
Natan sudah dibawa berkeliling, dan tahu kalau tempat ini adalah Kota Surga melalui perspektif orang kuat dan kayu, tapi Kota Neraka bagi yang lemah tak berdaya.
Walaupun dia merasa kasihan pada semua orang ini, tapi dia tidak bisa begitu saja mengambil mereka semua dan membawanya ke Armonia Guild. Armonia Guild bukan sepenuhnya miliknya lagi, dia harus meminta pendapat pada istri-istrinya, serta adik-adiknya tercinta.
Sekarang, Natan sudah berada di hotel yang mewah, yang biaya per malam menghabiskan 1.000.000 Gold. Dikatakan pelayanan di sini sangat luar biasa, dan sangat cepat membuat pelanggan cepat kehabisan uang.
Natan merebahkan tubuhnya di atas kasur yang empuk, melipat kedua tangannya di belakang kepala. Dia melihat langit-langit ruangan yang indah.
Tok, tok, tok...
Terdengar suara ketukan pintu, dan melihat gagang pintu, terlihat orang di balik pintu ingin masuk secara langsung. Natan terkejut, dia lupa menutup pintu, segera dia mengambil kain dan menutupi wajahnya.
Natan turun dari tempat tidur, berjalan menuju pintu keluar. Dia melihat seorang pria paruh baya yang memakai kacamata abad pertengahan, menyilangkan tangan kanannya di depan dada.
"Maaf mengganggu, kami memberi kejutan pada Tamu yang terhormat, kami memberikan Anda pelayanan yang luar biasa." Pria itu mendongak, lalu bertepuk tangan.
Terdengar langkah kaki, kemudian terlihat satu per satu wanita yang memasuki kamar dengan pakaian yang minim: entah hanya ada yang memakai pakaian pantai, baju transparan, dan lain sebagainya.
Pria itu tersenyum menatap Natan. "Semua wanita di sini sudah dilatih, dan mereka masih tersegel. Anda bisa puas." Setelah mengatakan itu, tanpa menunggu respon dari Natan, dia berbalik, menutup pintu dan menguncinya, bahkan terdengar ada suara rantau dari luar.
Natan tertegun, dia menoleh, menatap sepuluh wanita yang berbaris. Harus diakui, fisik mereka luar biasa, kulit putih yang halus, kaki kecil yang panjang, pinggang yang ramping dan perut rata, tapi dada besar yang menonjol.
Tapi, meski mereka terlihat profesional, masih ada ketakutan yang tidak bisa mereka sembunyikan.
Mereka pernah melihat rekan mereka sendiri, yang ditangkap pada hari yang sama, harus melayani pelanggan yang datang. Tapi saat pagi hari, ditemukan kalau wanita itu sudah kehilangan nyawa. Ditemukan kalau tulang belakangnya patah, tubuhnya dipenuhi oleh tusukan pisau, dan bekas cekikan di lehernya.
Walaupun para wanita di sini tahu harus melayani apa pun yang diinginkan oleh pelanggan, dan tahu hasil akhirnya adalah kematian, tapi tetap saja mereka tidak bisa tenang meski sudah siap.
Natan tahu apa yang dipikirkan oleh orang-orang ini melalui ekspresi yang ditampilkan. Bagaimanapun dia sudah mendapatkan informasi yang sesuai, budak di sini bukan hanya melayani, tapi juga bisa digunakan sebagai pelampiasan, jadi pihak hotel tidak akan meminta pertanggungjawaban meski membunuhnya.
Natan menghela napas, dia duduk di tepi tempat tidur. "Kalian bisa kembali, aku tidak butuh pelayanan hotel."
Bruk...
Salah seorang wanita bersujud di lantai.
"To- Tolong biarkan kami di sini dan melayani Anda. Ji- Jika kami keluar sekarang, kami akan dirantai dan dicambuk ..."
Natan terdiam, dia melihat semua wanita yang masih berdiri, mereka memperlihatkan ekspresi ketakutan yang sama. Dia merenung, lalu mengangguk. "Baiklah, tapi jangan bertindak macam-macam, aku sudah memiliki istri."
