


Tubuhnya gemetar, langkah kakinya berat, tangannya gemetaran saat mencoba mengangkatnya.


Tanpa sadar air mata di matanya mulai mengalir, bibirnya gemetar saat terbuka dan ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak mampu.


Natan yang biasanya berhati-hati, tidak peduli apakah di depannya adalah musuh yang menyamar, dia hanya ingin melangkah ke depan dan menyapanya.


Melihat keadaan Natan, wanita itu merasakan sakit di hatinya.


Natan melangkah dengan berat, meski hanya dua meter, tapi seperti berpuluh-puluh meter jauhnya. Dia takut, sosok di depannya hanyalah ilusi, dia takut semuanya adalah mimpi, dia takut saat bangun nanti tidak bisa melihatnya lagi, dia takut sosok di depannya menghilang saat dia berkedip, dia takut sosok di depannya ... dia tidak tahu harus menjelaskan apa, dia hanya takut.


Napasnya berat saat mengambil satu langkah ke depan. Kemudian saat sudah semakin dekat, Natan langsung bersujud kepadanya dan berkata dengan gemetar, "Ibu..."


Wanita yang merupakan Brianna Alexander, berlutut di depan Natan dan mengusap kepalanya. Air matanya yang tertahan selama ini, akhirnya lepas saat dia memeluk Natan. "Iya ... ini Ibu."


...


***

__ADS_1


*Bersambung...


__ADS_2