
Emosinya masih belum stabil bahkan meski sudah bersama Calista semalaman. Dia berdiri di belakang pagar balkon, memandang langit berawan.
"Ibu ..." Natan mengatupkan kedua tangannya. "Anna, jika kau adalah ibuku, aku mohon datang sekarang."
Suaranya sangat berat dan dalam, penuh dengan emosi yang tertahan. Giginya bergemelatuk, tubuhnya gemetar seperti kedinginan.
Natan menengadahkan kepalanya sampai melihat kanopi di atasnya, kemudian menundukkan kepalanya seraya menghela napas panjang. "Apakah kau bukan ibuku? Jika bukan, maka beri tahu aku siapa kau sebenarnya. Mengapa kau bisa tahu tanggal ulang tahunku, mengetahui Keluarga Alexander. Bahkan ..."
Natan berhenti, memandang gelang tali dengan ukiran kayu di tangan kirinya. Ini adalah satu-satunya gelang tanpa efek apa pun yang dikenakannya, tapi sangat dihargai dan dijaganya.
"Natan ..." Calista berlari dan memeluk Natan dari belakang, suaranya pelan, terdapat kesedihan di dalamnya. Dia merasa sakit ketika melihat Natan yang murung seperti ini.
Natan mengusap tangan Calista. "Apakah di luar banjir?"
"Iya, seperti lautan. Sudah setengah tembok yang tenggelam," jawab Calista.
Natan mengerutkan keningnya. Dia tidak pernah mengharapkan akan menjadi seperti ini, walaupun memang Kota Chengdu dikelilingi oleh gunung, tapi dia dulu berpikiran jika tidak akan ada badai seperti ini. Dan sekarang, bukan hanya hujan badai, bahkan gunung-gunung mulai naik dan mengelilingi Kota Chengdu lebih padat tanpa celah.
"Kita hanya bisa menggali gunung. Jika dibiarkan seperti ini, air akan melewati tembok dan membanjiri kota."
Natan melepaskan pelukan Calista, kemudian berbalik dan balas memeluknya. "Biarkan aku memelukmu sebentar, saat ini aku sedang dalam suasana hati yang buruk."
Calista menggigit bibirnya, merasakan sakit yang sama.
Perasaan Natan sedikit membaik, apalagi saat menghirup aroma rambut Calista yang menenangkan.
"Saat Kak Vely dan Olivia sedang bekerja, aku mendapatkan pelukanmu, aku merasa bersalah," ucap Calista.
Natan mengabaikannya dan hanya memeluknya. Sampai beberapa menit, dia melepaskan pelukannya.
Dia keluar dari kamar, turun ke lantai bawah untuk bersiap-siap pergi ke tembok kota. Dia ingin melihatnya secara langsung, dan tindakan apa yang harus diambil selain menggali gunung untuk membuka saluran air.
Natan bertemu dengan Vely dan Olivia saat di lantai bawah, mereka berdua sedikit marah karena dia mengunci pintu dan hanya melakukannya bersama Calista. Akhirnya, dia berjanji untuk melakukannya lagi malam ini.
Banyak yang ingin ikut membantu saat Natan mengatakan ingin pergi ke tembok kota, tapi dia menolak semuanya. Sangat sulit untuk mengawasi mereka di saat keadaan seperti ini, lebih mudah pergi sendiri.
Natan berdiri di halaman, menengadahkan kepalanya melihat langit gelap. Air hujan terlihat mengalir turun mengikuti bentuk penghalang, yang akhirnya jatuh ke luar tembok.
"Berangkat." Natan melompat tinggi, dan tiba-tiba ada Kstaria Lebah yang muncul di bawah kakinya.
Ksatria Lebah membawa Natan ke arah timur.
__ADS_1
Menjadi Ketua Guild dan Ketua Aliansi, memiliki banyak keuntungan, bisa melakukan apa pun, termasuk bisa mengusir orang-orang yang berada di bawah naungan. Tapi, meski banyak kekuasaan, tanggung jawab pun sangat banyak: memastikan keamanan, memastikan semua orang yang tinggal terjamin, dan memastikan bahwa tidak ada bencana.
...
Tidak butuh waktu lama untuk sampai, dan ketika sudah tiba di tembok, Natan tercengang meski sudah diberi tahu.
Sejauh mata memandang, hanya ada air bergelombang seperti di lautan. Melihat ini, entah berapa banyak manusia yang tewas.
Natan sendiri yakin, masih banyak manusia yang hidup di luar tembok, tapi mereka tidak mau datang. Dan sekarang, mungkin mereka sudah mati tenggelam, bahkan jika bisa selamat karena air, masih ada monster di dalam air yang mengancam.
Byurr!
Air di depannya meledak, memperlihatkan tentakel besar yang terbuat dari tulang-tulang.
Natan mengendalikannya untuk pergi ke arah gunung di timur, dia juga meminta enam Skeleton Giant Knight untuk menyebar ke arah air untuk membelah gunung.
