
"Akhirnya kita akan kembali bertarung melawan monster." Calista datang menghampiri Natan yang berada di balkon, kemudian menggandeng lengan kiri Natan.
Natan menoleh ke kiri, kemudian ia mengecup pelipis Calista. "Apakah kau takut?"
Calista menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku tidak takut asalkan selalu bersamamu." Ia mendongak ke kanan menatap Natan.
Vely dan Olivia yang mendengarnya tertawa terbahak-bahak, mengulangi kata-kata yang diucapkan Calista seraya berakting seperti mual.
Calista melepaskan tangannya dari lengan Natan, kemudian berlari memasuki ruangan untuk mengejar mereka berdua yang menggodanya. "Kemari kalian!"
Natan menoleh ke belakang melihat semuanya yang tertawa bahagia, ada perasaan hangat dan senang saat ia melihatnya. Artinya, apa yang ia lakukan selama ini tidaklah sia-sia. Kemudian ia kembali mengamati ke depan, dan tiba-tiba ada yang memeluknya dari samping yang merupakan Olivia.
"Di luar dingin dan licin, jangan berlarian di balkon." Natan membelai rambut Olivia yang berada di sebelah kanannya, kemudian ia memberikan kecupan yang sama.
Vely dan Calista juga datang meminta kecupan hangat yang sama, kemudian kembali masuk setelah mendapatkan kecupan.
Natan mengembuskan napas panjang dan berpegangan pada pagar pembatas balkon, memandangi monster-monster yang cukup jauh dari kaki gunung. "Bagaimana orang-orang sangat senang memiliki banyak istri? Ini sangat merepotkan karena harus menjaga suasana hati mereka agar tetap baik."
"Aku akan memperlambat kecepatan turunnya, aku ingin menenangkan diri sejenak." Natan memasuki ruangan dan pada saat itu juga kecepatan turun Mammoth Castle mulai melambat.
Ruang depan maupun belakang sudah diberikan sofa-sofa empuk yang hangat, ada juga kasur luas untuk beristirahat yang bisa ditiduri banyak orang karena ukurannya yang 3 × 3 meter.
Natan melompat ke atas kasur yang bersebelahan dengan kamarnya. "Kita akan sampai dalam satu jam. Bangunkan aku jika sudah sampai di kaki gunung."
Ayumi menoleh ke kiri melihat Natan yang mencoba untuk tidur, kemudian ia kembali fokus pada layar game di depannya. "Baik."
Walaupun Natan ingin tidur, tapi ia memutuskan untuk menggunakan Attribute Card dan memilih Dragon Earrings yang ingin ditambahkan atributnya.
[Dragon Earrings] [+38 INT, +38 Luck, +38% INT]
[Menambahkan 3800 Mp/m]
[10 ... 09 ... 08 ... 07 ... 06 ... 05 ... 04 ... 03 ... 02 ... 01 ... 0]
[Berhasil Menambahkan 3800 Mp/m pada Dragon Earrings]
Natan tersenyum cerah saat regenerasi Mana dalam satu menitnya bertambah banyak dan Skeleton yang bisa ia bangkitkan juga bertambah. Ia bisa mempertahankan 224 Skeleton, membuat kekuatan Guild Armonia meningkat pesat.
Kemudian setelah sudah, Natan memilih untuk tidur, meski hanya sebatas satu jam, ia harus menikmatinya, hitung-hitung sebagai balasan karena dulu ia tidak pernah menikmati yang namanya tidur.
Namun baru saja memejamkan matanya, ia sudah di ganggu oleh Calista yang membelai kepala bagian kirinya.
Natan menekan kedua tangannya di kasur untuk sedikit berdiri, kemudian meletakkan kepalanya di pangkuan Calista. "Hangat."
Calista hanya diam dan tersenyum lembut menatap Natan. "Tidurlah, biarkan kami yang berjaga-jaga."
__ADS_1
"Baiklah, aku akan beristirahat. Tapi jika terlalu banyak monster dan tidak bisa diselesaikan, bangunkan aku."
"Tentu." Calista membelai rambut Natan.
Cukup lama Natan tertidur, mungkin sekitar tiga jam dan saat ia bangun, ia sudah berada di dalam kamarnya dan tidak ada siapa pun kecuali dirinya.
Natan beranjak dan duduk di tepi tempat tidur. "Apakah aku?" Ia melihat celananya dan menyentuhnya. "Sepertinya tidak, aku tidak melakukannya saat tidur."
Natan berdiri dari tempat tidur, berjalan menuju pintu keluar dan membukanya. Ia bisa mendengar keributan dan ledakan yang saling bersahutan. Dengan segera, ia berlari menuju balkon depan, ia juga melihat Jia Meiya yang sedang memeluk Xia Feiya.
Natan merentangkan tangan kanannya dan di sana sudah ada Sako TRG Mana yang ia genggam. "Bagaimana keadaannya?"
"Kami bisa mengatasinya." Calista menjawabnya tanpa menoleh sama sekali, dan terus menembakkan Pistol Mana.
Natan bisa melihat Mammoth, Rusa Es, Imp, Kobold, Ogre, Orc, Goblin, Cyclops, Yeti yang bekerja sama.
"Mengapa kalian tidak membangunkan ku?" Natan sedikit marah karena tidak ada yang membangunkannya, meski banyak monster di depan.
"Maaf..."
Natan terdiam dan mengembuskan napas saat mendengar suara Ayumi yang nampak bersalah. Kemudian ia memerintahkan semua Skeleton Mage untuk naik ke atas atap dan melepaskan semua serangan.
