
Minggu, 20 Juli 2025
Hari sebelumnya Natan sudah melatih Olivia dengan seni beladiri, sekarang ia berniat untuk melatih Calista. Yang kemudian melatih Erina nantinya, agar ilmu pedangnya tidak hanya menusuk maupun menebas asal-asalan.
Pelatihan kali ini tidak dilakukan di bangunan, melainkan di alam liar karena mereka mengambil jalan hutan. Mengapa demikian, karena ingin merasakan suasana baru dan udara segar yang tidak terkontaminasi oleh bakteri dari mayat-mayat monster atau manusia.
"Calista. Kau tahu, aku belajar ilmu satu pedang, dan itupun hanya dasar-dasarnya."
Calista menganggukkan kepalanya. "Tidak masalah. Aku merasa teknik dasar juga sangat penting, bagaimanapun aku hanya melihat gerakan dari film tanpa tahu dasar-dasarnya."
"Baiklah." Natan mengangguk kecil dengan senyum ringan terukir di wajahnya. Kemudian ia mengangkat tangan kanannya memperlihatkan dua jari. "Kendo, memiliki dua arti yang berbeda. Kendo adalah suatu jalan atau proses disiplin diri yang membentuk suatu pribadi samurai yang pemberani dan loyal ..."
Natan menurunkan tangan kanannya dan memasukkannya ke dalam saku celana. "Namun, ada istilah lain yang mengatakan bahwa Kendo adalah ilmu yang membunuh dengan pedang."
"Kendo memiliki empat serangan dasar. Ada juga beberapa teknik lainnya, teknik melangkah, teknik dasar, lanjutan, dan latihan berulang."
Natan mulai mempraktikkan teknik tebasan yang menyerang dahi, dagu. Serta langkah kaku lurus ataupun menyamping dengan sudut 45°, setiap langkahnya juga diambil dengan cara menyeret.
Teknik serangan yang menyerang pergelangan tangan untuk melepaskan pedang lawan, teknik serangan saat melompat, dua serangan saat melompat, empat serangan saat melompat, menebas kepala dari pelipis kanan dan kiri secara bergantian dalam waktu singkat, teknik melangkah mundur, teknik menebas dari punggung ke depan, dan lain sebagainya.
Calista mengamati dengan saksama gerakan yang dicontohkan Natan dan penjelasan yang diberikan. Menurutnya di dunia yang sekarang tidak terlalu berguna, karena kebanyakan akan langsung menyerang ke arah kepala dan berharap satu serangan sudah cukup.
Tapi, Calista tetap mengamatinya.
Setelah memberikan contoh gerakan untuk beberapa kali, Natan memberikan pedang kayu pada Calista yang sangat berat, mungkin beratnya berkisar antara 20 sampai 30 kilogram. "Gunakan pedang berat ini, coba ayunkan pedang sebanyak seribu kali setiap harinya ..."
"Lakukan juga serangan vertikal, horizontal, menyilang. Dari atas ke bawah atau sebaliknya, dari kanan ke kiri atau sebaliknya, dari kanan atas ke kiri bawah atau sebaliknya, dari kiri atas ke kanan bawah atau sebaliknya."
"Mengapa? Ini untuk membiasakan dirimu dengan pedang, dan mudah untuk melepaskan serangan." Natan tersenyum ringan dan mengusap puncak kepala Calista.
Kemudian Natan berdiri di belakang Calista dan membantunya memegang pedang. Jika dilihat, Natan seperti sedang memeluk Calista dari belakang.
Calista tersenyum canggung namun wajahnya memerah. "Na- Natan, a- ada benda ke- keras yang menyentuh pinggangku." Suaranya sangat pelan seperti berbisik.
Natan menyelipkan kepalanya di pundak kanan Calista, kemudian berucap pelan, "Mau bagaimanapun aku adalah seorang laki-laki. Terlebih kau hanya memakai pakaian dalam, dan belahanmu terlihat jelas seperti lembah dalam."
Calista menundukkan kepalanya, kemudian memukul dada kanan Natan dengan sikunya, lalu ia berlari ke arah sungai seraya menutupi wajahnya dengan kedua tangan dan melompat.
Natan memilih duduk bersandar di pohon rindang untuk menangkan dirinya, sebelum akhirnya bergabung dengan yang lain di dalam sungai. Sungai di sini sendiri berdekatan dengan air terjun, dan tidak ada tanda-tanda monster dalam radius 1500 meter.
__ADS_1
"Itu benar-benar sangat besar. C? D? Entahlah." Natan berdiri setelah cukup tenang dan melangkah perlahan memasuki sungai jernih.
Calista yang sudah masuk dari tadi itu hanya diam dan menyembunyikan setengah wajahnya di dalam air. Itu tadi sangat memalukan, terlebih lagi tentang senjata yang menekan pinggangnya.
Ayumi dan Erina berenang mendekati Natan yang baru masuk, dengan ekspresi wajah nampak menghina atau menggoda.
"Ayu melihatnya. Kakak dengan Kak Calista." Ayumi tertawa kecil dengan menutupi bibirnya dengan tangan kanan.
"Diamlah." Natan mencubit kedua pipi Ayumi. Kedua Adiknya ini benar-benar sangat menyebalkan, tapi juga menggemaskan secara bersamaan.
Erina menertawakan Ayumi, namun detik berikutnya ia juga terkena cubitan dari Natan.
