
Dia menghindari serangan lidah yang bergerak dengan bebas seperti ular, melesat menembus udara dan menghancurkan pohon-pohon.
"Terlalu merepotkan bertarung di rawa-rawa seperti ini." Natan memutuskan untuk mundur terlebih dahulu dengan menginjak Mammoth Tank yang berbaris di belakangnya.
"Tidak perlu menyerang secara konvensional. Aku memiliki keuntungan, mengapa harus menahan diri?"
Dia tahu apa keuntungannya, tapi terkadang dia tidak menggunakannya. Assassin, dia bisa membunuh dalam kegelapan; Marksman, dia bisa membunuh dari jarak jauh; Necromancer, dia bisa mengerahkan pasukannya untuk menyerang sendiri dan dia memilih bersantai. Tapi dia malah melakukannya sendiri, bertarung dengan tangan kosong maupun pedang di siang hari.
Setelah berlatih bersama Brianna, dia tidak lagi mengandalkan tangan kosong saat membunuh. Bagaimanapun, dia sudah memiliki lawan yang mampu mempertahankan kemampuan bertarung jarak dekatnya, jadi dia bisa menggunakan kemampuan lain saat membunuh monster.
Natan terus melompat mundur sampai berdiri di puncak pohon. Dia merentangkan kedua tangannya saat melihat ke bawah, memandang monster dengan tatapan merendahkan. "Skeleton Squad! Bangkit!"
Booom!
Skeleton Squad dengan jumlah 1.260 datang di rawa, mengakibatkan terjadinya ledakan keras yang mengguncang rawa, merobohkan pepohonan dan menguapkan air rawa sampai mengering.
Natan berdiri di atas Groot dan mengendalikan semua skeleton yang mengamuk.
Tombak api melesat ke segala arah, membakar semua pohon yang ada. Batu besar naik dari kedalaman tanah, kemudian jatuh seperti meteor setelah terbakar di udara. Serpihan es turun seperti hujan, membekukan semua monster sebelum hancur berkeping-keping.
Hanya dalam hitungan detik, Natan sudah membunuh ribuan monster.
Natan tersenyum tipis melihat kehancuran yang dibuatnya. "Meski tidak terasa benturan di tangan seperti bertarung dengan tangan kosong, tapi membunuh dengan cara ini membawa kesenangan tersendiri."
Dia terus masuk ke dalam dan membunuh monster-monster lain. Ini membosankan membunuh dengan cara ini, tapi dia menikmatinya melihat kehancuran ini.
Tidak perlu bersusah-susah saat membunuh monster, tidak perlu membuang banyak tenaga, tapi hasil yang didapatnya ribuan kali lipat. Lebih menghemat waktu, dan dia bisa bersantai.
...***...
—Keesokan Harinya—
Kelompok mereka memutuskan untuk kembali ke Longquan Mountain setelah berpetualang di luar untuk beberapa waktu. Sudah waktunya untuk mengembangkan zona aman lebih luas lagi, setidaknya sampai menguasai seluruh Provinsi Sichuan.
Kembalinya mereka tidak menggunakan Elang Langit atau Teleportasi, melainkan Giant Castle. Namun tidak diangkut menggunakan Giant Knight, tapi Ksatria Lebah dan Fire Dragon.
Cara ini sangat berbahaya apabila mengalami kecelakaan, tapi Brianna sendiri yang memintanya karena ingin merasakan terbang menggunakan Giant Castle.
Natan tidak bisa menolaknya, lagi pula dia memang ingin beristirahat dalam perjalanan. Seperti saat ini, dia sedang memancing di danau buatan, atau lebih tepatnya disebut sebagai kolam ikan.
__ADS_1
"Dapat!" Ayumi menarik kail pancing, dan mendapatkan ikan sebesar lengan orang dewasa.
Natan melihat ember di samping Ayumi; dipenuhi dengan ikan segar, dan melihat ember di sampingnya yang masih sepi, bahkan tidak ada seekor ikan kecil pun di sana.
"Sial! DEX dan LUK milikku tinggi, mengapa tidak bisa menangkap seekor pun?"
"Ck, ck, ck!" Brianna menggelengkan kepalanya. "Ini murni kemampuan dan keberuntungan, tidak ada hubungannya dengan atribut semacam itu."
Natan melihat ember di samping Brianna, dan melihat bahwa ember itu juga masih kosong. "Tapi, ember Ibu ..."
"Kau tidak melihat apa-apa!" Brianna menyela Natan dan tidak membiarkannya menyelesaikan perkataannya.
Natan terdiam dan kembali fokus memancing.
Byurr!
Natan melihat ikan sebesar motor melompat dari dalam danau, bersamaan dengan Brianna yang berdiri dan menarik pancingnya.
"Ibu dapat!" Brianna mendengus dingin dan menepuk dadanya, menyombongkan pencapaiannya yang berhasil menangkap ikan terbesar di danau.
Natan mengabaikannya dan menoleh ke kanan menatap Erina. "Kau tidak memancing? Biasanya kau akan bersama Ayumi mancing bersama."
Erina menggelengkan kepalanya. Dia mendongak menatap Natan dengan menarik salah satu sudut bibirnya membentuk senyum aneh.
"Jika Erina ikut memancing, harga diri Kak Natan akan lebih hancur."