"Ayumi, jangan gunakan serangan yang terlalu mencolok. Kita masih jauh dari kamp monster, aku tidak ingin menarik perhatian mereka lebih banyak lagi, karena sebentar lagi malam."
Natan masih tidak berkeinginan untuk melawan monster di malam hari. Jika saja malam dengan cuaca biasa, mungkin ia masih ingin melawan, namun dengan badai salju seperti ini, terlalu berbahaya.
"Baik." Ayumi tidak lagi melepaskan serangan tornado api, melainkan panah api maupun bola api yang tidak terlalu mencolok.
Untungnya lebih monster di sini tidak lebih dari 350, sehingga satu serangan saja sudah cukup untuk membunuh mereka semua.
Natan juga tidak tinggal diam, tidak ingin bergantung pada Ayumi dan Vely yang terus menyerang. Ia melepaskan Peluru Mana terus-menerus dan menyisakan Mana setidaknya 10.000 Point untuk mempertahankan semua Skeleton.
"Sharp Eyes." Natan membantu yang lain agar bisa melihat tempat yang harus di serang, di gelapnya badai salju ini.
"Increase Shot. Bullet Rain."
Natan membiarkan Peluru Mana yang jatuh dari langit tanpa meledakkan peluru itu, agar tidak menimbulkan suara gaduh yang mungkin saja bisa menarik perhatian monster-monster lain.
"Presence of Mind."
"Caster Enhanchment."
"Light of Battlefield."
Tubuh Natan gemetar saat mendengar skill yang merusak harga dirinya, dan ia menghentikan tindakannya, tidak lagi menembak monster di depan, melainkan memilih duduk di sofa.
__ADS_1
Lagi pula, dengan adanya 68 Skeleton Magic Archer, yang masing-masing dari mereka mampu melepaskan 110 Arrow Rain, kemenangan sudah dipastikan.
Erina yang melepaskan Light Stab itu menoleh ke kanan belakang, melihat Natan yang tidak lagi semangat. "Kakak kenapa?" Kekhawatiran terlihat di wajahnya dan berlari kecil menghampiri Natan.
Natan tersenyum tipis menatap Erina yang sedikit berlutut di depannya. "Tidak ada, aku hanya sedikit kelaparan."
Erina mengangguk tegas, kemudian membuka pintu kaca dan menatap Jia Meiya. "Bibi, bisa buatkan makanan untuk kami semua? Bibi bisa ambil bahan-bahannya di kulkas, bumbunya di lemari di atas kompor."
Jia Meiya menoleh ke kiri seraya masih memeluk Xia Feiya. "Baik." Ia berdiri dan berlari ke belakang.
Xia Feiya berjalan menghampiri Erina. "Kakak, apakah kita akan selamat?" tanyanya pelan dengan air mata yang mulai terbendung.
"Tenang saja, kami sudah sering berada dalam situasi seperti ini, dan kami selalu menang." Erina mendengkus semangat seraya menepuk-nepuk dada datarnya.
Natan duduk bersandar di sofa seraya memandangi Mapping, melihat satu per satu monster yang mulai berkurang. Ia merasa tidak sedang berburu monster, melainkan membersihkan hama. Bepergian ini juga tidak terasa seperti mencari wilayah, melainkan berlibur.
"Berhenti."
Ketika mendengar itu, semuanya berhenti menyerang termasuk Skeleton Magic Archer yang berada di atas atap.
Hanya tersisa dua monster Yeti Lv.320 yang sekarat tidak bisa bergerak sama sekali, monster ini akan ia gunakan untuk meningkatkan level Jia Meiya dan Xia Feiya.
Natan menoleh ke kiri melihat Erina yang menutup pintu kaca. "Erina, bisa kau panggil Jia Meiya dan Xia Meiya untuk kemari? Makanannya bisa kita tunda, kita bisa membakar rusa utuh di atap."
"Biar Fei'er saja." Xia Feiya berlari ke belakang untuk memanggil Ibunya.
Tidak lama kemudian, kedua sudah kembali dengan tergesa-gesa menuju balkon.
"Ada apa, Tuan?—"
Natan mengangkat tangan kirinya. "Sudah kubilang berapa kali, jangan panggil aku 'Tuan'. Panggil saja Natan." Ia berdiri dari sofa dan menunjuk ke arah Yeti yang tergeletak di depan. "Kalian berdua bunuh monster itu, hanya perlu menusukkan pisau ke bagian dada yang sudah ditandai."
Keduanya gemetar ketakutan saat melihat monster yang pernah mengejar mereka berdua, dan sekarang harus membunuhnya? Tidak mungkin!
"Hanya dengan melakukan itu kalian bisa selamat. Di dunia yang sekarang, membunuh monster dapat meningkatkan kekuatan dan daya tahan, mendapatkan uang serta makanan."
Keduanya masih sangat takut, hingga Ayumi dan Erina menarik tangan mereka, serta meyakinkan bahwa semuanya tidak apa-apa, barulah mereka mau turun ke bawah untuk membunuh.
Keduanya memegang pisau yang memang digunakan untuk membunuh monster dengan tangan bergetar, entah itu karena dingin atau rasa takut.
Proses membunuh monster untuk kali pertama tidak jauh berbeda seperti Ayumi, Erina dan Vely, yang setelah membunuh monster kemudian tertunduk lemah tak bertenaga dan menangis.
...
***
__ADS_1
*Bersambung...