Kesepuluh wanita itu terdiam, saling memandang satu sama lain dengan heran. Bukan heran karena Natan sudah memiliki istri, itu sudah wajar tamu yang memiliki istri tapi datang ke sini, tapi mereka heran karena Natan tidak melakukan apa-apa.
Natan tidak peduli dengan apa yang mereka pikirkan, dia mengirim pesan ke Calista, menceritakan semua tentang Kota Surga dan meminta pendapat apakah harus membunuh semua pengurus di sini. Bahkan jika tidak menyelamatkan budak di sini, setidaknya dia bisa mendapatkan Exp gratis.
__ADS_1
[Jika aku di sana, mungkin aku akan menghancurkan kota itu.]
Natan melihat balasan dari Calista.
[Lalu masalah wanita yang ke kamarmu, jika Natan ingin melakukan hal semacam itu, saat pulang nanti, kami akan memotong milikmu. Tapi jika melakukannya dengan Liu Xinmei, kami tidak memiliki masalah.]
Tanpa sadar Natan menyilangkan kedua kakinya. Dia membalasnya, "Liu Xinmei, Liu Xinmei, Liu Xinmei. Jika kalian terus bilang seperti itu, saat pulang nanti, aku benar-benar akan melakukannya dengan dia selama berhari-hari!"
Natan berharap setelah ini, Calista tidak terus memaksanya, tapi yang tidak diharapkannya adalah...
[Tentu, kami ingin melihat kalian berdua melakukannya. Ngomong-ngomong, karena Natan sudah setuju, aku akan memberi tahu Liu Xinmei untuk bersiap-siap.]
Natan tertegun dengan mulut terbuka, dan meski dia menggunakan masker untuk menyembunyikan wajahnya, tapi matanya tidak bisa berbohong. Dia benar-benar terkejut!
[Lalu untuk wanita di sana, meski kami melarangnya, tapi tidak ada salahnya membawa mereka ke Armonia Guild. Kita bisa mempekerjakan mereka semua untuk mengurus Kota Penampungan di bawah Armonia Guild.]
Kota Penampungan adalah kota yang dibuat di dalam dinding kokoh, kota ini adalah kota yang dibangun oleh Aliansi Armonia Guild dengan Pemerintah Beijing. Kota ini digunakan untuk masyarakat umum yang tidak tergabung dalam Aliansi 4 Guild, dan aturan di sana mengikuti aturan yang ada sebelum kehancuran bumi.
Natan terdiam, lalu menganggukkan kepalanya. Dia memang kekurangan tenaga, dan tidak ingin menambah orang-orang dari Kota Armonia untuk datang ke Kota Penampungan. Bagaimanapun, elit dari Kota Armonia hanya untuk Kota Armonia, bukan untuk yang lain.
Natan melihat sepuluh wanita yang masih berdiri dengan gugup.
Ketika mereka melihat Natan yang mendongak, mereka gemetar ketakutan, takut kalau Natan bertindak sama seperti pelanggan yang sudah-sudah.
Ketika mereka mendengar itu, mereka semua terdiam, lalu bertanya untuk memastikan apakah mereka benar-benar bisa pergi dari tempat terkutuk ini.
"Ya ..." Natan menganggukkan kepalanya. "Istriku meminta kalian datang dan bekerja untuk mengurus salah satu kota yang kami bangun bersama dengan pemerintah. Tapi itu tergantung pada jawaban—"
"""Kami mau!"""
Bahkan sebelum menunggu Natan selesai berbicara, mereka langsung menjawabnya dengan semangat. Bayangkan, bisa keluar dari kota ini, apalagi yang ditunggu, dan apakah perlu ragu?
"Baiklah, tapi kalian harus bersembunyi."
"Bersem—"
Natan tidak memberi kesempatan kepada mereka untuk bertanya. Dia langsung memasukkan mereka semua ke dalam bayangan Kuro, lalu dia melompat ke atas tempat tidur dan menutup matanya.
