Monster Apocalypse

Monster Apocalypse
Chapter 231 : Masa Kecil Natan Alexander


__ADS_3

Natan diam-diam menghubungi Claudia Alexander, putri pertama dari Addison dan Oliva, tiga tahun lebih tua darinya.


"Kakak! Nenek mendatangiku dan dia bilang mendapatkan mainan baru, apa maksudnya?"


[Mainan? Ah! Oh! Itu adalah hal baik, terima cepat sebelum Nenek berubah pikiran!]


Natan mengerutkan kening. "Aku mencium bau konspirasi."


[Tidak ada hal semacam itu! Aku bersumpah atas nama Timothy! Jika aku berbohong, Timothy akan disambar petir!]


Natan terdiam tanpa bisa berkata-kata, melihat balasan Claudia dengan tatapan datar. Dia sudah bisa memastikan ada yang salah hanya melihat balasan ini.


Dia menoleh menatap Glenda di sampingnya dengan mata terbuka, dia tidak tahu kapan perlengkapan make up sudah muncul di depan Glenda. "Nenek, untuk apa ini?"


"Tentu saja untuk menghias wajahmu, wajahmu putih, bersih, halus. Jika dipakaikan wig dan gaun, tidak ada yang sadar kalau kau laki-laki."


Natan tertegun dengan mulut terbuka lebar, dia tidak tahu harus berkata apa.


Glenda tersenyum tipis, dia mengambil bedak dasar. "Bukankah tidak masalah? Saat kecil dulu, Nenek pernah membawakanmu gaun, dan kau senang memakainya."


"Benarkah?" Natan memiringkan kepalanya, membiarkan Glenda memakaikan bedak di wajahnya. "Aku tidak ingat."


Glenda mengeluarkan selembar kertas dan menyerahkannya pada Natan.


Natan mengambilnya, dia melihat foto keluarga di sana, ada Barnard, Glenda, Addison, Oliva, Brianna dan Agam. Tidak hanya itu, ada gadis kecil berusia lima tahun yang berdiri, menggenggam tangan gadis? Ya, sepertinya itu gadis karena memakai gaun, meski rambutnya pendek. Tunggu! Dia merasa mengenali gadis berambut pendek yang memakai gaun.


"I- Ini aku?" Natan mendongak menatap Glenda dengan mata terbelalak.


Glenda mengangguk, dia menunjuk gadis yang menggenggam tangan Natan. "Ini Claudia, kau sering bermain bersamanya saat masih kecil, meski hanya dua minggu saja sebelum kami kembali."


Natan kembali memandang foto di tangannya. "Pantas saja aku merasa tidak asing saat melihatnya, dan dia bahkan langsung menyapa saat pertama bertemu, bukan hanya itu, saat makan bersama, dia memberikan banyak daging yang harusnya jatahnya."


Dia mengusap foto di tangannya seraya tersenyum, dia mendongak dan berkata, "Apa ada yang lain?"


"Tentu." Glenda mengeluarkan beberapa buku, dan salah satu buku tertulis [Natan Alexander]


Natan mengambil buku album, dia melihat foto-fotonya dari bayi sampai berusia lima tahun, di foto ini, dia sangat polos seperti belum mengetahui dunia, seperti kertas putih tanpa noda.


"Foto-foto ini, bagaimana Nenek bisa memilikinya? Saat kecil, saat aku pergi dari rumah, aku tidak menemukan album ini, aku bisa membawa satu bingkai foto di mana Ayah dan Ibu memelukku."


Glenda mengusap kepala Natan dan berkata, "Ibumu selalu mengirim file foto setiap minggu, dan Nenek mencetaknya sendiri. Sampai kau usia lima tahun, tidak ada kabar sama sekali, saat kami datang ke Indonesia, tetap tidak ada kabar, bahkan berita tentang kecelakaan yang kalian alami seperti ditutup-tutupi."


Natan terdiam, kemudian mengangguk dan kembali melihat foto-fotonya. "Nenek, apakah aku harus ke psikiater atau ke ahli lainnya?"

__ADS_1


"Mengapa?"


Natan terdiam sejenak sebelum berkata, "Itu, aku memiliki empat istri, dan sebelum mereka hamil, hampir setiap malam melakukan itu, apa aku gila karena terlalu bernafsu?"


"Apa kau merasa dirugikan?"


"Tidak."


"Bagaimana dengan istri-istrimu? Apa mereka marah? Apa mereka akur? Bagaimana kehidupan rumah tangga kalian?"


"Sepertinya tidak ada, bahkan lebih sering mereka yang mengajaknya. Mereka akur-akur saja, bahkan tiga istriku yang menyarankan untuk menambahnya."


"Maka tidak masalah. Bahkan itu lebih baik karena bisa menjaga keharmonisan hubungan kalian, bahkan Nenek dan Kakek masih rutin."


Natan terdiam dengan mulut terbuka ketika mendengar itu. Kemudian dia menunduk perlahan, membalik album fotonya, memandangi foto ayahnya yang sudah lama dia rindukan. Hingga tanpa sadar, air mata mulai mengalir di sudut matanya. "Ayah ..."


"Nenek ..." Natan mengusap air matanya. "Apa aku boleh memiliknya?"


"Tentu ..." Glenda mengangguk dan berkata, "Tapi hari ini biarkan Nenek merias wajahmu."