Dengan datangnya Giant Knight, gelombang pasang menjadi lebih tinggi, apalagi munculnya dengan jatuh dari atas tembok, itu menimbulkan suara keras dan gelombang kejut yang membuat Natan sedikit terhempas.
"Jika awan tidak menghilang dan gunung tidak terbelah ..." Natan menghela napas, tidak mau memikirkannya lebih jauh. Memikirkannya hanya membebani dirinya saja.
Kraken berenang cukup cepat menuju gunung, membelah air yang seperti lautan.
Akan sangat berbahaya apabila suhu di dalam tembok meningkat dan memanggang semua kehidupan di dalamnya.
Kraken berhenti setelah sampai di lereng gunung. Mengangkat semua tentakelnya, tentakel yang diselimuti oleh kabut hitam, kabut itu dapat mengkorosi apa pun, dari logam sampai tanah.
Dengan ayunan tentakel, udara terbelah menimbulkan gelombang kejut yang menyebar ke sekitar. Air di bawahnya tenggelam, menimbulkan gelombang tinggi di bagian kiri dan kanan.
Booom!
Tentakel menghantam lereng gunung, menciptakan ledakan keras dengan bebatuan yang beterbangan ke sekitarnya. Bebatuan itu terlihat menghitam ketika terkena tentakel, pepohonan yang masih hidup langsung layu dan mengering.
Tentakel lain menghantam dan terus menghantam tanpa henti. Gerakan yang terus-menerus mengakibatkan gelombang pasang, air terus naik seperti terkena baling-baling kapal.
"Timur daratan paling rendah, tapi memiliki gunung paling tinggi."
Perlahan, air mulai turun meski dengan kecepatan yang sangat lambat, tapi itu adalah suatu keberhasilan.
Natan menghela napas lega, usahanya membuahkan hasil. "Membelah gunung berhasil meski masih sedikit, aku akan mengendalikan arah lain untuk menembus dasar gunung."
Natan mulai memerintahkan Skeleton Giant Knight untuk menusuk kaki gunung dengan pedang 100 meter. Itu seharusnya dapat menembus gunung dengan mudah, meski gunung sendiri setidaknya memiliki ketebalan tiga kilometer.
__ADS_1
***
—Washington, Amerika—
Cuaca di sini berbanding terbalik dengan China, di sini hangat tanpa adanya awan di langit.
Di suatu tempat di Washington, terdapat daratan tinggi yang terbuat dari sihir tanah. Wilayah itu cukup luas, tapi tidak seluas Armonia Guild, bahkan tidak seperseribu. Itu karena tidak banyak penduduk di sana.
Bangunan besar di tengah-tengah seperti istana, di dalamnya ada seorang pria paruh baya besar. Duduk di kursi seperti singgasana, di kiri dan kanannya adalah wanita muda berdada besar.
Kedua wanita itu sangat ketakutan dan benci. Takut dengan pria ini, dan benci karena pria inilah yang membuat mereka sampai seperti ini, membunuh kekasih mereka, dan mengubah mereka menjadi budak.
Keduanya sudah sering melihat wanita lain yang tidak ingin mengikuti perintah, tapi pada akhirnya dibunuh dengan kejam. Dipukul menggunakan martil besar berbentuk bola berduri.
"Hahahaha!" Pria itu tertawa terbahak-bahak tanpa sebab. Dia menoleh ke kiri-kanan, menatap wanita di kedua sisi. Ia merangkul keduanya, menjilat wajah mereka berdua.
Wanita-wanita itu hanya bisa diam dan menahan aroma busuk dari tubuh pria itu.
Bang!
Tiba-tiba pintu terbuka keras, menganggu kesenangan pria itu.
"Apa?! Apa kau tidak lihat aku sedang sibuk?!"
Seorang pria yang mengenakan pakaian hitam seperti ninja, berlutut dengan satu lutut. "Maafkan saya. Ada yang ingin saya laporkan kepada Ketua Skull Guild, Blackskull. Banyak anggota yang kita kirim untuk mencari perbekalan terbunuh di sana, kami tidak tahu siapa yang membunuhnya, tapi kami menemukan bekas luka seperti pedang di tubuh mereka."
Blackskull mencengkeram erat lengan wanita di sebelah kanannya, membuat wanita itu meringis menahan rasa sakit. "Brengse*!" Ia berdiri dan melempar kedua wanita di sisinya.
"Siapa yang berani mencari masalah dengan Skull Guild?! Kirim lebih banyak anggota — Tidak! Aku akan pergi sendiri dan mencarinya, jika aku menemukannya, aku akan memberi tahu apa itu siksaan!"
Yang memberikan laporan, gemetar ketakutan dengan keringat yang mengalir di balik pakaiannya. Dia benar-benar ketakutan, bahkan meski Blackskull memiliki level yang rendah, tapi salah satu kemampuannya sangat meresahkan.
Memperbudak dan Kutukan.
Karena itu, dia sangat ketakutan.
...
***
*Bersambung...
__ADS_1