"Aku bisa mengirim kalian ke sana sekarang, tapi ada yang harus aku harus di sini. Aku harus bertemu dengan Penguasa dari Kota Surga, aku ingin memastikan apakah mereka berada di kubu Penjaga atau Monster Ancestors."
“Penguasa? Maaf, Tuan. Aku pernah bertemu dengannya.”
Natan mendengar suara yang langsung terdengar di benaknya, itu adalah suara dari salah satu wanita yang bersembunyi di dalam bayangan. Ketika mendengar itu, dia langsung duduk di tempat tidur. "Kau bertemu dengannya?!"
__ADS_1
“Ya, tapi penampilannya buram, tubuhnya besar, lebih dari dua meter. Di kota ini banyak yang memiliki tinggi seperti itu, jadi aku tidak tahu apakah dia manusia atau tidak. Tapi dari aura yang dikeluarkannya, itu terasa sangat dingin dan penuh kegelapan.”
Natan mengerutkan keningnya. "Kau bisa merasakan aura?"
“Bukan hanya bisa merasakan aura, tapi bisa melihatnya.”
Natan terdiam. Dia pernah mendengar tentang kemampuan ini dari Ainsley, orang yang memiliki kemampuan ini bisa melihat aura seperti api yang menyelimuti tubuh, dan warnanya dapat menjelaskan apakah orang itu berbahaya atau tidak.
Kemampuan ini bisa digunakan tanpa harus melihat targetnya, bahkan meski berada belasan kilometer, bisa melihat warna api yang berbeda. Kalaupun tidak bisa melihatnya, biasanya akan diberikan rasa tidak nyaman.
Singkatnya, kemampuan ini hampir sama seperti Appraisal yang bisa melihat berbahaya atau tidaknya lawan.
...
—00.00 Waktu Setempat—
Natan membuka matanya, turun dari tempat tidur. Dia berdiri, lalu melambaikan tangannya.
Api hitam muncul di tangan kanannya, itu menyebar ke segala arah, membakar barang-barang di sini.
Natan meninggalkan jejak seolah manusia telah habis, dan ada aroma daging terpanggang. Bahkan dia meninggalkan jejak darah di atas tempat tidur.
Saat dia melihat bekas terbakar di segala tempat, dia tersenyum dan mengangguk. "Pelanggan di sini aneh-aneh, dan membakar pelayan termasuk keanehan pelanggan, kan?"
Tidak ada yang menjawab pertanyaannya, bahkan wanita-wanita yang bersembunyi di dalam bayangan tidak berani berbicara.
Natan tidak terlalu peduli. Dia menendang pintu keluar sampai terlempar, dan saat dia keluar dari ruangan, dia menemukan ada dua penjaga yang berdiri di kiri-kanan pintu.
"Tu- Tuan?"
Natan menoleh ke kanan, melihat pelayan pria paruh baya yang membawa wanita-wanita tadi. "Pelayanan hotel ini lumayan bagus, kebetulan aku sudah lama tidak membunuh."
Pria itu gemetar dan kakinya terasa lemas, tapi berusaha untuk tetap berdiri. "Ma- Maksudnya ..."
Natan mengangkat tangannya, mengeluarkan bola api hitam yang melayang di atas tangan kanannya. "Aku membunuh mereka semua." Ia mengepalkan tangannya, menghilangkan api.
Dia melangkah, lalu berhenti dan menepuk pundak pria paruh baya yang berkeringat. "Besok malam aku akan tinggal lagi di sini, bawa lebih banyak orang untuk dibunuh. Kemudian, aku lebih senang membunuh orang sepertimu yang asal masuk ke ruangan orang lain ..."
Natan menepuk-nepuk pundaknya sampai terdengar suara retakan kasar, kemudian dia terus melangkah memasuki lift untuk turun ke lantai dasar, menemui seseorang yang akan membawanya ke rumah jagal manusia.
...
***
__ADS_1
*Bersambung...