Natan terdiam, menunduk melihat album fotonya yang lengkap dari saat masih bayi hingga berusia lima tahun. Dia menarik napas, menganggukkan kepala. "Baik."


"Bagus." Glenda tersenyum tipis, dia mulai merias wajah Natan dan diam-diam mengirim pesan pada orang lain untuk datang.


"Ini melelahkan ..." Brianna bersandar di batang pohon yang menghitam dan kering tanpa daun, terlihat seperti kerangka.


Tempat ini sangat sunyi dalam artian tertentu, tanpa ada cahaya bintang di kegelapan malam. Bulan di langit malam berwarna merah darah, tapi tidak sepenuhnya menerangi karena ada awan yang terus bergerak.


Angin kencang ini mematahkan dahan-dahan pohon kering, membuat suara patah dari waktu ke waktu.


Kabut tebal yang memenuhi sekitar membuat jarak pandang menipis, bahkan meski ada angin kencang yang bertiup, tapi kabut tebal ini tidak ada tanda-tanda akan menghilang.


Dalam kegelapan kabut, kadang-kadang Brianna akan melihat siluet-siluet aneh yang tampaknya mengintai dari balik pohon kering.


Tempat ini sangat mencekam, bayangkan di tempat ini sendirian, kabut tebal dengan bahaya tersembunyi yang tidak tahu apa itu. Semakin lama bertahan, semakin kuat perasaan takut tumbuh di dalam diri, hingga merasa sepertinya tidak mungkin bisa keluar dari situ dengan selamat.


Kekhawatiran akan bahaya yang tidak terlihat dapat meningkatkan perasaan takut, dan menimbulkan sensasi mencekam.


Tapi, itu orang lain, tidak seperti Brianna yang hampir delapan bulan tinggal di tempat ini, dia sudah terbiasa, bahkan masih bisa menyantap makanan maupun tidur nyenyak.


"Aku sudah Level 1.650. Benar kata Ainsley, tempat ini memang banyak monster berlevel tinggi, dan sekarang, sudah saatnya kembali. Aku ingin memeluk Natan, aku senang saat dia tidur di pelukanku, dan yang terpenting, sekarang dia tidak lagi menyembunyikan perasaannya."


Brianna berdiri seraya menepuk-nepuk debu yang menempel di jubahnya.

__ADS_1


Whooooosh!


Tiba-tiba ada benda yang melesat sangat cepat, sampai membelah kabut tebal.


Brianna melirik dengan tatapan yang tajam ke arah serangan.


Booom!


Batu sebesar gunung meledak, hancur menjadi batu berbagai macam ukuran, yang berhamburan ke segala arah. Batu yang jatuh dengan kecepatan tinggi itu menyala karena gesekan antaranya dengan udara di sekitar, dan ketika menghantam tanah, itu menimbulkan lubang besar seperti kawan berbagai ukuran.


Brianna melihat makhluk yang sangat besar, bahkan setengah kakinya masih lebih besar dari gunung yang baru saja dilempar.


Makhluk itu tidak berpakaian, tubuhnya berwarna abu-abu kemerahan, memiliki enam mata berwarna merah menyala, dan giginya terlihat rapat tanpa ada bibir yang melindungi.


"Beraninya kau menggangguku!" Dengan teriakan yang garang, Brianna mengangkat kedua tangannya ke langit, dan tiba-tiba awan hitam di langit terbelah dua, terlihat sebuah meteor besar yang turun dari langit.


Meteor berapi-api itu meluncur dengan tusukan, meninggalkan jejak percikan api di belakangnya.


Raksasa yang tinggi melebihi empat kali Gunung Everest itu mendongak, keenam matanya yang merah itu mengeluarkan darah karena tekanan panas maupun tusukan dari angin kencang.


"Grroooaahh!" Raksasa itu mengangkat kedua tangannya.


Meteor itu meluncur ke tangan raksasa, tapi raksasa tidak menduga hal itu akan terjadi.


Kedua tangannya yang besar itu meledak ketika ditabrak oleh meteor, dan saat mendarat dengan dentuman keras, bumi berguncang di bawah kaki mereka dan awan debu dan puing-puing meledak ke udara. Gelombang kejut yang kuat menyebar ke segala arah, merusak makhluk yang bersembunyi di dalam kegelapan.


Namun Brianna tidak terganggu; dengan mengayunkan tangannya, dia mengirimkan gelombang serangan baru yang membuat batu dan bebatuan beterbangan seperti daun dalam badai. Raksasa itu tersungkur karena terkena serangan, tetapi masih bisa berdiri dan mengaum marah.


Tidak gentar, Brianna menyerang dengan serangan bertubi-tubi, memanggil elemen alam untuk membantunya dalam perjuangannya.


Petir menyambar di sekitar jari-jarinya, angin merobek rambutnya, dan api berkobar di matanya. Setiap serangan yang dilancarkan membuat raksasa itu semakin lemah, tubuhnya menjadi lunglai akibat serangan sihir yang terus-menerus.


Akhirnya, dengan ledakan kekuatan terakhir, Brianna memberikan pukulan telak dan berhasil menghancurkan tubuh sang raksasa menjadi jutaan pecahan dan menjatuhkannya ke tanah dalam kekalahan.


Brianna mendengus dingin, dia berbalik dan melambaikan tangan, menciptakan portal cahaya di depannya. "Sangat mengganggu!"


Setelah dia masuk, portal cahaya itu tertutup, kemudian keheningan kembali datang.


...


***


*Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2