Natan merasakan sakit di hati ketika mendengarnya. Dia melingkarkan tangan kanannya di leher Erina seraya menggosok tinjunya di kepala Erina. "Bisa-bisanya kau berbicara seperti itu pada kakakmu?"
Erina mendorong tangan Natan dan melepaskan diri dari pelukannya. Dia mengusap kepalanya dengan kedua tangan. "Kakak, itu sakit?"
"Lebih sakit mana dari ..." Natan berhenti dan menelan kembali kata-katanya. Dia hampir berbicara “Lebih sakit mana dari bekerja menjadi porter di Guild Elang Hitam?"
Jika dia benar-benar mengatakan hal semacam itu, pastinya Erina akan teringat kembali tentang orangtuanya yang mengorbankan diri untuk dimakan monster agar Erina bisa kabur. Erina juga akan teringat semua penderitaan yang dialami seperti mengais sampah, bekerja keras sampai hampir mati hanya untuk sepotong roti.
Natan menarik Erina, merangkulnya dan mengusap kepalanya dengan lembut. "Apakah di sini yang sakit?"
Erina tidak tahu mengapa Natan tiba-tiba seperti ini, tapi dia tidak menolaknya dan memejamkan matanya. Sudah lama semenjak terakhir kali diusap seperti ini. Saat masih berpetualang tiga orang, setiap malam dia akan tidur di pangkuan Natan atau bersandar, itu membuatnya merasa tenang dan melupakan segala masalah.
Natan menoleh ke kiri menatap Brianna. "Ibu, mengapa hewan peliharaan tidak menjatuhkan item? Bahkan exp tidak didapat, dan mayatnya tidak menghilang."
__ADS_1
Brianna menatap Natan dengan tatapan mata ikan seperti melihat orang bodoh.
"Ibu ..." Natan mengeluh.
"Bagaimana putra Ibu tidak tahu hal sederhana semacam itu? Hewan peliharaan, untuk apa memeliharanya? Untuk daging, jika mayatnya menghilang, apa yang dimakan? Menjatuhkan item dan itemnya daging? Hasilnya akan lebih sedikit. Exp? Jika memelihara hewan bisa mendapatkan exp, tidak ada yang membunuh monster, semua orang lebih memilih beternak."
Natan terdiam dan merasa seperti orang bodoh. Tidak, tidak, tidak! Aku tidak bodoh, aku berpura-pura tidak tahu karena ingin perhatian Ibu. Ya! itu dia!
Erina melihat wajah Natan, lalu dia mengambil joran pancing. Tepat saat menyentuhnya selama beberapa detik, pancing itu bergetar. Dia menariknya segera dan mengangkatnya, terlihat ikan sebesar lengan orang dewasa yang terangkat karena menggigit kailnya.
"Erina dapat!"
Natan terdiam, matanya berkedut-kedut. Dia merasa hidupnya sangat rendah, dia melihat Brianna, ibunya yang dari tadi sama seperti dirinya, sekarang sudah berhasil menangkap ikan keempat. Ayumi, lebih dari dua lusin.
"Ibu, hari ini Ibu belum menemaniku berlatih. Ayo kita latihan sekarang." Hanya ini yang bisa dilakukannya agar Natan tidak melihat ibunya terus menerus mendapatkan ikan.
Brianna secara alami tahu apa yang dipikirkan Natan saat dia melihat ember kosong. "Hari ini libur, Ibu masih ingin memancing. Kita butuh ratusan ikan, Ibu ingin memasak banyak hidangan hari ini."
Natan terdiam, dia menghela napas. Dia menyerah, dia berdiri dan menghampiri istri-istrinya yang sedang duduk di bawah pohon berlapiskan tikar.
"Memancing sangat melelahkan." Natan melemparkan dirinya di antara mereka bertiga dan menutup matanya.
Calista mengambil bantal, meletakkannya di bawah kepala Natan.
"Di masa depan, apakah kita akan berjalan-jalan seperti ini?" tanya Calista. Dia mengusap kepala Natan, memainkan rambutnya dan memperlihatkan keningnya.
Natan membuka matanya. "Mungkin, tergantung situasi. Jika memungkinkan, aku hanya ingin di rumah."
Vely mengangguk, memahaminya. Jika anak mereka lahir, memang lebih baik tetap di rumah dan menghindari bahaya sebanyak mungkin. "Aku setuju, tapi, sangat sulit untuk mencapainya. Jika tetap diam, monster level tinggi akan datang dan kita yang lemah tidak mampu melawannya."
Natan tahu hal itu, dia sangat memahaminya. Bahkan meski dia sangat ingin di rumah dan bisa membunuh monster dengan Skeleton Squad, tapi ada batasan berapa banyak monster yang akan menyerang Armonia Guild. Jika monster terus dibunuh, pastinya Armonia Guild akan kehabisan monster dan hanya menyisakan Dungeon.
Dungeon di Armonia Guild tidak cocok untuk meningkatkan kekuatan.
"Kita lihat nanti, untuk sekarang fokus di Provinsi Sichuan. Kemudian kita bisa memperluas wilayah Armonia Guild sampai seluruh China."
Ketiganya mengangguk, meski mereka tahu bahwa ini sangat sulit untuk dicapai, tapi mereka yakin bisa melakukannya.
...
__ADS_1
***
*Bersambung...