Pipi keduanya sedikit memerah, meski tidak mengalami luka atau lecet. Keduanya juga tidak merasa sakit, melainkan tertawa bahagia, karena mereka tahu tindakan ini adalah ekspresi dari kasih sayang Kakak mereka.
Ayumi dan Erina menarik pergelangan tangan Natan, agar tidak berdiam diri di pinggir sungai. "Kakak, jangan di situ saja."
Natan tetap diam tanpa menggerakkan tubuhnya meski sudah ditarik sekuat tenaga oleh keduanya. Ia sendiri sudah lebih dari cukup berada di tepi sungai dengan posisi duduk.
"Cepatlah, jika kalian sudah cukup bermain air, kita akan melanjutkan perjalanan. Aku menargetkan dalam satu minggu kita harus sampai di Tiongkok. Aku juga ingin menambah anggota baru dan semoga saja kita bisa mendapatkannya."
Mendengar itu, Ayumi dan Erina melepaskan genggaman mereka, kemudian kembali bermain air.
Calista yang melihat Natan masuk ke dalam Mammoth Castle itu akhirnya juga keluar dari air dan mengeringkan tubuhnya.
***
Minggu, 20 Juli 2025. Pukul 23.45 (GMT+7)
Yang lain sudah mulai beristirahat dan sampai saat ini mereka masih berada di dalam hutan, perjalanan juga menaiki bukit ataupun menuruni tebing tinggi. Walaupun jalannya sangat tidak bersahabat, Mammoth Tank bisa melangkah dengan baik karena bantuan Skeleton Ice Mage dan Earth Mage.
"Hem? Bentar." Natan yang tertidur pulas itu terbangun karena ada gangguan di balik pintu kamarnya yang ada suara ketukan.
Natan beranjak turun dari tempat tidur, kemudian berjalan menuju pintu dan membukanya. Bisa dilihat ada Calista yang memakai kaus biru tanpa lengan, memperlihatkan pusar dan celana kain pendek di atas lutut yang ketat berwarna hitam.
Calista juga membawa bantal di pelukannya, serta boneka beruang kecil berwarna cokelat.
Natan mengerutkan keningnya tidak mengetahui apa yang diinginkan Calista. "Ada apa?"
Dengan kepala tertunduk dan memeluk erat bantal putih. Ia membuka mulutnya dan berucap, "Bi- Bisakah aku tidur bersamamu?"
__ADS_1
Mata Natan terbuka lebar saat mendengar perkataan Calista, dan ingin menolaknya saat itu juga, namun saat melihat mata Calista yang berkaca-kaca seperti hendak menangis, Natan mempersilakannya untuk masuk.
Natan kembali menutup dan mengunci pintu saat Calista sudah masuk, kemudian berbalik menatap Calista. "Apakah ada masalah?"
"Aku merindukan orangtuaku." Calista masih saja tertunduk. "Aku ingin tidur dengan Olivia, tapi pintu kamarnya terkunci dan tidak ada jawaban sama sekali."
Natan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, tidak tahu harus berbuat apa. Apakah ia harus tidur bersama dengan Calista hanya karena Calista merindukan orangtuanya? Tentu saja ia tidak ingin hal itu terjadi.
Natan mengambil selimut lain dari Inventory Guild, dan membeberkannya di lantai. "Kau bisa tidur di kasur, aku akan tidur di lantai."
Gerakan Natan dihentikan oleh Calista yang memegang pergelangan tangannya.
"Ki- Kita bisa tidur bersama."
Natan terdiam dan mendongak melihat wajah Calista yang masih tertunduk malu. Keduanya terdiam tanpa suara untuk waktu yang lama, hingga akhirnya Natan berdiri dan duduk di kasur yang sama.
Natan tidur di tepi tempat tidur, dengan Calista di dekat dinding dan ia membelakanginya. Tidak mungkin ia melihat Calista langsung, apalagi dengan pakaian yang dikenakan.
Calista tersipu malu melihat punggung Natan, dan mendekatkan tubuhnya agar bisa merasakan hangatnya tubuh Natan. Setelah duduk bersama di malam hari saat berada di Dungeon Vampire Castle, ia selalu terpikirkan oleh Natan. Apalagi saat berlatih tadi siang.
"Natan ..."
Natan mengembuskan napas panjang, kemudian berkata, "Calista. Meskipun aku tidak pernah memiliki pacar dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Tapi aku tetaplah laki-laki, instingku bisa bertindak, terlebih lagi di dunia ini sudah tidak ada lagi yang namanya hukum." Ia berbalik menatap dalam wajah Calista.
Calista tertegun, kemudian membalikkan posisi tidurnya untuk menghadap ke dinding kayu.
Walaupun sekilas, Natan bisa melihat gunung kembar Calista yang terlihat dan ada dua tombol yang mencuat. Insting prianya terbangun, dan ia memberanikan diri untuk memeluk Calista dari belakang.
"Tutup matamu dan ayo tidur," bisik Natan di telinga Calista.
Meski mendengar suara Natan dan sedikit mengantuk, Calista tidak bisa tidur karena ada yang menekan pinggangnya. "Na- Natan ..."
Natan hanya diam tanpa menjawabnya dan mencoba untuk tenang kembali agar bisa tidur.
...
***
*Bersambung...
__ADS_1